May
28
2017
0

Penggunaan Media Sosial yang Aman dan Bertanggungjawab Pada Anak

Materi berikut ini merupakan adaptasi dari Departemen Pendidikan Kota New York (2014). Dokumen ini bersumber dari “Parent and Family Guide to Student Social Media Guidelines”.

Peran baru keluarga masa kini adalah membantu anak-anak untuk berperilaku secara aman dan bertanggungjawab ketika menggunakan media sosial, baik untuk keperluan bersenang-senang maupun untuk belajar. Panduan yang dipresentasikan dalam paparan ini berguna untuk anak-anak berusia 13 tahun ke atas. Fokusnya ada 3, yaitu: citra digital (digital image), posting yang bertanggungjawab, dan konsekuensi. Sebagai tambahan dibahas mengenai perundungan maya (cyberbullying).

 

Menciptakan Citra Digital Sesuai Keinginan

  • Guna mengendalikan citra-citra digitalnya, anak-anak mesti mempertimbangkan: Bagaimana ia ingin dunia melihat atau mengenal mereka? (Ia ingin dikenal sebagai siapa atau apa?)
  • Hal ini mencakup:

–Menyelaraskan tujuan individu dengan citra online mereka.

–Memposisikan dan mempertanggungjawabkan diri sendiri.

–Memahami bahwa keluarga dapat merupakan mitra yang menolong.

Aktivitas

  • Coba imajinasikan: jika suatu waktu, anak Anda ditulis dalam sebuah artikel koran. Headline seperti apa yang ia ingin lihat? Tulislah. Diskusikan juga, kemungkinan headline seperti apa dari teman-teman, keluarga, dan tokoh terkenal yang ia ingin baca.
  • Lakukan peninjauan jenis-jenis foto dan post yang selama ini Anda dan anak Anda lakukan. Apakah foto-foto dan post tersebut sejalan dengan headline yang ingin Anda & anak Anda lihat (tentang diri kalian?) Jika tidak, bagaimana post di masa mendatang dapat dibuat sejalan?
  • Coba imajinasikan audiens (orang-orang yang akan melihat Anda).

–Ingatkan anak Anda bahwa banyak orang yang berpotensi menjadi audiens (pembaca, orang yang melihat) gambar/citra online-nya.

–Bagaimana ia ingin gurunya melihat dia? Bagaimana juga dengan atasannya? (jika suatu saat ia punya atasan). Bagaimana juga dengan calon pacarnya? Diskusikan hal-hal yang dapat ia lakukan untuk memperbarui atau meningkatkan kualitas substantif dari gambar/fotonya dan meningkatkan pencitraannya.

  • Tinjaulah profil Anda sendiri. Anda dapat mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kualitas “jejak digital” Anda, serta membantu anak Anda untuk meningkatkan “jejak digital” mereka.
  • Buatlah sebuah profil di beberapa tempat, seperti Google Profile, About.me, atau Falvors.me. Lihatlah profil anak-anak yang lain, dan diskusikan hal-hal yang Anda & anak Anda sukai dan tidak sukai. Pertimbangkan apakah ada hal-hal yang anak Anda mungkin ingin hapus atau untag guna mencerminkan secara akurat image yang ia komunikasikan kepada audiens.
  • Intinya: Anak-anak perlu untuk dapat mengendalikan Citra dan Identitas Digital mereka sendiri, dan mereka perlu didampingi oleh atau bekerja bersama keluarga mereka dalam hal ini.

 

Juneman Abraham hadir dalam Pembahasan Penyusunan Pedoman Penggunaan Media Sosial pada Anak pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rabu, 10 Mei 2017, di Sari Pan Pacific Hotel, Jl. M.H. Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat.

Juneman Abraham hadir dalam Pembahasan Penyusunan Pedoman Penggunaan Media Sosial pada Anak pada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rabu, 10 Mei 2017, di Sari Pan Pacific Hotel, Jl. M.H. Thamrin, Menteng, Jakarta Pusat.

 

Posting Secara Bertanggung jawab

  • Keluarga memainkan peran kunci dalam memastikan anak-anak melakukan posting secara bertanggung jawab.
  • Orangtua bertanggung jawab untuk mengajarkan nilai-nilai khusus dari keluarga kepada anak-anak.
  • Anda dapat membantu anak-anak mem-post dengan cara-cara yang mencerminkan nilai-nilai dengan mana keluarga mereka ingin dikenali oleh masyarakat.

Aktivitas

  • Membuat akun bersama: Ketika anak Anda sudah cukup usia untuk membuat akun (umumnya 13 tahun), Anda seyogianya membuat bersama anak akun media sosial, dan menelaah setting privasi default secara bersama-sama. Pastikan bahwa anak anda memiliki pertemanan dan percakapan online hanya dengan orang-orang yang Anda ketahui dan setujui.

–Anda diharapkan dapat membangun empati terhadap perilaku online anak Anda. Anak-anak diharapkan dapat melihat ketulusan minat Anda dalam rangka keamanan dan keberhasilan perilaku online mereka.

  • Gunakan peristiwa-peristiwa terkini: Peristiwa-peristiwa dalam pemberitaan serta situasi-situasi dengan teman-teman dan keluarga memberikan sarana yang bagus sekali untuk mendiskusikan posting yang bertanggung jawab. Ketika cerita-cerita bermunculan, diskusikan dengan anak Anda bagaimana menangani situasi tersebut. Jangan hanya berfokus pada hal-hal yang dilarang. Penting untuk mengenali contoh-contoh orang yang menggunakan media sosial untuk kepentingan sosial, online presence yang bagus, atau hasil-hasil positif lainnya.

