Jan
18
2015
0

With My Thesis Supervisees

Juneman Abraham

Written by juneman in: Uncategorized |
Sep
11
2014
0

My Mentee @ ICOP 2014

Pada tanggal 1-2 September 2014, Psikologi BINUS menyelenggarakan 1st International Conference on Psychotechnology (ICOP) bertajuk Questioning the Role of Psychotechnology in facing Social and Humanities Issues in Global Context. Konferensi bertempat di Kampus BINUS Anggrek, Jakarta. Para pembicara seseorah-nada-dasar (keynote speakers) dalam ICOP adalah Stephen Benton PhD (Profesor Psikologi Bisnis, University of Westminster, United Kingdom) dan Dr Rudolf Woodrow Matindas (Associate Professor, University of Indonesia). Dr Matindas memaparkan definisi leksikal “Psychotechnology”sebagai “The body of knowledge, theories, and techniques developed for understanding and influencing individual, group, and societal behavior in specified situations,” dan untuk kepentingan praktis, ia mendefinisikannya sebagai “Collection of tools and method to predict and influence human behavior.”

Anastasia Teoriman, lulusan terbaik Psikologi BINUS dengan predikat Summa Cum Laude (dalam Wisuda Emas BINUS, Juni 2014) merupakan satu-satunya alumnus Psikologi BINUS yang berpartisipasi dalam ajang ilmiah internasional kali ini sebagai pemakalah dan presenter. Dalam presentasinya pada hari pertama di Ruang 521, ia didampingi oleh Juneman Abraham sebagai Dosen Rumpun Psikologi Komunitas. Makalah yang dibawakannya berjudul “Intercultural Sensitivity among Private University Students in Jakarta”, dan ditulis bersama Juneman Abraham, dan Johannes A A Rumeser (Dosen Rumpun Psikologi Industri dan Organisasi).

 

Anastasia_Teoriman Anastasia_Teoriman2

 

 

Tasia, panggilan akrab Anastasia Teoriman, memaparkan dengan lantang dan fasih bahwa kepekaan antar budaya (intercultural sensitivity; ICS) merupakan salah satu variabel penting, yang dapat dipelajari dan dikembangkan, yang berperan dalam meramalkan survival dan kesuksesan lulusan perguruan tinggi Indonesia di dunia kerja dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community) yang akan dimulai 2015 mendatang. ICS terdiri dari 6 (enam) tahapan sebagai berikut: Denial, Defense, Minimization, Acceptance, dan Integration. Dengan mengaplikasikan Development Model of Intercultural Sensitivity (Bennett, 2004), penelitian empiris Teoriman, Abraham, dan Rumeser (2014) memerlihatkan bahwa berdasarkan komparasi ICS antar mahasiswa sejumlah perguruan tinggi swasta di DKI Jakarta, mahasiswa dari perguruan tinggi yang tidak berbasiskan agama tertentu lebih maju dalam tahapan ICS-nya daripada mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi yang berbasiskan agama tertentu. Meskipun demikian, basis agama bukan merupakan satu-satunya faktor eksplanatori-diskriminan dalam hal ini. Kemajuan dalam tahapan ICS pada mahasiswa perguruan tinggi yang tidak berbasiskan agama tertentu tersebut juga ditunjang oleh lingkungan fisik, kurikulum serta aktivitas yang diselenggarakan secara sengaja oleh perguruan tinggi itu yang dapat memfasilitasi pengembangan ICS. Dalam konteks psikoteknologi, intervensi dalam ketiga hal tersebut merupakan hal yang direkomendasikan bagi perguruan tinggi yang ingin meningkatkan ICS komunitasnya. Artikel hasil penelitian ini akan diterbitkan dalam Special Issue of Modern Applied Science (ISSN 1913-1844).

Partisipasi Tasia, yang juga berulangtahun pada 1 September, merupakan salah satu wujud konkret keterlibatan alumni dalam kegiatan yang menandaskan komitmen BINUS dalam pengalaman dan eksposur internasional seturut dengan visi BINUS untuk menjadi World-class University in continuous pursuit of innovation and enterprise.

