May
17
2020
0

Menjadi Penilai IDEAthon Ristek/BRIN

Dr. Juneman Abraham memperoleh kepercayaan untuk menjadi salah seorang penilai IDEAthon #Inovasi Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Ristek/BRIN.

IDEAthon bertumpu pada gagasan “Kebijaksanaan Orang Banyak” (Wisdom of the Crowd), sebagaimana disampaikan oleh Prof. Ismunandar. Hal ini sangat bermanfaat sebagai medium rakyat Indonesia untuk melakukan inovasi terbuka dan bergotong-royong menghadapi pandemi Covid-19 (Corona Virus Indonesia). Gerakan sosial ini melengkapi inisiatif yang sudah ada dari Kemenristek/BRIn, yakni pembentukan Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19. 

Dalam kesempatan ini, Dr. Abraham melakukan penilaian terhadap 72 dari 4617 proposal yang lolos verifikasi administratif awal. Setiap proposal dinilai oleh 2 orang penilai/reviewer. Total terdapat 57 penilai yang memperoleh kehormatan diundang oleh Kemenristek/BRIN untuk memberikan pertimbangan seleksi proposal kepada Komite/Panel Penilai Kementerian. Kegiatan penilaian ini berlangsung cukup singkat, yakni pada Kamis hingga Sabtu, 23-25 April 2020.

Berikut ini adalah sejumlah flyer, serta dokumentasi foto kegiatan yang diikuti oleh Dr. Abraham, mulai dari Penyamaan Persepsi dan Penilaian bersama dengan Tim Ahli Ristek/BRIN dan LPDP, hingga Pengumuman Penerima Penghargaan oleh Menteri Ristek/Kepala BRIN, Prof. Bambang Brodjonegoro, yang diliput oleh berbagai media massa nasional. Beliau menyatakan:

“Kami menyelenggarakan ini untuk menjaring berbagai ide dari kelompok masyarakat. Tidak hanya dari sisi penyakit atau kesehatannya, tapi juga bagaimana kita bisa memitigasi dampak ekonomi dan sosialnya.”

Kegiatan IDEAthon ini merupakan sumbangsih yang luar biasa dari Kemenristek/BRIN dalam menghadapi persoalan nasional

Written by juneman in: Bangsa,Binusian,Profesi |
May
16
2020
0

Sukses Tembus SCOPUS? GRAPE! Good Research and Publication Practices

Dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas penelitian dosen di lingkungan Universitas Bina Nusantara, BINUS Corporate Learning & Development (BCL&D) mengadakan pelatihan Research Competency – Sukses Tembus Scopus yang dilakukan secara online learning melalui platform GreatNusa. Dikutip dari situsnya:

GreatNusa merupakan portal pembelajaran daring dengan visi membina dan memberdayakan bangsa Indonesia melalui akses belajar dimana dan kapan saja bagi pembelajar seumur hidup (lifelong learners). GreatNusa menghadirkan beragam materi pembelajaran praktis, berkualitas, terpilih
dari para ahli, praktisi profesional berpengalaman, dan institusi pendidikan terkemuka sebagai upaya mendukung pemerintah Indonesia dalam mencapai SDM Unggul Indonesia Maju.

Dr. Juneman Abraham diundang untuk berbagi ilmu dan best practice kepada para BINUS Faculty Members sebagai SME (Subject Matter Expert) & Fasilitator pada pelatihan ini. Berikut adalah Learning Outcome yang diharapkan dicapai melalui pelatihan pada 30 April 2020 ini: (1) Menjelaskan langkah-langkah menulis artikel penelitian agar dapat diterima dalam publikasi terindeks Scopus; (2) Menjelaskan tips & trik agar artikel/paper yang ditulis dapat diterima dalam publikasi terindeks Scopus; (3) Menjelaskan cara memilih jurnal / conference terindeks Scopus yang tepat.

Kegiatan ini didukung sepenuhnya oleh BINUS Research.

Tanggapan Peserta Pelatihan di GreatNusa

Written by juneman in: Akademik,Binusian |
May
15
2020
0

Kiat-kiat Proposal PKM atau Program Kreativitas Mahasiswa

Sosialisasi kepada teman-teman BINUS University @ Malang (Terlaksana, 12 Mei 2020).

