Dec
08
2019
0

Penyiar Oh Penyiar (Repost tulisan 2010)

Apakah Anda hobi mendengarkan radio? Memiliki penyiar kesayangan? Sejak dulu, saya memiliki salah satu hobi yakni mendengarkan radio. Saya telah mendengarkan beberapa radio di Jakarta secara setia, sehingga secara emosional saya memfavoritkan beberapa penyiar, dalam arti, misalnya, kehadiran suara mereka bagaikan “penyembuh” khususnya di kala saya mengalami saat-saat yang sulit dalam fase-fase kehidupan saya.

Di bawah ini beberapa yang sempat saya kenang saat ini. Maaf, kalau tidak sistematis penyampaiannya, karena hanya menuliskan poin-poin yang sempat teringat dan saya juga agak mengantuk:

  • Nor Pud Binarto. Orang ini boleh dikata penyiar yang tidak lazim, berada di luar mainstream. Secara tidak sengaja, waktu itu mungkin (kira-kira) tahun 2000-an jam 11-an malam, saya mulai mengenal penyiar ini sejak mendengar Bung Nor Pud memutar lagu “Putih… Putih… Melati… Mekar… di Tamansari ….” (Melati Suci) yang dinyanyikan Mbak Tika Bisono. Apa yang dilakukan Nor Pud malam-malam saat itu adalah membahas lagu ini dan Ibu Fat (istri Bung Karno) dengan bendera merah-putih yang dirajut beliau. What? Nggak salah neh…?!” saya pikir waktu itu. Ya, tidak biasa saja. Ternyata selama beberapa waktu yang panjang, memang Nor Pud menjadi “penyiar tunggal” radio ini. Konten bicaranya filosofis. Kalau pendengar tidak “nyambung”, jangan harap bisa 1 menit saja bertahan berbicara dengan orang ini via sambungan telepon. Acara tiap sorenya, kalau tidak salah, namanya Portofolio, membahas kehidupan masyarakat Jakarta. Saya belajar banyak tentang pemikiran filsafat yang teraktualkan dari beliau. Radio tempat penyiar ini berkarya adalah Jakarta News FM. Saya rasa, tidak ada LSM, khususnya di Jakarta, yang tidak tahu radio ini pada waktu itu, karena konsen radio ini terhadap kehidupan orang kecil dan sisi-sisi “lain” dari kehidupan (Wardah Hafidz dari UPC cukup sering dikontak kalau ada masalah kehidupan orang kecil di Jakarta). Pokoknya, radio ini “aneh” betul, deh (saya kagum). Pernah menjelang hari lahir Pancasila, radio ini memutar sejumlah rekaman pidato Bung Karno hampir seharian, berikut pengupasan-pengupasannya. Kaset dan CD kompilasinya juga dijual (nampaknya  dengan ijin), dan hasilnya untuk kepentingan rakyat kecil. Saya juga masih ingat ketika Nor Pud punya homepage pertama kali dengan alamat http://norpud.4t.com   Anda yang sering main web seperti saya, pasti tahu bahwa 4t.com itu layanan free hosting biasa saja. Namun, Nor Pud dalam penjelasannya waktu itu memaknai “4t” itu sebagai “empati” (Kata beliau, “Maksudnya, mau saya bikin empati.”). Luar biasa  Yang saya ingat juga, waktu itu tiap Rabu malam, kalau tidak salah ingat, di radio ini ada siaran musik klasik. Pembawa acaranya tidak sembarangan: Anggito Abimanyu, (sekarang) pejabat tinggi Depkeu itu, ditemani Nor Pud (lagi), tentu saja. Berkat acara Pak Anggito inilah saya mengenal karya-karya komposer Felix Mendelssohn. Tokoh lain lagi yang juga jadi pengisi acara radio ini adalah Ratna Sarumpaet (tiap Sabtu pagi; sayang sekali kemudian ada konflik antara Ratna dengan Jaknews, yang tidak perlu saya perpanjang di sini). Nama acaranya, “Sabtu Pagi bersama Ratna Sarumpaet“. Juga ada almarhum Dono, dengan lawakan dan komentar kritisnya tentang kehidupan berbangsa. Sampai meninggalnya, Dono masih mengisi acara ini; pemakamannya disiarkan langsung oleh Jakarta News FM. Saya juga mengenal grup band legendaris CHASEIRO (Chandra Darusman & Friends) juga dari radio ini, “Pemuda ke mana langkahmu menuju? Apa yang membuat engkau ragu..?” hahaha, berkat Nor Pud, dkk. Diskusi-diskusi filosofis Bung Nor Pud dilakukan antara lain dengan Komaruddin Hidayat, Mudjisoetrisno, Gde Prama, Desi Anwar, dll; tentang Korupsi, Kematian, Cinta, dll. Kemudian Nor Pud menghilang setelah gencar-gencarnya Jakarta News FM siaran tentang banjir 2001…. Sekitar tahun berapa, saya lupa, tidak sengaja pula, saya ketemu lagi dengan suara Nor Pud Binarto di Radio Suara Metro 911, namun tentu saja lingkungan radionya berbeda dengan Jakarta News FM. Juga kemudian menghilang. By the way, siapa perempuan yang menjadi idaman Nor Pud… Saya ingat sekali beliau selalu bilang, “Desi Ratnasari, kalau nggak, Jeneffir Lopez”, hehehe. Nor Pud kini telah tiada, namun beberapa jejak pemikirannya masih tersimpan. Verba volant, scripta manent!
  • Bob Iskandar. Tidak ada pendengar lama Delta FM yang tidak kenal dengan Bob Iskandar. Penyiar ini selalu menemani kita dengan suara khas baritonnya yang renyah dan asyik tiap malam dengan sajian lagu-lagu oldies terpilih, baik pop maupun jazz. Tidak akan terlupakan oleh saya, cara beliau mengucapkan kata-kata, “Halo pendengar Delta, saya Bob Iskandar ….” “Delta FM, the bright side of Jakarta“. Des Alwi (sejarawan) cukup sering disapanya. Memang, cukup banyak tokoh penting di Indonesia yang saya duga menjadi pendengar setia siarannya Bung Bob Iskandar ini. Beliau mengakhiri siarannya sekitar tahun 2005 atau 2006, kalau saya tidak salah mengingat, dan saya juga sempat merekam dengan handphone (format AMR) kata-kata siaran beliau yang terakhir. Sedih juga, setelah cukup lama malam saya ditemani oleh Bung Bob Iskandar ini. I miss you, Bung Bob! Siaran terakhir Bob Iskandar di Delta FM, saya rekam dalam Chirbit.
  • Mega “Andromeda“. Ingat Mega Andromeda, ingat radio Ramako FM, yang dulu masih berfrekuensi di FM 106.15. Biasanya Mega Andromeda ini siaran tiap Minggu pagi. Yang terkesan oleh saya adalah suaranya yang sangat lembut dan sangat ramah. Nama asli beliau seingat saya: Megawati Sri. “Andromeda” adalah nama benda langit yang memang dikenakan pada nama belakang setiap penyiarnya, misalnya: Martin Mars, Jim Jupiter, Casey Comet, Gary Galaxy. Just for your info, Bayu Sutiono yang terkenal lewat Liputan 6 SCTV ini adalah si “Martin Mars”. Saya juga baru tahu ketika tahun 2000-berapa, gitu, saya lupa, ada acara ulangtahun Radio Ramako, di mana penyiar-penyiar veterannya diajak bersiaran di Ramako seharian. Kembali ke Mega, acara yang sering dibawakannya tiap Minggu pagi adalah “Sunday’s Love Songs“. Waktu siaran beliau tergolong singkat dibandingkan penyiar lain, saya ingat betul, tetapi suaranya yang ramah dan “sexy” (bukan dalam pengertian menggoda, melainkan atraktif namun anggun) dan kata-katanya itu, lho, yang bikin betah dengerinnya. Siaran Mega ini, kesan saya, “berbeda” dengan penyiar Ramako lainnya. Kalau Anda pendengar radio Ramako, Anda pasti menyadari bahwa terdapat sebagian besar penyiar yang siarannya “mekanistis” mempunyai warna siaran yang seragam. Tetapi, Mega “beda”. Setidaknya saya mengalami, beliau bisa menjalin kontak batin dengan pendengar, bukan hanya “melaksanakan pekerjaan”. Kalau di radio Sonora, perbandingannya mungkin dengan penyiar Eddie Dipo, yang gaya siarannya “beda” dengan penyiar lain selingkung (apalagi waktu dulu).
  • Nadia Ardiwinata. Ingat Nadia Ardiwinata… ingat radio, apa, ayooo??? Yup! Smart FM. Penyiar ini bersuara lantang, bersemangat, suka nemenin siarannya Andre Wongso serta Ibu Dewi Minangsari. Pertama kali saya dengar suara Mbak Nadia ini di Smart FM ketika beliau menghantar dongeng legenda Psyche. Menurut saya, orangnya smart, jadi cocoklah sesuai dengan nama radionya. Partnernya waktu itu namanya Andi Odang. Sekitar tahun 2006 atau 2007, kedua penyiar ini hengkang dari Smart FM. Sempat juga saya kontak dengan Mbak Nadia beberapa hari setelah ia tidak lagi di SMART FM. Saya teringat Mbak Nadia waktu itu karena Mbak Nadia Ardiwinata menjadi narator dalam sebuah rangkaian drama radio kisah dari Negeri Tiongkok yang diputar di Radio Sonora FM setiap hari mulai pukul 00.30 WIB atau pukul 01.00. Setelah itu, saya hampir tidak mendengar suara Mbak Nadia lagi di radio. Mbak Nadia, where are you?
  • Katrin. Mbak Katrin ini bersiaran di radio Sonora FM. Waktu itu, perasaan saya juga belum begitu lama mendengar suara Mbak Katrin, baru kira-kira 6 bulan-an. Yang jelas, suara Mbak Katrin ini “baik banget”, deh. Biasanya Mbak Katrin bersiaran mulai dari pukul 00.00 WIB (kalau hari Senin, biasanya Minggu malamnya beliau juga menjadi penyiar acara “Irama Klasik Ringan/Musik Klasik Sonora“) sampai pagi pukul 05.00. Coba tanyakan saja para pendengar Sonora yang suka mendengar radio ini pada dini hari sampai pagi di acara “Sahabat Setia“; pasti mayoritas mengetahui Mbak Katrin. Lagi-lagi, sebagaimana Bob Iskandar, saya juga sempat mendengar siaran terakhir Mbak Katrin (lupa tahun berapa, mungkin 2007 atau 2008). Sekarang di radio Sonora, masih ada Tasya dan Lani yang juga menjadi favorit pendengar.
  • John Adiguna, Hairil Chandra, Adrian Majid Kobat, Edi Junaidi. Wah kok banyak amat? Mereka ini adalah para penyiar Radio Republik Indonesia (RRI) Pusat. Sekitar tahun 1994-1999 bahkan 2000-an, saya masih suka mendengar siaran RRI dini hari, di mana konten acaranya berbeda jauh dengan konten acara sekarang. Waktu itu RRI I merupakan segelintir radio yang siaran 24 jam. Sonora waktu tahun-tahun awal itu hanya siaran sampai dengan pukul 24 (kecuali malam Minggu). Radio yang siaran sampai dengan agak pagi (sampai pukul 01.0o) adalah Kiss FM dan Radio Arief Rahman Hakim (ARH) FM serta RRI Pro 2 FM, baru kemudian disusul oleh Cakrawala dengan siaran 24 jamnya. RRI waktu tahun 1990-an masih didominasi oleh acara kirim-kirim salam antar pendengar. Tiap pukul 00.00 WIB setelah siaran berita, “Radio Republik Indonesia dengan siaran berita. Sari berita penting ….”, adalah acara Renungan Pagi dengan puisi agamis oleh Rosdiana. Sekitar pukul 02.00 ada siaran khusus TNI, yang nama acaranya “Derap Anjangsana“. Saya masih ingat betul suara-suara khas dari keempat penyiar di atas. Ada John Adiguna, yang saya ingat pernah membawakan renungan mengenai “Waktu Terbaik” kita yang hanya dua jam setiap hari. Juga masih ingat Edi Junaedi selama 1-2 jam membawa dan menceritakan kisah-kisah di balik lagu-lagu The Beatle. Teringat juga, saya mengenal dan mulai menyukai sejumlah lagu Ismail Marzuki dan lagu-lagu keroncong karena disiarkan oleh Haeril Chandra (yang bila tertawa, renyah abisss). Serta Adrian Majid Kobat yang suka berbalas pantun Melayu dengan pendengar yang meneleponnya. Malam Minggu biasanya mereka semua tidak siaran. Mengapa? Karena RRI menyiarkan acara Wayang Semalam Suntuk dan disusul lagu dangdut, dan pada Minggu pagi-nya sekitar pukul 05.30 atau 06.00 bergemalah suara khas Tedjo Sumarto, Sarjana Hukum, penyiar acara Forum Negara Pancasila, tempat orang bertanya tentang Pancasila dan aktualisasinya (waktu itu masih periode Orde Baru; salah satu penanya adalah sahabat saya, Chatrin Pandrya, dkk  ).
  • Ida Arimurti. Penyiar ini juga penyiar Delta FM, seperti Oom Bob Iskandar. Belum lama juga saya mendengarnya, sekitar 2007/2008 yang lalu, namun rupanya sangat melekat di hati pendengar. Sekarang, Ida Arimurti dapat kita lihat wajahnya di sebuah acara Metro TV, “Delapan Puluh”. Suaranya terkenal merdu menemani penduduk Jakarta, diantaranya, sore hari saat jam pulang kantor. Juga, saya sempat mendengar siaran terakhir dari Ida Arimurti, yang konon sudah 25 tahun eksis di udara sebagai penyiar. Ingat “Ida – Krisna Show“?, “Ida Arimurti and Friends Show“?

Saya hanya mendeskripsikan pengalaman saya di sini. Tidak ada analisis apapun. Anda sekarang mengetahui, mengapa saya sangat “mencintai” mereka, dan merasa kehilangan dan “merindukan” mereka selalu.

Saya akhiri lagu ini dengan syair lagu Bimbo, sebagai berikut:

Balada Seorang Penyiar (Bimbo)

Tiada lembah tiada gunung Tiada kota tiada dusun Suaramu terdengar merayu Mengantarkan lagu-lagu

Baik siang maupun malam Baik suka maupun duka Kau arungi gelombang suara Kau hampiri pendengarmu

Dikau penyiar pujaan pendengarmu Suaramu … sungguh merdu Dikau penyiar pujaan pendengarmu Suaramu … sungguh merdu

Pendengarmu tak kenal wajahmu Pendengarmu tak mau tau rumahmu Suaramu pengenalmu Menyentuh merayap kalbu

Di udara, hilang suaramu Di udara, terasa kelam Lagu merdu, terasa kelabu Kemanakah gerangan tuan

Dikau penyiar pujaan pendengarmu Suaramu … sungguh merdu Dikau penyiar pujaan pendengarmu Suaramu … merdu

Written by juneman in: Uncategorized |
Dec
07
2019
0

Kuliah Umum Kesehatan Jiwa

Pada 2007, saya menjadi salah seorang Panitia dalam sebuah Acara Nasional yang diselenggarakan oleh Jejaring Komunikasi Kesehatan Jiwa Indonesia (JEJAK Jiwa). Acara ini antara lain terdiri atas Kuliah Umum yang membahas persoalan kesehatan jiwa lintas negara. Bersamaan dengan acara ini juga telah diluncurkan Indonesian Journal of Mental Health, “ATARAXIS”, dalam mana saya menjadi salah seorang anggota dewan penyuntingnya. Baru-baru ini (akhir Agustus 2011) saya menyadari bahwa sangat disayangkan apabila notula acara ini hanya tersimpan dalam folder maya saya begitu saja. Mengapa? Karena isi kuliah umum ini sangat menarik dan interdisiplin. Sejauh saya ketahui, sangat langka adanya sebuah momen perjumpaan di mana komunitas psikologi, psikiatri, pekerja sosial, dan lain-lain berkumpul dan berdiskusi semendalam ini dan memunculkan urgensi untuk memiliki sebuah jejaring interdisiplin yang berkesinambungan bahkan memiliki keinginan bersama yang kuat membuat aksi konkret dalam rangka kesehatan jiwa di Indonesia. Sayang, memang, bahwa belum ada tindak lanjut dari isi diskusi ini yang signifikan sampai dengan hari ini. Namun demikian, isi diskusi ini menurut hemat saya sangatlah inspiratif dan saya harapkan dapat berguna buat kawan-kawan pembaca blog ini.