Written by juneman in: Binusian |
Aug
29
2011
0

Masalah Kesehatan Jiwa Indonesia Dalam Perspektif Multidisiplin

Pada 2007, saya menjadi salah seorang Panitia dalam sebuah Acara Nasional yang diselenggarakan oleh Jejaring Komunikasi Kesehatan Jiwa Indonesia (JEJAK Jiwa, Ketua: dr. Pandu Setiawan, Sp.K.J.). Acara ini antara lain terdiri atas Round Table Discussion yang membahas persoalan kesehatan jiwa dari berbagai profesi terkait. Bersamaan dengan acara ini juga telah diluncurkan Indonesian Journal of Mental Health, “ATARAXIS, dalam mana saya menjadi salah seorang anggota dewan penyuntingnya. Baru-baru ini (akhir Agustus 2011) saya menyadari bahwa sangat disayangkan apabila notula acara ini hanya tersimpan dalam folder maya saya begitu saja. Mengapa? Karena isi diskusi ini sangat menarik dan interdisiplin. Sejauh saya ketahui, sangat langka adanya sebuah momen perjumpaan di mana komunitas psikologi, psikiatri, pekerja sosial, dan lain-lain berkumpul dan berdiskusi semendalam ini dan memunculkan urgensi untuk memiliki sebuah jejaring interdisiplin yang berkesinambungan bahkan memiliki keinginan bersama yang kuat membuat aksi konkret dalam rangka kesehatan jiwa di Indonesia. Sayang, memang, bahwa belum ada tindak lanjut dari isi diskusi ini yang signifikan sampai dengan hari ini. Namun demikian, isi diskusi ini menurut hemat saya sangatlah inspiratif dan saya harapkan dapat berguna buat kawan-kawan pembaca blog ini.

 

Juneman Abraham

Social Psychologist

 

 

Round Table Discussion

“THE DEMAND ON SOCIAL LEARNING”

Jakarta, 26 Oktober 2007

Moderator:

 

Rule-nya hanya saling tenggang rasa dalam sesi ini. Ada 3 orang pembicara di depan yang akan berbagai pengalaman terlebih dahulu sebelum diskusi dimulai. Konteks RTD ini menantang semua peserta untuk ’membaca’ kembali citra dari kesehatan jiwa. Ketiga orang pembicara diminta untuk merepresentasikan wilayah-wilayah social distress, yang kelihatannya akan memegang peranan penting dalam dinamika diskusi ke depan. Sebetulnya pada perencanaan kita ingin ada wakil dari Aceh, Yogya, dan wilayah pasca konflik seperti NTB. Sayang waktunya sempit untuk mengadakan persiapan para pembicara itu.

Untuk saat ini, tiga pembicara yang telah siap membagi pengalamannya adalah:

  1. Mama Aleta, baru mendapat award. Berjuang mengorganisir masyarakat-masyarakat adat yang tinggal dalam wilayah yang sangat luas. Dia bekerja dari satu lokasi ke lokasi lain dengan cara berkuda. Dia bersama masyarakatnya mencoba menyelamatkan kehidupan sumber-sumber air yang mengalir dari batu marmer. Dia menyatukan kepala-kepala suku yang sudah bercerai-berai untuk mempertahankan lingkungan alam mereka. Perjuangannya masih terus berlanjut sampai sekarang. Belum menang. Dan saat ini terpaksa dipisah dari suami dan anak-anaknya agar mereka terlepas dari ancaman. Saat ini bisa dikatakan dia semacam development refugee.
  2. Winston Neil Rondo, yang sebetulnya saat ini sedang dalam keadaan susah, karena anaknya selama 4 bulan sakit jantung dan dirawat di RS, namun masih mau menyempatkan diri datang ke sini. Krisis di perbatasan Timor Timur. Dia menjadi relawan CIS, menangani ekses pengungsi di wilayah Tim Tim Barat. Persoalannya tidak pernah selesai, dan mendalam. Di sana banyak perempuan menjadi korban kekerasan, dll.
  3. Tyas dari Atma Jaya, akan mengemukakan cerita wilayah distress dalam konteks urban. Akan mengetengahkan peta permasalahan dari dinamika sosial wilayah kota yang rumit.

