Oct
15
2010
0

Kisah Sekuntum Mawar

PERDAMAIAN
Kisah Sekuntum Mawar
http://cetak.kompas.com/read/2010/10/15/02494144/Kisah.Sekuntum.Mawar
Jumat, 15 Oktober 2010 | 02:49 WIB

Oleh Maria Hartiningsih

Mata menangkap bunga sebagai elemen tunggal. Namun, tanda dan bentuk selalu mengecoh ketika hanya ditatap sekilas. Bunga tak akan menjadi bunga tanpa elemen yang lain, meskipun hanya satu elemen yang hilang.

”Untuk mewujud menjadi bentuk, segala sesuatu membutuhkan segala sesuatu yang lain,” tutur Thich Nhat Hanh (84), Guru Zen terkemuka dari Plum Village, Perancis, dalam ceramah-ceramahnya di Caringin, Bogor, beberapa waktu lalu.

Ia memperlihatkan sekuntum mawar, lalu menyentuh kelopak demi kelopaknya. ”Kalau menatapnya dengan berkesadaran, penuh konsentrasi dan kedamaian, kita melihat di dalam sekuntum bunga ada awan, matahari, udara, mineral, tanah, waktu, ketekunan, dan cinta orang yang menanam dan merawat sampai bunga itu mekar. Seluruh isi kosmos ada di situ. Tanpa awan yang menjadi hujan, bunga tak akan mekar. Tanpa waktu, tanpa ruang, tak ada bunga,” ungkap Thay, atau Guru, dalam bahasa Vietnam.

”Kenyataannya, bunga terwujud dari seluruh elemen nonbunga. Tidak ada eksistensi atau keberadaan yang berdiri sendiri di dunia ini. Di dalam diri kita ada segala sesuatu yang lain yang ada di dalam Semesta. Itulah interbeing…”

”Interbeing”

Interbeing adalah terminologi baru, yang artinya kira-kira, segala sesuatu yang hidup, terikat, terkait, tergantung pada segala sesuatu di Semesta Raya. ”Ketika melihat sifat alamiah dari ’interbeing’, maka penghalang antara ’kita’ dan ’mereka’, antara ’saya’ dengan ’yang lain’, lebur,” ujar Thay.

Hakikat interbeing dapat menyentuh kearifan nondiskriminasi. Seperti diungkapkan Thay, Buddhisme adalah bunga yang terwujud dari elemen Buddhisme dan non-Buddhisme. Islam adalah bunga yang sangat indah. Pun Kristiani dan agama-agama lain. Buddhis harus belajar Islam untuk memahami tradisi-tradisi besar di dalamnya. Begitu pun sebaliknya. Kalau Yahudi, Islam, dan Kristen kembali ke akarnya, banyak persoalan pelik bisa diselesaikan. ”Anda harus duduk bersama untuk saling berbagi,” Thay melanjutkan.

Retret hidup berkesadaran di Plum Village diikuti peserta dari semua keyakinan, agama, dan non-believers. Di Barat, sebagian besar pesertanya beragama Kristen. ”Kami menyelenggarakan retret bagi pihak yang sedang bertikai, seperti Israel dan Palestina, untuk mendorong kesalingpengertian dan kearifan nondiskriminasi. Perdamaian sangat mungkin terwujud dengan kesalingpengertian.”

Yang terpenting, menurut Thay, para aktivis perdamaian harus damai terlebih dahulu dengan dirinya sebelum melakukan aktivisme secara politik. Tidak ada jalan menuju kedamaian, karena kedamaian adalah jalan, dan berkesadaran adalah kuncinya.

Latar belakang para peserta retret di Caringin, Bogor, juga menarik. Rave Ward dari Amerika Serikat adalah seorang Buddhis, suaminya pejabat gereja. ”Konservatisme ada di dalam semua agama,” ujar Peggy, begitu ia disapa, ”Hanya dengan latihan berkesadaran, kita mampu melihat secara mendalam, menyentuh secara mendalam.”

Perjumpaan

Thay menggunakan kearifan Buddhis untuk memberi pemahaman tentang kearifan nondiskriminasi; suatu gagasan, niat dan tindakan terkait upaya-upaya perdamaian di dunia.

