May
28
2017
0

Penggunaan Media Sosial yang Aman dan Bertanggungjawab Pada Anak

Materi berikut ini merupakan adaptasi dari Departemen Pendidikan Kota New York (2014). Dokumen ini bersumber dari “Parent and Family Guide to Student Social Media Guidelines”.

Peran baru keluarga masa kini adalah membantu anak-anak untuk berperilaku secara aman dan bertanggungjawab ketika menggunakan media sosial, baik untuk keperluan bersenang-senang maupun untuk belajar. Panduan yang dipresentasikan dalam paparan ini berguna untuk anak-anak berusia 13 tahun ke atas. Fokusnya ada 3, yaitu: citra digital (digital image), posting yang bertanggungjawab, dan konsekuensi. Sebagai tambahan dibahas mengenai perundungan maya (cyberbullying).

 

Menciptakan Citra Digital Sesuai Keinginan

  • Guna mengendalikan citra-citra digitalnya, anak-anak mesti mempertimbangkan: Bagaimana ia ingin dunia melihat atau mengenal mereka? (Ia ingin dikenal sebagai siapa atau apa?)
  • Hal ini mencakup:

–Menyelaraskan tujuan individu dengan citra online mereka.

–Memposisikan dan mempertanggungjawabkan diri sendiri.

–Memahami bahwa keluarga dapat merupakan mitra yang menolong.

Aktivitas

  • Coba imajinasikan: jika suatu waktu, anak Anda ditulis dalam sebuah artikel koran. Headline seperti apa yang ia ingin lihat? Tulislah. Diskusikan juga, kemungkinan headline seperti apa dari teman-teman, keluarga, dan tokoh terkenal yang ia ingin baca.
  • Lakukan peninjauan jenis-jenis foto dan post yang selama ini Anda dan anak Anda lakukan. Apakah foto-foto dan post tersebut sejalan dengan headline yang ingin Anda & anak Anda lihat (tentang diri kalian?) Jika tidak, bagaimana post di masa mendatang dapat dibuat sejalan?
  • Coba imajinasikan audiens (orang-orang yang akan melihat Anda).

–Ingatkan anak Anda bahwa banyak orang yang berpotensi menjadi audiens (pembaca, orang yang melihat) gambar/citra online-nya.

–Bagaimana ia ingin gurunya melihat dia? Bagaimana juga dengan atasannya? (jika suatu saat ia punya atasan). Bagaimana juga dengan calon pacarnya? Diskusikan hal-hal yang dapat ia lakukan untuk memperbarui atau meningkatkan kualitas substantif dari gambar/fotonya dan meningkatkan pencitraannya.

  • Tinjaulah profil Anda sendiri. Anda dapat mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kualitas “jejak digital” Anda, serta membantu anak Anda untuk meningkatkan “jejak digital” mereka.
  • Buatlah sebuah profil di beberapa tempat, seperti Google Profile, About.me, atau Falvors.me. Lihatlah profil anak-anak yang lain, dan diskusikan hal-hal yang Anda & anak Anda sukai dan tidak sukai. Pertimbangkan apakah ada hal-hal yang anak Anda mungkin ingin hapus atau untag guna mencerminkan secara akurat image yang ia komunikasikan kepada audiens.
  • Intinya: Anak-anak perlu untuk dapat mengendalikan Citra dan Identitas Digital mereka sendiri, dan mereka perlu didampingi oleh atau bekerja bersama keluarga mereka dalam hal ini.

 

Juneman Abraham hadir dalam Pembahasan Penyusunan Pedoman Penggunaan Media Sosial pada Anak pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rabu, 10 Mei 2017, di Sari Pan Pacific Hotel, Jl. M.H. Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat.

Juneman Abraham hadir dalam Pembahasan Penyusunan Pedoman Penggunaan Media Sosial pada Anak pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rabu, 10 Mei 2017, di Sari Pan Pacific Hotel, Jl. M.H. Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat.

 

Posting Secara Bertanggung jawab

  • Keluarga memainkan peran kunci dalam memastikan anak-anak melakukan posting secara bertanggung jawab.
  • Orangtua bertanggung jawab untuk mengajarkan nilai-nilai khusus dari keluarga kepada anak-anak.
  • Anda dapat membantu anak-anak mem-post dengan cara-cara yang mencerminkan nilai-nilai dengan mana keluarga mereka ingin dikenali oleh masyarakat.

Aktivitas

  • Membuat akun bersama: Ketika anak Anda sudah cukup usia untuk membuat akun (umumnya 13 tahun), Anda seyogianya membuat bersama anak akun media sosial, dan menelaah setting privasi default secara bersama-sama. Pastikan bahwa anak anda memiliki pertemanan dan percakapan online hanya dengan orang-orang yang Anda ketahui dan setujui.

–Anda diharapkan dapat membangun empati terhadap perilaku online anak Anda. Anak-anak diharapkan dapat melihat ketulusan minat Anda dalam rangka keamanan dan keberhasilan perilaku online mereka.

  • Gunakan peristiwa-peristiwa terkini: Peristiwa-peristiwa dalam pemberitaan serta situasi-situasi dengan teman-teman dan keluarga memberikan sarana yang bagus sekali untuk mendiskusikan posting yang bertanggung jawab. Ketika cerita-cerita bermunculan, diskusikan dengan anak Anda bagaimana menangani situasi tersebut. Jangan hanya berfokus pada hal-hal yang dilarang. Penting untuk mengenali contoh-contoh orang yang menggunakan media sosial untuk kepentingan sosial, online presence yang bagus, atau hasil-hasil positif lainnya.

–Jagalah agar percakapan bersifat kekinian dan otentik. Persiapkan diri untuk pertanyaan, “Mengapa kita butuh untuk mengetahui hal ini?”

 

Pada pertemuan tersebut, hadir pemangku kepentingan terkait media sosial, seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengurus Besar Persatuan Guru Seluruh Indonesia, APJII/Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indoensia, Bareskrim POLRI, Komisi Penyiaran Indoenesia, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, ICT Watch, dll. Juneman turut menyampaikan pandangan berdasarkan bidang keahlian Psikologi terhadap Kajian dan Penyusunan Pedoman Penggunaan Sosial pada Anak.

Pada pertemuan tersebut, hadir pemangku kepentingan terkait media sosial, seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengurus Besar Persatuan Guru Seluruh Indonesia, APJII/Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indoensia, Bareskrim POLRI, Komisi Penyiaran Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, ICT Watch, dll. Juneman turut menyampaikan pandangan berdasarkan bidang keahlian Psikologi terhadap Kajian dan Penyusunan Pedoman Penggunaan Sosial pada Anak.

 

 

Pertimbangkan Konsekuensi Aksi Online

  • Penting bagi anak-anak untuk memikirkan sungguh-sungguh konsekuensi dari aksi atau tindakan online mereka, dan secara seksama memperhatikan siapa-siapa yang mereka masukkan sebagai teman (friend), pengikut (follower), dan sebagainya.

–Anak-anak tidak selalu menyadari bahwa hal-hal yang mereka lakukan di luar sekolah (termasuk secara online) dapat memiliki konsekuensi atau akibat di sekolah.

Aktivitas

  • Jangan mem-post informasi personal yang bersifat sensitif: Jelaskan kepada anak Anda mengapa buruk untuk mem-post informasi alamat, tanggal lahir, atau informasi pribadi lainnya. Jelaskan pula makna dari pencurian identitas (identity theft). Gunakan contoh-contoh nyata jika Anda dapat menemukan contoh-contoh itu.

Buatlah aturan-aturan dasar yang jelas dan tekankan pentingnya untuk menahan informasi pribadi.

  • Jaga informasi tetap privat: Bicarakan dengan anak Anda untuk tidak membagi password sekalipun dengan sahabat-sahabat. Pastikan bahwa Anda dan anak Anda mengetahui bagaimana mencegah komputer yang dipakai bersama-sama untuk tidak secara otomatis menyimpan password (Sebagai contoh, selalu lakukan log off setelah selesai menggunakan sebuah situs; jangan hanya klik ‘keluar’ dari browser). Buatlah anak Anda mengetahui bahwa masing-masing kita dapat dimintai pertanggungjawaban untuk aksi-aksi pribadi orang lain ketika orang lain itu menggunakan akun online kita untuk mem-post informasi atau membuat pembelian online.

–Bukalah sebuah diskusi mengenai pentingnya melindungi diri secara keseluruhan, baik dalam dunia offline maupun online.

  • Peringatan Orang tua: Sekolah hendak mengirimkan pengingat kepada orang tua secara periodik mengenai kegiatan-kegiatan di kelas yang berbasiskan media sosial. Apabila Anda tidak pernah mendengar apapun tentang hal ini, bicarakan dengan anak anda dan guru mereka mengenai kegiatan media sosial semacam apa yang menjadi bagian dari kerja kelas. Diskusikan dengan anak-anak ihwal penggunaan media sosial di sekolah sama seperti Anda membicarakan pekerjaan sekolah atau pekerjaan rumah lainnya dari anak-anak Anda.

–Selalu tengok apa yang terjadi di sekolah anak Anda sehingga Anda dapat mengambil tindakan-tindakan untuk mendukung dan memandu penggunaan media sosial mereka.

  • Sadar tentang Perilaku Online anak-anak: Anda mungkin ingin mem-”friend” atau mem-follow anak Anda sendiri. Sejumlah keluarga memiliki salinan dari username dan password online dari anak-anaknya. Keluarga yang lain memiliki sebuah tempat di mana semua password keluarga dijaga untuk keperluan darurat suatu waktu. Tentukan aturan-aturan mengenai perilaku online yang dapat diterima, dan diskusikan Panduan Penggunaan Media Sosial di rumah. Anda mungkin juga ingin membeli filtering software atau membuat sebuah program untuk merekam penggunaan komputer dan telepon selular.