Jadi, pertama-tama ketiga kawan ini akan menuturkan pengalamannya. Setelah itu kemudian akan dibuka RTD. Setengah jam sebelum kegiatan ini berakhir, ketiga kawan ini akan memberikan komentar balik terhadap diskusi kita.

Mama Aleta

Cerita pengalamannya selama ini Mama Aleta banyak melakukan kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan. Selama ini Mama Aleta telah mendampingi masyarakat adat di 67 desa yang termasuk dalam empat kecamatan di Mulo, yang merupakan sebagian hulu NTT, jantungnya NTT. Bila dirusak Mulo ini, NTT akan mengalami kesulitan hebat.

Pembangunan memang baik, tapi bagi rakyat ini merupakan penderitaan. Bagi orang yang mau mencari keuntungan, pembangunan ini bagus, tapi bagi rakyat tidak. Pada tahun 1996, ada kegiatan penambangan satu gunung batu. Ini merugikan masyarakat yang berada di hulu maupun di hilir, karena sumber air keluar dari batu. Di atas batu itu ada hutan dan tanah-tanah rakyat. Jadi, rakyat menolak penambangan batu marmer.

Setiap gunung batu di sana menampung sumber mata air. Sehingga masyarakat menolak batu itu ditambang, karena sumber mata air akan kering, hutan akan habis, dan binatang musnah, dan akan terjadi erosi, karena tanahnya berpasir dan mudah longsor. Dilihat dari segi adat, sebenarnya nama orang Timor diambil dari batu. Jadi, batu, air, kayu tidak boleh dirusak.

Menurut tokoh adat, mereka selalu memberi simbol tanah, batu itu disimbolkan sebagai air susu ibu, yang digunakan untuk menyusui makhluk hidup. Air dikatakan seperti darah. Jika tidak ada air, semua akan mati. Hutan diumpamakan sebagai rambut. Istilah-istilah ini juga membuat masyarakat menolak tambang.

Pekerjaan ini tidak mudah diakui orang. Karena pemahaman masyarakat adat berbeda, bagi perempuan, lelaki, itu berbeda. Di titik inilah Mama Aleta bekerja, berusaha untuk menyamakan pemahaman, agar kemudian bisa bekerja bersama.

Kita tidak dapat mengandalkan LSM untuk mendapat uang. Sehingga untuk mengorganisir, Mama Aleta bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain dengan menggunakan kuda atau jalan kaki, di kondisi alam yang sulit.

Molo itu paling indah dan subur di Timor. Jadi, masyarakat berjuang melakukan aksi menolak tambang. Tanpa mempedulikan tidak memiliki uang untuk mendukung aksi. Namun dengan keberanian mereka melawan di hutan. Dan karena kurang dana aksinya dilakukan dengan cara menjaga batu, tidur di hutan bersama-sama menjaga batu. Bersamaan dengan itu, kaum perempuan mulai menerobos adat dengan keluar rumah karena merasa harus bekerja bersama untuk menjaga kelangsungan hidup.

Tahun 2000, investor harus keluar dari satu lokasi pertambangan. Tahun 2002, masyarakat mulai merebut tanah, karena penduduk bertambah, tanah sempit, sementara kehutanan mengklaim tanah sebagai tanah negara. Mulailah masyarakat berjuang untuk mengambil kembali tanah. Pada masa itu, Mama Aleta dijadikan tersangka penyerobot tanah kawasan hutan. Status tersangka ini masih melekat pada diri Mama Aleta sampai saat ini. Mama Aleta sempat diproses untuk diajukan ke pengadilan. Dia selalu diancam untuk dibunuh, namun masyarakat selalu datang untuk menjenguknya. Ini karena ikatan di antara Mama Aleta dengan masyarakatnya cukup kuat.

Tahun 2003 masyarakat berhasil mengelola tanah, meskipun belum ada pengakuan legal dari pemerintah. Beberapa lokasi penambangan batu marmer berhenti. Namun masih ada dua yang mulai melakukan kegiatan sekarang. Tahun 2006 mereka mengadakan aksi menolak tambang di Wai Tapan selama satu bulan. Namun pemerintah membangun konflik horizontal, antara masyarakat yang pro dan kontra tambang.