Perang, konflik, besar, kecil maupun personal, kecurigaan, kebencian, dendam, dan berbagai bentuk kekerasan terhadap diri sendiri maupun ”yang lain”, berawal dari persepsi keliru, dan menganggap persepsi sendiri sebagai satu-satunya kebenaran. ”Itu adalah sumber segala penderitaan,” ujar Thay.

Berbeda dengan pendekatan politik, pendekatan Thay tentang perdamaian di ranah publik menukik lebih dulu ke ranah personal, ke ranah individual secara lengkap, sebagai tubuh dan sebagai diri.

Ia menyatukan berbagai pendekatan, termasuk pendekatan sejarah, astronomi, antropologi, dan biologi, untuk menjelaskan kesalingterkaitan di dalam ”interbeing”, antara tubuh, diri, manusia lain, tumbuhan, satwa, semua makhluk hidup, bumi, laut, udara, seluruh isi alam semesta sebagai suatu keutuhan (”wholeness”).

Sebagai intelektual, pemikir, penulis, penyair dan aktivis perdamaian, ia tidak steril dari dunia luar. Salah satu karya terbarunya —dari 100 buku lebih yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa—adalah merespons terorisme, dalam Calming the Fearful Mind: A Zen Response to Terrorism (2005).

Tak sulit menengarai sumbangan pemikiran Thay dalam membangun dan mengembangkan Etik Global untuk keadilan dan perdamaian yang dipromosikan Presiden Global Ethic Foundation Prof Hans Kung. Pendekatan interbeing dan esensi berkesadaran menjawab pernyataan Kung tentang kekosongan orientasi yang dihadapi manusia saat ini, baik terlepas maupun terkait dengan globalisasi.

Hidup berkesadaran membuat Thay mengalami ”perjumpaan” dengan para mistikus, seperti Thomas Merton (alm), yang menyebut Thay sebagai ”saudaraku”. Mereka berbagi pandangan tentang ”wholeness” dan kearifan nondualisme untuk mewujudkan kearifan ”nondiskriminasi” dan cinta tanpa syarat terhadap ”yang lain”; cinta yang memeluk seluruh isi kosmos. Kearifan itu pula yang mempertemukan pemikiran Thay dengan para sufi, termasuk penyair Persia abad ke-11, Mevlana Jalaluddin Rumi.

Simak salah satu puisi Rumi ini, ”Out beyond ideas of wrong doing and right doing, there is a field. I’ll meet you there.” (Melampaui gagasan tentang benar atau salah, adalah dataran. Kujumpai kau di sana….)

Written by juneman in: Kehidupan | Tags: ,
Oct
15
2010
0

That’s Life

That’s life, that’s what all the people say.
You’re riding high in April,
Shot down in May
But I know I’m gonna change that tune,
When I’m back on top, back on top in June.

I said that’s life, and as funny as it may seem
Some people get their kicks,
Stompin’ on a dream
But I don’t let it, let it get me down,
‘Cause this fine old world it keeps spinning around

I’ve been a puppet, a pauper, a pirate,
A poet, a pawn and a king.
I’ve been up and down and over and out
And I know one thing:
Each time I find myself, flat on my face,
I pick myself up and get back in the race.

That’s life
I tell ya, I can’t deny it,
I thought of quitting baby,
But my heart just ain’t gonna buy it.
And if I didn’t think it was worth one single try,
I’d jump right on a big bird and then I’d fly

I’ve been a puppet, a pauper, a pirate,
A poet, a pawn and a king.
I’ve been up and down and over and out
And I know one thing:
Each time I find myself laying flat on my face,
I just pick myself up and get back in the race

That’s life
That’s life and I can’t deny it
Many times I thought of cutting out
But my heart won’t buy it
But if there’s nothing shakin’ come this here july
I’m gonna roll myself up in a big ball and die
My, My


Frank Sinatra : That’s Life Lyrics
Songwriters: Gordon, Kelly; Thompson, Dean K

Written by juneman in: Lagu | Tags: , ,

Powered by WordPress. Theme: TheBuckmaker. Zinsen, Streaming Audio