–Jagalah agar percakapan bersifat kekinian dan otentik. Persiapkan diri untuk pertanyaan, “Mengapa kita butuh untuk mengetahui hal ini?”

 

Pada pertemuan tersebut, hadir pemangku kepentingan terkait media sosial, seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengurus Besar Persatuan Guru Seluruh Indonesia, APJII/Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indoensia, Bareskrim POLRI, Komisi Penyiaran Indoenesia, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, ICT Watch, dll. Juneman turut menyampaikan pandangan berdasarkan bidang keahlian Psikologi terhadap Kajian dan Penyusunan Pedoman Penggunaan Sosial pada Anak.

Pada pertemuan tersebut, hadir pemangku kepentingan terkait media sosial, seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengurus Besar Persatuan Guru Seluruh Indonesia, APJII/Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indoensia, Bareskrim POLRI, Komisi Penyiaran Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, ICT Watch, dll. Juneman turut menyampaikan pandangan berdasarkan bidang keahlian Psikologi terhadap Kajian dan Penyusunan Pedoman Penggunaan Sosial pada Anak.

 

 

Pertimbangkan Konsekuensi Aksi Online

  • Penting bagi anak-anak untuk memikirkan sungguh-sungguh konsekuensi dari aksi atau tindakan online mereka, dan secara seksama memperhatikan siapa-siapa yang mereka masukkan sebagai teman (friend), pengikut (follower), dan sebagainya.

–Anak-anak tidak selalu menyadari bahwa hal-hal yang mereka lakukan di luar sekolah (termasuk secara online) dapat memiliki konsekuensi atau akibat di sekolah.

Aktivitas

  • Jangan mem-post informasi personal yang bersifat sensitif: Jelaskan kepada anak Anda mengapa buruk untuk mem-post informasi alamat, tanggal lahir, atau informasi pribadi lainnya. Jelaskan pula makna dari pencurian identitas (identity theft). Gunakan contoh-contoh nyata jika Anda dapat menemukan contoh-contoh itu.

Buatlah aturan-aturan dasar yang jelas dan tekankan pentingnya untuk menahan informasi pribadi.

  • Jaga informasi tetap privat: Bicarakan dengan anak Anda untuk tidak membagi password sekalipun dengan sahabat-sahabat. Pastikan bahwa Anda dan anak Anda mengetahui bagaimana mencegah komputer yang dipakai bersama-sama untuk tidak secara otomatis menyimpan password (Sebagai contoh, selalu lakukan log off setelah selesai menggunakan sebuah situs; jangan hanya klik ‘keluar’ dari browser). Buatlah anak Anda mengetahui bahwa masing-masing kita dapat dimintai pertanggungjawaban untuk aksi-aksi pribadi orang lain ketika orang lain itu menggunakan akun online kita untuk mem-post informasi atau membuat pembelian online.

–Bukalah sebuah diskusi mengenai pentingnya melindungi diri secara keseluruhan, baik dalam dunia offline maupun online.

  • Peringatan Orang tua: Sekolah hendak mengirimkan pengingat kepada orang tua secara periodik mengenai kegiatan-kegiatan di kelas yang berbasiskan media sosial. Apabila Anda tidak pernah mendengar apapun tentang hal ini, bicarakan dengan anak anda dan guru mereka mengenai kegiatan media sosial semacam apa yang menjadi bagian dari kerja kelas. Diskusikan dengan anak-anak ihwal penggunaan media sosial di sekolah sama seperti Anda membicarakan pekerjaan sekolah atau pekerjaan rumah lainnya dari anak-anak Anda.

–Selalu tengok apa yang terjadi di sekolah anak Anda sehingga Anda dapat mengambil tindakan-tindakan untuk mendukung dan memandu penggunaan media sosial mereka.

  • Sadar tentang Perilaku Online anak-anak: Anda mungkin ingin mem-”friend” atau mem-follow anak Anda sendiri. Sejumlah keluarga memiliki salinan dari username dan password online dari anak-anaknya. Keluarga yang lain memiliki sebuah tempat di mana semua password keluarga dijaga untuk keperluan darurat suatu waktu. Tentukan aturan-aturan mengenai perilaku online yang dapat diterima, dan diskusikan Panduan Penggunaan Media Sosial di rumah. Anda mungkin juga ingin membeli filtering software atau membuat sebuah program untuk merekam penggunaan komputer dan telepon selular.

–Anda hendaknya selalu menyadari hal-hal yang terjadi secara online pada anak-anak Anda. Hal ini juga membantu anak-anak untuk mengetahui bahwa orangtua mereka senantiasa ada untuk mendukung mereka dalam menggunakan media sosial secara aman dan bertanggungjawab.

 

 

Waspadai Perundungan Maya Secara Serius

  • Perundungan maya atau cyberbullying merupakan penggunaan teknologi elektronik untuk melukai atau melecehkan orang lain. Contoh-contohnya seperti membuat atau mengedarkan pesan teks atau surat elektronik yang bersifat ofensif (menyerang orang lain), melakukan posting hal-hal yang tidak benar, dan menciptakan desas-desus atau rumor, serta membuat atau mengedarkan foto-foto yang memalukan.
  • Anak-anak perlu mengetahui hal-hal yang perlu dilakukan ketika orang-orang yang mereka kenal menjadi target dari pembulian, atau menyadari apakah mereka sendiri menjadi target.