Mama Aleta dengan lima kawan perempuannya menjalani hukuman 5-20 hari tanpa alasan yang meyakinkan selain karena ada konflik yang terjadi tanpa melalui proses pengadilan yang baik. Perlakuan hukum yang tak adil seperti itu banyak diterima oleh masyarakat yang kontra tambang.

Masyarakat selalu protes dan menolak pertambangan, karena mereka tidak memiliki tempat tinggal lain. Kalaupun pindah, masyarakat harus mencari tanah lagi untuk pemukiman dan lahan garapan yang prosesnya memakan waktu yang sudah pasti sangat lama dan sulit.

Saat beberapa ditangkap pada tahun 2006, perempuan mulai mengambil alih melakukan aksi demo. Perempuan lebih banyak bergerak aksi, karena mereka merasa kesulitan, karena setiap hari mereka akan ke kebun 10-15 kali, untuk mengambil kayu, air, umbi, sayuran, merawat tanaman, sehingga mereka merasa kegiatan penambangan akan menimbulkan penderitaan pada mereka.

Selama perjuangan sejak Oktober 2006 sampai saat ini, mereka mengalami banyak penindasan. Ketika aksi di lokasi sendiri, pertahanan masyarakat sangat kuat,  pihak luar, preman tidak dapat masuk. Namun ketika aksi di kantor DPR banyak, masyarakat banyak memperoleh perlawanan dari polisi dan preman. Di jalan di daerah hutan, polisi menjaga jalan sehingga mereka tidak dapat masuk ke kota, mereka tertahan satu hari di hutan tanpa makanan. Mama Aleta menghubungi banyak teman LSM, yang memberi bantuan makanan sekadarnya dan mengundang wartawan datang ke lokasi penahanan sehingga membuat polisi segan menjaga jalan, akhirnya masyarakat dapat lewat dan masuk ke kantor DPRD. Namun selama di kantor DPRD, polisi dan preman melempari, mencuri bahan makanan, mencuri peralatan, dan mengintimidasi mereka. Bila ada yang keluar dari lokasi di depan kantor bupati, resikonya dihajar preman.

Dua orang laki-laki dibacok kakinya, salah seorangnya kemudian dipenjara 8 bulan. Masyarakat menolak, namun mereka lah yang kemudian malah dianiaya. Kejaksaan yang hadir hanya nonton, begitu juga polisi. Banyak yang mengalami kekerasan, dilukai secara fisik, begitu juga dengan ancaman pembunuhan. Bahkan sampai saat ini, Mama Aleta masih diancam oleh Bupati sendiri, dan sulit untuk pulang kembali ke kampung sendiri.

Winston Neil Rondo

 

Bergerak di perkumpulan relawan CISIMA (dulu CIS). Banyak orang yang mengajukan satu pertanyaan untuk soal pengungsi yang masih belum selesai, padahal waktu sudah berjalan 8 tahun, dan banyak dana dari organisasi luar maupun dalam negeri yang sudah disalurkan pada para pengungsi ini. Sampai saat ini masih ada 35 ribu jiwa yang masih tinggal di kamp pengungsi, meskipun pada 31 Desember 2001 Indonesia telah mengumumkan mengakhiri pengungsian.

Ada dua contoh kasus yang memilukan dari para pengungsi ini. Lembaga yang mulai bekerja tahun 1999 ini bekerja dengan 30 orang relawan. Di salah satu kamp yang semula merupakan sebuah lapangan luas, selama bulan November-Desember yang merupakan musim hujan, dalam satu minggu terjadi 30-40 kasus kematian balita. Di salah satu tenda tinggal seorang janda yang memiliki lima anak. Namun, dua anaknya, satu per satu harus dilepas dalam masa perjalanan ke Kupang, sebelum menetap di kamp pengungsian. Pada musim hujan itu, dia harus kehilangan dua anaknya lagi akibat diare. Yang mengenaskan, ketika seorang anaknya meninggal, mayatnya tidak dapat langsung dikubur dan harus menunggu lebih dari dua hari, sementara anak yang lain sedang sekarat. Tak ada yang mampu menolong, karena keadaan saat itu membuat semua relawan juga mengalami stress luar biasa. Akses kemanusiaan sangat terbatas saat itu. Ketika itu milisi Indonesia menguasai kamp.