Untuk isi diskusi dapat diakses melalui tautan ini

Juneman

Social Psychologist

Notulensi

The 1st Seminar Lecture Series & Round Table Discussion

“THE DEMAND ON SOCIAL LEARNING”

Jakarta, 26 Oktober 2007

Lecture 1: Thailand

Mr. Sompong Kirdsaeng

“The Association for Mentally Ill”

Perkenalan dari moderator:

Di Thailand perhatian terhadap kesehatan jiwa sangat tinggi. Ada dirjen kesehatan jiwa di sana. Sementara di Indonesia hanya ada direktur bina kesehatan jiwa. Raja Thailand memiliki perhatian yang besar pada psikososial. Mr. Sompong Kirdsaeng akan memberikan lecture tentang kegiatan yang dilakukannya untuk kesehatan jiwa di Thailand, sebagai wakil dari perkumpulan keluarga yang memiliki anggota dengan kesehatan jiwa terganggu. Jejak Jiwa sudah kehilangan hubungan dengan empat perkumpulan keluarga kesehatan jiwa di Indonesia, di antaranya yang berasal dari kotaPontianak dan Ciamis. Mr. Sompong ini adalah wakil dari perkumpulan keluarga di Thailand. Kelompok keluarga ini juga bekerja sebagai pressure agar negara menganggarkan dana yang memadai untuk masalah kesehatan jiwa.

Mr. Sompong Kirdsaeng: “The Association for Mentally Ill”

The Association for Mentally Ill telah bekerja selama 40 tahun untuk kesehatan jiwa. Presentasi dimulai dari pembentukan asosiasi ini. Dari pengalaman rumah sakit jiwa menangani para pasien, setelah dirawat dan dinyatakan sehat dan kembali ke rumah, ternyata sebagian besar mereka kembali ke rumah sakit jiwa. Sehingga kemudian para profesional menyusun program untuk melatih anggota keluarga pasien bagaimana cara merawat pasien.

Topik pertama dalam pelatihan adalah membuat orang normal memahami tentang kesehatan jiwa.

Topik kedua adalah bagaimana cara merawat pasien di rumah. Misalnya soal memberi obat secara rutin. Biasanya pasien tidak suka obat. Mereka akan membuangnya atau menyembunyikannya. Di sinilah letak tanggung jawab kerabat terdekatnya, yaitu untuk memastikan konsumsi obat oleh pasien secara teratur.

Topik lain adalah kerabatnya harus membawa pasien ke dokter untuk konsultasi.

Topik selanjutnya adalah tentang komunikasi antara kerabat dan pasien. Biasanya kerabat akan berpikir bahwa setelah sembuh pasien akan dapat hidup normal kembali. Namun pada kenyataannya, dalam beberapa tahap ada kemungkinan mereka tidak ingin berhubungan dengan masa lalunya yang mereka anggap buruk. Para kerabat mungkin tidak melihat ini. Di sinilah terjadi jurang.

Dia biasa bertanya pada pasien mengenai apakah mereka ingin tinggal di rumah sakit untuk perawatan. Jawabannya selalu mereka tetap ingin pulang ke rumah, karena tak ada tempat lebih baik selain rumah.

Jika anggota keluarga akan merawat pasien, mereka harus melakukan beberapa tugas dari yang mudah sampai yang sulit. Dan mendorong pasien untuk berlatih, membawa mereka ke berbagai kegiatan sosial, mengajak mereka untuk berbincang dan bertetangga.

Topik lain adalah soal hidup pasien. Bagaimana caranya membuat pasien paham soal stigmatisasi yang diberikan padanya.

Hal lain dalam training yang diberikan adalah bagaimana menangani media. Karena media biasanya memberitakan hal-hal mengenai kegilaan secara negatif.

Dari training itu, anggota keluarga membuat ’family club’ di setiap rumah sakit seperti misalnya ‘Kalyanamitr Club of Psychiatric Patient’ dari SrithunyaPsychiatric hospital dan ’Tawan Mai Club’ dari Somdetchoaoraya Institute of Psychiatry.

Kedua kelompok itu kemudian berhubungan dan membuat program yang sangat penting. Kedua klub keluarga itu memperluas program dan membentuk klub-klub serupa di seluruh negeri di setiap RSJ. Klub-klub itu kemudian berkembang menjadi unik, dan membentuk perhimpunan yang telah diluncurkan pada 27 Maret 2003.

Anggota seluruh klub keluarga itu berkumpul sebulan sekali. Pertemuan-pertemuan itu menyemangati dan memotivasi mereka dalam merawat pasien. Di situ mereka dapat bertukar pengalaman dalam hal merawat pasien dan memperingan beban mereka.

Pengalaman Mr. Sompong merawat pasien di rumah merupakan beban yang sangat dan merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Tapi pertemuan dengan keluarga lain sebulan sekalimemberinya motivasi untuk merawat istrinya yang adalah pasien sakit jiwa. Dalam pertemuan itu ada banyak keluarga yang harus merawat pasien sakit jiwa yang sangat parah sampai disebut psychotic. Bertukar pengalaman ini mendorong semangatnya untuk merawat istrinya di rumah.

Saat ini asosiasi ini punya jaringan 21 klub keluarga di seluruh negara. Bila ada pertanyaan tentang dukungan keuangan terhadap asosiasi ini, sesungguhnya asosiasi ini mengajukan proposal proyek kepada pemerintah. Ternyata pemerintah beranggapan bahwa proyek ini sangat berguna bagi keluarga dan pasien jiwa itu sendiri, sehingga pemerintah bersedia mendukung dana untuk pekerjaan klub ini.

Beberapa jaringan telah melakukan pekerjaan yang sangat bagus dan masyarakat mengetahui hal ini, sehingga kemudian mendapat donasi yang cukup besar dari masyarakat juga.

Masalahnya, beberapa jaringan tidak memiliki kemampuan untuk membuat proposal, sehingga kemudian asosiasi memberi bantuan kepada jaringan bagaimana cara membuat proposal untuk memperoleh dukungan dana.

Pengalaman Mr. Sompong setelah bergabung dengan klub ini, kondisi istrinya semakin membaik saat ini dalam perawatannya di rumah.

Beberapa tujuan asosiasi kesehatan jiwa ini selain yang telah diceritakan adalah:

1.berkoordinasi dan berkerja sama dengan berbagai organisasi yang memiliki perhatian serupa, baik dalam negeri maupun luar negeri, untuk meningkatkan kapasitas dalam penanganan masalah kesehatan jiwa.

2.membangun penerimaan sosial dari masyarakat terhadap pasien jiwa, dengan cara melatih anggota keluarga; meningkatkan kapasitas pasien yang menuju sehat dengan berbagai pelatihan keterampilan hidup; serta berpartisipasi dengan organisasi lain.

3.Memperkuat organisasi, dengan cara memperbanyak klub keluarga di seluruh negeri; membangun komite sebagai simpul kerja; pertemuan komite di tingkat regional; membangun THAMI (Thai Alliance for Mentally Ill)

Lecture 2: Malaysia

Dr. Abdul Kadir Abu Bakar

“Effective Community Treat”

Perkenalan dari moderator

Dr. Abdul Kadir adalah seorang psikiater dan menjabat sebagai ketua psikiater di RS. Aminah di Johor Baru. Dia telah berkerja sama dengan psikiater di Indonesia dalam beberapa program Mental Health. Dia menginovasi beberapa kegiatan di Kucing, yang situasinya sama dengan di Indonesia, bahwa seringkali kita menyalahkan segala sesuatu di luar lingkungan kita, padahal sesungguhnya the enemy is in here. Dia membuat sebuah terobosan di Kucing, untuk tidak selalu menyalahkan segala sesuatu di luar diri kita.

Dr. Abdul Kadir Abu Bakar: “Effective Community Treat”

Sebagai penjelasan terhadap istilah ‘perawatan komunitas yang efektif’ pada umumnya sebagian besar para pekerja yang bergelut di bidang kesehatan jiwa, termasuk para perawat di rumah sakit mempunyai pikiran bahwa perawatan bermula di RS. Padahal sebetulnya pasien itu memulai sakitnya di rumah atau di tempat lain semacam rumah. Sebagai orang yang diberi kelebihan dalam hal menangani pasien jiwa memang banyak yang berpikir dia dapat memberi perawatan terbaik. Namun sesungguhnya perawatan terbaik itu bisa diberikan di rumah.

Seluruh pendidikan kesehatan jiwa tidak dapat membuktikan bahwa perawatan yang diberikan di rumah sakit adalah perawatan terbaik. Bukti nyata yang ada malah memberitahu bahwa alternatif perawatan selain rumah sakit memberi perawatan terbaik bagi pasien, seperti misalnya perawatan pasien di pedesaan. Contoh lain yang nyata, di Aceh, dengan biaya yang sangat murah, seorang pasien jiwa memperoleh kemajuan yang baik hanya dengan berlayar menggunakan perahu nelayan.

Untuk menolong seseorang, yang paling penting dilakukan adalah melihat dan memahami orang tersebut, seperti apa kondisinya, sehingga kemudian akan dapat diketahui apa sesungguhnya yang dibutuhkannya.

Jadi, ketika ada orang yang datang untuk dirawat, orang tersebut membutuhkan pertolongan untuk kembali ke rumahnya, sehingga sesungguhnya perawatan untuk orang tersebut harus diberikan di rumahnya.

Dalam community care ini ada beberapa tahap perawatan, yaitu primary care, crisis care, dan continuing care. Dalam primary care, terdapat soal memperhatikan kondisi pasien, di mana dia mesti dirawat, bagaimana cara merawat. Kemudian dalam crisis care diputuskan soal perlukah pasien dirawat di rumah sakit, karena sesungguhnya telah diyakini bahwa perawatan terbaik dapat diberikan di rumah. Kemudian dalam continuing care, ada persoalan evaluasi pasien yang telah dirawat, bagaimana cara perawatan lanjutannya, mengenai kesembuhan dan kemungkinan kambuh. Continuing care ini sangat penting untuk mengamati perkembangan pasien jiwa.

Primary care ini membutuhkan banyak dukungan dari puskesmas dan komunitas. Dr. Abdul Kadir, sebagai seorang yang memiliki wewenang penuh dalam bidang kesehatan jiwa di rumah sakitnya dapat mengembangkan model perawatan sendiri.

Ketika seorang pasien datang, dia akan memeriksa seberapa jauh gangguan kesehatan jiwa yang diderita pasiennya dan memutuskan apakah pasien tersebut perlu dirawat di rumah sakit atau di rumah. Dia juga akan memeriksa keluarga pasien, siapa yang dapat merawat di rumah dan berapa orang serta bagaimana kemampuan keuangan keluarganya.

Masalah utama yang sering muncul dalam soal perawatan gangguan kesehatan jiwa di rumah sakit adalah: pertama, kurangnya follow-up yang memadai. Banyak direktur RSJ yang tidak pernah memperhatikan data seperti jumlah pasien yang telah keluar dan jumlah yang kembali ke RSJ, serta kemungkinan kembalinya pasien ke RSJ. Semula di RS kurangnya kualitas penanganan terhadap pasien alasannya karena kurangnya staff di RS, kurangnya perlengkapan, keluarga yang kurang perhatian, dan mungkin dokternya yang kurang ahli.

Dengan berbagai keluhan seperti itu jalan keluar yang harus dilakukan adalah mengeluarkan seluruh pasien yang ada dari rumah sakit. Dan untuk ini harus dibuat satu sistem yang efektif, sehingga kemudian pasien tidak akan kembali ke rumah sakit setelah dikembalikan ke rumah. Diawali dengan cara mengelompokkan pasien, karena tidak setiap pasien membutuhkan perawatan secara penuh. Dengan mengelompokkan pasien, akan diketahui perawatan seperti apa yang dibutuhkan setiap pasien. Ada tiga level pengelompokan pasien. Level ketiga untuk pasien yang paling mudah dirawat karena didiagnosa paling stabil untuk jangka waktu tertentu. Level kedua untuk yang membutuhkan konsultasi intensif. Sementara level pertama untuk pasien yang memiliki kemungkinan kembali ke rumah sakit setelah dinyatakan sembuh dan tidak memiliki orang-orang terdekat untuk merawatnya.

Dengan pendekatan Assertive Community Treatment (ACT), terbukti melalui data-data (dalam file presentasi) bahwa kemajuan yang diperoleh pasien lebih baik. Setiap studi yang mempelajari ACT membuktikan bahwa pendekatan ini lebih baik hasilnya.

Dalam ACT yang dibutuhkan adalah tim, yang meskipun tidak banyak jumlahnya namun masing-masing anggota tim memiliki tanggung jawab dan mau menjalankannya. Di awal, Dr. Abdul Kadir menjalankan pendekatan ini sendirian untuk 110 pasien. Di rumah sakit yang dilakukan adalah mendiagnosa dan menentukan pengobatan medis yang dibutuhkan oleh pasien. Selanjutnya, pasien dirawat di rumah dan yang perlu dia lakukan adalah memastikan keberlanjutan perawatan, memberi bantuan secara praktis, membantu menangani dampak sampingannya, membantu menumbuhkan keterampilan komunitas dalam menangani. Pada umumnya, pengobatan medis yang dijalani pasien hanya diperlukan untuk waktu dua tahun, selanjutnya pengobatan medis pasien dapat diserahkan kepada Puskesmas.

Dalam pendekatan ACT ini yang menonjol adalah soal pelayanan yang proaktif terhadap pasien. Tim perawat selalu mengadakan asesmen dalam pelayanan proaktifnya, sehingga kebutuhan perawatan terhadap pasien akan selalu disesuaikan dengan hasil asesmen yang dilakukan. Yang termasuk ke dalam keputusan perawatan terhadap pasien ini adalah pengobatan medis yang diterima pasien, dukungan yang bisa didapat pasien, keikutsertaan komunitas yang dapat diperoleh pasien, kondisi ekonomi keluarga pasien, dan bagaimana cara bekerja dengan keluarga yang merawat pasien.

Hingga saat ini menurut data pasien yang parah jumlahnya berkurang hingga 60% di Malaysia. Sesungguhnya, secara medis, obat-obatan yang digunakan tidak berbeda dengan obat-obatan yang biasa diberikan di negara lain. Yang berbeda adalah cara perawatannya. Dari segi jumlah staff RSJ juga tidak bertambah, bahkan kenyataannya malah berkurang. Karena, terapi lebih banyak tidak dilakukan di RS, sehingga banyak staff yang ditransfer untuk bekerja di luar RS. RSJ juga membina para terapis yang dipekerjakan untuk merawat di rumah.

Lecture 3: Filipina

Brother Victor Manuel & Miss Violetta

“Congregation of the Brothers of Charity:

HolyFaceRehabilitationCenter for Mental Health”

Brother Victor Manuel

Lembaga yang bekerja untuk kesehatan jiwa ini tidak berasal dari rumah sakit. Namun demikian, kegiatannya yang utama adalah rehabilitasi untuk pasien gangguan kesehatan jiwa dengan program berbasis komunitas.

Pusat lembaga ini berlokasi di bagian utara Filipina. Tim yang bekerja ke lapangan harus bepergian dari pulau ke pulau yang menghabiskan waktu dan tenaga yang luar biasa, karena sulitnya transportasi. Kehidupan orang-orang yang berdiam di pulau-pulau ini sangat sulit, dari segi ekonomi mereka sangat miskin, air sulit didapat, dan listrik pun tak ada.

Para penderita gangguan kesehatan jiwa di pulau-pulau ini diperlakukan sangat tidak manusiawi. Beberapa di antara mereka dikurung. Sehingga, sebagian besar dari para penderita ini bukan hanya sakit secara mental, namun mereka juga mengalami sakit secara fisik.

Pusat rehabilitasi ini bekerja dengan cara mengorganisir family support group, dan sebagian besar pekerjaan dilakukan dengan cara home visit. Pusat rehabilitasi ini selalu menegaskan kepada masyarakat yang dikunjunginya bahwa perawatan yang baik terhadap penderita bukan merupakan tanggung jawab pusat rehabilitasi, namun merupakan tanggung jawab keluarga dan komunitas sekitar penderita.

Dalam home visit, kegiatan yang dilakukan adalah mem-follow-up keluarga yang sangat jarang atau bahkan tidak melakukan konsultasi lagi. Karena berbagai alasan, termasuk kondisi kehidupan dan pendidikan yang kurang baik, keluarga tidak melakukan konsultasi mengenai perkembangan penderita. Selain itu, pusat rehabilitasi juga mengadakan berbagai program pencegahan yang mungkin terhadap masyarakat akan gangguan kesehatan jiwa, misalnya dengan pelayanan pendidikan mengenai kesehatan jiwa, dan juga memberikan konsultasi terhadap pengobatan dan perawatan kesehatan jiwa secara medis.

Dalam kegiatan pencegahan, pusat rehabilitas melakukan screening terhadap klien yang potensial mengalami gangguan kesehatan jiwa. Caranya adalah mengorientasi komunitas yang didatangi terhadap kemungkinan individu yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Selain itu, setiap hari Rabu, tim lapangan selalu meluangkan waktu untuk mengidentifikasi penderita gangguan mental yang terbuang dan mencari keluarganya.

Dalam merawat penderita gangguan jiwa, pusat rehabilitasi ini sebelumnya juga mengevaluasi kondisi sosial ekonomi masing-masing klien. Mereka memiliki tiga kelas klien, yaitu kelompok yang mampu membiayai perawatan medis, kelompok yang hanya mampu membayar setengah dari keseluruhan biaya, dan kelompok yang tak mampu sama sekali, sehingga harus pelayanan kemudian harus diberikan secara cuma-cuma.

Pusat rehabilitasi dalam aktivitasnya telah membentuk empat rehabilitasi berbasis komunitas, yaitu di: 1) Alcala, Daraga; 2) Clustered Barangay of Tobacco, Cluster 1 (Baranghawon, Cobo, Cabangan & Basud); 3) Salvacion, Sto. Domingo; 4) Bogñabong, TabacoCity.