Aktivitas

  • Kenali teman-teman anak Anda di sekolah: Kenalilah dan pelajarilah nama-nama dari teman-teman anak anda serta kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan bersama. Apabila Anda mencurigai anak Anda menjadi aktor atau korban perundungan maya, Anda dapat melaporkan hal ini kepada konselor sekolah, aliansi-aliansi yang terkait, atau staf sekolah yang Anda percayai.

–Keluarga perlu mengenali orang-orang dan situasi-situasi yang dapat berkembang menjadi masalah.

  • Sadarilah perilaku di rumah: Perhatikan apakah perilaku anak Anda tiba-tiba berubah. Beberapa tanda telah terjadinya perundungan maya (baik sebagai aktor maupun korban) adalah: penarikan diri anak-anak dari kegiatan sehari-hari, menjadi kecewa atau sedih ketika online atau menulis dan mengirim pesan teks, lekas-lekas menutup aplikasi ketika berpapasan dengan orang dewasa, atau menghindari diskusi mengenai apa yang ia lakukan dengan komputer.

–Keluarga perlu mengetahui bagaimana mengenali perundungan maya dan melakukan intervensi sebelum berkembang lebih jauh.

  • Mengetahui hal yang perlu dilakukan jika anak Anda sendiri adalah seorang pelaku cyberbullying: Apabila Anda mencurigai bahwa anak Anda membuli seseorang, penting untuk memahami situasi tersebut. Berupayalah untuk menentukan persoalan-persoalan yang mendasarinya dan hasilkanlah sebuah rencana untuk mengintervensi atau mengkoreksi perilaku anak Anda. Konselor sekolah dapat membantu Anda dalam hal ini.

–Keluarga tidak harus menghadapi situasi ini secara sendirian. Bantuan profesional tersedia.

–Dengan menetapkan harapan-harapan serta batas-batas yang jelas, Anda dapat membuat percakapan di masa mendatang menjadi lebih mudah.

  • Doronglah anak-anak Anda untuk angkat bicara (speak up): Ketika anak-anak anda menyadari bahwa seseorang yang ia kenal diperlakukan secara tidak benar, dorong dia untuk mendukung korban, baik dengan menyampaikan secara pribadi kepada korban bahwa ia menyesalkan hal yang sedang terjadi, atau dengan menyampaikan secara publik (angkat bicara). Cobalah untuk mencari contoh-contoh nyata dari perilaku ini dalam kehidupan anda, atau dari media (koran, dll), dan diskusikan dengan anak Anda mengenai bagaimana dia dapat memberikan respons.

–Tunjukkan bahwa ada alternatif pilihan ketimbang pembulian. Melakukan perlawanan terhadap kekerasan atau pembulian dapat meningkatkan kepercayaan diri dan empati anak Anda.

  • Tunjukkan kontribusi positif dari orang-orang muda yang lain: Doronglah anak Anda untuk selalu berperilaku positif dalam komunitas maya. Tunjukkan contoh-contoh mengenai orang lain yang berpartisipasi secara positif seperti itu. Diskusikan dengan anak Anda berbagai cara yang berbeda yang dapat membantunya untuk tetap positif.

–Keluarga perlu menunjukkan kepada anak-anak bagaimana media sosial dapat digunakan secara positif.

May
04
2017
1

Scopus “lawan” Thomson: Bagaimana agar Kita yang Menang?

Dosen dan peneliti Indonesia saat ini dilanda oleh arus besar indeksasi artikel jurnal, terlebih karena sejumlah kecil indeks dijadikan model dan parameter oleh Kemristekdikti untuk menilai kelayakan mereka dalam berproses menjadi Doktor dan seterusnya Guru Besar. Diskusi klasik memperdebatkan, manakah yang lebih baik (lebih bereputasi, lebih berkualitas): Scopus, ataukah Web of Science (WoS, dahulu: ISI Thomson Reuters)? Sejumlah orang, bahkan perguruan tinggi, berkeyakinan bahwa Web of Science lebih baik karena terkesan sangat selektif dalam inklusi jurnalnya, dan karenanya menjadikannya sebagai patokan baku mengenai kualitas. Apakah kesan ini akurat, atau lebih merupakan stereotip yang berasal dari periode-periode yang lalu?

Sebelum terlibat dalam repetisi diskusi, mari kita tinjau terlebih dahulu hal yang sudah dikaji oleh HLWIKI International.

Menurut HLWIKI International, keuntungan dan kelemahan Scopus, sebagai berikut:

  • Scopus memungkinkan pencarian berdasarkan afiliasi; dengan kode pos dan nama lembaga/institusi.

  • Scopus mencakup lebih dari 22.000 jurnal. WoS 11.000 jurnal.

  • Scopus mencakup 5-15% dari database WoS, sebelum tahun 1996, dan 20-45% lebih besar dari WoS sesudah tahun 1996.

  • Untuk publikasi sebelum 1996, cakupan yang ditawarkan oleh Scopus jauh sangat bervariasi.

  • 95% dari pangkalan data Scopus terdiri dari rekaman deskripsi dari artikel-artikelnya.

  • Sebelum 1996, jumlah artikel non-jurnal di Scopus sedikit; lalu meningkat 10% pada 2005.

  • Pada tahun-tahun terakhir, proporsi artikel non-jurnal secara signifikan lebih tinggi di Scopus daripada WoS (4%).

