Sep
15
2020
0

Menyongsong Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

View this post on Instagram

Hari #KesehatanJiwa Sedunia (HKJS/HKMS) jatuh sebulan lagi, Sabtu, 10 Oktober 2020. Tema HKJS 2020 adalah #MentalHealthForAll: Greater Investment – Greater Access' (https://wfmh.global/world-mental-health-day-2020/). HIMPSI akan menerbitkan buku 'Kesehatan Jiwa dan Resolusi Pascapandemi di Indonesia'. Tulisan Edukasi HIMPSI DI MANA KITA DI HARI KESEHATAN JIWA SEDUNIA? Kesehatan jiwa memiliki dimensi fisik, mental, sosial, dan bukan semata-mata tidak dideritanya penyakit. Dalam pengalaman gangguan jiwa pun, konteks sosial-budaya berperan. Konteks dapat mempengaruhi sebagian orang yang terganggu jiwanya merasakan dunia yang kian menyempit. Gangguan yang mereka alami menjadi batas-batas bahkan mengerutkan diri mereka. Konteks sosial menjadi sumber distres. Namun bagi sebagian yang lain, ketika berinteraksi dengan konteks, gangguan menjadi ajang dimulainya penemuan-ulang diri dan penyulut lilin yang menerangi dunia sesama yang kelam. Terlebih pada orang Indonesia, spiritualitas perlu memperoleh perhatian lebih. Jangan sampai terjebak dalam “psikologisasi spiritualitas”, yakni memperlakukan spiritualitas sebagai proses-proses yang melulu dijelaskan secara psikologis. Psikolog Richard Lanyon sudah sejak 1971 mengemukakan tentang *teknologi kesehatan jiwa* yang berfungsi meningkatkan produktivitas manusia. Ada delapan teknologi yang sangat potensial untuk dikembangkan dalam lapangan kesehatan jiwa, yang belum banyak berkembang pada masa itu, yakni (1) objektivikasi asesmen psikologis, (2) otomasi pemeriksaan psikologis, (3) otomasi klasifikasi informasi psikiatris, (4) teknologi pengambilan keputusan, (5) konseling dan terapi yang dibantu oleh mesin (machine-aided), (6) otomasi layanan pasien psikiatris, (7) teknologi modifikasi perilaku, dan (8) teknologi sistem rumah sakit dan sistem komunitas yang berhubungan dengan kesehatan jiwa. Tantangan bagi profesi psikologi adalah merumuskan teknologi psikologi yang tepat untuk dikembangkan dalam konteks Indonesia. Ternyata, masih banyak “pe-er” kita. Mari menyelesaikannya sambil merayakan HKJS. Penulis: Dr. Juneman Abraham Ketua Kompartemen Riset & Publikasi PP Himpsi bit.ly/hkjsedunia himpsi.or.id

A post shared by Himpunan Psikologi Indonesia (@himpsipusat) on

Sep
14
2020
0
Sep
11
2020
0
Sep
03
2020
0
Sep
03
2020
0

Membicarakan SCOPUS di Universitas Islam Indonesia

Membicarakan SCOPUS memang “tidak ada habisnya”, terlebih membicarakan SCOPUS pada tempat semestinya. Itulah yang saya paparkan dalam kesempatan baik ketika diundang oleh FPSB UII (Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia), Yogyakarta. Prioritas peserta workshop kali ini adalah para pengelola jurnal ilmiah di lingkungan FPSB UII.

FPSB UII merupakan salah satu saja dari segelintir fakultas psikologi yang Program Studi S1 Psikologinya sudah terekognisi oleh ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN-QA).

Mengapa saya sebut “segelintir”? Hal ini sesuai pernyataan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Mei 2020 yang lalu:

Merujuk pada data Kemenristekdikti bulan Agustus 2019, dari 27.779 program studi aktif yang ada di Indonesia, hanya 430 program studi yang telah memperoleh rekognisi/pengakuan internasional, meliputi akreditasi internasional dan asessmen/sertifikasi AUN-QA. Jumlah program studi yang telah memperoleh rekognisi internasional tersebut sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah program studi yang terakreditasi A oleh BAN PT. Total program studi yang terakreditasi A dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia adalah 3.923 program studi (per Oktober 2019). Dengan demikian total program studi terakreditasi A yang telah memperoleh pengakuan internasional hanya 11 % dari total program studi terakreditasi A dan 1,5% dari total program studi aktif.