Written by juneman in: Binusian |
May
11
2020
0

Birefing Auditor BINUS University – qmc.binus.ac.id

Standar Penjaminan Mutu Internal (SPMI)

Written by juneman in: Binusian,Profesi |
Sep
03
2019
0
Jul
27
2018
0

Psikolog Sosial BINUS Berpartisipasi Dalam Penyusunan RUU Dosen

Pada 27 Juli 2018, Dr. Juneman Abraham, psikolog sosial dan lecturer specialist Universitas Bina Nusantara hadir bersama dengan Tim Pengkaji Kebijakan Pendidikan Tinggi Ikatan Dosen Republik Indonesia di Ruang Badan Keahlian DPR RI dalam rangka sebagai salah satu narasumber penyusunan naskah akademik dan draft Rancangan Undang Undang tentang Dosen.

Salah satu regulasi dalam pengelolaan sumber daya pendukung pendidikan nasional diatur melalui Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. UU tentang Guru dan Dosen merupakan payung hukum dalam mengatur guru dan dosen namun dalam implementasinya belum spesifik.

Dalam kesempatan tersebut, berlangsung diskusi berdasarkan kepakaran, diantaranya tentang: perlunya pemisahan UU tentang Guru dan Dosen (menjadi UU tentang Guru & UU tentang Dosen), deregulasi dan debirokratisasi pendidikan tinggi, caturdarma, serta kesejahteraan dosen termasuk tunjangan fungsional dan kinerja.

 

 

Sebelumnya, Tim serupa telah menelurkan sebuah buku berjudul Kajian Pendidikan Tinggi IDRI untuk DPR RI dan Ristek Dikti 2018 yang diterbitkan oleh ITB Press (ISBN 9786025417931) dan diberikan kata pengantar oleh Prof. Dr. Satryo Soemantri Brodjonegoro, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). Berikut ini adalah salah satu Bab yang ditulis oleh Juneman: https://osf.io/nz7v9/

 

Written by juneman in: Bangsa,Binusian,Profesi | Tags: ,
Oct
06
2017
2

Pembentukan The Indonesian International Association for Pattern Recognition

Pada 5 Oktober 2017, di Auditorium Kedutaan Besar Perancis, diadakan pembentukan The Indonesian International Association for Pattern Recognition (TIIAPR).

Perwakilan institusi yang hadir pada saat itu di Auditorium adalah dari Bina Nusantara University, BPPT, Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran, DRPM Kemristekdikti, dan Kalbis Institute.

Deskripsi mengenai IAPR terdapat dalam situs web www.iapr.org, sebagai berikut:

The International Association for Pattern Recognition (IAPR) is an international association of non-profit, scientific or professional organizations (being national, multi-national, or international in scope) concerned with pattern recognition, computer vision, and image processing in a broad sense. Normally, only one organization is admitted from any one country, and individuals interested in taking part in IAPR’s activities may do so by joining their national organization.

Ketua terpilih untuk periode pertama adalah Bapak Dr.Eng. Anto Satriyo Nugroho dari Pusat Teknologi Informasi Komunikasi, Badan pengkajian dan Penerapan Teknologi/BPPT, dengan Wakil Ketua dan Sekretaris Dr. H.L.H.S. Spits Warnars dan Dr. S. Liawatimena.

Selanjutnya, keanggotaan bertambah dari rekan-rekan ahli pattern recognition dari Institut Pertanian Bogor, Universitas Pancasila, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Sriwijaya, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, UIN Jakarta, dst.

Juneman Abraham hadir sebagai salah satu dari perwakilan Universitas Bina Nusantara. Ia meyakini bahwa bidang ini memerlukan kolaborasi interdisiplin antara Informatika, Psikologi, dan Ilmu-ilmu Sosial lain. Saat ini Juneman tengah banyak menaruh perhatian dan melakukan berbagai penelitian dalam bidang Psikoinformatika.