–Anda hendaknya selalu menyadari hal-hal yang terjadi secara online pada anak-anak Anda. Hal ini juga membantu anak-anak untuk mengetahui bahwa orangtua mereka senantiasa ada untuk mendukung mereka dalam menggunakan media sosial secara aman dan bertanggungjawab.

 

 

Waspadai Perundungan Maya Secara Serius

  • Perundungan maya atau cyberbullying merupakan penggunaan teknologi elektronik untuk melukai atau melecehkan orang lain. Contoh-contohnya seperti membuat atau mengedarkan pesan teks atau surat elektronik yang bersifat ofensif (menyerang orang lain), melakukan posting hal-hal yang tidak benar, dan menciptakan desas-desus atau rumor, serta membuat atau mengedarkan foto-foto yang memalukan.
  • Anak-anak perlu mengetahui hal-hal yang perlu dilakukan ketika orang-orang yang mereka kenal menjadi target dari pembulian, atau menyadari apakah mereka sendiri menjadi target.

Aktivitas

  • Kenali teman-teman anak Anda di sekolah: Kenalilah dan pelajarilah nama-nama dari teman-teman anak anda serta kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan bersama. Apabila Anda mencurigai anak Anda menjadi aktor atau korban perundungan maya, Anda dapat melaporkan hal ini kepada konselor sekolah, aliansi-aliansi yang terkait, atau staf sekolah yang Anda percayai.

–Keluarga perlu mengenali orang-orang dan situasi-situasi yang dapat berkembang menjadi masalah.

  • Sadarilah perilaku di rumah: Perhatikan apakah perilaku anak Anda tiba-tiba berubah. Beberapa tanda telah terjadinya perundungan maya (baik sebagai aktor maupun korban) adalah: penarikan diri anak-anak dari kegiatan sehari-hari, menjadi kecewa atau sedih ketika online atau menulis dan mengirim pesan teks, lekas-lekas menutup aplikasi ketika berpapasan dengan orang dewasa, atau menghindari diskusi mengenai apa yang ia lakukan dengan komputer.

–Keluarga perlu mengetahui bagaimana mengenali perundungan maya dan melakukan intervensi sebelum berkembang lebih jauh.

  • Mengetahui hal yang perlu dilakukan jika anak Anda sendiri adalah seorang pelaku cyberbullying: Apabila Anda mencurigai bahwa anak Anda membuli seseorang, penting untuk memahami situasi tersebut. Berupayalah untuk menentukan persoalan-persoalan yang mendasarinya dan hasilkanlah sebuah rencana untuk mengintervensi atau mengkoreksi perilaku anak Anda. Konselor sekolah dapat membantu Anda dalam hal ini.

–Keluarga tidak harus menghadapi situasi ini secara sendirian. Bantuan profesional tersedia.

–Dengan menetapkan harapan-harapan serta batas-batas yang jelas, Anda dapat membuat percakapan di masa mendatang menjadi lebih mudah.

  • Doronglah anak-anak Anda untuk angkat bicara (speak up): Ketika anak-anak anda menyadari bahwa seseorang yang ia kenal diperlakukan secara tidak benar, dorong dia untuk mendukung korban, baik dengan menyampaikan secara pribadi kepada korban bahwa ia menyesalkan hal yang sedang terjadi, atau dengan menyampaikan secara publik (angkat bicara). Cobalah untuk mencari contoh-contoh nyata dari perilaku ini dalam kehidupan anda, atau dari media (koran, dll), dan diskusikan dengan anak Anda mengenai bagaimana dia dapat memberikan respons.

–Tunjukkan bahwa ada alternatif pilihan ketimbang pembulian. Melakukan perlawanan terhadap kekerasan atau pembulian dapat meningkatkan kepercayaan diri dan empati anak Anda.

  • Tunjukkan kontribusi positif dari orang-orang muda yang lain: Doronglah anak Anda untuk selalu berperilaku positif dalam komunitas maya. Tunjukkan contoh-contoh mengenai orang lain yang berpartisipasi secara positif seperti itu. Diskusikan dengan anak Anda berbagai cara yang berbeda yang dapat membantunya untuk tetap positif.

–Keluarga perlu menunjukkan kepada anak-anak bagaimana media sosial dapat digunakan secara positif.

May
04
2017
0

Dosen Etika Bersertifikat UNESCO

Persoalan etis berkenaan dengan seluruh fase kehidupan manusia. Kita bertanya, apakah pikiran ini dan itu, tindakan ini dan itu dapat dibenarkan secara moral? Kita mesti mempertanggungjawabkan keputusan-keputusan moral kita sendiri pula. Justru oleh karena urgensinya dalam hidup sehari-hari itu, kita tidak bisa menyerahkan persoalan-persoalan itu kepada segelintir ahli filsafat aksiologi (etikawan) saja. Dalam konteks ini, UNESCO memberikan pembekalan (capacity building) kepada dosen-dosen etika dari berbagai negara.

Juneman Abraham, psikolog sosial Universitas Bina Nusantara, sekaligus dosen mata kuliah Kode Etik Psikologi, berpartisipasi aktif selama lima hari (24-29 April 2017) dalam Ethics Teacher’s Training Course (ETTC) di Aula Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, Surabaya. Untuk dapat mengikuti kegiatan yang langka ini, ia diseleksi oleh UNESCO berdasarkan esai dan curriculum vitae.

 

Selection Results

 

Ia menerima eksposur dari Prof. Dr. Bert Gordijn dari Institute of Ethics, Dublin City University, Irlandia, mengenai Clinical Ethics Teaching in Action, Technology Ethics Teaching in Action, serta Business Ethics Teaching in Action. Di samping itu, ia digembleng oleh Prof. Dr. Hafiza Arzuman, dari Faculty of Medicine, SEGi University, mengenai Dignity and Ethics for Professional Educators dan Informed Consent. Tidak ketinggalan, ia dilatih oleh DPhil. M. Firdaus Bin Abdul Aziz tentang Bioethics Core Curriculum. Perspektif dan pengalaman dari Prof. Dr. Soenarto Sastrowijoto, dari Center for Bioethics and Medical Humanities, Medical Faculty, Universitas Gadjah Mada turut melengkapi seluruh masukan tersebut.

Pengalaman yang berharga adalah Teaching Demonstrations selama 7 (tujuh) sesi yang dievaluasi oleh para fasilitator. Sesuai keterangan dari situs web Universitas Airlangga,

Acara ini bertujuan untuk membentuk kompetensi dosen dalam mengembangkan dan membangun ilmu bioetik di tingkat fakultas maupun universitas. Melalui training ini pula, peserta dapat berbagi pengalaman mendidik, meneliti, dan pelayanan bioetik di negara mereka masing-masing …. (S)etelah mengikuti kegiatan training, peserta akan memperoleh sertifikat resmi dari UNESCO dan diakui memiliki kompetensi menjadi dosen bioetik yang tersertifikasi UNESCO.

 

Juneman menjadi bagian dari peserta internasional pelatihan UNESCO (Amerika Serikat, Kanada, Arab Saudi, Mesir, Filipina, Indonesia, India, Malaysia, Bangladesh, dsb).

Juneman bersama dengan Irakli Khodeli (Programme
Specialist, Social and Human Sciences, UNESCO Office in Jakarta)

Juneman bersama dengan Dr. M. Firdaus Abdul Aziz (University of Malaya) dan Prof. Dr. Bert Gordijn (Director of the Institute of Ethics at Dublin City University in Ireland)

Foto Bersama

Foto Bersama

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

 

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

 

Observer

 

Penyerahan Sertifikat UNESCO

 

Penyerahan Sertifikat UNESCO

Written by juneman in: Binusian,Profesi | Tags: , , ,
Mar
16
2017
0

Tujuh Langkah Menemukan Pembimbing yang Tepat

Artikel berikut ini disadur oleh Madeline Jessica, seorang BINUSIAN asal Yogyakarta yang menyebut dirinya ‘the future psychologist’, dari Seven steps to finding the right advisor (Laura Zimmerman, PhD, 2017).

 

Keberhasilan sebagai mahasiswa pascasarjana di bidang Psikologi khususnya penelitian tergantung pada pemilihan mentor. Seperti yang diketahui pada masa perkuliahan, mentor berfungsi sebagai pengawas dan pembimbing yang menjamin mahasiswa memenuhi persyaratan kelulusan. Kemudian setelah kelulusan, mentor dapat menjadi pendamping dalam mengawasi penelitian dan penulisan, membantu mendapatkan pendanaan penelitian, memberikan umpan balik pada diskusi, dan memberikan saran karir di masa mendatang. “Mentor akan menjadi faktor besar dalam 4-6 tahun ke depan hidup Anda,” kata Ana Hernandez Kent, seorang doktor di bidang psikologi eksperimental dari Saint Louis University. Maka dari itu berikut pemaparan saran dari para ahli untuk menemukan mentor yang terbaik dan sesuai dengan Anda:

  1. Identifikasi Potensi Mentor

Mulai pencarian dengan mencocokkan minat (passion) Anda dengan kesesuaian tema penelitian terkait dari mentor, agar Anda dapat menikmati penelitian yang dipilih. Pernah memiliki hubungan yang dekat dengan dosen pembimbing sewaktu berkuliah lebih berpotensi bagi Anda untuk mencoba menjalin kerjasama kembali untuk penelitian selanjutnya. Karena pengalaman sebelumnya dapat menjalin komunikasi dengan baik, maka disarankan agar menjadikan dosen tersebut sebagai penasehat dalam penelitian.

  1. Mempertimbangkan Kualitas Kunci Mentor

Kualitas yang dimaksud ketika ingin bergabung dengan mentor, Anda perlu mempertimbangkan posisi karier mentor. Hal ini termasuk faktor peluang proyek, pendanaan, kemudian peluang publikasi, serta peluang untuk mengikuti suatu konferensi. Walaupun hal ini bukan menjadi penentu utama, namun perlu pertimbangan lebih lanjut mengenai mentor agar bersedia mendukung Anda dalam hal tersebut. Cara mengetahuinya dapat dilihat dari CV di situs resmi atau institusi, dengan melihat riwayat karya ilmiah yang pernah dipublikasikan oleh mentor.