Pada tahun 2002, Winston tinggal di gereja bersama istri. Tepat di seberang jalan terdapat satu kamp pengungsian. Hampir setiap minggu di situ terjadi kecelakaan dengan korban anak-anak, saking semrawutnya keadaan di situ. Sekitar dua bulan yang lalu, terjadi satu kasus tabrakan dengan korban seorang anak. Sesungguhnya sewaktu tabrakan, si anak masih hidup. Namun, setelah terjadi kecelakaan, orang tua si anak sibuk tawar-menawar ganti rugi dengan pelaku. Ketika disepakati dan dibayar Rp300 ribu, si anak meninggal. Di sini terjadi persoalan psikologi yang membuat orang waras bertanya-tanya mengenai perilaku orang tua. Namun sesungguhnya, jika ditelaah kondisi orang tua yang tanpa pekerjaan dan tanpa harapan hidup, membuat hati menjadi keras dan tega menjadikan penderitaan sebagai ajang komersil.

Ada 3 hal pokok yang perlu disoroti untuk mengamati persoalan psikososial di Timor Barat ini:

  1. Aktor dalam proses ini ada tiga, yaitu pengungsi, masyarakat lokal, dan pihak yang memiliki perhatian terhadap persoalan pengungsian ini. Para pengungsi ini secara umum terbagi dua dalam mengidentifikasikan kepengungsian dirinya: pertama, ada yang tidak suka dikatakan sebagai pengungsi; kedua, ada yang betul-betul senang mengaku sebagai pengungsi, karena masih berharap mendapat banyak bantuan dan juga karena ada pandangan bahwa pengungsi ini terkesan heroik. Aktor kedua, yaitu masyarakat lokal. Aktor ketiga, para pemerhati persoalan pengungsi, yang keran pada umumnya pertama kali menemui persoalan pengungsi, kemudian malah tidak jarang terjadi penumpukan masalah yang pada umumnya disebabkan oleh simpang siurnya data dan penanganan bantuan.
  2. Pola hubungan. Pengungsi dan masyarakat lokal memiliki sifat sosial sendiri yang dalam interaksinya kemudian saling mempengaruhi. Yang perlu diketahui pada umumnya kekuatan militer kuat di kamp pengungsian sangat kuat. Persoalan lapisan kelompok-kelompok masyarakat, yang diatur sedemikian rupa sehingga bagian terluar terdiri dari polisi dan militer, membuat ketidakadilan pembagian bantuan kemanusiaan. Bahkan saking kuatnya pengaruh militer di kamp pengungsian ini membuat muncul persoalan baru setelah pengungsian, yaitu persoalan kemandirian. Pola hubungan yang terjadi bisa bersifat struktural dan fungsional. Pada pola hubungan struktural sering timbul konflik, karena alat yang digunakan untuk memperkuat pola ini adalah kekerasan.
  3. Pemenuhan kebutuhan hidup. Ruang pemenuhan kebutuhan hidup semakin sempit dengan masuknya pengungsi. Lahan pertanian semakin sempit karena digunakan untuk memenuhi kebutuhan bermukim pengungsi. Demikian juga dengan pepohonan dan air. Kebanyakan hidup dalam keterbatasan. Kondisi ini membuat pengungsi mudah dieksploitasi dan dimanipulasi pihak-pihak yang terlibat dalam perebutan kekuasaan. Dalam situasi seperti ini, yang paling menjadi korban adalah kaum perempuan.

Dalam kamp-kamp pengungsian, banyak terjadi kasus pemerkosaan terhadap perempuan secara berulang, baik di kamp masyarakat, maupun kamp pemerintah. Dan bagi kaum perempuan, setelah menjadi korban perkosaan, dia masih harus menjadi korban akibat selalu dicap dengan perkataan-perkataan negatif atau diperlakukan rendah oleh masyarakat. Berbeda jika laki-laki yang menjadi korban kekerasan. Misalnya, pemukulan terhadap satu laki-laki akan dianggap sebagai persoalan bersama, persoalan kolektif.