Konstitusi dan berbagai rencana workshop serta konferensi tengah disusun. Semoga asosiasi ini membawa kemaslahatan yang besar bagi masyarakat Indonesia.

 

Written by juneman in: Binusian,Profesi |
May
28
2017
0

Penggunaan Media Sosial yang Aman dan Bertanggungjawab Pada Anak

Materi berikut ini merupakan adaptasi dari Departemen Pendidikan Kota New York (2014). Dokumen ini bersumber dari “Parent and Family Guide to Student Social Media Guidelines”.

Peran baru keluarga masa kini adalah membantu anak-anak untuk berperilaku secara aman dan bertanggungjawab ketika menggunakan media sosial, baik untuk keperluan bersenang-senang maupun untuk belajar. Panduan yang dipresentasikan dalam paparan ini berguna untuk anak-anak berusia 13 tahun ke atas. Fokusnya ada 3, yaitu: citra digital (digital image), posting yang bertanggungjawab, dan konsekuensi. Sebagai tambahan dibahas mengenai perundungan maya (cyberbullying).

 

Menciptakan Citra Digital Sesuai Keinginan

  • Guna mengendalikan citra-citra digitalnya, anak-anak mesti mempertimbangkan: Bagaimana ia ingin dunia melihat atau mengenal mereka? (Ia ingin dikenal sebagai siapa atau apa?)
  • Hal ini mencakup:

–Menyelaraskan tujuan individu dengan citra online mereka.

–Memposisikan dan mempertanggungjawabkan diri sendiri.

–Memahami bahwa keluarga dapat merupakan mitra yang menolong.

Aktivitas

  • Coba imajinasikan: jika suatu waktu, anak Anda ditulis dalam sebuah artikel koran. Headline seperti apa yang ia ingin lihat? Tulislah. Diskusikan juga, kemungkinan headline seperti apa dari teman-teman, keluarga, dan tokoh terkenal yang ia ingin baca.
  • Lakukan peninjauan jenis-jenis foto dan post yang selama ini Anda dan anak Anda lakukan. Apakah foto-foto dan post tersebut sejalan dengan headline yang ingin Anda & anak Anda lihat (tentang diri kalian?) Jika tidak, bagaimana post di masa mendatang dapat dibuat sejalan?
  • Coba imajinasikan audiens (orang-orang yang akan melihat Anda).

–Ingatkan anak Anda bahwa banyak orang yang berpotensi menjadi audiens (pembaca, orang yang melihat) gambar/citra online-nya.

–Bagaimana ia ingin gurunya melihat dia? Bagaimana juga dengan atasannya? (jika suatu saat ia punya atasan). Bagaimana juga dengan calon pacarnya? Diskusikan hal-hal yang dapat ia lakukan untuk memperbarui atau meningkatkan kualitas substantif dari gambar/fotonya dan meningkatkan pencitraannya.

  • Tinjaulah profil Anda sendiri. Anda dapat mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kualitas “jejak digital” Anda, serta membantu anak Anda untuk meningkatkan “jejak digital” mereka.
  • Buatlah sebuah profil di beberapa tempat, seperti Google Profile, About.me, atau Falvors.me. Lihatlah profil anak-anak yang lain, dan diskusikan hal-hal yang Anda & anak Anda sukai dan tidak sukai. Pertimbangkan apakah ada hal-hal yang anak Anda mungkin ingin hapus atau untag guna mencerminkan secara akurat image yang ia komunikasikan kepada audiens.
  • Intinya: Anak-anak perlu untuk dapat mengendalikan Citra dan Identitas Digital mereka sendiri, dan mereka perlu didampingi oleh atau bekerja bersama keluarga mereka dalam hal ini.

 

Juneman Abraham hadir dalam Pembahasan Penyusunan Pedoman Penggunaan Media Sosial pada Anak pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rabu, 10 Mei 2017, di Sari Pan Pacific Hotel, Jl. M.H. Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat.

Juneman Abraham hadir dalam Pembahasan Penyusunan Pedoman Penggunaan Media Sosial pada Anak pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rabu, 10 Mei 2017, di Sari Pan Pacific Hotel, Jl. M.H. Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat.