  • Scopus merupakan alat pencarian yang lebih melayani multi-tujuan; keuntungan yang nyata adalah fungsionalitasnya; Menyediakan fungsi informasi dasar, perbaikan, serta format hasil pelacakan kutipan/sitasi dan identifikasi penulis. (Anda harus mencobanya! 🙂 )

  • Scopus mencakup lebih banyak bidang keilmuan; namun cenderung lemah dalam bidang Sosiologi, Fisika dan Astronomi.

Masih menurut HLWIKI International, keuntungan dan kelemahan Web of Science:

  • Hanya sedikit perbedaan dalam cakupan antara Scopus dan Web of Science (WoS) dan ada tumpang tindih yang banyak.

  • WoS mencakup sains dan arts/humaniora.

  • Antarmuka pencarian WoS mengalami perbaikan namun tidak seberguna Scopus.

  • WoS memiliki lebih banyak pilihan untuk analisis kutipan/sitasi bagi institusi.

  • Ada perbedaan substansial antara WoS, Scopus dan Google Scholar (GS). GS memberikan hasil instan bagi pencari. Hal ini dapat (secara tidak sadar) menjadi alasan utama bagi pengguna untuk memilihnya.

  • Google Scholar (GS) jauh lebih besar daripada WoS atau Scopus tetapi telah terbukti memiliki referensi lebih sedikit untuk artikel terpilih. Namun, cakupan dan teknik menjaring yang unik dari Google Scholar telah terbukti menunjukkan lima (5) kali kutipan yang unik walaupun banyak hasil yang dibesar-besarkan.

 

Thomson Reuters/Web of Science. Sumber gambar: https://i.ytimg.com/vi/-4xNxTsjIOg/hqdefault.jpg

 

Berdasarkan amatan saya, belum ada riset empiris dalam satu tahun terakhir yang secara definitif menyimpulkan bahwa kualitas jurnal-jurnal dalam ISI Thomson/Web of Science lebih baik daripada kualitas jurnal-jurnal dalam Scopus. Silakan simak faktanya bahwa sekarang WoS memperbesar indeksasinya, seperti ESCI (Emerging Sources Citation Index). Jurnal-jurnal Indonesia sudah ada beberapa yang terindeks WoS, seperti Jurnal Makara UI (Makara Hubs-Asia dan Makara Journal of Health Research). Jurnal Makara belum terindeks Scopus akan tetapi sudah terindeks WoS ESCI.

Pemeringkat World Class University QS menggunakan Scopus dan Times Higher Education menggunakan WoS. Apakah satu secara definitif lebih buruk daripada yang lain? Saya kira, penyimpulan general tentang kualitas perlu kita nyatakan dgn hati-hati. Indeks WoS CPCI (Conference Proceedings Citation Index) dalam kasus-kasus kita di Indonesia bahkan lebih banyak yg berhasil digandeng untuk bekerjasama dengan lembaga penyusun prosiding konferensi ilmiah. Saya juga melihat di negara-negara lain juga seperti itu (di Yunani, Bulgaria, dll).

Dinamika indeksasi ini berjalan cepat sekali. Terjadi suatu pusaran besar dan saling lirik antar indeks-indeks yang ada, lebih-lebih yang terkemuka atau mengemuka. WoS sudah membiakkan ESCI, dan SCI SCI yang lain. Ada banyak hal yang terlibat di tingkatan global, seperti proses bisnis dan proses kebijakan/politik akademik. Tidak heran, Beall pernah mengingatkan kita semua: Jangan pernah membuat White-list. Jangan pernah andalkan White-list. Oleh karena itu, yang Beall kerjakan adalah membuat sebaliknya. Ia menyebutnya bukan Black-list, melainkan “Questionable Journals” (jurnal-jurnal yang menimbulkan pertanyaan). Berdasarkan ungkapan Beall, tidak berlebihan rasnya jika sebaiknya kita tidak punya mindset tentang adanya White Index atau Daftar Putih Jurnal.

Hemat saya, jalan terbaik bagi kita, supaya kita yang “menang” adalah: telaah kembali setiap jurnal & prosiding secara individual berdasarkan investigasi rasional dan intuisi akademis kita. Perlu waspada terhadap so called “white index”. Tidak ada indeks yang benar-benar “putih” yang bisa dijadikan rujukan mutlak!

May
04
2017
0

Dosen Etika Bersertifikat UNESCO

Persoalan etis berkenaan dengan seluruh fase kehidupan manusia. Kita bertanya, apakah pikiran ini dan itu, tindakan ini dan itu dapat dibenarkan secara moral? Kita mesti mempertanggungjawabkan keputusan-keputusan moral kita sendiri pula. Justru oleh karena urgensinya dalam hidup sehari-hari itu, kita tidak bisa menyerahkan persoalan-persoalan itu kepada segelintir ahli filsafat aksiologi (etikawan) saja. Dalam konteks ini, UNESCO memberikan pembekalan (capacity building) kepada dosen-dosen etika dari berbagai negara.

Juneman Abraham, psikolog sosial Universitas Bina Nusantara, sekaligus dosen mata kuliah Kode Etik Psikologi, berpartisipasi aktif selama lima hari (24-29 April 2017) dalam Ethics Teacher’s Training Course (ETTC) di Aula Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, Surabaya. Untuk dapat mengikuti kegiatan yang langka ini, ia diseleksi oleh UNESCO berdasarkan esai dan curriculum vitae.