Sementara untuk jaringan pemerintah dan stakeholder telah terjalin di beberapa wilayah, yaitu: TabacoCity, Malinao, Libon, DistrictHospital, dan DonSusanoMemorialMental Hospital.

Untuk membangun rehabilitasi berbasis komunitas yang dibutuhkan adalah kelompok kecil klien yang tinggal dalam komunitas yang sama, ada orang yang karena perhatiannya yang tinggi untuk menjadi pimpinan kelompok ini, dan ada dukungan dari pemerintahan lokal dan komitmen anggota keluarga.

Dalam komunitas pusat rehabilitasi melakukan pengorganisiran terhadap kelompok pendukung, yang terdiri dari keluarga dan tokoh komunitas untuk bertemu satu bulan sekali. Pertemuan bulanan ini dilakukan untuk memberi pendidikan tentang kesehatan jiwa, berdiskusi antar keluarga penderita dan memberi berbagai pelatihan untuk keterampilan hidup seperti kerajinan tangan atau pertanian.

Dalam bidang kampanye, pusat rehabilitasi menyebarkan berbagai brosur dan pamflet, serta melakukan berbagai pelatihan dan seminar bagi para pekerja kesehatan Barangay.

Miss Violetta D. Bayatto

Presentasinya berkisar mengenai pengalaman dari perspektif aktivitasnya yang memberi pendidikan publik mengenai kesehatan jiwa.

Bermula dari ulasan mengenai kerentanan bencana alam negara Filipina yang ternyata berdampak pada psikososial masyarakatnya. Sejarah masyarakatnya juga mencatat penurunan ekonomi masyarakatnya sampai saat ini.

Selama lebih dari 50 tahun pasien gangguan jiwa dirawat di RS. Dan tak dapat dipungkiri bahwa dalam masyarakat umum telah ada stigmatisasi mengenai penderita gangguan jiwa yang negatif.

Selain pekerjaan-pekerjaan merawat penderita secara langsung, muncul kebutuhan lain untuk mendidik publik mengenai kesehatan mental yang sesungguhnya. Ini dimulai dengan melakukan pengamatan di lapangan secara langsung. Miss Violetta bekerja dengan menggunakan kendaraan berkeliling jalanan. Kendaraan itu memiliki tulisan ”Philipine Mental Health Institution”.

Kesempatan berkendaraan ini dipergunakan untuk melihat secara langsung efek kendaraan berlabel mental health instituion di jalanan. Dari dalam kendaraan dapat dilihat secara langsung bagaimana reaksi umum yang diperlihatkan masyarakat terhadap kendaraan dan para penumpangnya. Dan sebagian besar membuat joke dan tersenyum mentertawakan. Itu di perkotaan.

Sementara, di daerah hutan, ketika bekerja di sana tahun 2002, dengan kendaraan berlabel ”Pradet Psychosocial Rehabilitation” reaksi yang didapat dari masyarakat cukup berbeda. Orang-orang yang berpapasan akan melambaikan tangan dan senang melihat kendaraan itu.

Dari pengalaman itu, diambil asumsi mengenai istilah yang digunakan mengenai kesehatan jiwa. Entah karena perbedaan istilah mental health dan psychosocial, atau karena ada pergeseran paradigma dari istilah psychosocial. Atau kemungkinan penekanan yang berlebihan terhadap gangguan jiwa dari istilah mental yang digunakan. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa kata-kata dan gambaran-gambaran benar-benar berarti dalam memberi pemahaman, terutama terhadap publik.

Simpulan yang dapat diambil dari pengalaman dalam pendidikan kepada publik mengenai kesehatan jiwa ini bahwa ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam beraktivitas ke depannya, yaitu: a) agar tidak terfokus pada diagnosis dan pendekatan biomedis; b) harus berurusan dengan kerumitan penyebab psikososial dan bukan dengan sumber daya; c) belajar menggeser paradigma dan prasangka; d) merangkul kelompok yang terdiskriminasi; e) berhadapan langsung dengan pelanggaran terhadap HAM.

Pesannya di sini adalah: “Kita dapat bekerja bersama”.

Sesi Tanya Jawab

Tanya:

Bagi orang yang profesional dalam kesehatan bagaimana berubah dari biomedical ke psikososial. Kita perlu bekerja bersama sebagai partner yang setara. Model Abdul Kadir, adalah model psikiatris, bagaimana visualisasi interaksi keluarga?

Jawab:

Model biomedis telah mencapai batasnya, jadi institusi kesehatan jiwa ini telah melewatinya. Ada kebutuhan selanjutnya untuk mengikutkan keluarga dan komunitas. Di sini yang dibuka adalah manajemen oleh keluarga-keluarga itu. Mereka mengatur pertemuan rutinnya. Di sini juga dibuat jejaring dengan media elektronik untuk menyiarkan kegiatan-kegiatan para keluarga ini. Keluarga-keluarga ini berorganisasi di luar RS dengan mendapat dukungan secara profesional dari RS. Dengan cara berorganisasi seperti itu, orang-orang baru akan memperoleh pengalaman dari keluarga lama.

Berkaitan dengan pengobatan medis, begitu ada obat baru bisa digunakan secepatnya. Namun pengobatan ini juga bergantung pada kecocokan penderita. Pengalaman-pengalaman mengenai obat-obatan yang digunakan ini misalnya bisa saling dipertukarkan dalam kelompok keluarga. Jadi sesungguhnya pengobatan medis memiliki peran yang kecil dalam perawatan penderita ini.

Pelatihan-pelatihan diberikan pada orang-orang yang akan memberikan konseling pada keluarga-keluarga pasien. Pada umumnya pelatihan berkisar mengenai bagaimana mendengarkan orang, memberi nasehat, dan mengajukan alternatif penyelesaian masalah. Orang-orang yang memberi konseling ini bisa berasal dari berbagai profesi. Bisa guru, pendeta, dll. Mereka ini akan bebas bekerja sendiri.

Moderator:

Ada perubahan yang tidak terlampau drastis di kalangan medis dan psikiatri yang mulai mengkritisi perawatan biomedis. Di wilayah bencana perawatan ini dihindari. Dalam Jejak Jiwa, masing-masing individu diakomodir dan berdialog secara dinamis untuk mendapat wawasan yang lebih baik. Di sini dilakukan reformasi terhadap mindset agar mampu melihat masalah kesehatan jiwa dalam arti yang sangat luas. Di sini akan terus diciptakan ruang dalam forum apapun.

Jejak Jiwa melakukan updating pada konsep psikiatri. Bahwa perawatan tidak selalu harus dilakukan di RS, tapi juga di luar. Ini PR yangbesar. Namun ke depan Jejak Jiwa akan bekerja dengan langkah-langkah kecil.

Ada kemungkinan untuk mengajukan Askeskin (asuransi kesehatan untuk orang miskin). Namun ini harus dicermati, karena skema Askeskin ini sangat generik, yang artinya hanya mencakup pengobatan medis saja. Sementara perawatan mencakup lebih banyak proses, seperti psikoterapi dan home visit, dan porsinya justru jauh lebih besar. Jadi, akan muncul pertanyaan apakah aksesibilitas dapat dicapai oleh skema ini, dan apakah memadai?

Dan dalam lecture juga dijelaskan soal mindset yang berkenaan dengan terminologi. Ada contoh kasus di Jepang yang berupaya mengganti schizophrenia dengan istilah lain, supaya lebih soft.

Pertemuan akan dilanjutkan dengan diskusi secara bebas, sehingga begitu selesai akan ada beberapa kesepakatan dan inisiatif agenda bersama.

Dr. Abdul Kadir:

Psikososial ini sangat penting dalam kesehatan jiwa. Kebanyakan service provider mental health bermarkas di RS. Dan para service provider ini kuasanya sangat mutlak. Menurut saya, ini perlu dikurangi. Kita perlu mengatakan bahwa RSJ tidak penting, dan sebaiknya dihilangkan saja. Dan kalaupun RSJ tetap ada, perlu dilakukan manajemen pekerjaan, sehingga tidak akan pernah ada istilah kekurangan pekerja kesehatan. Kalaupun seorang dokter kesehatan jiwa tidak punya asisten, semua pekerjaannya bisa dan harus bisa dikerjakan dan diselesaikan.

Moderator:

Terapi dapat dilakukan oleh siapapun dengan kapasitas apapun. Secara teoritis hal ini mungkin kurang nyambung dengan profesi kedokteran. Namun secara komunitas, hal ini bisa dilakukan sesuai dengan kondisi yang melingkupinya.

Lecture 4: Indonesia

Sri Palupi

“Kemiskinan, Solidaritas dan Gangguan Jiwa”

Selama beberapa tahun, ada tiga wabah yang menyebabkan kematian dalam jumlah besar. Ini berdasarkan berita setiap hari yang dicover oleh media. Ketiga wabah itu adalah:

ØBencana alam, yang korbannya bisa mencapai ratusan ribu orang. Korban akibat bencana alam ini dapat menghimpun solidaritas masyarakat nasional dan internasional.

ØBusung lapar, korbannya cukup tinggi angkanya. Solidaritas terhadap wabah ini bisa dibilang kurang. Jika pada bencana kematiannya terjadi sekaligus, sementara busung lapar terjadi satu demi satu. Di Indonesia, 72% kabupaten mengalami kejadian busung lapar ini. Bahkan di Jakarta. Bila kita jumlahkan dari seluruh kabupaten itu mungkin sesungguhnya angka kematiannya jauh lebih tinggi dari bencana alam.

ØBunuh diri di kalangan kaum miskin. Ini hampir setiap hari bisa ditemukan di media. Kadang kematian ini bisa menyentak masyarakat, karena keputusan dan proses kematiannya sangat mengerikan. Kasarnya pada kaum miskin ini ada tiga pilihan kemungkinan, yaitu kelaparan atau bunuh diri atau gila.

Berbicara soal kemiskinan, bisa dikatakan bahwa orang miskin punya dua pilihan dalam hidupnya, yaitu bunuh diri atau kelaparan. Mungkin bisa ditambah satu pilihan yaitu gila. Karena itu busung lapar dan kemiskinan diangkat dalam presentasi ini sebagai wabah kematian.

Beberapa contoh kasus bunuh diri yang dilakukan kaum miskin adalah:

1.Tahun 2003: seorang anak SD bunuh diri karena tidak mampu membayar ekstra kurikuler.

2.Tahun 2004: seorang ibu membakar diri bersama dua anaknya.

3.Tahun 2005: dua remaja bunuh diri karena tidak mampu bayar SPP.

4.Tahun 2006: seorang ibu membakar dua anaknya; seorang ibu membunuh tiga anak kandungnya.

5.Tahun 2007: seorang ibu bunuh diri bersama empat anaknya.

Kalau dilihat dari angka kasus bunuh diri yang dilaporkan pada polisi, di Jakarta tahun 2003 ada 62 kasus, tahun 2004 38 kasus, tahun 2005 68 kasus, tahun 2006 melonjak 101 kasus. Dilihat dari kasus bunuh diri ini, kita bisa lihat bahwa masyarakat sedang terganggu jiwanya. Ini terjadi karena ada problem di tingkat individu, keluarga, juga masyarakat. Kita bisa lihat sekarang ini kendornya hubungan sosial, benturan kebudayaan, meningkatnya nilai materialisme dan individualisme. Ini menyebabkan ketidakpedulian sebagian besar masyarakat terhadap penderitaan orang lain.

Di beberapa kabupaten yang terkena busung lapar cukup tinggi, saat diangkat ke permukaan malah timbul pertanyaan dari masyarakat kabupaten itu: “kenapa soal busung lapar diangkat? Padahal ‘kan sudah biasa”. Jadi, yang mengerikan bukan persoalan busung laparnya sendiri. Tetapi sikap komunitas bahkan pemerintah yang melihat bahwa ini merupakan hal biasa.

Selain problem di ketiga level individu, keluarga, dan masyarakat, yang mengindikasikan masyarakat sedang terganggu jiwanya, terjadi problem di tingkat keempat yang paling tinggi yaitu negara, dimana pemerintah gagal melaksanakan kewajibannya untuk mensejahterakan rakyat.

Kondisi masyarakatyang terganggu jiwanya juga dapat diukur dengan cara lain. Misalnya dengan melihat gambaran prioritas alokasi pendapatan secara global pada tahun 1998 (lihat file presentasi untuk angka pasti). Terdapat perbandingan yang sangat tidak seimbang antara kebutuhan primer dan sekunder bahkan tersier. Jadi, secara sosial dan secara struktural masyarakat kita sedang terganggu jiwanya, jika melihat perbandingan angka-angka alokasi pendapatan itu.

Sekarang pertanyaannya, di Indonesia sendiri bagaimana? Kenapa Indonesia gagal mengatasi kemiskinan. Kita bisa melihat juga data-data alokasi pendapatan di Indonesia:

1.APBN/APBD, yang pada kenyataannya pelit untuk kaum miskin, royal untuk kaum birokrasi dan boros untuk bayar hutang. Lihat saja perbandingan APBN 2005, di mana dana kompensasi sebesar 4,7 triliun harus dibagi untuk 15,5 juta warga miskin; sektor kesehatan 7,4 triliun; pendidikan 21,5 triliun; cicilan hutang 64 triliun. APBN 2006 dan 2007 jauh lebih tinggi lagi perbedaannya.

2.Pendekatan penanggulangan kemiskinan bersifat ad hoc, parsial dan emerjensi. Tidak menyentuh persoalan-persoalan struktural.

3.Sementara pemerintah belum mampu menyentuh hak-hak dasar kaum miskin, namun kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan justru malah mempermiskin kaum miskin. Kita lihat seluruh dimensi pembangunan tidak berpihak pada kaum miskin, malah berusaha menyingkirkan kaum miskin. Di bidang tata ruang, pertanahan, perairan, pertambangan, pertanian, dan lain-lain. Di Jakarta saja, baru saja dibuat Perda Ketertiban Umum yang isinya menyingkirkan kaum miskin dari kota Jakarta.

(Notulis: E.R./L.)

Pada tataran global kita bisa melihat liberalisasi ekonomi yang menyebabkan kesenjangan kaya dan miskin yang begitu mencolok. 40% penduduk dunia hanya menguasai 5% pendapatan dunia. Sementara 10% orang terkaya dunia menguasai 54% pendapatan global. Ini akar struktural dari munculnya gangguan jiwa.

Kalau kita melihat di pedesaan dan perkotaan, ruang-ruang kehidupan itu banyak diwarnai oleh konflik antara pemodal dan kaum miskin. Di Jakarta saja tahun 2001-2005 terjadi 86 kasus penggusuran pemukiman miskin dan 74 PKL. Tahun 2006 meningkat menjadi 146 pemukiman miskin. Dari sini kita bisa memahami penyebab para PKL yang bunuh diri, karena memang setiap hari dikejar-kejar penggusuran.

Dulu orang miskin punya daya tahan yang sangat bagus. Bisa dikatakan begitu, karena pada masa konglomerat banyak yang stress, orang miskin punya kreativitas sendiri untuk bertahan hidup. Tapi sekarang, mekanisme survival untuk menghadapi kemiskinan itu sudah hancur. Dulu, dalam menghadapi penggusuran, ibu-ibu bisa menghadang dengan telanjang, anak-anak ditaruh di garis depan, sehingga penggusuran tidak terjadi. Namun sekarang strategi-strategi seperti itu sudah tidak mempan lagi. Perempuan atau anak-anak menghadang pasti tetap diterjang.

Perkembangan di Jakarta yang bisa kita lihat bersifat materialisme, di mana-mana pasar tradisional tergusur oleh pasar modern yang dibangun untuk memenuhi hasrat konsumerisme. Dampaknya, ruang pasar tradisional menurun, begitu juga ruang untuk pemukiman masyarakat marjinal. Banyak keluarga yang terpaksa tidur di tenda-tenda dan kolong-kolong jembatan akibat terjadinya penggusuran-penggusuran.

Itulah gambaran gangguan jiwa struktural yang terjadi baik lokal, regional, maupun nasional. Jadi bukan masyarakat miskin yang mengalami gangguan jiwa, namun semuanya.

Sesi Tanya Jawab

Tanya:

Melihat dan mencermati penyampaian, pengambil kebijakan menderita gangguan jiwa. Lalu konsep apa yang dimunculkan supaya pengambil kebijakan tidak lagi mengalami gangguan jiwa?

Jawab:

Harus ada gerakan bersama untuk menyelesaikan gangguan jiwa itu. Karena bukan hanya pengambil kebijakan yang mengalami namun seluruh masyarakat juga mengalami persoalan itu. Harus ada gerakan bersama untuk menyatukan semua jiwa itu. Tak ada cara lain lagi. Harus ada kerja bersama untuk mengatasi gangguan jiwa bersama ini.

Tanya:

Sepertinya di sini masalah kemiskinan menjadi masalah pokok. Ini sulit diatasi. Orang miskin selalu diperlakukan sebagai objek yang marjinal. Upaya-upaya apa yang harus dilakukan untuk mengatasi ini. Upaya yang realistis apa harus dilakukan sehingga para pengambil keputusan ini bisa mengambil tindakan yang tepat.