 

Posting Secara Bertanggung jawab

  • Keluarga memainkan peran kunci dalam memastikan anak-anak melakukan posting secara bertanggung jawab.
  • Orangtua bertanggung jawab untuk mengajarkan nilai-nilai khusus dari keluarga kepada anak-anak.
  • Anda dapat membantu anak-anak mem-post dengan cara-cara yang mencerminkan nilai-nilai dengan mana keluarga mereka ingin dikenali oleh masyarakat.

Aktivitas

  • Membuat akun bersama: Ketika anak Anda sudah cukup usia untuk membuat akun (umumnya 13 tahun), Anda seyogianya membuat bersama anak akun media sosial, dan menelaah setting privasi default secara bersama-sama. Pastikan bahwa anak anda memiliki pertemanan dan percakapan online hanya dengan orang-orang yang Anda ketahui dan setujui.

–Anda diharapkan dapat membangun empati terhadap perilaku online anak Anda. Anak-anak diharapkan dapat melihat ketulusan minat Anda dalam rangka keamanan dan keberhasilan perilaku online mereka.

  • Gunakan peristiwa-peristiwa terkini: Peristiwa-peristiwa dalam pemberitaan serta situasi-situasi dengan teman-teman dan keluarga memberikan sarana yang bagus sekali untuk mendiskusikan posting yang bertanggung jawab. Ketika cerita-cerita bermunculan, diskusikan dengan anak Anda bagaimana menangani situasi tersebut. Jangan hanya berfokus pada hal-hal yang dilarang. Penting untuk mengenali contoh-contoh orang yang menggunakan media sosial untuk kepentingan sosial, online presence yang bagus, atau hasil-hasil positif lainnya.

–Jagalah agar percakapan bersifat kekinian dan otentik. Persiapkan diri untuk pertanyaan, “Mengapa kita butuh untuk mengetahui hal ini?”

 

Pada pertemuan tersebut, hadir pemangku kepentingan terkait media sosial, seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengurus Besar Persatuan Guru Seluruh Indonesia, APJII/Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indoensia, Bareskrim POLRI, Komisi Penyiaran Indoenesia, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, ICT Watch, dll. Juneman turut menyampaikan pandangan berdasarkan bidang keahlian Psikologi terhadap Kajian dan Penyusunan Pedoman Penggunaan Sosial pada Anak.

Pada pertemuan tersebut, hadir pemangku kepentingan terkait media sosial, seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengurus Besar Persatuan Guru Seluruh Indonesia, APJII/Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indoensia, Bareskrim POLRI, Komisi Penyiaran Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, ICT Watch, dll. Juneman turut menyampaikan pandangan berdasarkan bidang keahlian Psikologi terhadap Kajian dan Penyusunan Pedoman Penggunaan Sosial pada Anak.

 

 

Pertimbangkan Konsekuensi Aksi Online

  • Penting bagi anak-anak untuk memikirkan sungguh-sungguh konsekuensi dari aksi atau tindakan online mereka, dan secara seksama memperhatikan siapa-siapa yang mereka masukkan sebagai teman (friend), pengikut (follower), dan sebagainya.

–Anak-anak tidak selalu menyadari bahwa hal-hal yang mereka lakukan di luar sekolah (termasuk secara online) dapat memiliki konsekuensi atau akibat di sekolah.

Aktivitas

  • Jangan mem-post informasi personal yang bersifat sensitif: Jelaskan kepada anak Anda mengapa buruk untuk mem-post informasi alamat, tanggal lahir, atau informasi pribadi lainnya. Jelaskan pula makna dari pencurian identitas (identity theft). Gunakan contoh-contoh nyata jika Anda dapat menemukan contoh-contoh itu.

Buatlah aturan-aturan dasar yang jelas dan tekankan pentingnya untuk menahan informasi pribadi.