  1. Keterjangkauan

Setelah mengidentifikasi hal diatas, selanjutnya Anda dapat mencari tahu lebih lanjut mengenai keterbukaan mentor dalam penerimaan rekan penelitian. Cara mengetahuinya dapat mengirimkan email secara pribadi atau melalui email institusi tempat mentor melakukan penelitiannya. Sebelumnya Anda perlu mencari lebih lanjut mengenai situs yang memuat informasi lebih lengkap. Kendati demikian, perlu diingat bahwa informasi tersebut mungkin belum mencakup kegiatan dan minat termutakhir dari calon mentor Anda. Jika informasi dirasa belum lengkap, Anda dapat mengirimkan email kepada sang calon mentor namun perlu memperhatikan pertanyaan yang diajukan. Selain itu lebih baik jika melampirkan surat rekomendasi dalam email tersebut yang didalamnya memuat indikasi profesionalitas Anda dalam bekerja dan menginginkan bergabung dalam penelitian tersebut.

  1. Pertemuan dengan Mentor

Ketika aplikasi yang dikirimkan telah diterima dengan baik oleh mentor atau institusi, proses selanjutnya Anda memiliki kesempatan untuk melakukan wawancara baik secara langsung maupun berbasis online dari website. Perbincangan perlu membahas beberapa kesepakatan awal karena perlu ada kolaborasi dengan mentor dalam penelitian agar terjalin kerjasama yang baik. Terutama pembicaraan mengenai lokasi yang digunakan untuk penelitian, perlu ada penyesuaian dengan mentor yang tempat kerjanya lebih banyak dihabiskan dalam laboratorium. Kemudian perlu penyesuaian pengaturan ruangan kerja dalam laboratorium agar lebih kolaboratif dengan adanya ruang bersama supaya tercipta suasana diskusi yang menyenangkan dan tidak terkotak-kotak.

  1. Mencari Kecocokan dengan Mentor

Kecocokan yang dimaksud tidak hanya didalam laboratorium tetapi juga berkaitan dengan keakraban yang terjalin diluar penelitian. Berinteraksi dengan mentor mengenai minat dan aktivitas Anda, di samping hal-hal akademik, namun perlu waspada dalam percakapan agar tetap proporsional dalam mempromosikan diri. Dari daftar riwayat Anda, bila aAnda tunjukkan bukti-buktinya, mentor dapat melihat cara Anda dalam mengatur waktu secara efisien yang dapat berdampak dalam melakukan suatu penelitian pada proyeknya.

  1. Bekerja Keras dalam penelitian

Setelah diterima tentu Anda perlu membuat mentor terkesan dengan melakukan beberapa kajian literatur dan membantu penelitian sesegera mungkin; hal ini menunjukkan bahwa Anda ingin sekali memulai bekerja. Ketika memulai masa kerja di laboratorium Anda dapat bertanya kepada rekan yang lebih senior terutama dalam berbagi saran dan ide untuk proyek penelitian. Kemudian untuk mendukung kelangsungan penelitian, Anda dapat mengkomunikasikan mengenai tujuan, harapan dan kebutuhan selama meneliti agar mentor dapat memenuhi hal tersebut.

  1. Perhatikan Hal yang Tidak Cocok dengan Mentor

Saat melakukan penelitian, terkadang ada beberapa hal yang disadari memiliki ketidakcocokan dengan mentor. Jika Anda mengalami kesulitan seperti ini maka lebih baik beralih dengan mentor lain adalah solusi yang tepat. Caranya dengan terlebih dahulu mengkomunikasikan ketidakcocokan kepada pimpinan laboratorium atau departemen. Dalam pertemuan ini Anda mungkin mendapatkan saran lain dengan transisi (switching) ke tempat lain. Hal ini perlu menjadi perhatian khusus karena jika Anda tidak sepaham dengan mentor maka penelitian tidak dapat bergerak maju dan sulit untuk meneruskan penelitian selanjutnya.

Oct
17
2016
0

Psikolog Sosial BINUS Membicarakan Internet of Things

Pada 16 Oktober 2016, psikolog sosial BINUS University, Juneman Abraham, membawakan presentasi hasil penelitiannya bersama Tommy Prayoga (alumnus terbaik Jurusan Psikologi dalam Wisuda 2016) yang berjudul “Health Capability: The Representation of IoT in Health Domain among Jakartans“, dalam The 2016 International Conference on Advanced Computer Science and Information Systems (ICACSIS), bertempat di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Indonesia.

Artikel ini terpilih dari antara 99 artikel yang diterima dari 199 artikel yang masuk. Berdasarkan informasi dari Bapak Harry Budi Santoso, Ph.D. dalam closing ceremony, rejection rate untuk seleksi paper dalam konferensi ini mencapai 50%. Oleh karena itu, beliau memuji kerja keras kami semua untuk menghasilkan penelitian yang baik. Informasi ini sudah barang tentu membesarkan hati kami.

Di samping menyajikan hasil penelitian kami, yang akan terbit dalam publikasi internasional dengan proposal indeksasi bereputasi, tidak kurang pula kami menimba ilmu dari para pembicara berkelas dunia, seperti Prof. Ramjee Prasad (Founder Director, Center for TeleInFrastruktur (CTIF), Aalborg University, Denmark), Prof. Jim Foster (Keio University, Japan), Dr. Ye-Nun Huang (Research Center for Information Technology Innovation, Academia Sinica, Taiwan), dan Assoc.Prof. Stephane Bressan (National University of Singapore, Singapore).

Partisipasi dalam ajang akademik internasional bergengsi ini kami letakkan bermakna sebagai sejumput kontribusi kami dalam menunjang Visi BINUS University 2020 untuk menjadi World Class University.

 

Juneman Abraham di Universitas Brawijaya

Juneman Abraham di Universitas Brawijaya

Juneman Abraham di Universitas Brawijaya

Juneman Abraham di Universitas Brawijaya

Juneman Abraham di iCACSIS 2016 UI-IEEE-Unibraw

Juneman Abraham di iCACSIS 2016 UI-IEEE-Unibraw

Presentasi Juneman Abraham

Presentasi Juneman Abraham

Presentasi Juneman Abraham

Presentasi Juneman Abraham

Foto Bersama Rekan-rekan dari IPB, National University of Taiwan, dan Fasilkom UI

Foto Bersama Rekan-rekan dari IPB, National University of Taiwan, dan Fasilkom UI

Suasana Auditorium Unibraw

Suasana Auditorium Unibraw

Kenang-kenangan Kaos IEEE-Fasilkom UI

Kenang-kenangan Kaos IEEE-Fasilkom UI

 

Presenter Tag

Presenter Tag

 

Oct
17
2016
0

Psikologi Kritis yang Kita Butuhkan

Pada 15 Oktober 2016, Tommy Prayoga (alumnus terbaik Jurusan Psikologi) dan Juneman Abraham (SCC Community Psychology) berpartisipasi dalam International Seminar on Mathematics, Science and Computer Science Education di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung bertajuk “Harnessing Local Wisdom to Build Competencies of Excellence in Research and Collaboration in The New Era of The ASEAN Economic Community”.

Sebuah artikel yang ditulis oleh keduanya berjudul “Psychology Curriculum Development: Challenges from Students’ Representations on Psychological Science’s Role in Creating Social Change“. Penulisan artikel ini berangkat dari keprihatinan kami bersama terhadap situasi keterjagaan kesadaran-sosial-kritis mahasiswa-mahasiswi Psikologi pada tingkat Sarjana di Indonesia. Kami berharap artikel yang terbit nantinya dapat berkontribusi barang sedikit terhadap perubahan kurikulum yang perlu di perguruan-perguruan tinggi penyelenggara pendidikan Psikologi di Indonesia. Semoga!

Kedua Penulis di UPI Bandung

Kedua Penulis di UPI Bandung

 

Presentasi Tommy Prayoga

Presentasi Tommy Prayoga

Sertifikat Presentasi

Sertifikat Presentasi

Sep
23
2016
0

Agar Tidak Salah Pilih Jurusan? Tips Dosen Psikologi BINUS University

Pada Sabtu, 17 September 2016, Juneman Abraham memberikan penyuluhan kepada orangtua siswa-siswi SMA Bunda Hati Kudus, di kawasan Grogol, Jakarta Barat. Tema yang diangkat adalah “Komunikasi efektif orangtua & anak dalam pendampingan pemilihan jurusan & universitas”.

Outline yang Juneman sampaikan adalah sebagai berikut:

  • Tentang Anak (“Anakmu bukan milikmu“, Khalil Gibran)
  • Fenomena Salah Pilih Jurusan (Curhat anak di media sosial, tragis dan mahalnya salah pilih jurusan; Tanda Salah Pilih Jurusan; Rilis hasil survei 33% penyesalan mahasiswa atas pilihan jurusannya; sebabnya: informasi yang samar-samar dan/atau menyesatkan)
  • Komunikasi Efektif (Memanfaatkan Jendela Johari; bernegosiasi dengan eviden)
  • Informasi tentang Disiplin Ilmu (Menguliti: Apa ciri khasnya, bagaimana hubungannya dengan disiplin ilmu lain, apa saja ilmu-ilmu “serupa” dalam satu rumpun, prospek karier dan kerjasama praktiknya)
  • Informasi tentang Bentuk Pendidikan Tinggi (Akademi, Institut, Sekolah Tinggi, Politeknik, Universitas; apa bedanya?)
  • Jalan “Mudah” memilih Jurusan/Program Studi (bergantung pada salah satu ukuran: cool, trendy, patuh otoritas, income, setiakawan, double major/jurusan ganda, dipilihkan oleh kuis)
  • Jalan yang “Sedikit Tidak Mudah” (refleksi nilai, keterampilan, kinerja tes, minat, bakat, kepribadian, pertimbangan jenjang pascasarjana; proses matching sampai dengan mengecek kenyataan)
  • Apa itu Universitas Kelas Dunia? (World Class University) – QS, Webometrics, 4ICU, Dikti, dan metodologinya. Mana yang lebih penting: Kinerja universitas atau kinerja program studi?