AUN-QA dalam asesmennya memberikan poin lebih pada Research, diantaranya adalah

Policies for Education, Research and Service
Research Management
Research Collaboration and Partnerships
Research Results

Tidak mengherankan bahwa perawatan AUN-QA memerlukan tindakan lebih pada aktivitas penelitian. Dalam konteks ini, arti penting Workshop yang dilaksanakan pada 1 September 2020 melalui Zoom ini terletak.

Aug
21
2020
0

Konferensi Asian Science Editors

Sebagai anggota dari CASE – Council of Asian Science Editors (nomor urut 337), saya ikut menghadiri secara virtual Konferensinya yang Keenam di Seoul, Korea. Salah satu sesi menarik yang saya ikuti adalah tentang Preprint Server.

Ketika ditanyakan oleh salah seorang peserta, Dugald McGlashan, “Do any journal editors here use preprint servers to look for potential submissions?”, Sun Huh selaku pembicara dan Editor Jurnal merespons, “I look for the preprint server to invite the good results. I would like to invite some preprint to my journal.”

Aug
18
2020
0

Mengukuhkan Psikologi Kebangsaan di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia

View this post on Instagram

Tulisan Edukasi HIMPSI #PsikologiKebangsaan #DirgahayuIndonesia Dari aspek psikologis, bangsa (Volk, nation) merupakan komunitas yang diikat oleh persepsi-persepsi subjektif yang melihat dirinya sebagai bagian dari bangsa itu. Karenanya bangsa memiliki jiwa (Volksgeist, national spirit; Volksseele, national psyche), yang sesungguhnya bukan berasal dari kesamaan kesukuan, bahasa, atau kekerabatan, melainkan berasal dari identifikasi psikologis pribadi-pribadi yang bersama-sama meleburkan diri dengan bangsa tersebut. Mengapa Psikologi Kebangsaan menjadi penting sebagai suatu bidang studi dewasa ini? Bangsa menghadapi berbagai persoalan sepanjang sejarahnya. Sebagian besar persoalan, apabila ditilik, sesungguhnya merupakan persoalan bagaimana bangsa berperilaku. Bukan hanya psikologi internasional yang perlu dikuasai, namun justru psikologi bangsa kita sendiri lah yang pertama-tama perlu digali dan dipetakan karakteristik, kekuatan dan kerentanannya. Mengambil kesimpulan tentang jiwa bangsa sangatlah tidak mudah; kita bisa tergelincir pada simplifikasi yang boleh jadi tidak akan menambah sesuatu pemahaman mengenai bangsa kita. Psikologi Kebangsaan jangan diharapkan untuk menghasilkan profil kejiwaan dan perilaku bangsa yang berlaku bagi semua anggota bangsa …. Kontradiksi-kontradiksi (kalau tidak “interlocking realities”) yang mesti dianggap sebagai paradoks dalam Psikologi Kebangsaan sangat dimungkinkan, dan justru jangan dianggap sebagai kegagalan Psikologi itu, melainkan merupakan kenyataan yang membawa kita kepada pemahaman psikologis yang semakin mendekati kebenaran. Meskipun sejak membuminya Psikologi Asia dengan hadirnya APsyA, ABRA, ARUPS, dan AASP, kita memiliki “teropong” dan “lensa” psikologi baru untuk melihat masyarakat Indonesia, kita perlu menyadari bahwa teropong dan lensa itu juga tidak selalu memadai dan meminta kita berkontribusi, melalui Psikologi Kebangsaan, …  agar lebih peka dan presisif dalam pernyataan kita mengenai psikologi kita sendiri. Selengkapnya di: http://bit.ly/psikologikebangsaan Penulis: Dr. Juneman Abraham Ketua Kompartemen Riset & Publikasi PP HIMPSI http://himpsi.or.id http://bit.ly/himpsieducovid

A post shared by Himpunan Psikologi Indonesia (@himpsipusat) on

Written by juneman in: Bangsa | Tags:
Aug
16
2020
0

Psikologi Pekerja di Masa Pandemi: “Work from Home”