 

Selection Results

 

Ia menerima eksposur dari Prof. Dr. Bert Gordijn dari Institute of Ethics, Dublin City University, Irlandia, mengenai Clinical Ethics Teaching in Action, Technology Ethics Teaching in Action, serta Business Ethics Teaching in Action. Di samping itu, ia digembleng oleh Prof. Dr. Hafiza Arzuman, dari Faculty of Medicine, SEGi University, mengenai Dignity and Ethics for Professional Educators dan Informed Consent. Tidak ketinggalan, ia dilatih oleh DPhil. M. Firdaus Bin Abdul Aziz tentang Bioethics Core Curriculum. Perspektif dan pengalaman dari Prof. Dr. Soenarto Sastrowijoto, dari Center for Bioethics and Medical Humanities, Medical Faculty, Universitas Gadjah Mada turut melengkapi seluruh masukan tersebut.

Pengalaman yang berharga adalah Teaching Demonstrations selama 7 (tujuh) sesi yang dievaluasi oleh para fasilitator. Sesuai keterangan dari situs web Universitas Airlangga,

Acara ini bertujuan untuk membentuk kompetensi dosen dalam mengembangkan dan membangun ilmu bioetik di tingkat fakultas maupun universitas. Melalui training ini pula, peserta dapat berbagi pengalaman mendidik, meneliti, dan pelayanan bioetik di negara mereka masing-masing …. (S)etelah mengikuti kegiatan training, peserta akan memperoleh sertifikat resmi dari UNESCO dan diakui memiliki kompetensi menjadi dosen bioetik yang tersertifikasi UNESCO.

 

Juneman menjadi bagian dari peserta internasional pelatihan UNESCO (Amerika Serikat, Kanada, Arab Saudi, Mesir, Filipina, Indonesia, India, Malaysia, Bangladesh, dsb).

Juneman bersama dengan Irakli Khodeli (Programme
Specialist, Social and Human Sciences, UNESCO Office in Jakarta)

Juneman bersama dengan Dr. M. Firdaus Abdul Aziz (University of Malaya) dan Prof. Dr. Bert Gordijn (Director of the Institute of Ethics at Dublin City University in Ireland)

Foto Bersama

Foto Bersama

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

 

Demo Teaching Juneman bertopik Whistle Blowing

 

Observer

 

Penyerahan Sertifikat UNESCO

 

Penyerahan Sertifikat UNESCO

Written by juneman in: Binusian,Profesi | Tags: , , ,
Mar
16
2017
0

Tiga Rangsangan Riset yang Berorientasikan ‘Customer’

Perkataan customer-oriented research setidaknya membawa ingatan saya pada 3 (tiga) buah peristiwa yg pernah saya alami.

Pertama adalah workshop Jurnal Humaniora yang saya ikuti di UGM. Ketua Redaksi waktu itu (sekitar 2013) menyatakan bahwa beliau punya konsen tentang bagaimana publikasi ilmiah dari orang Indonesia tetap juga dapat dinikmati oleh seluas-luasnya masyarakat Indonesia. Di sini menyangkut pula persoalan bahasa. Yang mengesankan saya adalah ungkapan beliau, bahwa meskipun sudah memiliki kiprah publikasi pada tingkat internasional, beliau masih juga menyempatkan diri untuk menulis di jurnal-jurnal ilmiah maupun majalah-majalah yang dianggap ‘kecil’ yang berbahasa Indonesia agar hal-hal yang beliau ketahui turut terjangkau oleh para dosen, mahasiswa, dan awam yang masih juga banyak membaca publikasi yang demikian. Hal ini menurut hemat saya sangatlah inspiratif.

Peristiwa kedua adalah paparan keynote speaker Prof Murnizam Hj. Halik di Auditorium Universitas Mercu Buana Jakarta saat konferensi Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi tahun 2013. Beliau memaparkan puluhan contoh artikel jurnal yang dari judul dan abstraknya sudah sangat super-spesialistik serta memuat alur mediasi dan moderasi sejumlah variabel dengan sofistikasi sangat tinggi. Beliau waktu itu bahkan agak ‘menantang’ audiens, siapa sajakah di antara komunitas ilmuwan maupun praktisi PIO yang hadir yang bisa mengerti dan menjelaskan ulang judul dan abstrak tersebut. Tampaknya waktu itu beliau mengkontekskan paparan tersebut dalam rangka aplikabilitas riset untuk memenuhi kebutuhan riil masyarakat ASEAN.

Pengalaman ketiga, adalah membaca ulasan beberapa tahun lalu di Koran Kompas oleh Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, S.J., salah seorang guru besar etika yang paling masyur di Indonesia, mengenai bahwa dalam hal filsafat, masyarakat Indonesia lebih membutuhkan pengembangan filsafat yang ‘generalis’, seperti wawasan tentang bagaimana umumnya pemikiran Karl Marx, bukan pemikiran Marx yang sudah sampai ‘printilan’-nya. Hal ini juga berdampingan, tetapi bukan bermaksud defensif, dengan kenyataan sebagian kesulitan dosen filsafat di Indonesia ‘menembus’ jurnal filsafat papan atas yang tidak sedemikian diikuti diskursusnya oleh kebanyakan dosen-dosen filsafat di Indonesia (tidak pula seperti di beberapa negara maju di mana perkumpulan dlm bidang filsafat cukup pesat berkembang).