Pembaca yang ingin memperoleh paparan lengkap, undangan dapat disampaikan melalui kontak LinkedIn Juneman Abraham.

 

Suasana Seminar tentang Memilih Jurusan yang Tepat

Suasana Seminar tentang Memilih Jurusan yang Tepat

 

Program Pengabdian Kepada Masyarakat, kali ini Komunitas Sekolah Bunda Hati Kudus

Program Pengabdian Kepada Masyarakat, kali ini Komunitas Sekolah Bunda Hati Kudus

 

Juneman Abraham: Mengantisipasi Salah Pilih Jurusan saat Kuliah

Juneman Abraham: Mengantisipasi Salah Pilih Jurusan saat Kuliah

 

Orangtua Siswa SMA Bunda Hati Kudus menyimak paparan Dosen Jurusan Psikologi Sosial BINUS University, Juneman Abraham

Orangtua Siswa SMA Bunda Hati Kudus menyimak paparan Dosen Jurusan Psikologi Sosial BINUS University, Juneman Abraham

Feb
14
2015
0

Dosen Psikologi BINUS Menjadi Reviewer Konferensi Internasional

Dosen merupakan sebuah profesi yang sehari-harinya melaksanakan tridarma perguruan tinggi, yang terdiri atas (1) Mengajar dan mengikuti pendidikan, (2) Meneliti, dan (3) Mengabdi kepada masyarakat. BINUS University memperluas lagi cakupan darma menjadi caturdarma, dengan penambahan darma keempat, yakni (4) Mengembangkan diri.

Karakteristik Profesi yang tertera dalam Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Profesi), lebih khusus lagi karakteristik kesepuluh, merupakan karakteristik yang jarang diperhatikan (karena kata “profesional” sering diidentikkan dengan “profesi berbayaran tinggi”), sebagai berikut:

Layanan publik dan altruisme: Diperolehnya penghasilan dari kerja profesinya dapat dipertahankan selama berkaitan dengan kebutuhan publik, seperti layanan dokter berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat.

Karakteristik ini menepis anggapan bahwa dosen merupakan kaum intelektual yang “duduk di menara gading”, yang asyik dengan ilmunya sendiri sampai menjadi buta akan keadaan sekelilingnya. Layanan publik yang bermutu (yang tidak sekadarnya) yang diberikan oleh dosen tidak terlepas dari catur darma yang dikemukakan di atas, malahan boleh disebut sebagai salah satu “muara” dari darma-darma tersebut, yang memberikan dimensi aksiologis dari kegiatan dosen.

Saling menjaga mutu karya ilmiah sejawat dalam komunitas dosen barangkali merupakan salah satu aktivitas dosen yang kurang populer, lebih khusus lagi bagi masyarakat umum dan profesi non-dosen. Di samping kurang populer, aktivitas ini juga meminta pencurahan keahlian demi pengembangan sejawat (meskipun tidak kasat mata seperti memberikan pelatihan), yang mencerminkan karakteristik altruistik (devosi/pengabdian pada kepentingan orang lain) dari profesi dosen sebagaimana disebutkan di atas.

Salah seorang dosen Psikologi BINUS, Juneman Abraham, merasa bersyukur karena dalam berbagai kesempatan memperoleh kepercayaan untuk menelaah (me-review) naskah-naskah hasil pemikiran maupun penelitian empiris ilmiah dari rekan-rekan sejawatnya, yang akan diterbitkan baik dalam jurnal lokal, jurnal nasional, maupun jurnal internasional.

Salah satu kegiatan reviewing tersebut dilakukannya dalam Asia Pacific International Conference on Environment-behaviour Studies (AicE-Bs 2014Berlin) yang berlangsung di Jerman.  Ia menjadi salah seorang Reviewer of Elsevier’s Journal Procedia-Social and Behavioral Sciences Vol 168, produk konferensi ini, yang diterbitkan pada awal 2015 (http://www.sciencedirect.com/science/journal/18770428/168 ).

Semoga penelaahan tersebut bermanfaat bagi komunitas peserta konferensi yang peduli terhadap relasi timbal-balik antara perilaku manusia dan lingkungannya, serta berdampak bagi riset dan praktik lanjutnya.

 

Penerbitan Januari 2015 di ScienceDirect

Penerbitan Januari 2015 di ScienceDirect

Cover Journal of Procedia

Cover Journal of Procedia

 

AicE-Bs2

Cuplikan Daftar Reviewer

 

Sejak 2012, Juneman juga merupakan salah seorang anggota tim penyunting penelaah pada Jurnal Humaniora: Language, People, Art, and Communication Studies (ISSN 2087-1236) terbitan Universitas Bina Nusantara.

Written by juneman in: Binusian |
Feb
08
2015
0

Mahasiswa Psikologi BINUS Melawan Ketidakadilan Jender dengan Seminar Gender in Justice

Pada 17 Januari 2015, Kelas Psikologi Sosial dan Intervensi Psikologi (LA64), Jurusan Psikologi BINUS, di bawah asuhan dosen Juneman Abraham, S.Psi., M.Si., menyelenggarakan Seminar Gender in Justice, sebagai final project dari mata kuliah ini. Audiens dari kegiatan ini adalah mahasiswa-mahasiswi di lingkungan Universitas Bina Nusantara, lebih khusus lagi dari Jurusan non-Psikologi. Seminar ini diselenggarakan di Kampus BINUS Anggrek, Exhibition Hall, Lantai 3, mulai pukul 12:30-16:30 WIB.

Latar belakang seminar ini adalah sebagai berikut: Kasus kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan merupakan fenomena yang telah merajalela di dalam masyarakat. Namun jumlah kasus yang diketahui dan tidak diketahui berbanding sangat besar. Kasus kekerasan ini termasuk dalam fenomena gunung es (iceberg). Konsep ini menyatakan bahwa kasus kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan sebenarnya sangat banyak terjadi, namun yang ditemukan atau dilaporkan hanya sedikit. Hal ini bisa terjadi karena adanya pandangan masyarakat yang menganggap kejadian di dalam keluarga merupakan privasi dan masyarakat tidak berhak ikut campur tangan. Ada juga pandangan masyarakat yang menyatakan bahwa apabila perempuan menerima perlakuan kasar dalam hubungan suami-istri, itu merupakan hal yang wajar dan merupakan kesalahan perempuan dan perempuan memang berhak menerima itu.

 

Namun, apakah perlakuan kekerasan terhadap perempuan merupakan hal yang biologis dan kodrati? Apakah merupakan hal yang secara genetis dan ekologis diberikan kepada kaum? Apakah perempuan memang kodratnya untuk menerima semua kekerasan itu? Tentu saja tidak! Semua pandangan yang mendukung dominasi dan ‘hak’ untuk melakukan kekerasan terhadap perempuan merupakan sebuah konstruksi. Menurut Malamuth, konstruksi yang menginisiasi pandangan dan pemikiran tersebut merupakan konstruksi kultural yang dibentuk oleh masyarakat itu sendiri yang mempengaruhi pemikiran dan pandangan anggota masyarakat secara umum, Konstruksi kultural ini mendukung dan mendorong tumbuhnya agresivitas dan memandang penggunaan kekerasan sebagai bentuk ekspresi diri, dan bahwa perempuan harus menerima itu.

Melihat masalah tersebut, sebagai final project dari mata kuliah Psikologi Sosial dan Intervensi Psikologi, mahasiswa kelas LA64 jurusan Psikologi BINUS University mengadakan sebuah program intervensi terhadap mahasiswa dan mahasiswi BINUS University dengan tema ‘Gender in Justice‘, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa dan mahasiswi BINUS University terhadap ketidakadilan jender yang ada di dalam masyarakat, serta ingin terlibat dalam pemberian intervensi terhadap masalah yang sebenarnya merupakan kesalahan persepsi yang dibentuk oleh konstruksi sosial.

Tujuan seminar ini adalah: (1) Mengaplikasikan program intervensi sebagai final project mata kuliah Psikologi Intervensi dan Psikologi Sosial, (2) Meningkatkan kesadaran mahasiswa dan mahasiswi BINUS University terhadap adanya ketidakadilan jender di dalam masyarakat, (3) Meningkatkan keterlibatan mahasiswa dan mahasiswi BINUS University untuk melakukan intervensi terhadap ketidakadilan jender di dalam masyarakat. Mahasiswa dan mahasiswi diajak untuk terlibat dalam penegakan keadilan, dan perlawanan terhadap pembenaran persepsi mengenai jender yang merugikan perempuan yang merupakan hasil konstruksi sosial selama berabad-abad. Seminar ini diharapkan bukan saja dapat membuka persepsi baru mengenai posisi dan situasi kaum perempuan di masyarakat yang bersistem patriarkis pada umumnya, tetapi juga mengajak kaum pria untuk lebih aktif lagi peduli dalam permasalahan ini.

Seminar ini menghadirkan pembicara Norcahyo Budi Waskito, S.Psi., M.Si. dari Yayasan PULIH. Beliau merupakan alumnus program S1 dan S2 Psikologi, Universitas Indonesia,, dan Koordinator Program MenCare di Yayasan PULIH, dengan aktivitas utama: “Engaging men to stop violence against women and children collaborating with some universities (for media campaign, lecturer, youth group education), media (for media campaign), health institution (for parenting class)”. Beliau memiliki pengalaman sebagai konsultan di Pusat Krisis Fakultas Psikologi UI (Psychosocial Practitioner Course Curriculum and Module Development), di American RedCross (Material Development – Psychological first aid/PFA, Self Care, Domectic Violence, Reproductive Health, Separated Children etc), dan di MPBI (Masyarakat Penanggulangan Indonesia). Ia pernah menjadi trainer dan researcher dengan topik-topik Psychosocial and PFA in Emergency, Crisis Intervention, Psychosocial Group Structured Activity for Child Refugee, Community based Psychosocial Recovery for Women, dan Children Psychosocial Well-being.