  • Jaga informasi tetap privat: Bicarakan dengan anak Anda untuk tidak membagi password sekalipun dengan sahabat-sahabat. Pastikan bahwa Anda dan anak Anda mengetahui bagaimana mencegah komputer yang dipakai bersama-sama untuk tidak secara otomatis menyimpan password (Sebagai contoh, selalu lakukan log off setelah selesai menggunakan sebuah situs; jangan hanya klik ‘keluar’ dari browser). Buatlah anak Anda mengetahui bahwa masing-masing kita dapat dimintai pertanggungjawaban untuk aksi-aksi pribadi orang lain ketika orang lain itu menggunakan akun online kita untuk mem-post informasi atau membuat pembelian online.

–Bukalah sebuah diskusi mengenai pentingnya melindungi diri secara keseluruhan, baik dalam dunia offline maupun online.

  • Peringatan Orang tua: Sekolah hendak mengirimkan pengingat kepada orang tua secara periodik mengenai kegiatan-kegiatan di kelas yang berbasiskan media sosial. Apabila Anda tidak pernah mendengar apapun tentang hal ini, bicarakan dengan anak anda dan guru mereka mengenai kegiatan media sosial semacam apa yang menjadi bagian dari kerja kelas. Diskusikan dengan anak-anak ihwal penggunaan media sosial di sekolah sama seperti Anda membicarakan pekerjaan sekolah atau pekerjaan rumah lainnya dari anak-anak Anda.

–Selalu tengok apa yang terjadi di sekolah anak Anda sehingga Anda dapat mengambil tindakan-tindakan untuk mendukung dan memandu penggunaan media sosial mereka.

  • Sadar tentang Perilaku Online anak-anak: Anda mungkin ingin mem-”friend” atau mem-follow anak Anda sendiri. Sejumlah keluarga memiliki salinan dari username dan password online dari anak-anaknya. Keluarga yang lain memiliki sebuah tempat di mana semua password keluarga dijaga untuk keperluan darurat suatu waktu. Tentukan aturan-aturan mengenai perilaku online yang dapat diterima, dan diskusikan Panduan Penggunaan Media Sosial di rumah. Anda mungkin juga ingin membeli filtering software atau membuat sebuah program untuk merekam penggunaan komputer dan telepon selular.

–Anda hendaknya selalu menyadari hal-hal yang terjadi secara online pada anak-anak Anda. Hal ini juga membantu anak-anak untuk mengetahui bahwa orangtua mereka senantiasa ada untuk mendukung mereka dalam menggunakan media sosial secara aman dan bertanggungjawab.

 

 

Waspadai Perundungan Maya Secara Serius

  • Perundungan maya atau cyberbullying merupakan penggunaan teknologi elektronik untuk melukai atau melecehkan orang lain. Contoh-contohnya seperti membuat atau mengedarkan pesan teks atau surat elektronik yang bersifat ofensif (menyerang orang lain), melakukan posting hal-hal yang tidak benar, dan menciptakan desas-desus atau rumor, serta membuat atau mengedarkan foto-foto yang memalukan.
  • Anak-anak perlu mengetahui hal-hal yang perlu dilakukan ketika orang-orang yang mereka kenal menjadi target dari pembulian, atau menyadari apakah mereka sendiri menjadi target.

Aktivitas

  • Kenali teman-teman anak Anda di sekolah: Kenalilah dan pelajarilah nama-nama dari teman-teman anak anda serta kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan bersama. Apabila Anda mencurigai anak Anda menjadi aktor atau korban perundungan maya, Anda dapat melaporkan hal ini kepada konselor sekolah, aliansi-aliansi yang terkait, atau staf sekolah yang Anda percayai.

–Keluarga perlu mengenali orang-orang dan situasi-situasi yang dapat berkembang menjadi masalah.

  • Sadarilah perilaku di rumah: Perhatikan apakah perilaku anak Anda tiba-tiba berubah. Beberapa tanda telah terjadinya perundungan maya (baik sebagai aktor maupun korban) adalah: penarikan diri anak-anak dari kegiatan sehari-hari, menjadi kecewa atau sedih ketika online atau menulis dan mengirim pesan teks, lekas-lekas menutup aplikasi ketika berpapasan dengan orang dewasa, atau menghindari diskusi mengenai apa yang ia lakukan dengan komputer.