Jawab:

Seperti yang sudah disampaikan, kita tidak bisa bergantung sepenuhnya pada hutang. Ketergantungan pada hutang sangat besar. Jadi, sesungguhnya jika kita ingin menghapus persoalan secara struktural kita harus berani menghapus hutang yang tidak sepenuhnya ditimbulkan oleh kita, sebagian besar di antaranya merupakan warisan sejarah. Itu persoalan struktural.

Kita tidak bisa sepenuhnya bertumpu pada pemerintah. Kembali pada persoalan gangguan jiwa, jika kita ingin menyelesaikannya berarti harus mulai dari yang waras. Kita harus mencoba melihat dan mencari terobosan mengatasi persoalan ini. Jika melihat tingkat gangguan jiwa mulai dari individu sampai pengambil kebijakan, artinya memang harus ada kerja bersama. Pada gerakan bersama, dengan berjejaring, di level manapun kita berada, ada satu titik di mana pasti ada sesuatu yang bisa dilakukan.

Misalnya saja, saat melakukan riset busung lapar di NTT, ternyata masyarakat memiliki potensi untuk menyelesaikan masalah itu sendiri. Celakanya, potensi-potensi masyarakat itu seringkali dihancurkan oleh kebijakan-kebijakan yang dibuat dengan tidak mengenali potensi-potensi yang ada dalam masyarakat itu.

Ada banyak gerakan yang peduli untuk mengatasi masalah ini. Kita hanya harus membuka mata. Yang harus dilakukan adalah bagaimana cara menyambungkan pulau-pulau gerakan yang tersebar untuk membangun kepedulian masyarakat. Itu satu-satunya cara untuk menyelesaikan persoalan struktural ini.

Tanya:

PBB mencanangkan pada tahun 2015 kemiskinan harus turun 50%. Pemerintah juga sudah mencanangkan berbagai program berkaitan dengan ini termasuk di RS kami. Apa betul antara kemiskinan dan gangguan jiwa ini ada hubungan? Siapa tahu yang miskin karena sudah terbiasa miskin jadi merasa tidak ada masalah dengan itu.

Jawab:

Ada program internasional, millenium development goal, sebuah komitmen internasional untuk mengurangi masalah kemiskinan menjadi separuhnya pada tahun 2015. Persoalannya, Indonesia ini merupakan salah satu negara yang paling gagal dalam mewujudkan tujuan menghapuskan kemiskinan. Karena, salah satunya program untuk mencapai MDG tadi lebih banyak ditujukan untuk charity, seperti BLT, raskin, dll. Tapi, pada titik kebijakan strukturalnya lebih banyak meningkatkan kemiskinan atau mempermiskin orang dan menambah jumlah miskin.

Mengapa pemerintah sudah banyak berbuat tapi kurang hasilnya. Kita lihat saja contohnya, kasus busung lapar, sekian milyar sudah dikeluarkan tapi hasilnya masih kurang. Tidak mencapai 25% saja. Untuk meningkatkan gizinya saja tidak mampu. Persoalan busung lapar ini persoalan struktural.

Satu contoh lain, misalnya satu program yang sangat strategis dari pemerintah adalah program revitalisasi pos yandu. Namun, program ini sekarang mati, sekarang ini pos yandu bukan milik masysrakat. Yang dilakukan dalam revitalisasi pos yandu yang dilakukan adalah memperbanyak timbangan, mencetak banyak Kartu Menuju Sehat, merekrut banyak kader. Namun, ketika menimbang anak misalnya, setelah selesai ditimbang, si anak kembali ke rumah, dan selesai sudah. Kalaupun ada masalah, misalnya si anak busung lapar, si anak kekurang gizi, paling jauh diberi saran, lalu kembali ke rumah. Tidak ada penanganan masalah secara komunal. Dulu di NTT, jika di satu kampung terdapat satu anak yang busung lapar, satu kampung akan merasa malu. Saat ini perubahannya luar biasa. Bukan lagi masyarakat tidak merasa malu, namun masyarakat merasa sudah biasa dengan masalah itu. Jadi, kita lihat, sekarang ini tidak dibangun satu kebersamaan masyarakat untuk menyelesaikan satu kasus kemiskinan.

Dulu daya tahan orang miskin dalam menghadapi tekanan sangat luar biasa. Namun sekarang pertanyaannya mengapa orang miskin banyak yang bunuh diri. Artinya tekanan terhadap orang miskin sekarang ini jauh lebih besar daripada dulu. Karena bahkan anak-anak sudah merasa tertekan karena kemiskinan sampai memutuskan untuk bunuh diri. Fenomena gangguan jiwa masyarakat kita ini sudah begitu dalam.

Moderator:

Cukup banyak studi yang mengkaitkan kemiskinan dengan gangguan kesehatan jiwa. Apa yang disampaikan barusan menjadi pemikiran kita apakah betul hipotesis Sri Palupi bahwa orang miskin ini makin lama makin mendapat tekanan yang berat dan ruang yang sempit, tidak mempunyai opsi, sehingga tidak mampu bertahan.

Sedikit penjelasan tentang pertemuan ini, bahwa sebetulnya pertemuan ini ingin memperlihatkan pada teman-teman dari profesi psikolog dan psikiater bahwa sesungguhnya persoalan kesehatan jiwa ini juga menjadi perhatian dari teman-teman profesi lain.

Pertemuan ini digagas oleh satu LSM yang namanya Jejak Jiwa. Sudah lama tapi mati suri. Sekarang mencoba bergerak lagi. Jejak Jiwa ini gerakan kesehatan jiwa. Gerakan ini bukan satu organisasi, namun sebagai suatu jejaring dari banyak simpul yang saling berkomunikasi dan berkolaborasi.

Beberapa hal yang mendasari gerakan Jejak Jiwa adalah: Pertama, ada kegelisahan dari kita semua, bahwa masalah kesehatan jiwa adalah masalah besar dan masalah kita bersama.

Kedua, ada kesadaran bersama untuk membicarakan modal kekuatan bangsa dan segala potensinya. Kita belum organisir ini secara sistematik. Hampir semua pejabat kesehatan menyatakan kesehatan jiwa penting.

Ketiga, kita lumayan lambat belajar dibanding teman-teman lain, bahwa kesehatan jiwa multi-dimensi dan mewajibkan kepedulian di semua profesi disiplin. Ini merupakan masalah professional dan non-profesional.

Jejak Jiwa berangkat dari sini. Jejak Jiwa sudah menyelenggarakan beberapa pertemuan nasional mengenai kesehatan jiwa. Pada pertemuan nasional yang kedua dibicarakan soal investasi dalam kesehatan jiwa berkaitan dengan keberlanjutan bangsa. Pada pertemuan ketiga tahun 2003, kajiannya menegaskan kesehatan jiwa sebagai hak asasi manusia. Pada tahun 2006, Jejak Jiwa mencoba merumuskan apa saja yang harus dikoreksi. Apakah telah melakukan hal-hal yang semestinya dilakukan? Jejak Jiwa mencoba memetakan dan melist semua hal tersebut. Kemudian membuat agenda pembelajaran bersama, dengan mencoba mencari di luar dinding rumah sakit, dengan membangun ruang-ruang diskusi dan komunikasi. Dan kemudian mencoba membuat empat kuadran. Setiap yang tergabung dalam Jejak Jiwa merenungkan kapasitas dan potensi serta apa yang bisa dilakukan masing-masing dalam masing-masing kuadran. Ini belum sesuatu yang final.

Program Jejak Jiwa sampai tahun 2009 yang ingin dilakukan adalah: Pertama, seperti yang sekarang sedang dilakukan adalah internasional lecture series tentang kesehatan jiwa. Kedua, publikasi. Kita sudah menerbitkan Journal of Mental Health. Ketiga, research. Riset tentang kesehatan jiwa sangat sedikit yang sudah dilakukan. Di Indonesia agak jarang yang datanya kuat. Kita perlu memikirkan agenda-agenda riset pada berbagai level. Keempat, menurut catatan terakhir gerakan jiwa ini tidak begitu berkembang, kita perlu digembleng dalam hal leadership dan mental health. Baik yang bergerak di bidang pelayanan maupun training.

Jurnal motonya adalah inviting and provoking, mengundang dan memprovok untuk mengkaji ulang asumsi-asumsi yang sebetulnya merupakan mitos tentang kesehatan jiwa.

Hari ini tema yang dipilih adalah ”The Demand on Social Learning”. Ini untuk memperkaya pemikiran kita dengan membuka ruang sebanyak-banyaknya, untuk membuka sekat-sekat profesional dan institusi. Pada pertemuan ini akan ditentukan agenda-agenda untuk tahun depan.

Written by juneman in: Uncategorized |
Nov
06
2019
0

Bimbingan Magang Daring 2019

Written by juneman in: Uncategorized |
Oct
29
2019
0

Daftar Kegagalan (baca: Peluang Pertumbuhan) Saya

Berikut ini saya kutipkan beberapa hal dalam mana saya belum berhasil:

Walau sudah lolos sebagai salah seorang calon dosen berprestasi (dospres) di lingkungan Kopertis Wilayah III tahun 2018, saya belum berhasil melaju ke tahap berikutnya 🙂
Saya mendaftarkan diri meresponi call for nominee untuk LIPI Young Scientist Award (LYSA) 2019. Masih perlu belajar untuk menjadi peneliti sosial yang baik 🙂
Written by juneman in: Uncategorized |
Oct
24
2019
0
Oct
24
2019
0

Mengenal Repositori Ilmiah Nasional (RIN)

Hari ini, 24 Oktober 2019, saya menyimak paparan mengenai Repositori Ilmiah Nasional (RIN, http://rin.lipi.go.id ) langsung dari Bapak Dr. Hendro Subagyo, M.Eng (Plt. Kepala PDDI LIPI).

Berikut ini adalah dokumentasi dari paparan tersebut bersama dengan situasi di tempat berlangsungnya kegiatan Indonesia Science Expo 2019.

Bersama Ibu Syifa, Pustakawan LIPI

Oct
11
2019
0
Oct
10
2019
0
Sep
22
2019
0

Pelanggaran Integritas Akademik: Taraf, Timbangan Penalti, dan Metode Deteksi serta Mitigasi

Dokumen ini merupakan Terjemahan dan Saduran dari: Sumber tertera.

Kurator Sumber & Penyusun: Juneman Abraham

Korektor: Ide Bagus Siaputra

Editor: Dimas Armand Santosa

Translator: Tim Jurnal “Anima”, Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya

Komentator & Komplementor: Meity Wingkono 

Pemutakhiran (updating) dan penataan masih terus berlangsung. Hubungi, untuk memperoleh informasi lebih lanjut: juneman@binus.ac.id

Rujukan lainnya yang terkait Integritas Akademik di Indonesia: ANJANI, Anjungan Integritas Akademik Indonesia

 

1. Fabrikasi

1.1. Perilaku yang layak ditanyakan (Questionable conduct)

1.1.a. Mengarang kutipan langsung dalam penelitian kualitatif yang melibatkan sumber Internet (blog).

Daripada menyediakan kutipan langsung dari ‘blog’ (singkatan dari web log) asli, penulis dengan hati-hati “mengkonstruksi sendiri kutipan kalimat-kalimat ‘blog’ yang frasenya mencerminkan ‘blog’ asli, walau tidak persis kalimatnya. Penulis tersebut memilih praktek ini sebagai cara melindungi privasi orang lain (dalam kasus ini, penulis/pemilik blog tersebut), karena mengetahui bahwa perangkat lunak penggali data mampu gampang melacak asalnya materi asli yang dikutip (sehingga memerlukan langkah ekstra untuk memastikan bahwa sumber asli lebih tersamarkan).

https://annettemarkham.com/writing/fabricationarticle_finaldraft.pdf

1.2. Perilaku yang kurang cocok (Inappropriate conduct)

1.2.a. Menyatakan bahwa “salinan” data mentah yang tersedia adalah satu-satunya yang ada, tanpa menyediakan bukti yang memadai.

Seorang peneliti menggunakan data sekunder dari rekan peneliti untuk menyelesaikan analisis data. Data tersebut sekilas terlihat sempurna, namun ada kecurigaan mengenai kecepatan rekan peneliti dalam menghasilkan data. Ketika ditanyakan lebih lanjut, rekan peneliti tersebut mengaku bahwa data mentah telah dihapus, dan hasil yang diberikan kepada peneliti merupakan satu-satunya salinan dari data hasil tersebut. Dalam kasus serupa, perlu dipertimbangkan mengenai ada/tidaknya sumber bukti lain mengenai apakah pengambilan data memang dilakukan atau tidak. Sumber bukti lain dapat berupa kesaksian sumber data bahwa pengambilan data memang dilakukan, walaupun data mentah sudah tidak dapat disediakan lagi.

https://www.lifescitrc.org/download.cfm?submissionID=11070

1.3. Perilaku salah secara nampak sekali (Blatant misconduct)

1.3.a. Penelitian yang dalam penelitian tersebut terjadi peningkatan jumlah data secara tiba-tiba.

1.3.b. Kajian retrospektif (retrospective reviews) dipura-purakan sebagai ujian sembarang (randomized trials).

(https://www.srobf.cz/downloads/editorial/falsification_fabrication_writ_.pdf

1.3.c. Melaporkan eksperimen yang sebenarnya tidak pernah dilakukan (“drylabbing“).

1.3.d. “Fudging“, “massaging“, atau pembuatan langsung (outright manufacturing) data eksperimen.

https://en.wikipedia.org/wiki/Fabrication_(science)

1.4. Faktor yang Memperberat/Memperingan

1.4.a. Justifikasi pelaku fabrikasi

Alasan yang diajukan sebagai justifikasi melakukan fabrikasi. Alasan apa, jika ada, yang merupakan alasan yang dapat membenarkan fabrikasi yang dilakukan. Alasan yang menjadikan diri penulis saja sebagai pusat penerima keuntungan, sedangkan pihak lain dirugikan, akan merupakan faktor yang memperberat (contoh: tujuan fabrikasi data adalah untuk mendapatkan kenyamanan dan kemudahan untuk mencapai sesuatu yang berhubungan dengan akademika, misal untuk meraih suatu gelar).

1.4.b. Pertimbangan mengenai konsekuensi fabrikasi

Pihak mana saja dan banyaknya pihak yang kemungkinan akan dirugikan oleh fabrikasi data. Apakah kerugian aktual harus terjadi dalam realita agar fabrikasi baru dianggap salah secara etis. Sebagai contoh: fabrikasi dapat merugikan institusi (karena penulis membawa nama baik maupun buruk dari institusinya), masyarakat secara umum (mempengaruhi perilaku atau keputusan yang diambil oleh masyarakat karena data atau simpulan yang merupakan hasil fabrikasi), dan/atau ilmu pengetahuan itu sendiri (mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat dalam lingkup yang lebih luas).

1.4.c. Ketersediaan kontrol sejawat

Apakah pernah meminta pertimbangan sejawat mengenai melakukan fabrikasi atau tidak; atau apakah pernah ada sejawat yang memperingatkan mengenai konsekuensi melakukan fabrikasi.

Bredi, Winker, & Kotschau (2012), A statistical approach to detect interviewer falsification of survey data.

Noble Kuriakose & Michael Robbins, 2015, Falsifications in survey, Detecting near duplicate observations (http://docplayer.net/13138324-Falsification-in-surveys.html)

https://www.onlineethics.org/cms/9728.aspx

1.5. Deteksi

Tiga metode umum:
1. Kontak kembali (Recontact)
2. Metadata
3. Benford’s Law, Zip’f law, atau analisis statistik lainnya terhadap data penelitian
https://www.econstor.eu/bitstream/10419/74449/1/746858302.pdf

1.5.a. Rekontak/hubungi kembali 

Merupakan metode yang paling umum untuk mendeteksi fabrikasi data. Dengan menggunakan metode ini responden dihubungi kembali secara langsung, melalui surat atau melalui telepon untuk memverifikasi apakah pengambilan data yang sebenarnya telah terjadi.

1.5.b. Metadata

“Metadata” terdiri dari beragam jenis informasi yang terkait dengan proses pengumpulan data, bukan mengenai data yang telah terkumpul.
Indikator berbasis metadata yang digunakan untuk mendeteksi fabrikasi dapat dibagi menjadi dua kelompok: (1) indikator berdasarkan hasil kontak peneliti, dan (2) indikator berdasarkan pemrosesan penelitian, seperti tanggal dan waktu (date and time stamps).
Hasil kontak merujuk pada informasi yang terkait dengan berapa banyak peserta yang menolak untuk ikut serta dalam penelitian atau berapa banyak peserta yang tidak memenuhi syarat penelitian untuk beberapa alasan. Stempel tanggal dan waktu hanya dapat direkam jika penelitian dilakukan menggunakan cara yang mengandalkan bantuan komputer. Jika rekaman ini tersedia, maka catatan ini dapat digunakan untuk memeriksa panjangnya penelitian, atau jumlah wawancara yang diselesaikan dalam satu hari atau dalam periode di mana penelitian dilakukan.