Kegiatan Seminar Gender in Justice diawali dengan pemutaran video pendek yang telah dibuat oleh Kelas LA64.

 

Pemutaran video

Pemutaran video

 

Setelah pemutaran video, Seminar dibuka secara resmi oleh Juneman Abraham, S.Psi., M.Si., selaku Dosen Koordinator (SCC) Psikologi Komunitas Jurusan Psikologi BINUS University.

 

Sambutan oleh SCC Community Psychology

Sambutan oleh SCC Community Psychology

 

Setelah pembukaan acara, Wakil Ketua Panitia, Nurlailad Baderiyah, memberikan kata sambutan.

Sambutan oleh Wakil Ketua Panitia

Acara ini dipandu oleh MC, Chika Andina dan Mazaya Dwina, dan moderator Marcellino Yohanes.

MC memberikan keterangan acara

MC memberikan keterangan acara

 

 

Narasumber, Norcahyo Budi Waskito, memberikan paparan di hadapan para peserta

Narasumber, Norcahyo Budi Waskito, memberikan paparan di hadapan para peserta

 

 

Moderator, Marcellino Yohanes, memandu diskusi dan memberikan kesimpulan

Moderator, Marcellino Yohanes, memandu diskusi dan memberikan kesimpulan

 

Dalam paparannya, narasumber, Mas Cahyo (panggilan akrab Norcahyo) menyampaikan poin-poin sebagai berikut:

  • Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) merupakan “Segala tindakan kekerasan berbasis gender memberikan dampak melukai secara fisik, seksual atau mental atau menimbulkan penderitaan pada perempuan, termasuk didalamnya tindakan mengancam, memaksa maupun merampas kebebasan; baik yang dilakukan dalam ruang publik maupun personal/ privat” (definisi PBB).
  • WHO (Fact sheet No: 239) per Oktober 2013 menunjukkan bahwa: (a) 1 dari 3 perempuan dunia (35%) pernah mengalami kekerasan dari pasangan maupun kekerasan seksual yang dilakukan bukan oleh pasangannya; (b) 1 dari 3 perempuan yang punya pasangan (30%) pernah mengalami kekerasan fisik dan seksual dari pasangannya.
  • Catahu Komnas Perempuan 2013 menyatakan bahwa telah terjadi: (a) 279.760 kasus KtP di seluruh Indonesia; (b) 2.881 kasus KtP di DKI Jakarta; (c) 270.833 kasus kekerasan terhadap istri; (d) 2.507 kasus kekerasan dalam pacaran.
  • Penelitian Partner for Prevention (P4P, UN) tahun 2013 di 6 Negara di Asia Pasifik       terhadap 10.178 laki-laki dan 3.106 perempuan usia 18-49 tahun: (a) 26 – 80 % laki-laki pernah melakukan kekerasan fisik atau seksual pada pasangannya; (b) 10-62 persen pernah melakukan pemerkosaan terhadap perempuan atau anak perempuan.
  • Penelitian P4P tahun 2013 di Indonesia terhadap 2.577 laki-laki usia 18-49 tahun di 3 wilayah (Jakarta, Purworejo, Jayapura): (a) 25-60 % di Indonesia pernah melakukan kekerasan fisik atau seksual pada pasangannya, (b) 17-43 % pernah melakukan pemerkosaan terhadap perempuan atau anak perempuan.
  • Faktanya adalah: Pelaku kekerasan terhadap Perempuan adalah LAKI-LAKI. Meski tidak semua laki-laki pelaku kekerasan, bahkan umumnya mereka tidak mendukung kekerasan terhadap perempuan.
  • Kekerasan terhadap Perempuan bisa menimpa siapa saja termasuk perempuan-perempuan yang dekat dengan kita, seperti ibu, adik, kakak, anak, pacar, istri dll
  • Dampak Kekerasan terhadap Perempuan tidak hanya pada penyintas namun juga berimbas pada lingkungan sekitar (termasuk laki-laki yang berada di lingkungan terdekat dengan penyintas).
  • Laki-laki secara umum harus ikut bertanggungjawab karena (a) sebagian besar pelaku KtP adalah laki-laki, (b) perilaku kekerasan identik dengan laki-laki, (c) jumlah penghuni tahanan sebagian besar laki-laki.
  • Pada umumnya laki-laki bisa memahami dan memiliki pengetahuan yang lebih baik terhadap sikap, tingkah laku dan persepsi mereka sendiri.
  • Laki-laki dewasa biasanya menjadi model atau taudalan bagi anak laki-laki yang lebih muda dan masih bocah.
  • Peran strategis laki-laki untuk melakukan perubahan (posisi laki-laki dalam budaya patriarki, pengambilan keputusan/kebijakan masih didominasi oleh laki-laki).
  • 7P Kekerasan Laki-Laki (Kauffman, Michael. 1999. The 7 P’s of Men’s Violence): (1) Kekuasaan Patriarki, (2) Privilege, (3) Permission, (4) Paradoks Kekuasaan laki-laki, (5) Psychic Armor of Manhood, (6) Psychic Pressure Cooker, dan (7) Pengalaman Masa Lalu.
  • Budaya Patriarki (patri-arkat): Budaya yang dibangun dalam di atas dasar struktur dominasi dan sub ordinasi (hirarki) dimana laki-laki dan pandangan laki-laki menjadi suatu norma. Peran laki-laki sebagai penguasa, sentral. Sistem yang membuat perempuan tetap dikuasai melalui bermacam-macam cara (menggunakan kekerasan sebagai alat mendominasi).
  • Bentuk kekerasan yang dilakukan laki-laki bukan sekedar untuk mempertahankan kekuasaannya terhadap orang lain tapi juga ditimbulkan oleh perasaan atau pemahaman bahwa ia (sebagai laki-laki) memiliki hak-hak istimewa tertentu dalam hidupnya.
  • Kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki tidak akan berlanjut bila tidak ada “reward” dari lingkungan (orang lain) dalam bentuk bentuk pembiaran (sikap persetujuan secara tidak langsung) dari norma sosial, penegakan hukum dan bahkan pendidikan agama.
  • Cara laki-laki mengkonstruksi kekuasaan individual dan sosialnya ternyata secara paradoks merupakan sumber ketakutan, terisolasi, rasa tidak percaya diri, dan kesakitan bagi laki-laki itu sendiri.
  • Karakter kelaki-lakian dibentuk dari pengalaman masa kecil yang sering diwarnai dengan ketidakhadiran ayah/ laki-laki dewasa, kehadiran figur yang meneladani perilaku yang tidak positif atau yang berjarak secara emosional dengan anak (karakter kelaki-lakian yang muncul seperti “tameng” ego yang kaku).
  • Konsep maskulinitas untuk kuat, tegar, tidak cengeng dsb membuat laki-laki menekan ekspresi perasaan untuk memenuhi konsep tersebut (tuntutan maskulinitas). Pola represi ini tetap harus tersalurkan, maka muncul dalam bentuk kekerasan.
  • Laki-laki yang mengalami atau hidup dalam lingkungan yang penuh kekerasan cenderung berpeluang lebih besar untuk memunculkan perilaku kekerasan (mempelajari bahwa cara-cara kekerasan merupakan coping strategy, upaya mendapatkan perhatian, strategi mengelola emosi).

Lebih lanjut, Mas Cahyo menjelaskan tentang “The Triad of Men’s Violence” (Tritunggal Kekerasan Laki-laki), Mitos Laki-Laki & Maskulinitas, Citra Laki-Laki yang Dipromosikan, serta Model Integratif Maskulinitas dan Bagaimana Cara Laki-Laki Melibatkan Menghentikan Kekerasan terhadap Perempuan.

Citra laki-laki yang seharusnya dipromosikan (Michael Flood, 1998): (1) Male-positive, keyakinan laki-laki bahwa mereka bisa berubah, dan juga memberikan dukungan setiap upaya laki-laki untuk melakukan perubahan, (2) Nilai pro-feminist, yakni laki-laki yang memiliki tekad (committed) untuk selalu melawan penindasan terhadap perempuan, seksisme, dan ketidakadilan gender, (3) Marginalized-affirmative. Laki-laki selalu mempunyai tekad untuk menentang segala bentuk prasangka terhadap kalangan marjinal atau minoritas baik karena orientasi seksual, ras dan etnis, maupun transeksual, (4) Memberi ruang pada aktualisasi perempuan, dan (5) Berani mendobrak mitos.

Bagaimana Cara Laki-Laki Melibatkan Menghentikan Kekerasan terhadap Perempuan? (1) Berpikir terbuka terhadap isu KtP dan pelibatan laki-laki sebagai mitra untuk menghentikannya, (2) Carilah informasi tentang KtP dan pahami isu ini dengan sebaik-baiknya, (3) Terlibat dalam gerakan yang menghentikan KtP (menghentikan bila melihat, melaporkan pada pihak berwenang, membuat gerakan menghentikan KtP, menggalang dana, membagi informasi dan kegiatan kontribusi pikiran, tenaga dan dana lainnya), (4) Jadi teladan/ role model bagi laki-laki lain (teman sebaya, kakak kelas, adik kelas, teman di lingkungan) untuk berani berubah menanggalkan citra laki-laki ideal lama dan lebih menghargai perempuan, (5) Proaktif menghentikan KtP di rumah, sekolah, lingkungan tempat tinggal, lingkungan kerja, dan (6) Ajak teman sebaya atau orang lain untuk melakukan perubahan dan terlibat dalam upaya penghentian KtP.

Persembahan musik di awal dan akhir acara

Persembahan musik di awal dan akhir acara

 

Suasana seminar di Exhibition Hall Kampus Anggrek

Suasana seminar di Exhibition Hall Kampus Anggrek

 

Program intervensi berupa seminar ini dilakukan bersamaan dengan penggunaan media-media berupa internet dan media sosial (Blogspot, Twitter, Instagram), media cetak (banner, stiker, poster, dan self-help book), aksesoris (pin), media elektronik (B-Voice Radio), dan Mini Counseling.