–Keluarga perlu mengetahui bagaimana mengenali perundungan maya dan melakukan intervensi sebelum berkembang lebih jauh.

  • Mengetahui hal yang perlu dilakukan jika anak Anda sendiri adalah seorang pelaku cyberbullying: Apabila Anda mencurigai bahwa anak Anda membuli seseorang, penting untuk memahami situasi tersebut. Berupayalah untuk menentukan persoalan-persoalan yang mendasarinya dan hasilkanlah sebuah rencana untuk mengintervensi atau mengkoreksi perilaku anak Anda. Konselor sekolah dapat membantu Anda dalam hal ini.

–Keluarga tidak harus menghadapi situasi ini secara sendirian. Bantuan profesional tersedia.

–Dengan menetapkan harapan-harapan serta batas-batas yang jelas, Anda dapat membuat percakapan di masa mendatang menjadi lebih mudah.

  • Doronglah anak-anak Anda untuk angkat bicara (speak up): Ketika anak-anak anda menyadari bahwa seseorang yang ia kenal diperlakukan secara tidak benar, dorong dia untuk mendukung korban, baik dengan menyampaikan secara pribadi kepada korban bahwa ia menyesalkan hal yang sedang terjadi, atau dengan menyampaikan secara publik (angkat bicara). Cobalah untuk mencari contoh-contoh nyata dari perilaku ini dalam kehidupan anda, atau dari media (koran, dll), dan diskusikan dengan anak Anda mengenai bagaimana dia dapat memberikan respons.

–Tunjukkan bahwa ada alternatif pilihan ketimbang pembulian. Melakukan perlawanan terhadap kekerasan atau pembulian dapat meningkatkan kepercayaan diri dan empati anak Anda.

  • Tunjukkan kontribusi positif dari orang-orang muda yang lain: Doronglah anak Anda untuk selalu berperilaku positif dalam komunitas maya. Tunjukkan contoh-contoh mengenai orang lain yang berpartisipasi secara positif seperti itu. Diskusikan dengan anak Anda berbagai cara yang berbeda yang dapat membantunya untuk tetap positif.

–Keluarga perlu menunjukkan kepada anak-anak bagaimana media sosial dapat digunakan secara positif.

May
04
2017
0

Dosen Etika Bersertifikat UNESCO

Persoalan etis berkenaan dengan seluruh fase kehidupan manusia. Kita bertanya, apakah pikiran ini dan itu, tindakan ini dan itu dapat dibenarkan secara moral? Kita mesti mempertanggungjawabkan keputusan-keputusan moral kita sendiri pula. Justru oleh karena urgensinya dalam hidup sehari-hari itu, kita tidak bisa menyerahkan persoalan-persoalan itu kepada segelintir ahli filsafat aksiologi (etikawan) saja. Dalam konteks ini, UNESCO memberikan pembekalan (capacity building) kepada dosen-dosen etika dari berbagai negara.

Juneman Abraham, psikolog sosial Universitas Bina Nusantara, sekaligus dosen mata kuliah Kode Etik Psikologi, berpartisipasi aktif selama lima hari (24-29 April 2017) dalam Ethics Teacher’s Training Course (ETTC) di Aula Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, Surabaya. Untuk dapat mengikuti kegiatan yang langka ini, ia diseleksi oleh UNESCO berdasarkan esai dan curriculum vitae.

 

Selection Results

 

Ia menerima eksposur dari Prof. Dr. Bert Gordijn dari Institute of Ethics, Dublin City University, Irlandia, mengenai Clinical Ethics Teaching in Action, Technology Ethics Teaching in Action, serta Business Ethics Teaching in Action. Di samping itu, ia digembleng oleh Prof. Dr. Hafiza Arzuman, dari Faculty of Medicine, SEGi University, mengenai Dignity and Ethics for Professional Educators dan Informed Consent. Tidak ketinggalan, ia dilatih oleh DPhil. M. Firdaus Bin Abdul Aziz tentang Bioethics Core Curriculum. Perspektif dan pengalaman dari Prof. Dr. Soenarto Sastrowijoto, dari Center for Bioethics and Medical Humanities, Medical Faculty, Universitas Gadjah Mada turut melengkapi seluruh masukan tersebut.