Oleh sebab itu, saya menganggap penting bagi kita untuk mempertanyakan ulang, “Siapakah sebenarnya konsumen, dan pemangku kepentingan keseluruhan dari penelitian kita? Bagaimana sebuah ‘customer-attentive research‘ mau didefinisikan dan diupayakan?”. Hal ini patut dijawab selekasnya karena akan menyangkut banyak aspek dari kebijakan perjurnalan kita. [Bandingkan juga dengan tulisan saya baru-baru ini: Pelajaran dari Nobel Laureate tentang Keragaman dalam Penelitian].

Oct
17
2016
0

Psikolog Sosial BINUS Membicarakan Internet of Things

Pada 16 Oktober 2016, psikolog sosial BINUS University, Juneman Abraham, membawakan presentasi hasil penelitiannya bersama Tommy Prayoga (alumnus terbaik Jurusan Psikologi dalam Wisuda 2016) yang berjudul “Health Capability: The Representation of IoT in Health Domain among Jakartans“, dalam The 2016 International Conference on Advanced Computer Science and Information Systems (ICACSIS), bertempat di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Indonesia.

Artikel ini terpilih dari antara 99 artikel yang diterima dari 199 artikel yang masuk. Berdasarkan informasi dari Bapak Harry Budi Santoso, Ph.D. dalam closing ceremony, rejection rate untuk seleksi paper dalam konferensi ini mencapai 50%. Oleh karena itu, beliau memuji kerja keras kami semua untuk menghasilkan penelitian yang baik. Informasi ini sudah barang tentu membesarkan hati kami.

Di samping menyajikan hasil penelitian kami, yang akan terbit dalam publikasi internasional dengan proposal indeksasi bereputasi, tidak kurang pula kami menimba ilmu dari para pembicara berkelas dunia, seperti Prof. Ramjee Prasad (Founder Director, Center for TeleInFrastruktur (CTIF), Aalborg University, Denmark), Prof. Jim Foster (Keio University, Japan), Dr. Ye-Nun Huang (Research Center for Information Technology Innovation, Academia Sinica, Taiwan), dan Assoc.Prof. Stephane Bressan (National University of Singapore, Singapore).

Partisipasi dalam ajang akademik internasional bergengsi ini kami letakkan bermakna sebagai sejumput kontribusi kami dalam menunjang Visi BINUS University 2020 untuk menjadi World Class University.

 

Juneman Abraham di Universitas Brawijaya

Juneman Abraham di Universitas Brawijaya

Juneman Abraham di Universitas Brawijaya

Juneman Abraham di Universitas Brawijaya

Juneman Abraham di iCACSIS 2016 UI-IEEE-Unibraw

Juneman Abraham di iCACSIS 2016 UI-IEEE-Unibraw

Presentasi Juneman Abraham

Presentasi Juneman Abraham

Presentasi Juneman Abraham

Presentasi Juneman Abraham

Foto Bersama Rekan-rekan dari IPB, National University of Taiwan, dan Fasilkom UI

Foto Bersama Rekan-rekan dari IPB, National University of Taiwan, dan Fasilkom UI

Suasana Auditorium Unibraw

Suasana Auditorium Unibraw

Kenang-kenangan Kaos IEEE-Fasilkom UI

Kenang-kenangan Kaos IEEE-Fasilkom UI

 

Presenter Tag

Presenter Tag

 

Oct
17
2016
0

Psikologi Kritis yang Kita Butuhkan

Pada 15 Oktober 2016, Tommy Prayoga (alumnus terbaik Jurusan Psikologi) dan Juneman Abraham (SCC Community Psychology) berpartisipasi dalam International Seminar on Mathematics, Science and Computer Science Education di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung bertajuk “Harnessing Local Wisdom to Build Competencies of Excellence in Research and Collaboration in The New Era of The ASEAN Economic Community”.

Sebuah artikel yang ditulis oleh keduanya berjudul “Psychology Curriculum Development: Challenges from Students’ Representations on Psychological Science’s Role in Creating Social Change“. Penulisan artikel ini berangkat dari keprihatinan kami bersama terhadap situasi keterjagaan kesadaran-sosial-kritis mahasiswa-mahasiswi Psikologi pada tingkat Sarjana di Indonesia. Kami berharap artikel yang terbit nantinya dapat berkontribusi barang sedikit terhadap perubahan kurikulum yang perlu di perguruan-perguruan tinggi penyelenggara pendidikan Psikologi di Indonesia. Semoga!

Kedua Penulis di UPI Bandung

Kedua Penulis di UPI Bandung

 

Presentasi Tommy Prayoga

Presentasi Tommy Prayoga

Sertifikat Presentasi

Sertifikat Presentasi

Oct
14
2016
0

Psikologi (Sosial) Asia?

Pada 22-23 September 2016, Juneman Abraham, SCC Community Psychology, Bina Nusantara University, berpartisipasi dalam  AASP Capacity Building bertajuk “Asian Social Psychology: Epistemology, Teaching, and Action“, di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok, dengan narasumber utama Prof. James H. Liu, Ph.D, yang merupakan Professor, Adjunct Fellow, Centre for Applied Cross-Cultural Research University of Victoria dan Head of School of Psychology, Massey University.

Oleh karena keterbatasan tempat dan untuk efektivitas kegiatan, peserta, yang merupakan dosen Psikologi Sosial, diseleksi berdasarkan (1) pengalaman penelitian yang relevan dengan topik (ditunjukkan dengan CV)(2) tulisan makalah berbahasa Inggris (350 kata) dengan topik “Why social psychology in Asian perspective is necessary?“.