View this post on Instagram

Tulisan Edukasi HIMPSI di Masa Pandemi Covid-19 Ada faktor-faktor psikofisik dan sosial yang juga dapat menjadi pemicu kelelahan, bahkan kelelahan berlebih, seperti faktor kurangnya ergonomika tempat kerja, defisit makna kerja, dan kekompakan sosial yang minim di dalam rumah. Memperdalam pengetahuan melalui webinar yang disukai, atau mengikuti berbagai hiburan yang tiketnya digratiskan oleh penyelenggara, justru menjadi faktor pereda tekanan, dengan asumsi tidak ada masalah dengan kuota dan kelancaran koneksi internet. Kegiatan-kegiatan bisa disisipkan di sela-sela BDR (Bekerja dari Rumah). Lebih baik jika organisasi memberikan waktu khusus untuk itu pada jam kerja BDR, dan tidak menganggap aktivitas-aktivitas tersebut sebagai sebuah kemalasan sosial (social loafing). Dalam hal ini, kita juga perlu memperhatikan perbedaan individual dalam hal persepsi pekerja. Selama ini, dunia kita ini disebut-sebut sebagai "dunia orang ekstrovert". Bahkan, Susan Cain, pengarang buku "Quiet" menyatakan bahwa masyarakat dunia selama ini memiliki bias kultural terhadap orang ekstrover. Dalam hal ini, orang ekstrover dan introver perlu saling memahami. Sebagai contoh, ada gejala "ekstroverisasi" ruang-ruang online … Organisasi/lembaga/perusahaan perlu memiliki kebijakan yang adaptif dalam situasi darurat yang sudah dinyatakan Presiden RI sebagai bencana nasional ini. Temukan cara-cara kreatif untuk mengukur key performance indicators, cara untuk mencapai tujuan organisasi, bahkan meredefinisi visi-misi-nilai-tujuan organisasi bila diperlukan (Saya sempat membaca, bahkan ada perusahaan-perusahaan yang mengubah logonya. Komentar saya: "Ini PIO banget!") . Cara-cara tersebut sebaiknya disepakati bersama antara pimpinan perusahaan dengan pekerja atau serikat pekerja (bukan hanya kemauan salah satu pihak saja). Pendekatan organisasional ini niscaya sangat berarti untuk meminimalisasikan stres akibat BDR. Baca selengkapnya di https://bit.ly/berkerja_dari_rumah *Organisasi Perlu Bersama Pekerja dalam Mengelola Tekanan kala Bekerja dari Rumah* Penulis: Dr. Juneman Abraham Ketua Kompartemen Riset & Publikasi PP HIMPSI http://bit.ly/himpsieducovid

A post shared by Himpunan Psikologi Indonesia (@himpsipusat) on

Aug
16
2020
0

Diskusi Publikasi: Forum Pengelola Jurnal Psikologi

Pada 5 Agustus 2020, Tim Redaksi Jurnal Anima menjadi penyelenggara Forum Diskusi Publikasi Ilmiah Psikologi.

Latar belakang dari kegiatan ini sebagaimana tertera dalam surat dari Dekan Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya, adalah sebagai berikut:

Sehubungan dengan adanya persyaratan publikasi dalam jurnal terakreditasi, bagi mahasiswa pada jenjang Magister dan dosen dengan jenjang akademik Lektor Kepala, kami memperhatikan bahwa defisit naskah bermutu masih menjadi masalah bersama, tidak terkecuali bagi kami.

Adaya minat berkuliah di jenjang Magister Psikologi Sains dan Magister Psikologi Profesi yang terus berkembang dan makin tegasnya tuntutan publikasi bagi pemenuhan kewajiban terkait pemberian tunjangan profesi dosen, membuat kondisi ini makin memerlukan perhatian khusus dan serius. Pembiaran terhadap tantangan ini berpotensi memunculkan masalah terkait kelancaran studi mahasiswa dan kinerja dosen. Hal yang lebih memprihatinkan adalah potensi ancaman penyimpangan integritas akademik.