Pengalaman yang berharga adalah Teaching Demonstrations selama 7 (tujuh) sesi yang dievaluasi oleh para fasilitator. Sesuai keterangan dari situs web Universitas Airlangga,

Acara ini bertujuan untuk membentuk kompetensi dosen dalam mengembangkan dan membangun ilmu bioetik di tingkat fakultas maupun universitas. Melalui training ini pula, peserta dapat berbagi pengalaman mendidik, meneliti, dan pelayanan bioetik di negara mereka masing-masing …. (S)etelah mengikuti kegiatan training, peserta akan memperoleh sertifikat resmi dari UNESCO dan diakui memiliki kompetensi menjadi dosen bioetik yang tersertifikasi UNESCO.

 

Juneman menjadi bagian dari peserta internasional pelatihan UNESCO (Amerika Serikat, Kanada, Arab Saudi, Mesir, Filipina, Indonesia, India, Malaysia, Bangladesh, dsb).

Juneman bersama dengan Irakli Khodeli (Programme
Specialist, Social and Human Sciences, UNESCO Office in Jakarta)

Juneman bersama dengan Dr. M. Firdaus Abdul Aziz (University of Malaya) dan Prof. Dr. Bert Gordijn (Director of the Institute of Ethics at Dublin City University in Ireland)

Foto Bersama

Foto Bersama

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

 

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

 

Observer

 

Penyerahan Sertifikat UNESCO

 

Penyerahan Sertifikat UNESCO

Written by juneman in: Binusian,Profesi | Tags: , , ,
Mar
16
2017
0

Tujuh Langkah Menemukan Pembimbing yang Tepat

Artikel berikut ini disadur oleh Madeline Jessica, seorang BINUSIAN asal Yogyakarta yang menyebut dirinya ‘the future psychologist’, dari Seven steps to finding the right advisor (Laura Zimmerman, PhD, 2017).

 

Keberhasilan sebagai mahasiswa pascasarjana di bidang Psikologi khususnya penelitian tergantung pada pemilihan mentor. Seperti yang diketahui pada masa perkuliahan, mentor berfungsi sebagai pengawas dan pembimbing yang menjamin mahasiswa memenuhi persyaratan kelulusan. Kemudian setelah kelulusan, mentor dapat menjadi pendamping dalam mengawasi penelitian dan penulisan, membantu mendapatkan pendanaan penelitian, memberikan umpan balik pada diskusi, dan memberikan saran karir di masa mendatang. “Mentor akan menjadi faktor besar dalam 4-6 tahun ke depan hidup Anda,” kata Ana Hernandez Kent, seorang doktor di bidang psikologi eksperimental dari Saint Louis University. Maka dari itu berikut pemaparan saran dari para ahli untuk menemukan mentor yang terbaik dan sesuai dengan Anda:

  1. Identifikasi Potensi Mentor

Mulai pencarian dengan mencocokkan minat (passion) Anda dengan kesesuaian tema penelitian terkait dari mentor, agar Anda dapat menikmati penelitian yang dipilih. Pernah memiliki hubungan yang dekat dengan dosen pembimbing sewaktu berkuliah lebih berpotensi bagi Anda untuk mencoba menjalin kerjasama kembali untuk penelitian selanjutnya. Karena pengalaman sebelumnya dapat menjalin komunikasi dengan baik, maka disarankan agar menjadikan dosen tersebut sebagai penasehat dalam penelitian.

  1. Mempertimbangkan Kualitas Kunci Mentor

Kualitas yang dimaksud ketika ingin bergabung dengan mentor, Anda perlu mempertimbangkan posisi karier mentor. Hal ini termasuk faktor peluang proyek, pendanaan, kemudian peluang publikasi, serta peluang untuk mengikuti suatu konferensi. Walaupun hal ini bukan menjadi penentu utama, namun perlu pertimbangan lebih lanjut mengenai mentor agar bersedia mendukung Anda dalam hal tersebut. Cara mengetahuinya dapat dilihat dari CV di situs resmi atau institusi, dengan melihat riwayat karya ilmiah yang pernah dipublikasikan oleh mentor.