Dalam Seminar & Workshop, pertama-tama, James Liu menjelaskan tentang Confucian Philosophy. Yakni Prinsip Interconnectedness & Holism. Implikasi: (1) Jangan mengkotakkan pendekatan “kuantitatif” dan “kualitatif” dalam riset; (2) Perlu kolaborasi psikolog dgn ilmuwan & praktisi disiplin lain; (3) Optimalkan modal sosial yang saling terkait; (4) Perlu keterhubungan dengan SDG (Sustainable Development Goals, konsen global). Filosofi bukan hanya untuk kegiatan akademik, tetapi untuk spirit diri sendiri, sehingga jangan disalahmengerti. Filosofi Konfusian bukan pertama-tama untuk dieksplisitkan dalam naskah riset.

Selanjutnya, James Liu menyampaikan mengenai Golden Rule: Do unto others as you would have them do untuk you” – Jesus; “What do you don’t want for yourself, don’t do to others” – Confucius. DO: (1) Use your human heartedness, (2) Find others to cultivate self, (3) Practice professionalism. DON’T: (1) Follow others without a plan; (2) Let money dictate your research; (3) Worship power.

Ketika mengupas tentang Action Research, beberapa pokok pikiran yang disampaikan, diantaranya: Konteks urgensi action research adalah maraknya social change membawa pada social problem, yang perlu dicarikan jalan keluarnya. Penelitian bukan hanya berhenti pada p < 0.05. Perlu kooperasi dengan praktisi, pemerintah (Bottom Up). Riset adalah untuk pemecahan masalah (bukan hanya basic science). PAR (Participatory Action Research) adalah sebuah siklus Planning->Action->Observation->Evaluation->Reflection (bukan Top-Down/Aplikasi teori sahaja). “Application of principles from social science to group life and decision making: LONG TERM PLAN!“. Tidak hanya berbicara tentang mengganti media perubahan sosial, tetapi ada proses kolektif.

Ketika membahas buku teks Psikologi Sosial: Menggunakan buku teks dari Western tidaklah berdosa! Namun, ada kebutuhan untuk menambah sedikitnya satu chapter tentang “Culture-oriented Psychology”. Isi buku perlu dikoneksikan dengan rujukan temuan-temuan Asian Social Psychology. Alternatif dari chapter adalah artikel jurnal.

Dalam Laboratorium Psikologi Sosial: Ada aktivitas mahasiswa untuk (1) Mengobservasi lingkungan sosial, (2) Menguji norma sosial. Ada masalah praktis setempat yang ingin diatasi, misalnya Littering Behavior. Apakah teori psikologi mainstream bekerja? Evaluasi Program berdasarkan Process dan Outcome.

Usulan perubahan silabus mata kuliah Psikologi Sosial, misalnya Pada Pertemuan Kedua (Metodologi Riset), perkenalkan Asian Epistemology postulates:Pengetahuan itu benar jika….” (Justifikasi pengetahuan berdasarkan spiritualitas? Justifikasi pengetahuan berdasarkan relasional? (termasuk hierarki?)). Ada tugas praktikal untuk re-think mengapa Western Social Psychology tidak bekerja? Ada usulan untuk jangka panjang: History of Indonesian Social Psychology. Di kalangan dosen: Proyek Pengabdian Kepada Masyarakat dijadikan masukan untuk Silabus.

Intinya: Agar kita tidak terasingkan dari mata kuliah yang kita ajarkan sendiri di kelas! “However, don’t overlook Western psychologists’ important experiences in developing their own indigenous psychologies,” and “Don’t think in terms of English or any other foreign language during the various stages of the research process“.

Berikut ini adalah beberapa gambar tentang suasana berlangsungnya Seminar & Workshop.

AASPdoc_JunemanAbraham_0768-min AASPdoc_JunemanAbraham_0800-min AASPdoc_JunemanAbraham_0816-min AASPdoc_JunemanAbraham_0819-min

AASPdoc_JunemanAbraham_0847-min AASPdoc_JunemanAbraham_0855-min AASPdoc_JunemanAbraham_0856-min AASPdoc_JunemanAbraham_0858-min AASPdoc_JunemanAbraham_0862-min

AASPdoc_JunemanAbraham_0877-min AASPdoc_JunemanAbraham_0878-min AASPdoc_JunemanAbraham_0880-min AASPdoc_JunemanAbraham_0881-min

AASPdoc_JunemanAbraham_0820-min   AASPdoc_JunemanAbraham_0833-min

 

Oct
02
2016
0

Dosen Fakultas Humaniora dan Jurusan Psikologi Bergambar Bersama

Dosen dan Staf Jurusan Psikologi - BINUS University

Dosen dan Staf Jurusan Psikologi – Bina Nusantara University, Jakarta

 

Dosen Fakultas Humaniora - BINUS University

Dosen Fakultas Humaniora – BINUS University

 

Dosen Fakultas Humaniora - BINUS University

Dosen Fakultas Humaniora – BINUS University

 

Dosen Psikologi BINUS

Dosen Psikologi BINUS (28/September/2016)

Sep
23
2016
0

Agar Tidak Salah Pilih Jurusan? Tips Dosen Psikologi BINUS University

Pada Sabtu, 17 September 2016, Juneman Abraham memberikan penyuluhan kepada orangtua siswa-siswi SMA Bunda Hati Kudus, di kawasan Grogol, Jakarta Barat. Tema yang diangkat adalah “Komunikasi efektif orangtua & anak dalam pendampingan pemilihan jurusan & universitas”.