Ini berpengaruh besar pada rendahnya kualitas hidup masyarakat akibat hubungan strukturalis yang kental dengan patriarkis.

Tyas

Berbeda dengan panelis sebelumnya, Tyas akan menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan penelitian-penelitian Atma Jaya.

Sebetulnya perlu dilakukan pemetaan beberapa masalah sosial seperti panelis sebelumnya yang dihubungkan dengan diri kita, ini berkaitan dengan masalah kesehatan jiwa. Kebutuhan pelayanan masalah kesehatan jiwa ini muncul.

Di sini perlu diasah kepekaan kita pada masalah-masalah sosial. Root terkuat di sini adalah sosial power dan super power yang merasa berhak mendapat kekuasaan. Dari masalah perbedaan power itu tampak dalam penanganan bencana alam. Hampir seluruh bagian Indonesia rentan bencana alam. Dan ternyata penanganan yang umum terjadi, uang sudah banyak diberikan namun penanganan tercecer. Tidak merata dan tidak selesai.

Berkaitan dengan pengungsi, tarikannya sangat besar dengan kesehatan jiwa. Masalah yang muncul adalah soal secondary trauma, bukan cuma pada korban, namun juga pada orang-orang yang bekerja di wilayah bencana. Shock bisa menimpa para pekerja sosial. Ini sering terabaikan, karena kita sering merasa bahwa pekerja kesehatan terkuat dalam hal kesehatan jiwa.

Masalah lain yang serius adalah migrant workers. Para TKI, baik yang dari luar maupun dari rural ke urban, mengalami trauma juga. Beberapa TKI merupakan korban kekerasan, sehingga mengalami trauma berat. Permasalahan ini sangat luas, termasuk pada kebijakan pemerintah. PR kita sangat komplikasi.

Soal gantung diri sangat serius, karena semakin lama semakin tinggi intensitasnya. Belum ada pengelolaan secara komprehensif untuk melakukan deteksi dini terhadap persoalan ini. Belum ada inisiatif dari para psikolog untuk duduk bersama.

Soal urban issues, berkaitan homeless, street children, dll yang akhirnya bermuara pada kesehatan jiwa. Banyak orang di jalanan yang ketika kecil menjadi korban, saat dewasa akhirnya menjadi pelaku kekerasan.

Soal narkoba juga menjadi masalah lain.

Berkaitan dengan ekologi, ada stress yang luar biasa pada kelompok marjinal di daerah urban. Misalnya, masyarakat yang ada di pinggiran sungai, tidak tahu bagaimana cara menjalani hidup sehat. Kemudian akhirnya malah berkontribusi menjadi penyebab lingkungan tidak sehat.

Persoalan benturan budaya. Salah satu contohnya adalah yang namanya kesurupan massal. Menurut penelitian di Atma Jaya, persoalan psikis kesehatan mental yang sangat serius yang terjadi secara masal. Atau merupakan efek domino.

Secara nasional, ada semacam degradasi moral terhadap wawasan kebangsaan. Kita bersikap skeptis terhadap berbagai permasalahan sosial, misal korupsi dsb. Bila dibiarkan ini akan menjadi persoalan mental yang luar biasa. HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) memberi perhatian yang sangat serius berkaitan dengan wawasan kebangsaan yang sangat kritis, di mana egoisme semakin meninggi. Kasus dua orang panelis sebelumnya cukup baik untuk menjadi counter kasus.

Kita perlu banyak belajar dari kasus-kasus sosial dan bagaimana mengatasinya. Untuk itu, kita perlu duduk bersama secara setara tanpa klasifikasi. Tentunya, ini tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Karena masing-masing memiliki keterampilan khusus. Untuk masalah kesehatan jiwa dalam scope lebih besar ada kebijakan pemerintah. Posisi psikolog di mata pemerintah sangat bermasalah, tidak ada pengakuan dari pemerintah. Tidak ada tunjangan profesi untuk psikolog. Dalam peraturan pemerintah, posisi psikolog disetarakan dengan paranormal. Psikolog dihargai rendah oleh pemerintah.