1.5.c. Hukum Benford atau Zip’f atau sejenisnya

Untuk mengungkapkan data survei palsu melalui Hukum Benford atau Hukum Zip’f, seseorang harus memastikan bahwa data survei yang akurat secara aktual berdistribusi seturut Hukum Benford, sedangkan data yang difabrikasi menyimpang dari distribusi tersebut.
https://www.quora.com/How-can-I-detect-fabrication-of-data-in-a-published-paper

1.5.d. Cara-cara lainnya

  • “Dengan menemukan hal-hal yang “dihilangkan” (omissions) dalam deskripsi eksperimen dan kekurangan dalam eksperimen
  • “Dengan mencoba mereproduksi data dengan percobaan independen
  • “Dengan menemukan makalah yang mencoba melakukan sesuatu yang serupa dan tidak cukup berhasil (apakah makalah yang diselidiki menawarkan sesuatu yang jelas baru?)

https://www.quora.com/How-can-I-detect-fabrication-of-data-in-a-published-paper

  • Pelacakan GPS atas keberadaan peneliti:

Cara terakhir untuk mendeteksi fabrikasi adalah dengan menggunakan pelacak GPS. Sejumlah negara menggunakan pelacak GPS untuk memantau peneliti mereka, tetapi informasi yang dihasilkan digunakan pada tingkat operasional dan tidak tersedia secara terpusat.

https://www.europeansocialsurvey.org/docs/methodology/data_falsification_ESS.pdf

  • Pemantauan kualitas data:

Hal ini dilakukan setelah analisis lapangan untuk mengidentifikasi masalah kualitas data seperti straightlining, pola aneh (odd patterns), hasil yang tidak konsisten, dll. Analisis ini dapat juga diinisiasikan selama kerja lapangan, dengan membuat file-file perantara (intermediate files) sepanjang proses penelitian.

  • Pengecekan komposisi sampel responden:

Komposisi kelompok responden akhir dapat diperiksa dengan kriteria internal dan eksternal. Penyimpangan dari pola yang diharapkan dapat menjadi indikasi perilaku penelitian yang tidak benar (undesirable). Koch menemukan bahwa penyimpangan ini lebih besar ketika dalam kerangka sampling digunakan, peneliti memiliki lebih banyak kebebasan untuk memilih responden yang ditunjuk.

  • Perlunya seni dari orang yang terlatih:

Fabrikasi data dan manipulasi gambar adalah masalah yang tidak dapat dilihat semata-mata melalui penggunaan perangkat lunak apa pun. Fabrikasi paling baik diidentifikasi oleh “mata yang terlatih” di lapangan dari editor ahli spesialis subjek.
https://www.editage.com/quality/case-studies.html

1.5.e. Ada 7 analisis yang dapat memberikan indikasi bahwa data telah terfabrikasi  menurut Rutger et al, dalam Journal of Clinical Epidemiology (Elsevier) :

1). Distribusi dari observasi pengukuran yang berkelanjutan yang terfabrikasi, berbeda dengan observasi dari sumber/bagian lain,

2). nilai data berada pada rata-rata yang terlalu rendah atau terlalu tinggi

3) variabilitas dari bahan bacaan terlalu rendah/sedikit pada data yang terfabrikasi karena peneliti yang curang memilih untuk menghindar memfabrikasi nilai-nilai yang ekstrim agar tidak menarik perhatian atau meremehkan variabilitas yang sesungguhnya.

4). data yang terfabrikasi biasanya terlalu sempurna dengan nilai hilang (missing values) yang sangat sedikit.

5). tingkat perekrutan yang terlalu konstan sebagai akibat dari dimasukkannya pasien yang tidak memenuhi syarat dan / atau subyek hantu

6). terlalu banyak kunjungan ke pasien/subjek yang dilakukan di akhir pekan.

7 ) terlalu banyak digit yang sama, baik digit pertama, kedua atau digit-digit terakhir pada sebuah hasil laboratorium atau pencatatan vital dari denyut nadi dan tekanan darah.

1.6. Mitigasi

Editor mengomunikasikan keprihatinan tentang fabrikasi kepada penulis dan memberitahukannya tentang kemungkinan masalah jika makalah tersebut terbukti melanggar standar etika publikasi. Ketika penulis menyatakan keinginannya untuk melanjutkan pengajuannya ke jurnal target, editor memintanya untuk menawarkan penjelasan yang tandas mengenai kredibilitas datanya.

https://www.editage.com/quality/case-studies.html

 

2. Falsifikasi

2.1. Perilaku yang layak ditanyakan (Questionable conduct)

2.1.a. Melaporkan software/perangkat lunak yang sesungguhnya tidak digunakan.

Peneliti mengaku menggunakan program statistik tertentu dalam penelitian, (misal: Statistical Analysis System/SAS) namun sebenarnya menggunakan program lain (misal: Statistical Packages for Social Scientists/SPSS). Walaupun program yang digunakan berbeda dengan yang dicantumkan dalam tulisan, dalam kasus ini, tidak ada dampak pada analisis data.

2.1.b. Fabrikasi atau falsifikasi data dari hal yang tidak bisa diamati (unobservable)

Sehubungan dengan ideologi constructive empiricist mengenai fabrikasi dan falsifikasi hanya berlaku untuk hal yang dapat diamati secara fisik, sehingga untuk hal yang tidak dapat diamati (contoh: stem cells), fabrikasi dan falsifikasi data tidak dapat sepenuhnya dianggap sebagai pelanggaran. Hal yang penting dalam contoh perilaku ini adalah bahwa contoh ini hanya dapat digunakan dalam bidang ilmu yang memang menggunakan ideologi/pandangan tersebut.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3955407/

2.1.c. Pembenaman/supresi data outlier

Adanya perilaku penelitian untuk mengucilkan outlier data dari analisis, terutama apabila outlier tersebut merupakan hasil dari kesalahan penelitian atau human error, atau apabila hasil tersebut jauh melebihi simpangan baku dari rerata.

(Shamoo and Resnik 2015).

2.1.d. Perusahaan swasta tidak mau membagi data (meskipun penting untuk menguji ada-tidaknya falsifikasi)

Adanya alasan finansial untuk tidak membagi ataupun menerbitkan studi, selain itu, adalah tidah wajib dalam hukum untuk menerbitkan hasil sehingga dianggap sebagai rahasis profesi. Perusahan swasta boleh tidak mengeluarkan data, tidak hanya sebagai promosi untuk produk, namun juga untuk melindungi hak cipta.
Agar bisa mendapat paten untuk rekacipta baru, produk atau proses baru tidak boleh dibeberkan dulu dalam terbitan keilmuan atau teknik, ataupun seni (Miller dan Davis 2011). Oleh sebab penerbitan hasil penelitian yang berkaitan dengan rekacipta baru dapat menidakberlakukan paten, ilmuwan atau sponsor penelitian mungkin menunda menerbitkan atau membagikan data yang berkaitan dengan rekacipta baru, sebelum paten didapatnya. Juga, kalau ilmuwan membagikan data dengan peneliti lain, data atau buah pikiran yang berkaitan dengan rekacipta yang bisa nanti dipatenkan, kemungkinannya rekaciptanya dicuri (Resnik 2003a, b, c).

https://doi.org/10.1007/978-3-319-68756-8_10

2.2. Perilaku yang kurang cocok (Inappropriate conduct)

2.2.a. Penghilangan data (data omission) dari laporan penelitian, dengan alasan data belum dipahami

Adanya penghilangan/pengurangan data dari hasil yang dilaporkan karena adanya kekhawatiran bahwa data kurang stabil. Dalam kasus ini, data yang dihilangkan merupakan data yang sulit untuk direplikasi, sehingga apabila ditampilkan, akan menimbulkan masalah lebih lanjut, sehingga penampilan data menunggu analisis atas data tersebut (sehingga dapat menjawab pertanyaan mengenai ketidakstabilan data).

2.2.b. Hypothesis believer (orang yang percaya hipotesisnya benar) tidak mau berbagi data

Peneliti yang terlalu terfokus pada kebenaran hipotesis sehingga mengubah atau hanya menampilkan data yang mendukung hipotesis.

https://www.lifescitrc.org/download.cfm?submissionID=11070

2.3. Perilaku salah secara nampak sekali (Blatant misconduct)

2.3.a. Penelitian yang dalam penelitian tersebut terjadi peningkatan jumlah data secara tiba-tiba.

2.3.b. Kajian retrospektif (retrospective reviews) dipura-purakan sebagai ujian sembarang (randomized trials).

(https://www.srobf.cz/downloads/editorial/falsification_fabrication_writ_.pdf

2.3.c. Melaporkan eksperimen yang sebenarnya tidak pernah dilakukan (“drylabbing“).

2.3.d. “Fudging“, “massaging“, atau pembuatan langsung (outright manufacturing) data eksperimen.

https://en.wikipedia.org/wiki/Fabrication_(science)

2.4. Faktor yang Memperberat/Memperingan

2.4.a. Justifikasi pelaku falsifikasi

2.4.b. Pertimbangan mengenai konsekuensi falsifikasi

2.4.c. Ketersediaan kontrol sejawat

1) Bredi, Winker, & Kotschau (2012), A statistical approach to detect interviewer falsification of survey data.

2).Noble Kuriakose & Michael Robbins, 2015, Falsifications in survey, Detecting near duplicate observations (http://docplayer.net/13138324-Falsification-in-surveys.html)

https://www.onlineethics.org/cms/9728.aspx

2.5. Deteksi

2.5.a. Lihat juga Metode Deteksi Fabrikasi di atas (mirip).

2.5.b. Metode Deteksi Falsifikasi Gambar:

  • Alat gambar forensik (forensic image tools)

Tetesan forensik (Forensic droplets): Diposting pertama kali pada situs web ORI (The Office of Research Integrity) pada tahun 2005, ‘droplets’ adalah aplikasi desktop kecil dalam Adobe Photoshop yang secara otomatis memproses file yang diseret ke ikon droplets. Droplets dapat diunduh dari situs web ORI dan memungkinkan Anda untuk dengan cepat memeriksa detail gambar ilmiah di Photoshop sambil membaca publikasi dalam bentuk teks lengkap (HTML = hypertext markup language) atau dalam bentuk PDF di peramban (browser) internet.

Droplets memiliki berbagai kegunaan dan dapat membantu Anda untuk:

– Mencari tahu apakah area terang atau gelap gambar telah dimodifikasi/disesuaikan

– Menilai apakah dua gambar mungkin telah diperoleh dari satu sumber

– Membandingkan dua gambar

  • Adobe Bridge

Perangkat lunak ini dapat menghasilkan pustaka gambar untuk skrining cepat – gambar dapat diatur berdasarkan tanggal atau ukuran file, dan ukuran thumbnail yang besar memungkinkan untuk melihat setiap gambar dengan cermat. Ini sangat berguna ketika mencari versi berurutan dari file yang telah dimodifikasi, di mana gambar-gambar itu cenderung sangat mirip dalam ukuran dan stempel tanggal-jam mereka berjarak dekat.

  • ImageJ

Program ini tersedia untuk berbagai platform dan dapat diunduh secara gratis dari situs web National Institutes of Health (NIH). Ini sangat fleksibel dan sangat berguna untuk memproduksi scan kuantitatif pita gel, misalnya.

  • Mengonversi grafik kembali ke nilai spreadsheet (misalnya, format Excel)

Membandingkan data grafik yang diterbitkan dengan notebook mentah (raw notebook) atau data komputer untuk menentukan apakah grafik itu telah dilaporkan secara akurat. Demikian pula, dapat dilihat apakah galat baku (standard errors) atau simpangan baku (standard deviations) yang diterbitkan – dinyatakan sebagai bar kesalahan (error bars) – cukup mencerminkan data mentah (raw data). Dapat juga digunakan untuk membandingkan grafik yang diterbitkan dalam berbagai lamaran hibah atau makalah yang diberi label berasal dari eksperimen-eksperimen yang berbeda tetapi tampaknya memiliki nilai yang identik. Untuk mencapai hal ini, kita dapat menggunakan perangkat lunak komputer ntuk mengonversi gambar menjadi nilai spreadsheet.

2.6. Mitigasi

2.6.a. Melaporkan dengan cara apa pun, termasuk telepon, surat, surat elektronik, atau faksimili:

  • Nama orang yang telah, atau mungkin telah, memfalsifikasikan data;
  • Alamat dan nomor telepon terakhir yang diketahui dari pelaku falsifikasi tersebut;
  • Identitas spesifik dari studi-studi yang berpotensi terkena dampak, termasuk informasi aplikasi/proposal seperti nomor aplikasi/lamaran, nomor protokol investigasi, judul studi, lokasi penelitian, dan tanggal studi;
  • Informasi yang menunjukkan bahwa falsifikasi terjadi dan yang menggambarkan bagaimana falsifikasi itu terjadi.

2.6.b. Tindakan mitigasi ini dapat termasuk menunda uji coba klinis, mengecualikan uji klinis dari pertimbangan, atau diskualifikasi, atau proses pidana.

Dalam menangani pola dan sinyal ini, diharapkan penyelidik dapat:

 

3. Plagiarisme

3.1. Perilaku yang layak ditanyakan (Questionable conduct)

3.1.a. Plagiat karena keterbatasan literasi (Plagiat Tingkat I)

merupakan cuplikan, acuan atau parafrase yang kurang cukup, atau menyesesatkan, yang sebagian besarnya lebih mungkin muncul dari pengetahuan peneliti yang terbatas mengenai plagiarisme, atau cara menyesuaikan diri atas kebiasaan akademis. Bukan merupakan kelalaian atau maksud penipuan. Plagiat Tingkat 1 tidak dianggap sebagai pelanggaran akademik (academic misconduct), sehingga, walaupun merupakan pelanggaran integritas akademis, tidak ditindak sebagai sesuatu yang harus dihukum, namun lebih pada memberian pembinaan lebih lanjut.
http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.453.7421&rep=rep1&type=pdf

3.1.b. Kasus-kasus di mana originality sulit, bahkan tidak mungkin, ditentukan

Perangkat lunak untuk menulis sebagai kelompok (Group authoring software), misalnya ‘Lotus Notes’ yang luas dipakai dalam bermacam-macam organisasi, dan, secanggih apapun pencatatan pengelolaan dokumen (document management record-keeping), masih sulit, dan barangkali akhirnya tidak ada gunanya, dan juga bersifat anakronistis, untuk mengatribusikan originalitas atau mengacu hanya pada satu orang sebagai penulis.

3.1.c. Kasus-kasus yang kental dengan muatan budaya non-individualistik

Plagiat yang dituduhkan dilakukan oleh mahasiswa Tionghoa, berdasarkan karyanya di dalam jurnal Science memperlihatkan bagaimana paradigma budaya mengubah definisi plagiat. Bagi orang Tionghoa itu, yang berasal dari kebudayaan di mana identitas perorangan individu memainkan peranan yang kurang individualis, dibandingkan dgn dunia Barat, dan di mana pengetahuan dimiliki oleh masyarakat, bukan perorangan, maka gagasan ‘meminjam’ (borrowing) secara keras didefinisikan kembali. Sangat mungkin bahwa definisi ‘meminjam’ (borrowing) mereka sudah tergolong plagiat menurut sudut pandang budaya Barat. Faktor psiko-linguistis, sosial dan budaya mengubah konteks, di mana plagiat ditafsirkan, sehingga wajib berhati-hati menuduhkan plagiat dalam konteks budaya Timur seperti Indonesia.

https://www.emeraldinsight.com/doi/abs/10.1108/EUM0000000005595?fullSc=1&journalCode=lm

3.2. Perilaku yang kurang cocok (Inappropriate conduct)

3.2.a. Patchwriting

Penyaduran teks asli dengan memakai kata sinonim (persamaan kata). Seringkali, patchwriting dilakukan tanpa sengaja, dan biasanya dilakukan ketika bentuk parafrase terlalu dekat dengan teks asli, baik strukturnya maupun gayanya dan kosakatanya. Walaupun ada pengacuan pada teks asli, penulisan lagi teks asli, dengan memakai substitusi kata demi kata, dengan memakai sinonim, tidaklah bisa diterima, sebab praktek ini tidak dianggap sebagai penulisan teks baru.

Rebecca Moore Howard (2001), yang membuat istilah ‘patchwriting‘, menyatakan bahwa ‘patchwriting‘ berasal dari pemahaman bacaan yang kurang merata. Mahasiswa kurang mengerti yang dibacanya, sehingga tidak mampu membuat cara lain untuk membicarakan gagasannya, ataupun mahasiswa mengerti yang dibacanya, namun dia baru diintroduksi pada pembicaraan gagasan. Dia meleburkan suara sendirinya dengan suara sumber, sehingga menciptakan semacam campuran, yang baru dapat dikendalikannya.

https://awelu.srv.lu.se/academic-integrity/plagiarism/different-kinds-of-plagiarism/patchwriting/

3.3. Perilaku salah secara nampak sekali (Blatant misconduct)

3.3.a. Plagiat karena pengabaian dan tidak berefek signifikan (Plagiat Tingkat II)

Masalah ini lebih parah daripada Plagiat Tingkat I, dan mencakup perilaku atau karya yang curang atau menyesatkan yang berasal dari pengabaian peneliti terhadap integritas akademik atau aturan-aturan akademik (justru ketika seharusnya peneliti memiliki pengetahuan yang cukup), dan di mana ternyata ada niat menipu penilai, atau melakukan penipuan dgn memakai plagiat, namun keseluruhan hasil atau efek dari plagiat tsb tidak secara signifikan mempengaruhi proses penilaian.