Sebagai pengelola Pendidikan Tinggi Psikologi yang memiliki program pendidikan Magister Psikologi Profesi (sejak 2004), Magister Psikologi Sains (sejak 2012), Doktor Psikologi (sejak 2018) dan jurnal ilmiah nasional (ANIMA Indonesian Psychological Journal, sejak 1985), kami merasakan adanya kebutuhan mendesak untuk melakukan “matching & improvement” antara standar dari naskah yang kami hasilkan dengan tuntutan kualitas pada media publikasi jurnal ilmiah psikologi yang terakreditasi pada sistem ARJUNA (Akreditasi Jurnal Nasional), mulai peringkat SINTA 2 sampai dengan SINTA 6.

Dalam rangka menjawab kebutuhan tersebut, kami menginisiasikan adanya forum diskusi untuk menjajaki kemungkinan sinergi, khususnya dengan para pengelola jurnal ilmiah psikologi di Indonesia. Tujuan pertemuan ini khususnya untuk menyamakan persepsi mengenai standar mutu, etika, dan prosedur publikasi artikel ilmiah hasil penelitian mahasiswa dan dosen dalam sebuah kolaborasi yang bersifat mutualistik antar lembaga.”

Sebagai salah seorang anggota Dewan Editor Anima, Dr. Juneman Abraham mengusulkan agar Forum yang digagas oleh Anima-Universitas Surabaya ini dapat memanfaatkan platform ScienceOpen untuk menwujudnyatakan ide dari Ketua Dewan Editor Anima, Dr. Ide Bagus Siaputra (yang juga merupakan satu tim ANJANI/Anjungan Integritas Akademik dengan Dr. Abraham) untuk menyinergikan upaya proses publikasi yang melibatkan para pengelola jurnal ilmiah psikologi di Indonesia. Dr. Siaputra menegaskan bahwa Forum ini bersifat melengkapi (komplementer), bukan menggantikan (substitusi) Forum Pengelola Jurnal Psikologi Indonesia (FPJP), yang selama ini digawangi oleh Bapak Sartana dari Universitas Andalas.

Platform ScienceOpen mampu memfasilitasi review awal/preliminer secara terbuka oleh para pengelola jurnal ilmiah psikologi Indonesia terhadap naskah-naskah publikasi yang diajukan penulis – yang berasal dari tesis magister, dan sebagainya, sesuai dengan standar atau parameter kualitas minimum publikasi yang disepakati di kalangan pengelola jurnal psikologi.

Setelah perbaikan dilakukan oleh penulis melalui ScienceOpen Preprints, para pengelola jurnal dapat melakukan pendekatan atau pun negosiasi untuk menawarkan kemungkinan naskah tersebut diterbitkan di jurnalnya. Penulis dapat memutuskan hendak menerima tawaran atau negosiasi yang mana. Hal ini mirip dengan proses yang dilakukan editor Penerbit Buku selama ini, yang melakukan “perburuan” (hunting) naskah-naskah berkualitas, dengan memberikan komentar di berbagai blog kandidat penulis yang dipandang potensial untuk dijadikan buku.

Seluruh proses ini berlangsung murni berdasarkan substansi mutu artikel. Tidak semua orang dapat melakukan review di ScienceOpen. Pengelola jurnal psikologi yang hendak melakukan peninjauan sejawat (peer review) perlu memenuhi terlebih dahulu syaratsyaratnya.

Dr. Abraham sendiri menjadi salah seorang reviewer dalam konteks post-publication peer review. Artinya, naskah yang sudah terbit masih dapat di-review dan diberikan rating.

Forum tersebut dihadiri oleh lebih dari 20 pengelola jurnal ilmiah psikologi Indonesia, termasuk dari Fakultas Psikologi UI, UGM, Unisba, UII, dsb.

Pertemuan ini dilanjutkan dengan Simposium Daring Standardisasi Publikasi Ilmiah di Bidang Psikologi, pada 22 Agustus 2020.

Written by juneman in: Akademik | Tags:
Aug
16
2020
0

Tim Redaksi Psikologi Indonesia Mempersiapkan Edisi Merdeka Belajar

Tim Redaksi Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) melakukan rapat rutin pada 12 Agustus 2020 membahas edisi Merdeka Belajar.

Edisi ini akan tampil di situs publikasi HIMPSI.

Written by juneman in: Profesi | Tags:

Powered by WordPress. Theme: TheBuckmaker. Zinsen, Streaming Audio