 

Sampul Self-help Book yang disusun oleh Mahasiswa LA64

 

Annisa Chika dan Tommy Prayoga memberikan penjelasan tentang penggunaan Self-help Book

Annisa Chika dan Tommy Prayoga memberikan penjelasan tentang penggunaan Self-help Book

 

Peserta seminar ini juga diminta untuk mengisi kuesioner sebagai sarana untuk mengetahui efektivitas seminar dan kanal intervensi lainnya.

 

Peserta seminar mengisi kuesioner. Kuesioner diberikan dua kali, pada saat awal (pre) dan akhir (post) seminar

Peserta seminar mengisi kuesioner. Kuesioner diberikan dua kali, pada saat awal (pre) dan akhir (post) seminar

 

Suasana tanya-jawab peserta dengan narasumber

Suasana tanya-jawab peserta dengan narasumber

Panitia acara melakukan persiapan behind the stage sesaat sebelum seminar dimulai

Panitia acara melakukan persiapan behind the stage sesaat sebelum seminar dimulai

 

 

Di akhir acara seminar ini, Juneman Abraham menyerahkan Sertifikat tanda terima kasih kepada Mas Cahyo selaku narasumber, dan Mas Cahyo memberikan sejumlah kenang-kenangan berupa buku-buku, pin, dan kaos dari Yayasan Pulih/MenCare Program (Laki-laki Peduli) kepada para penanya.

Panitia seminar ini masih akan berhubungan dengan peserta seminar yang membutuhkan mini counseling.

Kegiatan final project matakuliah Psikologi Sosial dan Intervensi Psikologi Kelas LA64 ini sejalan dengan amanat Rektor BINUS University, Prof Harjanto Prabowo, bahwa BINUS UNIVERSITY tidak hanya akan mencapai visinya menjadi World Class University, namun juga betul-betul memberikan kontribusi yang dapat dirasakan manfaatnya, baik secara nasional maupun global, yang dalam seminar ini diwujudkan dengan melawan ketidakadilan jender dalam rangka menyejahterakan masyarakat, dimulai dari lingkungan BINUS University.

Feb
08
2015
0

Dosen Psikologi BINUS Menghadiri Konferensi Anti-Korupsi

Pada 20 November 2014, dosen Jurusan Psikologi, BINUS University, Juneman Abraham, S.Psi., M.Si. ikut hadir sebagai peserta dalam sebuah konferensi internasional bertajuk “The Role of Shame-based and Guilt-based Culture for Education: A Way to No-Corruption Society” yang diselenggarakan di Auditorium Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia.

Konferensi ini merupakan buah kerjasama Konsorsium yang terdiri atas Pusat Studi Jepang Universitas Indonesia (PSJ UI), Universitas Padjadjaran, dan Universitas Al Azhar Indonesia, dan didukung oleh Ditjen DIKTI Kemdikbud RI.

Konferensi menghadirkan Pembicara: (1) Robertus Robet (Pakar Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta), yang membahas topik “The Analysis of Indonesian Education System: No-Corruption Curriculum”, (2) Saito Minoru (Kepala Sekolah Jakarta Japanese School)   yang membahas topik “Haji no Bunka Shame and Tsumi no Bunka Guilt in Japanese Education System”, serta (3) Adnan Pandu Praja (Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi) yang membahas topik “National Character Building for No-Corruption Society”.

Di samping pemaparan topik-topik tersebut oleh para pembicara, konferensi ini juga menghadirkan pemaparan hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh para mahasiswa dari universitas-universitas anggota Konsorsium.

Juneman sendiri hadir atas informasi tentang agenda kegiatan ini dari Ketua Jurusan Psikologi BINUS University, Raymond Godwin, S.Psi., M.Si. melalui media sosial. Memang, seminar ini sangat relevan untuk dihadiri, karena Juneman melakukan penelitian yang mengangkat gejala tentang korupsi, yang dibahas dari perspektif psikologis. Di samping itu, ia juga sedang menyelenggarakan payung penelitian di Jurusan Psikologi BINUS University yang berkenaan dengan rasa malu dan rasa bersalah. Sudah terdapat sejumlah skripsi Sarjana Psikologi BINUS yang dihasilkan dari payung penelitiannya tersebut.

Dalam kesempatan konferensi tersebut, Juneman sempat mengajukan pertanyaan untuk didiskusikan mengenai peran ilmu-ilmu sosial dalam pemahaman, pencegahan dan pemberantasan korupsi.

Sejalan dengan penelitian yang sedang ditekuninya, pada 2015 ini Juneman juga memperoleh Hibah Bersaing DIKTI untuk riset dengan topik korupsi.

 

Berikut ini adalah beberapa gambar terkait dengan kegiatan konferensi ini.

 

Juneman Abraham sedang mengajukan pertanyaan (sumber: dokumentasi PSJ UI)

Juneman Abraham sedang mengajukan pertanyaan (sumber: dokumentasi PSJ UI)

 

Paparan Robertus Robet

Paparan Robertus Robet

 

Paparan Saito Minoru (sumber: dokumentasi PSJ UI)

Paparan Saito Minoru (sumber: dokumentasi PSJ UI)

Feb
08
2015
0

Humaniora BINUS Untuk Nusantara

Pada 22 Oktober 2014, dalam rangkaian The Grand Launching of BINUS University di Alam Sutera, Fakultas Humaniora menyelenggarakan Talkshow HUMANIORA bertajuk “HUMANIORA BINUS UNTUK NUSANTARA: Menanamkan Nilai-nilai Humaniora Untuk Pembangunan Bangsa Indonesia“. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah BINUS University, para ahli dari masing-masing jurusan di lingkungan Fakultas Humaniora duduk bersama dalam satu meja untuk menyampaikan gagasannya, dengan audiens para dosen dan mahasiswa FHum.

 

Para ahli tersebut dengan topik yang dibawakannya adalah:

  1. Tirta Nugraha Mursitama, S.Sos., M.M., Ph.D. (Head of International Relation Department): “Indonesia in Geopolitics
  2. Abdullah Dahana, Ph.D. (Lecturer Specialist, Chinese Department): “Learn from China” (Belajar Dari Tiongkok)
  3. Dr. Sheddy Nagara Tjandra, M.A. (Lecturer Specialist, Japanese Department): “Learn from Japan
  4. Besar, S.H., M.H. (Business Law Department): “Intellectual Property Rights (IPR)
  5. Wishnoebroto, S.Pd., M.Hum., M.A. (English Department): “Westernized Asia
  6. Johannes A. A. Rumeser, M.Psi. (Psychology Department): “Leadership in Organization
  7. Jimmy Sapoetra, S.S., M.Pd. (Pendidikan Guru Sekolah Dasar Department): “Humaniora dan Visi Perguruan Tinggi

 

Liputan oleh: Juneman Abraham

 

Acara ini diawali dengan doa yang dipimpin oleh Paulus A. F. Dwi Santo, S.H., M.H. (Deputy Head of Department, Business Law). Selanjutnya acara ini dipandu oleh MC Rudi Hartono Manurung, S.S. (Deputy Head of Japanese Department) dan Irfan Rifai, S.Pd., M.Ed. (Deputy Head of English Department).

 

Pembacaan doa

Pembacaan doa

 

Sambutan diberikan oleh Dr. Johannes A. A. Rumeser, M.Psi. (Dean of Faculty of Humanities). Beliau berpesan agar seluruh audiens menyimak pembicaraan yang akan berlangsung dari multi-jurusan walaupun terdengar ‘asing’ bagi bidang ilmunya sendiri. “Apa permasalahan yang dikemukakan dan apa yang bisa kembangkan lebih jauh bersama-sama?”

Sambutan oleh Dekan Fakultas Humaniora

Sambutan oleh Dekan Fakultas Humaniora

 

Setelah sambutan, sebelum masuk ke dalam paparan pembicara ahli, acara diselingi dengan hiburan berupa 2 lagu dari mahasiswa Psychology Department.

Selingan musik oleh mahasiswa Jurusan Psikologi

Selingan musik oleh mahasiswa Jurusan Psikologi

 

Talkshow ini dimoderatori oleh Almodad Biduk Asmani, S.S., M.Ed. (Language Center). Moderator menyampaikan sejumlah hal sebagai pendahuluan acara, yakni (1) Pembicaraan akan dilangsungkan dalam konteks global, dalam hal ini Asia, di mana Indonesia berada sebagai bagiannya; (2) Isi pembicaraan akan berhubungan dengan mindset Glocal‘ (think globally, act locally), (3) Perlu diingat kekuatan Asia: Bangsa Asia menguasai 20% tanah dunia; setengah jumlah penduduk dunia ada di Asia; 49 negara Asia memiliki filosofi ekonomi yang berbeda-beda namun menghasilkan 27% global output.

Moderator in action

Moderator in action

 

Indonesia in Geopolitics”

Pembicara pertama, Bapak Tirta, pertama-tama menyampaikan Geopolitik sebagai cabang dari ilmu Geografi namun melihat posisi suatu negara dalam konteks hubungan dengan negara-negara lain. Salah satu gejala geopolitik di Indonesia adalah bahwa dalam pelantikan Presiden Joko Widodo, tamu-tamu dari negara-negara lain hadir. Artinya, Indonesia menjadi sebuah negara yang sangat penting. John Kerry yang datang dalam pelantikan Jokowi menandakan bahwa Amerika Serikat sangat peduli dengan perkembangan Indonesia. Indonesia berada di posisi strategis sebagai poros maritim dunia, diapit dua lautan. Semua pertumbuhan ekonomi tidak lagi didasarkan pada persoalan-persoalan yang terkait dengan daratan (atau bias daratan). Oleh karena itu, jalur-jalur laut dibuka, dilakukan revitalisasi pelabuhan. Secara domestik, budaya nenek moyang bangsa Indonesia adalah budaya maritim. Kita ingat “Jalesveva Jayamahe” (Di Laut Kita Jaya). Bukan berarti kita meninggalkan daratan, namun bagaimana kita memberikan perhatian lebih kepada persoalan-persoalan yang terkait dengan kemaritiman. Gagasan Jokowi “Poros maritim dunia”, walau sebagai Presiden dari sebuah negara yang tidak memiliki kekuatan fisik/tempur yang sangat hebat, sudah berhasil memenangkan wacana dalam Hubungan Internasional, serta menarik perhatian dan partisipasi dari seluruh pemimpin dunia. Secara internasional, kepentingan-kepentingan politik, ekonomi, sosial budaya dari berbagai negara sahabat mengitari Indonesia dengan berbagai agendanya.