3.3.b. Plagiat yang terang-terangan (Plagiat Tingkat III):

Praktek ini lebih serius daripada Plagiat Tingkat II, dan mengandung perilaku yang menyesatkan atau memalsukan, yang berasal dari maksud nyata-nyata menipu penilai, atau usaha menipu secara prarencana, dgn memakai plagiat. Dampak dari plagiat tsb merupakan pengubahan yang banyak atau parah terhadap proses penilaian. Plagiat Tingkat III dianggap sebagai kenakalan akademis.

http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.453.7421&rep=rep1&type=pdf

3.3.c. Swa-plagiat (Plagiat terhadap tulisan sendiri):

Mari kita memeriksa suatu skenario. Ibu Leslie menjabat sebagai asisten profesor yang menghadapi penelaahan tenure-nya (sistem penetapan jabatan sebagai pejabat akademis senior), dgn ada tekanan signifikan agar dia mempublikasikan karya. Suatu artikel yg sedang ditulisnya berkaitan dgn presentasi yang akhir-akhir ini diberikannya di sebuah konferensi. Presentasi tsb juga diterbitkan oleh pihak sponsor konferensi tsb. Ibu Leslie ingin mengintegrasikan tulisan dari presentasi konferensi tsb ke dalam artikel yang sedang ditulisnya. Ibu Leslie menghadapi simalakama etika: bisa mengulangi tulisannya dari naskahnya, sehingga tulisan tsb dipakainya di dalam naskah baru tsb, sehingga dgn berbuat begitu jumlah publikasinya ditingkatkan, yang membantu usahanya mendapat tenure, tetapi dgn memakai karya yang sama sebagai sumbernya.

Kalau berbuat begitu, Ibu Leslie mungkin melakukan yang disebut Scanlon (2007) sebagai “kecurangan akademis” (academic fraud), yaitu suatu bentuk plagiat terhadap tulisan sendiri.

lagiat terhadap tulisan sendiri didefinisikan sebagai semacam plagiat di mana penulis mempublikasikan kembali keseluruhan karyanya, atau memakai kembali bagian-bagian dari teks yang sebelumnya ditulis, ketika menulis karya baru. Para penulis boleh mencuplikkan bagian dari tulisan lain, asalkan ada sitasi (pengutipan) yang cocok. Tetapi “bagian yang besar” dari teks, walaupun disitasi dan dikutip, bisa melanggar aturan hak cipta, dan tidak dianggap sebagai perkecualian copyright, atau sesuai dgn prinsip “fair use” (pemakaian yang adil). Jumlah teks yang boleh dipinjam sesuai dgn prinsip “fair use” tidak ditentukan, tetapi menurut Chicago Manual of Style (2010), sebagai aturan umum, “jangan kutip lebih dari beberapa alinea atau kalimat yang bersinggungan, atau membiarkan kutipan, walaupun kutipan yang berserakan, mulai menjadi lebih penting daripada materi tulisan si penulis/pengutip” (hal 146).

Di samping mengikuti prinsip “fair use“, para penulis harus mengakui bahwa hak cipta berlaku pada tidak hanya teks yang pernah dipublikasikan. Menurut U.S. Copyright Office (Kantor Hak Cipta AS) (2010), “karya berada di bawah perlindungan hokum hak cipta, mulai saat diciptakan dan berbentuk yang berwujud, yang dapat dilihat atau dirasakan, baik secara langsung maupun dengan dibantu dgn mesin ataupun alat”.

https://www.ithenticate.com/hs-fs/hub/92785/file-5414624-pdf/media/ith-selfplagiarism-whitepaper.pdf

3.5. Faktor yang Memperberat atau Memperingan Penalti

3.5.a. Berapa luas pengalaman peneliti

3.5.b. Bentuk plagiat

3.5.c. Luasnya atau besarnya karya yang terkena plagiat

3.5.d. Maksud peneliti melakukan plagiat, atau mencurangi, dgn memakai cara plagiat

3.5.e. Aturan tertentu, ttg cara penyelesaian tugas yang akan dinilai

3.5.f. Faktor yang meringankan yang berkaitan dgn kebudayaan, dst.

3.5.g. Peristiwa plagiat terdahulu, yang melibatkan peneliti tsb.

3.5.h. Berapa beratnya praperencanaan

3.5.i. Berapa seriusnya perasaan sesal

3.5.j. Apakah pelanggaran merupakan hasil pemaksaan

3.5.k. Peranan pelanggar, ketika ada org lain terlibat

3.5.l. Untuk mahasiswa Higher Degree Research (pencarian gelar Magister atau Doktor dalam bidang khusus) – tahap yang sudah dicapai dalam perjalanan menulis tesisnya

http://citeseerx.ist.psu.edu/viewdoc/download?doi=10.1.1.453.7421&rep=rep1&type=pdf

 

4. Kepengarangan yang Tidak Sah

4.1. Perilaku yang layak ditanyakan (Questionable conduct)

4.1.a. Honorary authorship (pemberian kehormatan kepada seseorang untuk namanya dicantumkan sebagai penulis)

juga dikenal dgn istilah guest authorship, terdapat ketika nama org dicantumkan sebagai penulis, sedangkan tidak memberikan bantuan yang berarti pada studi. Pada umumnya, peristiwa ini terjadi ketika nama anggota senior atau pembimbing dari Departemen/Jurusan dicantumkan pada naskah penelitian yang dilakukan dalam Departemen tsb, walaupun beliau itu sebenarnya tidak ikut serta dalam penelitian. Kadang-kadang, honorary authorship diberikan sebagai “penjilatan pantat”, atau sekadar untuk meningkatkan kredibilitas naskah. Penambahan nama penulis berdasarkan penghormatan bisa menimbulkan persoalan. Perbuatan itu mengurangi nilai yang seharusnya diberikan kpd pelaku studi, sambil memberikan nilai kpd org yang tidak ikut serta.
Selain itu, kalau misalnya nantinya ada masalah yang muncul, ‘penulis kehormatan’ mungkin dianggap terlibat dalam kesalahan tsb.

Memberikan honorary authorship, atau guest authorship, hanya untuk meningkatkan martabat atau keabsahan naskah, merongrong nilai usaha yang dilakukan dalam penelitian, dan, akhirnya, bisa merusakkan hasil penelitian tsb.

The Difference Between Honorary and Ghost Authorship in Scientific Research

4.1.b. Perbedaan antar bidang ilmu mengenai daftar urutan nama penulis

Dalam bidang ilmu matematika dan ilmu teori komputer, nama penulis dicantumkan sesuai dgn urutan abjad nama keluarganya, tanpa mempertimbangkan jumlah sumbangan/kontribusinya pada studi, dgn memakai, atau sekurangnya dgn sedikit memakai, Hardy-Littlewood Rule (aturan Hardy – Littlewood) (Hardy dan Littlewood, 1932).

Lagi pula, pencantuman nama sesuai dgn urutan abjad itu juga, pada umumnya, berlaku dalam beberapa bidang ilmu fisika, dan juga dalam bidang ilmu sosial dan ilmu kesasteraan (Liu and Fang, 2014), dan sudah mulai dipakai dalam beberapa bidang ilmu politik, serta bidang ilmu pengetahuan yang berkaitan dgn hal hukum (Levitt and Thelwall 2013), maksudnya ttg norma kontribusi setara (“equal contribution”) (sumbangan yang setara) (Tscharntke et al., 2007).

Dalam kebanyakan laboratorium ilmu biologi serta ilmu biomedis , norma “first-last-author-emphasis” (aksensuasi-penulis-pertama sampai terakhir) secara luas berlaku (Baerlocher et al., 2007), tetapi Tscharntke et al., (2007) mengajukan kemungkinan lain, misalnya norma “sequence determines-credit” (urutan nama penulis menentukan urutan nilai kontribusi penulis, semakin di belakang, semakin dianggap tidak berkontribusi), norma “percent-contribution-indicated” (urutan pencantuman nama sesuai dgn persentasi jumlah sumbangan/kontribusi), atau norma “equal contribution” (sumbangan yang setara), ataupun suatu campuran/kombinasi dari jenis-jenis yang tadi itu, ketika mengurutkan serta memberi nilai/kredit kpd penulis.

Meta-analisis dari Marusic et al. (2011) mengisyaratkan bahwa model equal authorship tengah meluas dalam jurnal-jurnal kedokteran dan multidispilin.

Urutan nama penulis memang merupakan hal sampingan, yang kurang penting, dibandingkan dengan hal validitas kepengarangan atau akurasi kelayakan pencantuman nama penulis.

http://dx.doi.org/10.1007/s11948-015-9716-3

4.2. Perilaku yang kurang cocok (Inappropriate conduct)

4.2.a. Gift authorship (Kepenulisan sebagai hadiah)

Hadiah yang berbentuk pencantuman sebagai penulis sering diberikan kpd kolega yang pangkat akademisnya lebih rendah daripada pangkat penulis yang sebenarnya, ataupun kpd kolega yang jumlah naskah terbitannya selama beberapa tahun yang lalu kurang banyak, serta kpd org yang melakukan tugas lain daripada menulis, misalnya memantau atau menyetujui bentuknya manuskrip, sebelum manuskrip tsb dimasukkan, menyediakan pelayanan, merekrut partisipan penelitian, membimbing atau merekrut penulis bersama, serta membuat gambar, diagram, dst. Walaupun gift authorship itu diterima dgn kurang senang, ada juga pendapat yang berlainan.

Beberapa peneliti berpendapat bahwa, dewasa ini, susunan kelompok peneliti bentuknya rumit. Ketika beberapa individu sedang bekerja pada hal penelitian serta publikasi, ada anggota lain dari kelompok tsb yang sedang melakukan pekerjaan rutin lain, yang bersifat praktik klinis atau pembedahan (yang pada dasarnya tugas yang bukan tugas kepenulisan). Dengan demikian, penulis memiliki waktu yang lebih banyak untuk meneruskan pekerjaan penelitian serta penulisan. Hal ini, menurut mereka, seharusnya dianggap sebagai “sumbangan pasif”, pada tujuan ilmiah keseluruhan, dan seharusnya mendapat hadiah, yang berbentuk pencantuman namanya sebagai penulis. Ada juga org yang menjustifikasi pemberian pencantuman nama tsb kpd kepala departemen, yang atas kemurahan hatinya memungkinkan penelitian dilakukan.

Namun, di kebanyakan jurnal, pendapat tsb tidak diterima dgn baik, dan perilaku pemberian sebagai hadiah, kehormatan nama dicantumkan sebagai penulis kpd org yang kontribusinya kurang signifikan, benar-benar ditolak.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3276043/

4.2.b. Multiple Authorship (pencantuman nama banyak orang sebagai penulis) yang tidak (dapat) diverifikasi

Kalau melihat pada situs web sciencedirect.com oleh Elsevier, yang menunjukkan bahwa Grup ATLAS, yang terdiri dari hampir 2000 penulis, dan 179 institut peneliti, tidak secara publik menyatakan fungsi tepat/pasti dari setiap penulis. Hal ini merupakan fakta yang tidak disebutkan dalam manuskrip (contohnya, ATLAS Collaboration, 2015). Yang ditunjukkan dalam contoh tsb ialah bahwa, di luar jaminan tertulis kpd redaksi (kalau jaminan tsb pun benar ada), sama sekali tidak ada cara praktis yang memungkinkan editor, penerbit, ataupun para ilmuwan, memverifikasi peranan sebagai penulis dari ke-2000 penulis, ataupun dari semua penulis dalam kelompok beraneka penulis lain. Bagaimanakah para editor jurnal tsb, serta penerbit , memverifikasi apakah pencantuman nama penulis tsb benar, tidak?

http://dx.doi.org/10.1007/s11948-015-9716-3

4.2.c. H-index yang tidak akurat sebagai perangsang kepengarangan yang tidak sah

Pengukur prestasi performa yang paling biasa dipakai pada peneliti individu ialah h-index (indeks-h), yang tidak bisa menjadi tepat (mencerminkan reputasi penulis) dalam konteks ketika ada banyak penulis. Setiap penulis mendapat nilai penuh dari setiap naskah, serta dari setiap sitasi. Kesalahukuran prestasi ini menyebabkan pengingkatan pencantuman nama banyak org sebagai penulis yang sangat serius. Meningkatnya jumlah penulis per naskah disebabkan banyak faktor (salah satunya hal di atas), tidak bergantung pada sifat ilmu yang semakin interdisiplin.

https://arxiv.org/pdf/1307.1330

4.2.d. Kewajaran kepenulisan jamak tergantung pada bidang ilmu

Usaha menerbitkan, dalam bidang fisik energi tinggi (high-energy physics), biasanya dilakukan oleh tim yang sangat besar, yang menjangkau beberapa institusi, dan beberapa negara. Seringkali, adanya banyak penulis masuk akal, dan sering juga peneliti senang atas hal tsb. Namun, dalam bidang ilmu biomedis, org lebih peduli atas kemungkinan terjadi perilaku curang, terutama kalau ada penambahan nama org yang tidak pernah ikut serta pada proyek. Ada juga kepedulian ttg integritas data, serta kontrol akan kualitas, ketika ada sebegitu banyak org yang ikut serta dalam menulis suatu naskah. Namun, kedua bidang itu mengalami kesulitan dgn bagaimana cara yang paling baik memberi nilai, kalau jumlah hal adanya beraneka penulis terukur tidak hanya puluhan, tetapi ratusan sampai ribuan pun.

Sementara itu, untuk ilmuwan bidang kesastraan, banyaknya jumlah penulis yang terdapat di bidang ilmu fisik energi tinggi itu, merupakan sesuatu yang sangat aneh. Namun, di bidang ilmu kesastran pun, ketergantungan yang semakin besar pada data berakibatkan semakin banyak kerja sama, dan semakin kurang banyak pekerjaan oleh ilmuwan tunggal.

https://theconversation.com/long-lists-are-eroding-the-value-of-being-a-scientific-author-42094

4.2.e. Pencantuman penulis tergantung pada budaya negara

CPC (collaboration, partnership or co-operation – kolaborasi, kemitraan atau kerja sama), yang bisa melibatkan pencantuman pakar profesional atas tujuan eksklusif, yaitu memperbaiki analisis data, manuskrip, bahasa, serta verifikasi isi ilimiah, yaitu kontribusi intelektual, dianggap bersifat etis di Republik Rakyat Cina, Republik Islamiah Iran, Italia, Hongaria, Indonesia serta di beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Vietnam, Muang Thai, Kamboja dan Jepang, di beberapa negara di Amerika Tengah dan Selatan, Rusia, Tunisia, beberapa negara Afrika, dan mungkin juga di negara lain, yang belum sempat diperiksa. Namun, penulis yang berasal dari negara tsb, yang terlibat dalam CPC, mungkin melanggar aturan definisi penulis, sebagaimana didefinisikan oleh salah satu atau lebih organisasi.

Dalam hal semacam itu, kontroversinya adalah: (1) apakah penulis tsb yang melanggar aturan definisi penulis yang dibuat oleh penerbit, ataukah (2) apakah penerbit yang tidak menghormati kenyataan budaya-budaya di dunia, yang berkaitan dgn pencantuman nama penulis, serta keperluan kolaborasi dan CPC?

http://dx.doi.org/10.1007/s11948-015-9716-3

4.3. Perilaku salah secara nampak sekali (Blatant misconduct)

4.3.a. Ghost authorship (Penulis hantu):

Seseorang yang bantuannya signifikan, namanya tidak dicantumkan sebagai penulis. Salah satu sebab mengapa nama seseorang tidak dicantumkan sebagai penulis adalah, bahwa org tsb memang membantu menulis naskah tetapi tidak ikut serta dalam penelitian. Org semacam itu disebut ghostwriter (penulis hantu). Nama mahasiswa atau pakar teknik yang membantu dalam penelitian mungkin juga disingkirkan, sehingga tidak mendapat kredit prestasi. Kebiasaan ini tidak memberikan pengakuan yang seharusnya diberikan, dan dapat dipakai untuk memanipulasikan baik data maupun hasil penelitian.

https://www.enago.com/academy/difference-between-honorary-and-ghost-authorship-in-scientific-research/

Contoh dari Ghost Authorship tsb:

Perusahaan obat-obatan memakai para penulis medis dari luar perusahaan, untuk mempersiapkan manuskrip yang menggambarkan obat serta produk yang baru. Namun, nama-nama para penulis medis tsb tidak dicantumkan dan tidak disebutkan dalam daftar pengakuan (acknowledgment). Sebagai gantinya, nama seorang peneliti dalam bidang yang relevan dicantumkan sebagai guest author (org yang diberi kehormatan dgn namanya dicantumkan sebagai penulis – lih di bagian Honorary Authorship).