Outline yang Juneman sampaikan adalah sebagai berikut:

  • Tentang Anak (“Anakmu bukan milikmu“, Khalil Gibran)
  • Fenomena Salah Pilih Jurusan (Curhat anak di media sosial, tragis dan mahalnya salah pilih jurusan; Tanda Salah Pilih Jurusan; Rilis hasil survei 33% penyesalan mahasiswa atas pilihan jurusannya; sebabnya: informasi yang samar-samar dan/atau menyesatkan)
  • Komunikasi Efektif (Memanfaatkan Jendela Johari; bernegosiasi dengan eviden)
  • Informasi tentang Disiplin Ilmu (Menguliti: Apa ciri khasnya, bagaimana hubungannya dengan disiplin ilmu lain, apa saja ilmu-ilmu “serupa” dalam satu rumpun, prospek karier dan kerjasama praktiknya)
  • Informasi tentang Bentuk Pendidikan Tinggi (Akademi, Institut, Sekolah Tinggi, Politeknik, Universitas; apa bedanya?)
  • Jalan “Mudah” memilih Jurusan/Program Studi (bergantung pada salah satu ukuran: cool, trendy, patuh otoritas, income, setiakawan, double major/jurusan ganda, dipilihkan oleh kuis)
  • Jalan yang “Sedikit Tidak Mudah” (refleksi nilai, keterampilan, kinerja tes, minat, bakat, kepribadian, pertimbangan jenjang pascasarjana; proses matching sampai dengan mengecek kenyataan)
  • Apa itu Universitas Kelas Dunia? (World Class University) – QS, Webometrics, 4ICU, Dikti, dan metodologinya. Mana yang lebih penting: Kinerja universitas atau kinerja program studi?

Pembaca yang ingin memperoleh paparan lengkap, undangan dapat disampaikan melalui kontak LinkedIn Juneman Abraham.

 

Suasana Seminar tentang Memilih Jurusan yang Tepat

Suasana Seminar tentang Memilih Jurusan yang Tepat

 

Program Pengabdian Kepada Masyarakat, kali ini Komunitas Sekolah Bunda Hati Kudus

Program Pengabdian Kepada Masyarakat, kali ini Komunitas Sekolah Bunda Hati Kudus

 

Juneman Abraham: Mengantisipasi Salah Pilih Jurusan saat Kuliah

Juneman Abraham: Mengantisipasi Salah Pilih Jurusan saat Kuliah

 

Orangtua Siswa SMA Bunda Hati Kudus menyimak paparan Dosen Jurusan Psikologi Sosial BINUS University, Juneman Abraham

Orangtua Siswa SMA Bunda Hati Kudus menyimak paparan Dosen Jurusan Psikologi Sosial BINUS University, Juneman Abraham

Apr
13
2016
0

Psikologi Indigenous dan Keahlian Membangun Teori

Pada 9-10 April 2016, Juneman Abraham memperdalam minatnya terhadap Psikologi Ulayat (Indigenous Psychology), dengan mengikuti Theory Building Training di jantung belajar Psikologi Indigenous, yakni Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP), Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada.

Juneman mengawali kiprahnya dalam penelitian psikologi ulayat pada 2010 dengan menyajikan hasil penelitiannya bersama Profesor Koentjoro (UGM) yang berjudul “Kota Tua Riwayatmu Kini” (The old Batavia, today): A qualitative research on social perception toward indigenous architecture pada The First International Conference on Indigenous & Cultural Psychology (see page 288).

Selanjutnya, Juneman bertugas sebagai Penyunting Eksekutif dari Jurnal Psikologi Ulayat (Indonesian Journal of Indigenous Psychology/IJIP, ISSN 2088-4230) (2012-2014) bersama dengan Ketua APIK (Asosiasi Psikologi Indigenous dan Kultural), Dr. Y. D. Pradipto. Baru-baru ini, ia meneliti tentang Representasi makna “korupsi” pada orang Indonesia sebagai Ketua Peneliti berbasiskan Hibah Ditjen Dikti Kemenristekdikti RI, serta mempresentasikannya dalam sebuah konferensi psikologi di Jepang.

Adapun aktivitas belajarnya di CICP UGM berkenaan dengan metodologi psikologi ulayat, yakni Constructive Realism, Meta Ethnography, Ethnography, Discourse Analysis, dan Grounded Theory. Ia memperkaya pemahaman dan pengalaman praktiknya mengenai metodologi tersebut sehingga kompetensinya semakin terasah dalam melakukan penelitian psikologi indigenous dan membangun teori-teorinya secara mendalam (bukan hanya di tingkat “permukaan”) dan akurat (mampu meminimalisasikan bias-bias yang seringkali terjadi dalam penelitian dengan metodologi kualitatif maupun kuantitatif yang “seadanya”).

Berikut ini adalah sejumlah gambar dan dokumentasi yang diambil berkenaan dengan pelatihan yang diikuti oleh Juneman tersebut.

Di ruang FPsi UGM

Di ruang FPsi UGM

Sesi Minum Kopi :)

Sesi Minum Kopi 🙂

Sertifikat Theory Building Training

Sertifikat Theory Building Training

Sesi Kerja Kelompok

Sesi Kerja Kelompok

Sesi Isoma

Sesi Isoma

Sesi Presentasi Kelompok

Sesi Presentasi Kelompok

 

Sesi Foto Bareng

Sesi Foto Bareng

Powered by WordPress. Theme: TheBuckmaker. Zinsen, Streaming Audio