  1. Keterjangkauan

Setelah mengidentifikasi hal diatas, selanjutnya Anda dapat mencari tahu lebih lanjut mengenai keterbukaan mentor dalam penerimaan rekan penelitian. Cara mengetahuinya dapat mengirimkan email secara pribadi atau melalui email institusi tempat mentor melakukan penelitiannya. Sebelumnya Anda perlu mencari lebih lanjut mengenai situs yang memuat informasi lebih lengkap. Kendati demikian, perlu diingat bahwa informasi tersebut mungkin belum mencakup kegiatan dan minat termutakhir dari calon mentor Anda. Jika informasi dirasa belum lengkap, Anda dapat mengirimkan email kepada sang calon mentor namun perlu memperhatikan pertanyaan yang diajukan. Selain itu lebih baik jika melampirkan surat rekomendasi dalam email tersebut yang didalamnya memuat indikasi profesionalitas Anda dalam bekerja dan menginginkan bergabung dalam penelitian tersebut.

  1. Pertemuan dengan Mentor

Ketika aplikasi yang dikirimkan telah diterima dengan baik oleh mentor atau institusi, proses selanjutnya Anda memiliki kesempatan untuk melakukan wawancara baik secara langsung maupun berbasis online dari website. Perbincangan perlu membahas beberapa kesepakatan awal karena perlu ada kolaborasi dengan mentor dalam penelitian agar terjalin kerjasama yang baik. Terutama pembicaraan mengenai lokasi yang digunakan untuk penelitian, perlu ada penyesuaian dengan mentor yang tempat kerjanya lebih banyak dihabiskan dalam laboratorium. Kemudian perlu penyesuaian pengaturan ruangan kerja dalam laboratorium agar lebih kolaboratif dengan adanya ruang bersama supaya tercipta suasana diskusi yang menyenangkan dan tidak terkotak-kotak.

  1. Mencari Kecocokan dengan Mentor

Kecocokan yang dimaksud tidak hanya didalam laboratorium tetapi juga berkaitan dengan keakraban yang terjalin diluar penelitian. Berinteraksi dengan mentor mengenai minat dan aktivitas Anda, di samping hal-hal akademik, namun perlu waspada dalam percakapan agar tetap proporsional dalam mempromosikan diri. Dari daftar riwayat Anda, bila aAnda tunjukkan bukti-buktinya, mentor dapat melihat cara Anda dalam mengatur waktu secara efisien yang dapat berdampak dalam melakukan suatu penelitian pada proyeknya.

  1. Bekerja Keras dalam penelitian

Setelah diterima tentu Anda perlu membuat mentor terkesan dengan melakukan beberapa kajian literatur dan membantu penelitian sesegera mungkin; hal ini menunjukkan bahwa Anda ingin sekali memulai bekerja. Ketika memulai masa kerja di laboratorium Anda dapat bertanya kepada rekan yang lebih senior terutama dalam berbagi saran dan ide untuk proyek penelitian. Kemudian untuk mendukung kelangsungan penelitian, Anda dapat mengkomunikasikan mengenai tujuan, harapan dan kebutuhan selama meneliti agar mentor dapat memenuhi hal tersebut.

  1. Perhatikan Hal yang Tidak Cocok dengan Mentor

Saat melakukan penelitian, terkadang ada beberapa hal yang disadari memiliki ketidakcocokan dengan mentor. Jika Anda mengalami kesulitan seperti ini maka lebih baik beralih dengan mentor lain adalah solusi yang tepat. Caranya dengan terlebih dahulu mengkomunikasikan ketidakcocokan kepada pimpinan laboratorium atau departemen. Dalam pertemuan ini Anda mungkin mendapatkan saran lain dengan transisi (switching) ke tempat lain. Hal ini perlu menjadi perhatian khusus karena jika Anda tidak sepaham dengan mentor maka penelitian tidak dapat bergerak maju dan sulit untuk meneruskan penelitian selanjutnya.

Powered by WordPress. Theme: TheBuckmaker. Zinsen, Streaming Audio