Contoh lain: penulis yang kemampuan menulisnya kurang memuaskan kadang-kadang meminta bantuan kpd pelayanan penulis profesional, untuk menafsirkan data, atau menyajikan studi dalam bentuk yang lebih menarik. Dengan cara begitu, kemungkinan naskah diterima dgn baik meningkat. Nama penulis profesional tsb seringkali tidak dicantumkan.

https://www.editage.com/insights/when-authorship-goes-wrong

4.3.b. Courtesy authorship (pemberian pengakuan sebagai penulis)

Istilah ini menunjuk pada kebiasaan memasukkan nama seseorang sesama peneliti, atau kolaborator, sebagai bentuk kesopanan, ataupun untuk membalas jasa. Seseorang menjadi courtesy author ketika orang itu

sudah lebih dahulu sebelumnya menawarkan dan mewujudkan kesempatan utk mencantumkan nama temannya pada naskahnya sendiri; kemudian pada waktu yang lain membiarkan diri dicantumkan namanya pada naskah temannya itu sebagai wujud balas jasa.

https://www.editage.com/insights/when-authorship-goes-wrong

4.3.c. Templating (pemakaian pola penulisan org lain, ketika menulis)

Baru-baru ini, ada suatu bentuk plagiat unik yang muncul, yang kami sebutkan sebagai “templating“. Templating merupakan penyalinan tetapi bukan menyalin ilmu dan hasil penelitian org lain, melainkan “menyalin” format, struktur, dan frase dari artikel org lain secara mirip (bahkan identik), ketika menulis artikel ttg topik yang tidak tepat sama walaupun berkaitan.

Ketika membaca artikel hasil templating, penulis asli dapat curiga bahwa betuk artikel yang sedang ia baca rasanya pernah ia ketahui. Setelah ia memeriksa artikel tsb, ia terkejut dan menyadari mengapa ia merasa begitu. Walaupun artikel hasil templating berbicara ttg hal yang sedikit berbeda, artikel itu sangat mirip, bentuknya serta pemakaian frasenya, dgn artikel yang dulu ditulis oleh penulis asli. Penyalinan semacam ini merupakan plagiat. Penyalinan tsb tidak etis, dan seharusnya tidak terjadi. Mengalami kesulitan menulis bhs Inggris tidak dapat diterima sebagai alasan untuk melakukan templating. Mintalah bantuan kpd org lain.

https://www.ajronline.org/doi/pdf/10.2214/ajr.173.2.10430115

4.4. Deteksi

Tanda-tanda yang mungkin menunjukkan masalah kepengarangan:

4.4.a. Penulis korespondensi/utama terlihat tidak mampu/dapat merespon komentar reviewer

4.4.b. Perubahan yang dibuat oleh pihak di luar daftar penulis

(cek properties dari dokumen Word untuk melihat siapa yang melakukan perubahan, namun perlu diingat bahwa mungkin ada penjelasan untuk hal ini, sebagai contoh: menggunakan akun bersama, atau perubahan yang dilakukan oleh sekretaris)

Cek fitur/ciri dari dokumen Word untuk melihat siapa yang melakukan perubahan, namun perlu diingat bahwa mungkin ada penjelasan untuk hal ini, sebagai contoh: menggunakan akun bersama, atau perubahan yang dilakukan oleh sekretaris. Properties dari dokumen menunjukkan bahwa manukrip/tulisan/artikelnaskah merupakan sebuah draft dari pihak lain di luar daftar penulis atau tidak diakui dengan sepantasnya (namun perhatikan poin sebelumnya)

4.4.c. Penulis yang terlalu produktif (secara mustahil), sebagai contoh: penghasil tulisan/artikelnaskah reviu atau opini (juga cek publikasi yang berulang atau tumpang-tindih) (hal ini juga dapat dideteksi dengan menggunakan Medline atau Google Search dengan memasukkan nama penulis)

4.4.d. Beberapa tulisan/artikelnaskah reviu/editorial/opini telah dipublikasikan dengan nama penulis berbeda (hal ini dapat dideteksi dengan menggunakan Medline atau Google Search dengan memasukkan nama artikel atau kata kunci)

4.4.e. Peran yang hilang dari daftar kontributor (sebagai contoh: terlihat bahwa tidak ada penulis yang dicantumkan yang bertanggungjawab atas analisis data atau membuat draft dari tulisan/artikel naskah)

4.4.f. Daftar penulis yang terlalu panjang atau pendek (secara mustahil) (sebagai contoh: tulisan/artikelnaskah laporan kasus yang sederhana dengan selusin penulis atau tulisan/artikel naskah mengenai perlakuan random/randomized trial dengan hanya satu penulis)

4.4.g. Studi yang didanai oleh industri tanpa penulis dari perusahaan sponsor (hal ini mungkin ada secara sah, namun juga dapat berarti bahwa penulis yang berhak telah dicabut; melakukan revie atau protocol dapat membantu menentukan peran dari karyawan – lihat Gotzsche et al. dan komentar oleh Wager)
https://publicationethics.org/files/u7140/Authorship%20problems.pdf

Deteksi Ghost writer :

4.4.h. Linguistic similarities, yakni membandingkan gaya-gaya penulisan di semua tulisan yang pernah terpublikasi. Dilihat dari frekuensi kata-kata , frase-frase pendek yang terdiri dari minimal 5 kata, frekuensi dari kata kerja yang paling sering muncul dan frekuensi kata hubung (konjungsi).

4.4.i. Stylometry analysis.
Deteksi Honorary authorship : penulis menghasilkan hasil karya /tulisan ilmiah dalam jumlah yang besar dalam waktu yang singkat.
(David. A Tomar 2016)

4.5. Mitigasi

4.5.a. Dalam keraguan: Cobalah untuk menghubungi penulis (Cari di Google untuk memperoleh kontaknya) dan bertanya tentang peran mereka, apakah ada penulis yang dihilangkan, dan apakah mereka memiliki kekhawatiran tentang kepengarangan.

4.5.b. Sarankan penulis yang hilang harus ditambahkan ke daftar nama penulis.

Sarankan penulis hadiah (guest/gift author) harus dihapus/dipindahkan ke bagian Ucapan Terima Kasih (Acknowledgment).

4.5.c. Dapatkan persetujuan untuk perubahan kepengarangan (secara tertulis) dari semua penulis. Surat tertulis itu juga harus dengan jelas menyatakan kebijakan kepenulisan dari jurnal (journal’s authorship policy) dan/atau merujuk pada kriteria yang telah dipublikasikan (mis. ICMJE atau JARS) dan dapat menyatakan keprihatinan/kekecewaan bahwa kebijakan ini tidak diindahkan/diikuti.

4.5.d. Untuk penulis senior, pertimbangkan untuk menyalin surat ini ke kepala departemen / orang yang bertanggung jawab atas tata kelola penelitian di lembaganya.

https://publicationethics.org/files/Ghost.pdf

4.5.e. Metode antisipasi

Beberapa pilihan lain dari h-index (indeks-h) sudah dibuat, dan salah sebuahnya, indeks-h individu (hI ) bersifat logis, intuitif, dan gampang dihitung.

https://arxiv.org/pdf/1307.1330

4.5.f. Ketika ada perselisihan ttg siapa penulis naskah, maka baik hak maupun tanggung jawab redaksi dan penerbit, memutuskan siapa penulisnya.

http://dx.doi.org/10.1007/s11948-015-9716-3

4.5.g. Orang yang mengkontribusikan hanya sedikit pada naskah juga harus mendapat pengakuan yang layak, dgn memakai catatan kaki, atau di dalam bagian pengakuan. Namun, prinsip ini kadang-kadang dilanggar, sehingga masih sulit mencari solusinya.

https://www.mdpi.com/2304-6775/6/3/37/pdf

4.5.h. Istilah author (penulis) diganti dgn istilah contributor (kontributor). Maka, baik baik redaksi maupun pembaca, daftar kontribusi merupakan petunjuk pada peranan yang dimainkan oleh setiap peneliti yang terlibat dalam proyek. Salah seorang peneliti, yang paling baik yang peranannya paling besar, bertanggung jawab atas keseluruhan artikel. Org tsb diberi nama “guarantor” (penjamin).

http://www.scielo.br/scielo.php?script=sci_arttext&pid=S1516-31802005000500008

 

5. Konflik Kepentingan

5.1. Perilaku yang layak ditanyakan (Questionable conduct)

5.1.a. Subconsciously effected funding effect (efek pendanaan yang, secara tidak disadari, berpengaruh pada pertimbangan)

Kepentingan keuangan bisa berpengaruh secara tidak disadari, terhadap pengambilan keputusan peneliti, yang berdampak pula pada hasil penelitian (Resnik dan Elliott, 2013). Penelitian ilimiah melibatkan banyak keputusan, yang memerlukan pengambilan keputusan, misalnya memilih desain studi, besarnya sampel, intervensi, prosedur, pengukuran, serta metode statistik. Dari pilihan-pilihan ini, mungkin ada lebih dari satu opsi, yang bisa dianggap oleh peneliti merupakan pilihan yang sah.

Ilmuwan yang mempunyai kepentingan keuangan mungkin kurang sadar bahwa mereka mengambil keputusan yang cenderung mempengaruhi studi ke arah tertentu (Resnik, 2007a). Penelitian sudah menunjukkan kepentingan keuangan bisa ada pengaruh yang kuat serta kurang disadari, terhadap perilaku manusia. Hadiah kecil pun, misalnya hadiah yang bentuknya pena dan santapan siang gratis, bisa mempengaruhi pengambilan keputusan, tanpa disadari (Katz et al., 2003).

https://doi.org/10.1007/978-3-319-68756-8_10

5.2. Perilaku yang kurang cocok (Inappropriate conduct)

5.2.a. Kebijakan otoritas Jurnal tertentu mengatasi pengakuan penulis:

Pada tahun 1997, Michael Macknin menerbitkan studi di dalam jurnal Annals of Internal Medicine, yang menunjukkan bahwa pil seng berguna dalam mengobati sakit selesma. Macknin sudah mengakui kpd para redaksi jurnal tsb bahwa dia memiliki 9000 saham Quigley Corporation, perusahaan yang memproduksi pil tsb, tetapi di jurnal itu, keterangan tsb tidak diberitahukan kpd para pembaca. Tidak lama sesudah naskahnya diterbitkan di dalam jurnal,, Macknin itu mendapat uang keuntungan sebesar $AS 145.000, dari penjualan sahamnya. Studi yang dilakukan pada kemudian hari oleh Macknin serta peneliti lain, menunjukkan bahwa pil seng itu, tidak lebih efektif daripada obat plasebo, utk mengobati sakit selesma (Resnik, 2007a).

https://doi.org/10.1007/978-3-319-68756-8_10

5.3. Perilaku salah secara nampak sekali (Blatant misconduct)

5,3,a. Seorang anggota Institutional Review Board (IRB, Komite Etik), yang ada konflik kepentingan mungkin cenderung menerima studi saja, tidak mengkritik studi tsb.

https://doi.org/10.1007/978-3-319-68756-8_10

5.4. Deteksi

5.4.a. Identifikasikan Commercial Relationships Disclosure Codes yang ada pada penulis/peneliti:

F (Financial Support/Dukungan Keuangan) – menunjukkan dukungan keuangan yang diterima dari entitas komersial dalam bentuk dana penelitian, hibah, bahan penelitian, atau layanan dalam bentuk barang (mis., Desain / manufaktur optik).

I (Personal Financial Interest/Kepentingan Finansial Pribadi) – menunjukkan kepemilikan individu atas saham atau kendaraan investasi lainnya dalam entitas komersial selain melalui dana yang dikelola (mis., Reksadana atau dana pensiun).

E (Employment/Pekerjaan) – menunjukkan pekerjaan (penuh atau paruh waktu) oleh entitas komersial.

C (Consultant/Konsultan) – menunjukkan keterlibatan sebagai konsultan berbayar untuk entitas komersial.

P (Patent/Paten) – menunjukkan keterlibatan dengan paten atau paten yang bersaing, aplikasi paten, hak cipta, atau rahasia dagang, baik paten, hak cipta, dll. Saat ini dilisensikan atau dikomersialkan.

R (Recipient/Penerima) – menunjukkan penerimaan hadiah, honorarium, penggantian biaya perjalanan, royalti paten, atau kompensasi finansial lainnya yang dinilai dalam jumlah berapa pun dari entitas komersial.

5.4.b. Melalui whistleblowers:

Menurut Romain (2015) : cara utk mendeteksi konflik kepentingan adalah dengan penyingkapan /keterbukaan terutama dalam hal finansial. Namun hal ini memiiliki keterbatasan yang cukup besar pula. Menurut Lisa Bero, 2017, ada dua konflik kepentingan, konflik kepentingan finansial dan non finansial. Ada dua cara untuk mendeteksi, disclosure (penyingkapan/keterbukaan) dan recusal (penolakan).Sedangkan keterbukaan/penyingkapan untuk hal-hal yang bersifat non finansial memungkinkan untuk memunculkan adanya permasalahan terkait dengan privasi ataupun etika.

Menurut Taylor & francis : penulis diminta untuk membuat Conflict of Interest disclosure statement yang berisi : In accordance with Taylor & Francis policy and my ethical obligation as a researcher, I am reporting that I [have a financial and/or business interests in] [am a consultant to] [receive funding from] (delete as appropriate) a company that may be affected by the research reported in the enclosed paper. I have disclosed those interests fully to Taylor & Francis, and I have in place an approved plan for managing any potential conflicts arising from [that involvement]. Jika penulis tidak membuat pernyataan tersebut atau menyatakan bahwa tidak ada konflik kepentingan di dalam penelitian yang dilakukan, maka Taylor & Farncis akan mengeluarkan pernyatan yang berbunyi : “No potential conflict of interest was reported by the authors.

5.5. Mitigasi

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4326636/

5.5.a. Ungkapkan Konflik Kepentingan Anda

Cara terbaik untuk menangani konflik kepentingan adalah dengan mengungkapkannya. Mayoritas tanggapan ini kemudian dibagi menjadi empat subtema untuk membedakan antara berbagai alasan yang dikutip untuk pengungkapan: (1) transfer, (2) saran, (3) kesadaran, dan (4) prosedur.

5.5.b. Transfer: Tempatkan Keputusan di Tangan Otoritas

Alasan pengungkapan konflik kepentingan adalah untuk mengalihkan tanggung jawab pengambilan keputusan terkait cara menangani konflik tersebut kepada figur otoritas atau pihak lain yang terlibat. Contoh yang mirip dengan kutipan untuk subtema ini termasuk, “Akan lebih tepat untuk memanggil direktur dan memberi tahu dia tentang konflik kepentingan. Dia mungkin mengatakan bahwa Anda tidak boleh memeriksanya,” atau, “Dewan mungkin mengatakan bahwa Anda kanan dan menghapus Anda dari posisi resensi, yang akan baik karena dengan demikian keputusan tidak lagi berada di kendali Anda.”

5.5.c. Saran: Tanyakan pada Otoritas Apa yang Harus Dilakukan

Menceritakan figur otoritas tentang kepentingan konflik untuk tujuan mengumpulkan saran untuk membantu membuat keputusan daripada dengan tujuan melepaskan kendali atas keputusan tersebut. Beberapa contoh subtema ini termasuk, “Saya akan menasihati ketua dan meminta nasihatnya mengenai apakah saya harus meninjau ini atau tidak,” atau “Saya pernah berada dalam situasi di masa lalu di mana saya harus bertanya kepada seseorang di atas saya atau memiliki diberikan saran. ”

5.5.d. Kesadaran: Seseorang Harus Tahu Tentang ini

Mengungkapkan konflik kepentingan hanya karena orang lain harus sadar. Sementara pendekatan ini dapat menyiratkan bahwa saran akan diberikan atau bahwa tanggung jawab keputusan akan dihapus, peserta yang berbicara dalam tema ini tidak secara eksplisit menyatakan bahwa ini adalah saluran penalaran yang mereka gunakan. Contoh kutipan ada di sepanjang baris, “Penting untuk membahas masalah ini dengan pihak yang terlibat segera,” dan, “Dia perlu memberi tahu seseorang bahwa dia sukarela untuk organisasi lain.”

5.5.e. Prosedur: Ikuti Pedoman untuk Mengungkap Benturan Kepentingan

Individu dalam kategori ini memohon kekuatan pedoman dalam menginformasikan proses pengambilan keputusan mereka. Contohnya termasuk, “Selama IRB bersedia untuk menyetujui penelitian, Anda mungkin harus melompat melalui lingkaran,” dan, “Mengungkapkan konflik kepentingan; ada tempat pada formulir untuk itu.”

5.5.f. Penghapusan: Bawa Diri Anda Keluar dari Situasi Dengan Segera

Beberapa individu mengindikasikan bahwa pantas untuk segera melepaskan diri dari situasi di mana konflik kepentingan dapat memengaruhi pengambilan keputusan. Beberapa contoh termasuk, “Keluarkan diri Anda dari papan dan pastikan bahwa tidak ada kegiatan lebih lanjut yang menimbulkan konflik kepentingan,” dan, “Saya tidak akan melakukan ini; Saya bahkan tidak akan menjelajahinya. Saya punya hal lain ini sedang terjadi.” Kutipan-kutipan ini, alih-alih mengilustrasikan bahwa pengungkapan dapat diterima dan memadai, mengambil sikap sebaliknya: Bahwa tidak ada cara yang tepat untuk mengelola konflik kepentingan selain penghapusan.