 

Paparan oleh Bapak Tirta

Paparan oleh Bapak Tirta

 

“Learn from China

Pembicara kedua, Bapak Dahana, menyampaikan bahwa dalam waktu sangat singkat Tiongkok telah melompat dari dunia ketiga menjadi sebuah negara adikuasa. Ukurannya adalah pertumbuhan ekonomi di atas 7% tahun dalam waktu 30 tahun terakhir. Timbullah suatu diskusi dalam dunia internasional mengenai “The Raise of China“: Tiongkok akan menjadi sesuatu yang menakutkan dunia. Di kalangan pemimpin Tiongkok sendiri timbul perdebatan. Dengan meningkatnya posisi Tiongkok sebagai salah satu negara adikuasa kedua, apa yang akan mereka lakukan? Muncul wacana bahwa bangkitnya Tiongkok itu adalah demi perkembangan ekonomi dan kemajuan rakyatnya, maka yang dibutuhkan adalah suatu dunia yang penuh perdamaian (peaceful). Pada 1990 Uni Sovyet bangkrut. Terbit sebuah buku Francis Fukuyama, yang mengatakan bahwa dengan bubarnya Uni Sovyet, maka yang menang dalam persaingan antara kapitalisme dan sosialisme adalah kapitalisme & demokrasi liberal (petunjuk tentang berakhirnya pencarian umat manusia atas sistem politik dan masyarakat).

 

Namun demikian, yang terjadi di Tiongkok justru berlawanan dengan yang dikatakan Fukuyama. Di Tiongkok, dua hal yang tadinya berlawanan (kapitalisme dan otoritarianisme) dapat hidup berdampingan secara damai. Yang menjadi rahasia dari sukses Tiongkok: (1) Partai Komunis Tiongkok sebagai kekuatan perubahan yang utama, (2) Partai komunis Tiongkok adalah organisasi politik yang fleksibel (ketika Deng Xiaoping mengubah arah pemerintahan dari ‘Politik sebagai panglima’ yang dikomandoi Mao Tse-tung menjadi ‘Ekonomi sebagai panglima’, dengan mudah partai komunis bisa berubah ketika itu). Rakyat sudah lelah dengan rangkaian kampanye politik yang dilancarkan Mao dari 1955-1976. RRT, pasca perang dingin dan berkembangnya globalisasi, bekerjasama dengan organisasi-organisasi internasional yang dulu dicap sebagai agen liberalisme dan kapitalisme, serta bekerjasama secara ekonomi dengan semua negara tanpa melihat ideologi negara tersebut. Dulu negara-negara takut dengan komunisme RRT, sekarang takut dengan serbuan barang-barang dan kapitalisme RRT.

Di Indonesia, Model Pembangunan Tiongkok diperkenalkan oleh almarhum Ignatius Wibowo dalam bukunya “Belajar dari China”. Menurut Wibowo, ada 4 perubahan signifikan Tiongkok yang harus dipelajari oleh Indonesia: (1) Ekonomi (pertumbuhan di atas 7% per tahun), (2) Politik (kinerja partai komunis sangat baik, tidak memerintah ‘semau gue‘, (3) Ideologi (menggabungkan 2 sistem yang dulu kontradiktif: kapitalisme dan otoritarianisme), (4) Menggunakan peluang di tengah proses globalisasi (kerjasama dengan organisasi-organisasi yang dulu dianggap agen kapitalis).

Bapak Dahana berkeyakinan bahwa Model Pembangunan Tiongkok ini bisa ditiru, namun sulit! Mengapa? Sebab dibandingkan dengan Indonesia: Penduduk Tiongkok boleh dikatakan homogen. Sebanyak 93% suku bangsa Han, hanya 7% yang minoritas. Hal ini memungkinkan Pemerintah menjalankan kebijakan dengan sangat leluasa. Posisi Partai Komunis yang sangat pokok; tidak ada kekuatan politik yang dapat menjadi pesaingnya. Yang terjadi di Tiongkok adalah Kapitalisme Negara di mana perkembangan ekonomi dimotori oleh BUMN. Pemerintah dan Partai sangat identik. Kemajuan yang didapat oleh RRT sebenarnya adalah ‘dendam sejarah’, dalam mana selama satu abad (1850-1949), Tiongkok selalu menjadi tanah jajahan yang dihina bangsa-bangsa Barat dan Jepang. Reformasi ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru di Tiongkok. Sejak akhir abad ke-19, di kalangan elit Tiongkok selalu terjadi perdebatan tentang bagaimana Tiongkok menjadi jaya, kaya dan kuat.

Paparan oleh Bapak Dahana

 

“Learn from Japan

Bapak Tjandra menyampaikan bahwa Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, pernah menyampaikan “Look to the East!“. Timur (East) di sini tidak termasuk China, namun semata-mata Jepang. Mahathir mengakui kebesaran Jepang. Malaysia mengirim mahasiswa cukup banyak ke Jepang.

Nilai budaya yang bisa dipelajari dari Jepang: Budaya membaca, belajar, dan meneliti. Sejak akhir zaman Samurai (abad 17/18), orang Jepang sudah kecanduan membaca. Dalam sejarah, orang Jepang juga belajar kepada orang-orang Barat (Belanda, dsb). Budaya meneliti ditandai dengan munculnya kelompok cendikiawan yang menciptakan “Ilmu Negara Jepang” dan “Ilmu Bahasa Jepang”. Hasil penelitian dimanfaatkan untuk kehidupan dan dilestarikan melalui ilmu pengetahuan. Metodologi penelitian tradisional Jepang sangat khas, yang lepas dari pengaruh Barat, yaitu metodologi penelitian yang “tanpa teori” namun berakar dari data (membesarkan data!) dan referensi. Amerika lebih mementingkan teori terlebih dahulu. Sarjana Jepang ada yang memperoleh Hadiah Nobel, yang berarti tingkat pengetahuannya tidak kalah dari Amerika dan Eropa.

Nilai budaya disiplin sosial & umum: Masyarakat Jepang memiliki tenggang rasa yang tinggi. Dari sini lahir disiplin sosial yang sangat tinggi, seperti (a) mengantri di supermarket, (b) para supir jarang sekali memencet klakson, dsb.

Nilai budaya politik: Budaya malu di birokrasi dan kaum eksekutif Jepang sudah sangat populer. Secara historis, Pemerintahan Samurai menjalankan semangat seorang Ksatria. Malu jika berbuat salah. Akibat berbuat salah yang besar, orang mengalami harakiri (bunuh diri sendiri), yang bentuknya saat ini: gantung diri, mengundurkan diri dari jabatan.

 

Paparan oleh Bapak Tjandra

Paparan oleh Bapak Tjandra

 

“Intellectual Property Rights (IPR)”

Bapak Besar menyampaikan gejala bahwa di Indonesia masih sangat tinggi terjadi pembajakan, dari negara agraris menuju ke negara industri. Ada bidang-bidang IPR (Intellectual Property Rights)/HKI (Hak Kekayaan Intelektual): HKI yang kepemilikannya komunal (pengetahuan tradisional, ekspresi budaya tradisional, indikasi geografis), HKI yang kepemilikannya perorangan (hak cipta – di Indonesia UU 19/2002); Indonesia adalah negara pelanggar hak cipta yang terbesar. Hak milik industri: paten, merk, rahasia dagang, desain industri, desain tata letak, sirkuit terpadu, dan varietas tanaman.

Manfaat HKI: Sebagai aset yang tidak ternilai, sebagai pendukung peningkatan usaha, sebagai pencegah persaingan usaha tidak sehat, sebagai peningkat daya saing perusahaan, sebagai pemacu kreasi dan inovasi, sebagai pembentuk image, sebagai sumber keuangan. Kalau ingin menciptakan kreativitas dari produk yang sudah ada, seseorang harus meminta izin terlebih dahulu dari si pencipta pertama.

Secara ekonomi, HKI tidak mengalami penyusutan. Semakin digunakan, nilainya semakin meningkat. Semakin banyak hak cipta dan paten yang terdaftar, semakin bertambahlah nilai sebuah bangsa.

 

Paparan oleh Bapak Besar

Paparan oleh Bapak Besar

 

Acara kemudian diselingi dengan musik tradisional Jepang oleh mahasiswa Japanese Department.

Selingan musik dari mahasiswa Jurusan Sastra Jepang

 

“Westernized Asia

Bapak Wishnoe mengajukan pertanyaan kepada mahasiswa, apakah lebih kenal budaya asing (Disney, dsb) atau budaya Indonesia (cerita rakyat, dsb)? Apakah kemampuan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia yang lebih bagus? Edward Said membuat teori bahwa dunia terbelah menjadi dua: Oksiden dan Orient. Oksiden berarti mereka yang dominan (Barat); Orient (Timur). Oksiden yang bagus (civilized), Orient. “Siapa yang mengatakan di kepala Anda bahwa putih lebih baik (contoh krim pemutih)?” Rambut lurus, mata biru, lebih cantik? Operasi plastik, Hollywood movies? Melalui media? Starb***s atau kopi di warung? “Your are being colonized by the West, in culture”, Banyak hal positif, local wisdom di Indonesia yang justru tertutupi oleh budaya Barat (contoh: sungkan di budaya Jawa, hormat kepada orangtua, dsb). Boleh juga belajar dari budaya Barat, namun banyak juga budaya di negeri kita yang lebih baik dari budaya Barat.