5.5.g. Akomodasi: Setiap Orang Memiliki Konflik Kepentingan: Hanya Bekerja Sekitar Mereka

Konflik kepentingan adalah bagian dari penelitian ilmiah sehari-hari dan bukan masalah yang memprihatinkan. Contoh yang mewakili tema ini adalah sebagai berikut: “Anda bisa melakukan lebih banyak dengan menggabungkan sumber daya Anda dengan perusahaan daripada yang Anda bisa sendiri, jadi saya ingin melakukan sebanyak yang saya bisa dan menghindari konflik,” atau, “Seseorang tanpa banyak pengalaman penelitian mungkin berpikir bahwa seseorang dengan konflik kepentingan harus menghapus dirinya sendiri, tetapi perspektif itu tidak mempertimbangkan hubungan kolaboratif antara penyelidik. ”

5.5.h. YANG TIDAK DISARANKAN: Penolakan: Saya Tidak Percaya Ini adalah Konflik Kepentingan

Penolakan bahwa ada konflik kepentingan, bahkan dalam skenario yang dibuat dengan tujuan memasukkan konflik tersebut. Para peserta ini mengungkapkan sentimen seperti, “Saya tidak yakin mengapa ini merupakan konflik kepentingan,” atau, “Baginya untuk bekerja dengan kedua kelompok tampaknya tidak pantas bagi saya.” Orang-orang ini menolak anggapan bahwa ada konflik kepentingan sama sekali.

5.5.i. Pengakuan Kompleksitas: Konflik Kepentingan sulit untuk Ditangani

Hanya mengakui bahwa konflik kepentingan itu menantang. Lima kutipan dikelompokkan ke dalam kategori ini. Contoh dari perspektif ini termasuk: “Ada tindakan penyeimbangan antara apa yang mungkin Anda lakukan sebagai warga negara dan apa yang boleh Anda lakukan dalam batas-batas pekerjaan Anda,” dan, “Ini adalah situasi yang sangat sulit pada saat ini.” Para peserta ini sering kali tidak menawarkan solusi konkret atau spesifik; sebaliknya, mereka bereaksi dengan menunjukkan kompleksitas yang melekat dalam situasi yang melibatkan konflik kepentingan.

6. Pengajuan jamak

6.1. Perilaku yang layak ditanyakan (Questionable conduct)

6.1.a. Bolehkah naskah dikirim ke beberapa situs prapenerbitan?

Walaupun redaksi jurnal tidak mempertimbangkan karya yang sedang dipertimbangkan di institusi lain, petunjuk yang jelas belum ditentukan utk bidang keilmuan lain, ttg boleh tidaknya secara bersamaan menawarkan naskah ke beberapa situs prapenerbitan.

Oleh sebab salah sebuah motivasi utk mengirim naskah dgn cara ini ialah menarik umpan balik dari sesama ilmuwan, mungkin peneliti tertarik mengirim naskah yang sama ke beberapa situs prapenerbitan , untuk menarik perhatian golongan pembaca yang berlainan.

Praktek tsb sekarang kini belum lazim, dan kelihatannya ditolerir, sebab kebanyakan situs prapenerbitan tidak memiliki larangan spesifik ttg yang ini, tetapi mungkin keadaannya akan berubah, kalau praktek tsb mulai secara konsisten memberi Digital Object Identifier (pengenal objek digital – DOI), lalu mengirim naskah prapenerbitan untuk didiindeks, sehingga mungkin ada beberapa DOI untuk bahan yang sama, yang berpotensi membingungkan.

https://publicationethics.org/files/u7140/COPE_Preprints_Mar18.pdf

6.1.b. Committee on Publication Ethics (Komite ttg Etika Penerbitan – COPE) belum sampai menyarankan agar jurnal memerima naskah prapenerbitan, namun disarankannya agar kebijakan jurnal dijelaskan secara ekslpisit:
Sewaktu bidang prapenerbitan terus berkembang, redaksi jurnal mungkin ingin meningkatkan pengetahuan ttg bidang tsb, kepada tim redaksinya, penulisnya, pemantaunya serta pembacanya, dgn memakai pengumuman redaksional, seminar web, dst. Kebijakan yang jelas, dalam petunjuk utk penulis dan pemantau tidak hanya menjelaskan yang diharapkan, tetapi juga memberikan pedoman utk menangani naskah yang dimasukkan, secara konsisten.

Committee on Publication Ethics offers supportive preprint recommendations

6.1.c. Salami slicing dalam kondisi tertentu

Mungkin ada kejadian, di mana menerbitkan analisa yang berlainan, dari database yang sama mungkin bisa benar dijustifikasi, dan peneliti yang bersangkutan bisa ‘hidup lama dari hasil data’. Hal ini khususnya demikian, ketika sebuah pertanyaan yang amat berbeda dan terpisah sudah diajukan, atau endpoint yang dilaporkan sangat berlainan, sehingga satu kumpulan data bisa memberikan jawaban pada pertanyaan tsb. Kalau ada kejadian semacam itu, dipercayai bahwa hipotesis-hipotesis seharusnya didefinisikan untuk setiap manuskrip, serta seharusnya ada pengakuan bahwa data tsb dipakai di tempat lain, dan ada juga pengacuan studi lain yang berdasarkan database tsb, serta penjelasan dasar akan penganalisaan tambahan dibenarkan. Para penulis seharusnya juga leluasa mengungkapkan keterangan tsb kpd redaksi jurnal, di samping melampirkan naskah-naskah lain yang berkaitan, baik sudah diterbitkan, ataupun belum.

https://onlinelibrary.wiley.com/doi/pdf/10.1111/anae.12603

Kapan kegiatan “salami slicing” data boleh dibenarkan? Konsensus pakar menyatakan bahwa, asalkan “slicing” (pemotongan) studi tsb menguji hipotesis lain dari yang diuji dalam studi besar, atau memiliki metodologi atau populasi yang khusus yang diteliti, boleh juga diterbitkan secara terpisa. [2] Contoh yang baik adalah ujian epidemiologi skala besar, di mana banyak pertanyaan penelitian harus dijawab bersamaan. Walaupun demikian, hipotesis yang diuji seharusnya dinyatakan secara terperinci, di dalam naskah masing-masing, dan, idealnya, keterangan bahwa naskah itu merupakan hanya sebagian dari studi yang lebih luas. Hipotesis-hipotesis tsb seharusnya dibentuk sebelum studi-studi dimulai, bukan setelah data dikumpulkan. Seringkali, data longitudinal yang memiliki beberapa alat pengukur hasil, mungkin diterbitkan secara terpisa, namun para penulis harus menentukan sesedikit mungkin tumpang tindihnya, atas hasil yang sudah diterbitkan, dan seharusnya juga sumber asli dinyatakan dgn jelas, serta izin memakai dari penulis asli didapat. Tidak cukup menyitaskan karya sebelumnya di dalam bibliografi. [3] Jarang terjadi, bahwa manuskrip yang berasal dari sampel pasien yang sama, atau yang bertumpang tindih, boleh diterbitkan dalam beberapa jurnal yang diarahkan pada bidang keilmuan yang berlainan, tetapi berkaitan juga. [4] Contohnya, manuskrip yang ttg perilaku bunuh diri boleh dipikirkan utk penerbitan di jurnal bidang sosiologi atau epidemiologi, asalkan jurnal tsb isinya ttg pandangan yang berlainan. Kalau yang itu terjadi, penulis harus menjelaskan sebabnya berpendapat bahwa pemberian hasil, dalam konteks lain, diperlukan

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5178044/

Skenario 1 : Seorang ilmuwan mulai melakukan penelitian baru. Ilmuwan tsb sudah membuat alat baru utk mengumpulkan data, yang lebih tepat daripada alat pengumpul yang sudah ada. Penelitian utama mungkin memakan waktu satu tahun lebih, sampai selesai. Ilmuwan tsb memasukkan, agar diterbitkan, naskah, di mana alat pengukur tsb digambarkan, sebelum menyelesaikan studi utama.
Skenario 1 barangkali tidak dianggap sebagai penerbitan salami slicing. Alat pengukur baru itu tidak merupakan sebagian dari pertanyaan penelitian, tetapi dikembangkan utk menjawab pertanyaan penelitian tsb. Lagi pula, ilmuwan lain mendapat manfaat dari penerbitan itu, sebab alat pengukur data tsb bisa dipakai. Ketika menerbitkan studi utama, ilmuwan ini tidak harus menggambarkan alat pengukur itu di dalam bagian ‘Metode’, malahan seharusnya mengacu pada publikasi sebelumnya.

https://www.editage.com/insights/the-pitfalls-of-salami-slicing-focus-on-quality-and-not-quantity-of-publications

6.2. Perilaku yang kurang cocok (Inappropriate conduct)

6.2.a. Jangka waktu mendapat tanggapan dari jurnal

Peer review (pemantauan oleh sesame pakar) membuat tantangan utk banyak jurnal. Salah sebuah persoalan dalam proses pemutusan oleh redaksi jurnal ttg menerbitankan atau tidak ini, yang berasal dari banyaknya penolakan dan juga kadang-kadang dari tanggapan yang ditunda, ialah jangka waktu antara pemasukkan pertama sampai diterimanya dan diterbitkannya pada akhirnya. Satu cara mempercepat proses tsb, yang mungkin ada baiknya dipertimbangkan, adalah pemasukkan berulang. Komentar di bawah menjelaskan hal tsb.
https://philpapers.org/rec/SOMJRT

6.2.b. Submit Abstrak Konferensi

Tidak sangat luar biasa peneliti men-submit abstrak yang sama ke beberapa pengurus konperensi, utk dipresentasikan sebagai poster.
Mungkin strategi yang paling biasa, utk memastikan tidak kehilangan kesempatan, ialah sedikit mengubah isinya setiap masukkan abstrak. Kalau kedua masukan diterima, si penulis bisa menyatakan dia percaya bahwa, pada dasarnya, kedua masukan tsb berlainan, sehingga tidak ada pelanggaran terhadap aturan program pengajuannya. Kebetulan, yang biasanya terjadi, ialah bahwa pada umumnya, abstrak pengajuan berlainan sedikit saja, dan agak mirip, satu sama yang lain.

Praktek ini kurang baik, tetapi persaingan dalam memberikan presentasi di depan konperensi nasional yang paling besar, sangat tajam. Diketahui oleh pengaju bahwa kemungkinan tertangkap karena mengajukan beberapa masukan hanya sedikit. Mereka juga percaya bahwa penerimaan abstrak sangat sering berubah, dan sembarangan, sehingga merasa sebagai org yang dikorbankan oleh proses yang kurang adil, dan bahwa pemilihan pengajuan dilakukan oleh cukup banyak orang (menurut mereka), sehingga praktek ini, mengajukan banyak masukan, dirasa perlu, oleh sebab ada persaingan ilimiah yang sangat tajam.

Nah, diduga praktek ini kurang memenuhi etika, benar?
Sesuai dgn etika profesional, seharusnya peneliti tidak mengingkari janji, yang dilakukannya waktu memasukkan abstrak yang sama, dan dgn berbuat begitu, melanggar aturan program.
http://georgiactsa.org/documents/ethical-dilemmas/multiple-abstracts.pdf

6.3. Perilaku salah secara nampak sekali (Blatant misconduct)

6.3.a. “Shotgunning“- (arti harfiah- pemakaian senapan tabur)

Dalam konteks ini, istilah ini berarti pemasukkan secara sekaligus, artikel yang, pada dasarnya, sama, kepada redaksi banyak jurnal. Praktek ini juga dianggap kurang baik, dan melanggar etika, sebab akibatnya mungkin penerbitan artikel yang sama beberapa kali. Kalaupun satu jurnal memilih artikel yang di-“shotgun” ini dan penulis mencabut masukannya kpd redaksi jurnal lain, praktek ini sesedikitnya kurang sopan, sebab menjatuhkan beban pada bahu pemantau, dan membuat pekerjaan yang tidak perlu untuk staf redaksi dari jurnal lain, dari mana masukan akhirnya dicabut.

https://www.ajronline.org/doi/pdf/10.2214/ajr.173.2.10430115

6.3.b. “Salami slicing” dalam kondisi tertentu

Salami slicing” melibatkan membagi-bagikan data menjadi beberapa publikasi, yang masing-masing merupakan satu “slice” (potongan). Contohnya, pembandingan tiga merk laringgoskop, merk A, merk B dan merk C, yang dilakukan sekaligus, dengan memakai kelompok relawan yang sama, bia diterbitkan dalam bentuk membanding merk A dgn merk B, lalu secara terpisa dalam bentuk merk B dgn merk C. (dan mungkin juga nanti dalam bentuk merk A dibandingkan dgn merk C). Praktek ini mungkin mengubah bentuk sasteranya, kalau pembaca atau nanti pelaku metaanalisa percaya bahwa data yang terdapat dalam “slice” masing-masing berasal dari sampel yang berlainan, berbeda [7].
Oleh sebab itu, praktek ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa diterima, ketika ada hipotesis, populasi dan metode yang sama dalam setiap studi [5].

https://onlinelibrary.wiley.com/doi/pdf/10.1111/anae.12603

6.4. Deteksi

6.4.a. Dengan cara manual
Secara rutin mencari judul, kata kunci, dan/atau kombinasi tertentu dari nama penulis di mesin pencari akademik. Hal oni biasanya menunjukkan lingkungan yang dekat dari sejawat, sub-sub-area.

https://academia.stackexchange.com/questions/98405/how-do-conferences-detect-double-submission

6.4.b. Dengan aplikasi

Detection of Multiple Submission of Manuscript (DeMSum) dapat digunakan untuk mendeteksi pengiriman duplikat. DeMSum memverifikasi manuskrip (MS) dengan memproses atribut MS yang diakses melalui sistem editorial. DeMSum adalah sistem pertama untuk mengatasi masalah pengiriman ganda, sehingga memungkinkan penggunaan beragam sistem editorial untuk tinjauan MS. Asumsi DeMsum :
o Penulis memiliki ID email standar atau dilampirkan dengan akun ORCID.
o Sistem editorial akan selalu mengekspos antarmuka pemrograman ke program DeMSum.

https://philpapers.org/go.pl?id=KOLAPT&proxyId=&u=http%3A%2F%2Fdx.doi.org%2F10.1007%2Fs11948-017-9958-3

6.5. Mitigasi

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4116036/

6.5.a. Antisipasi

Penulis dan rekan penulis memikul tanggung jawab utama untuk mencegah duplikasi. Jika mereka tidak melakukannya pada saat pengajuan, mereka harus secara terbuka bertanya kepada rekan penulis mereka tentang kemungkinan pengiriman duplikat dan memberikan editor semua materi duplikat yang mungkin segera setelah ada keraguan. Selain itu, editor dan pengulas harus mengambil peran proaktif dalam mencegah duplikasi. Misalnya, durasi proses peninjauan harus dikurangi sebanyak mungkin. Balkan Medical Journal baru-baru ini membuat kemajuan yang baik dalam mengurangi lamanya proses peninjauan. Menurut analisis terbaru dari jurnal, waktu respon rata-rata untuk semua pengiriman adalah 3 minggu. Mereka juga telah memperbarui “Instruksi kepada Penulis” dengan informasi yang lebih terperinci dan instruksi yang lebih jelas, yang diharapkan lebih bermanfaat bagi penulis daripada versi instruksi sebelumnya.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3613514/

Diperlukan transfer copyright pada saat penyerahan naskah. Haruskan penulis yang menyerahkan naskah untuk menandatangani surat pengantar yang menyatakan bahwa artikel “belum dikirim atau diterima untuk publikasi di tempat lain (secara keseluruhan atau sebagian, termasuk pasien, data, atau hasil, tanpa pengakuan)” dan untuk menyatakan bahwa penulis belum memberikan hak atau minat pada naskah kepada pihak ketiga mana pun.

6.5.b. Respons Cepat Ketika Sudah Terjadi

Menarik kertas dari Journal A dengan segera. Bahkan ini tidak akan menyelesaikan masalah sepenuhnya, karena tanggal pengiriman akan mengungkapkan bahwa makalah itu sedang dipertimbangkan oleh kedua jurnal pada saat yang sama. Selain itu, menarik naskah setelah dikirim untuk ditinjau (faktor yang memperberat) juga tidak benar, karena waktu berharga pengulas (reviewer) akan sia-sia. Namun, ini semua yang dapat Anda lakukan sekarang: Kirim permintaan penarikan ke jurnal A.

Juga,  Anda harus jujur dan memberi tahu jurnal B tentang ini. Setidaknya ini akan memberi kesan bahwa itu adalah kesalahan Anda dan Anda ingin memperbaikinya. Jurnal mungkin memutuskan untuk tidak mempublikasikan makalah Anda begitu mereka tahu ada kiriman duplikat, tapi setidaknya ini lebih baik daripada membuat makalah Anda ditarik kembali dan merusak reputasi Anda. Bahkan jika jurnal B menolak makalah Anda, Anda dapat mengirimkannya ke jurnal lain (setelah makalah tersebut ditolak oleh atau ditarik dari kedua jurnal) dengan catatan bersih.

https://www.editage.com/insights/what-can-i-do-to-resolve-the-problem-of-duplicate-submission

Sep
03
2019
0

Powered by WordPress. Theme: TheBuckmaker. Zinsen, Streaming Audio