Paparan oleh Bapak Wishnoe

 

“Leadership in Organization”

Bapak Jo memulai dengan pertanyaan, “Mengapa organisasi bisa tumbuh, berkembang, dan langgeng?” Banyak penelitian yang dilakukan, namun akhirnya bertumpu pada 2 hal. Pertama adalah Kepemimpinan (Leadership). Organisasi yang besar selalu punya leader yang baik, dan itu yang selalu diceritakan berulang-ulang. Sebagai contoh, Jack Welch, CEO General Electric; apa yang diomongkannya sampai dianut sebagai benar. Kedua adalah Teamwork (tidak mungkin bekerja sendiri).

Kepemimpinan itu sulit sekali didefinisikan, karena menyangkut tiga titik: (1) Follower (pengikut), (2) Situasi, (3) Pemimpin. Pemimpin yang hebat dari sebuah organisasi bila masuk ke organisasi yang berbeda bisa jatuh. Sebaliknya, bukan pemimpin yang hebat, namun saat ia masuk, situasinya membutuhkan orang sepertinya.

Situasi saat ini di Indonesia, orang sudah ‘benci’ dengan ‘pencitraan’; sehingga mencari orang yang tulus, lugu, dan bisa dipercaya. Semua orang mendukung pemimpin yang baru itu, sampai mengadakan syukuran rakyat saat Presiden dilantik.

Penelitian Pak Jo menunjukkan ada 4 ciri pemimpin yang baik. Pertama, mengorangkan orang (me-‘wongke‘), sebagai sesama. Kedua, mampu menciptakan atmosfer di mana orang dapat produktif dan mau bekerjasama (tidak dominan). Ketiga, mampu mendelegasikan hal-hal yang bisa dikerjakan bawahannya (tetapi bukan ‘abdicate‘/melepaskan); kalau ada kesalahan, tanggungjawabnya tetap ada di pemimpin. Keempat, secara teratur memberikan umpan balik (Double loop learning: orang belajar dari pengalaman).

Paparan oleh Bapak Jo

Paparan oleh Bapak Jo

 

“Humaniora dan Visi Perguruan Tinggi”

Bapak Jimmy menyampaikan bahwa sejarah telah membuktikan bahwa manusia tidak belajar dari sejarah. Ada 3 pertanyaan yang perlu direnungkan: (1) Jika tujuan pendidikan untuk kesejahteraan umat manusia, mengapa penemuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi cenderung menyengsarakan manusia itu sendiri?, (2) Mengapa terjadi kesenjangan (gap) antara manusia yang berilmu dan manusia yang bermoral?, dan (3) Apakah sumbangsih ilmu-ilmu humaniora dalam menjawab pertanyaan di atas? Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan pergumulan Pak Jimmy selama 21 tahun menjadi guru, namun belum bisa dijawab dengan tuntas.

Pendidikan merupakan proses pemanusiaan manusia (humanisasi jiwa; hominisasi tubuh; humaniora; mengutip Driyarkara). Tujuan pendidikan UU Tahun 1989: Mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Kondisi Saat ini (1) Kita mengalami dehumanisasi pendidikan di segala bidang. Manusia tidak lagi dianggap manusia. Manusia sudah seperti robot (objek bukan subjek ilmu pengetahuan). Pola pendidikan Barat itu baik, tapi bukan yang terbaik; perlu mencari yang cocok untuk Indonesia; (2) Kontrol Pemerintah dalam dunia pendidikan Indonesia terlalu kuat; (3) Kita tidak pernah menyentuh persoalan hakiki dalam pendidikan (filosofis), terlalu pusing berkutat dalam persoalan-persoalan praktis-pragmatis-teknis.

Tujuan pendidikan asalnya adalah Humaniora. Dari anak kecil sampai dewasa ada proses pemanusiaan. Seluruh ilmu pengetahuan, induknya adalah filsafat, berkembang menjadi humaniora, berkembang menjadi ilmu dan teknologi (terapan). Artinya, seharusnya tidak ada dikotomi antara ilmu alam dan ilmu sosial. Di Indonesia, seolah-olah IPA lebih penting (sehingga lebih diutamakan) daripada IPS.

Komitmen pendidikan tinggi seharusnya bukan untuk tujuan praktis-utilitaris. Implikasinya, seharusnya tujuan belajar bukanlah untuk mendapat pekerjaan yang baik, gaji yang tinggi, kedudukan yang baik, atau mencari nafkah. Kalau iya sebenarnya pendidikan sudah bergeser dari tujuan semulanya yang ideal (Mereduksi tujuan belajar). Perguruan Tinggi sebenarnya bertugas untuk mengembangkan ilmu, yaitu pengetahuan yang mendalam berdasarkan kebenaran. Perguruan Tinggi wajib melandasi misinya tersebut dengan nilai-nilai moral. BINUS adalah kampus yang tegas dalam hal kejujuran.

IPTEK dan Humaniora tidak perlu dipertentangkan, walaupun IPTEK merupakan hasil (pragmatis), humaniora mementingkan proses (idealis).

Visi pendidikan adalah humaniora: bagaimana memanusiakan manusia sebagai makhluk Tuhan (imago Dei). Orientasi PT harus kepada ilmu pengetahuan. Mahasiswa dituntut untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam kerangka ilmu itu sendiri demi menuju Kemanusiaan yang lebih adil dan beradab. Ini tujuan aslinya pendidikan!

Warga Fakultas Humaniora seharusnya lebih sadar, lebih peka, dan lebih bertanggung jawab dalam melaksanakan hal-hal yang dibahas di atas.

 

Paparan oleh Bapak Jimmy

Paparan oleh Bapak Jimmy

 

Pertanyaan dan pernyataan:

 

Abdul Aziz ‘Comi’ Turhan Kariko, S.S., M.Hum. (dosen English Department): Bagaimana strategi China menggabungkan dua sistem (kapitalisme dan komunisme)? Apakah mungkin di Indonesia bisa menghilangkan stigma negatif terhadap komunisme?

 

Jawaban Prof Dahana:

Reformasi Tiongkok sebenarnya hanya untuk mengekalkan kekuasaan partai komunis sebagai penguasa tunggal: “Menyogok” rakyat dengan ekonomi, sehingga rakyat melupakan politik. Komunisme sekarang sebenarnya sudah mati. Di RRT pun sebenarnya, komunisme hanya “nama” sebagai alat untuk berkuasa, karena dalam praktiknya tidak ada komunisme. Yang terjadi adalah ekonomi kapitalisme: gap antara rakyat kaya dan miskin, antara kota dan desa, antara kerja otak dan kerja fisik, dsb.

Komunisme sebenarnya sudah tidak relevan lagi dengan dunia sekarang ini. “It’s the economy!”

Pertanyaan dari Bapak Comi

 

Penanya kedua (mahasiswa): Apakah ada “Learn from Indonesia“? Karena anak muda biasanya melihat budaya luar lebih baik dari budaya sendiri.

 

Jawaban Prof Tjandra:

Orang Jepang hanya 2 kali belajar dari orang asing. Pertama, orang Jepang belajar dari orang-orang Tionghoa, abad ke-4, 5, 6. Pada waktu itu bangsa Tionghoa memiliki kebudayaan yang jauh lebih tinggi daripada orang Jepang. Belajar bagaimana mengelola negara, masyarakat, dari negeri Tiongkok. Bangsa Tionghoa memiliki kompetensi yang dianggap lebih tinggi.

Kedua, pada Restorasi Meiji (abad 19), orang Jepang belajar dari orang-orang Barat, termasuk Amerika, yang berkulit putih, mata biru (yang kita sebut ‘bule’). Pada waktu itu, Jepang menganggap mereka memiliki kompetensi dan kebudayaan lebih tinggi, untuk mencari kekayaan dan kekuatan. Westernisasi yang dijalankan oleh Pemerintah Jepang sukses. Jepang menjadi negara yang modern, maju, dan kuat, meskipun geografisnya kecil.

Kesimpulan: Bangsa Jepang hanya mau belajar dari orang asing kalau orang asing itu lebih pintar dan lebih kuat darinya. “Learn from Indonesia” oleh orang Jepang baru bisa terjadi kalau Indonesia tumbuh menjadi bangsa besar, punya kekuatan ekonomi dan kekuatan militer yang disegani.

 

Pertanyaan dari seorang mahasiswa

Pertanyaan dari seorang mahasiswa

 

Juneman Abraham, S.Psi., M.Si. (dosen Psychology Department) memberikan pertanyaan “Bagaimana Fakultas Humaniora bisa menjadi player dalam pembangunan bangsa?” Kalau Humaniora dipandang sebagai sebuah keluarga ilmu-ilmu, maka ilmu-ilmu di dalamnya harus saling mengenal. Ibarat sebuah keluarga, kakak harus saling mengenal dengan adiknya, ayah harus saling mengenal dengan anaknya. Juneman mengharapkan bahwa talk show Humaniora ini menjadi tradisi yang terus dilanjutkan, tetapi tidak lagi para pembicara berbicara dari bidang ilmunya sendiri-sendiri secara Multi-disiplin, melainkan Inter-disiplin. Yang dibayangkan misalnya Pak Jo dan Pak Tirta saling berhadap-hadapan, saling menyampaikan visinya, kemudian mencoba saling memahami dan saling menanggapi. Bakal tradisi ini bagus dan perlu dirawat, hanya saja perlu ada peningkatan supaya lebih optimal.

 

Pernyataan dari Bapak Juneman Abraham

Pernyataan dari Bapak Juneman Abraham

 

Moderator kemudian menyampaikan kata penutup. Acara ditutup dengan pertunjukan musik dari mahasiswa Psychology Department.

 

 

Written by juneman in: Bangsa,Binusian | Tags: ,

Powered by WordPress. Theme: TheBuckmaker. Zinsen, Streaming Audio