Kasus-kasus sosial membutuhkan banyak pekerja sosial dalam penanganannya. Namun pendidikan untuk menjadi social worker tidak ada. Seolah-olah ini merupakan pekerjaan tidak tetap, sebagai batu loncatan. Dan bukan profesi. Tidak ada pembekalan yang cukup bagi pekerja sosial yang akan terjun dalam tugasnya. Kasus-kasus sosial butuh pembekalan yang tidak main-main untuk para pekerja sosial dari profesi psikolog dan psikiater.

Saya menantang teman-teman di sini untuk memikirkan apa yang harus kita lakukan.

Round Table Discussion

 

Diskusan 1:

Pernah mengikuti simposium pengajar, dokter dan psikolog, dan dalam pertemuan itu sempat datang Butet Manurung yang bekerja mengajari anak-anak orang rimba. Dia belajar 7 bulan untuk memahami apa yang sesungguhnya diinginkan oleh masyarakat lewat pendidikan.

Seperti inilah semestinya pemerintah bekerja, yaitu dengan memberi perhatian terlebih dahulu, dan mencermati serta mempelajari apa yang sesungguhnya diinginkan masyarakat melalui pendidikan.

Contoh lain seperti yang dikatakan Sartono Mukakdis mengenai satu fase pendidikan dan satu fase pengajaran. Dan sebagian besar anak yang seharusnya mendapat fase pendidikan malah mendapat fase pengajaran.

Jadi, perlu ditanyakan ulang, apakah yang dilakukan oleh layanan masyarakat apakah sudah benar-benar merupakan keinginan masyarakat? Seperti kejadian di NTT yang diceritakan Mama Aleta, itu menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah di sana bukan merupakan keinginan masyarakat.

Jadi sebagai service provider, kita harus empati terhadap apa yang sebenarnya dibutuhkan dan dikehendaki oleh masyarakat dari kita.

Dan sebagai tanggapan terhadap keluhan psikolog yang belum benar-benar diakui statusnya oleh pemerintah, dalam waktu yang tidak terlalu lama tenaga psikologi klinis akan menjadi tenaga kesehatan.

Diskusan 2:

Selama ini, para psikolog dan psikiater dalam menghadapi berbagai masalah bencana, trafficking, dll, dituntut untuk berbuat banyak. Namun, beberapa teman sudah merasa jenuh dengan kegiatan-kegiatan ini yang programnya hanya memberikan training atau asesmen, setelah itu selesai. Itu hanya membuang-buang uang dan tenaga serta waktu.

Menurut saya, perlu ada satu payung yang memiliki power dan uang, sehingga setiap kegiatan jelas dan hasilnya padu. Saya mengajak, apakah mungkin kita punya mental health institutional secara nasional di sini. Sehingga kemudian gerakan yang berkaitan dengan kesehatan jiwa ini, mulai dari political will hingga gerakan di lapangan akan menjadi gerakan yang padu.

Diskusan 3:

Saya seorang pekerja sosial, dan bagi saya penting adanya satu institusional untuk pekerja sosial. Saya pernah bekerja di Papua, dan saya banyak menemukan kekerasan rumah tangga di sana. Saya bertindak sebagai konselor untuk berbagai konflik rumah tangga. Setelah itu, saya masuk ke IOM, dengan menjalani training terlebih dulu. Di awal menjadi pekerja sosial, seperti banyak orang, saya merasa posisi pekerja sosial ini merupakan profesi terendah. Tapi setelah 7 tahun, lambat-laun saya merasa bangga dengan pekerjaan ini.

Di IOM, kami menampung berbagai masalah yang dialami para demonstran. Dan dalam pekerjaan-pekerjaan seperti itu, kami tidak memiliki psikiater khusus. Menurut saya, perlu diadakan rekrut bagi pekerja sosial untuk diinstitusikan.

Diskusan 4:

Saya merasa di negara ini psikolog seperti anak tiri.

Mengenai kondisi negara sekarang, beberapa tahun lalu ada pekerjaan membuat UU Otonomi Daerah, karena ada pemikiran bahwa desentralisasi akan membuat penanganan kesejahteraan rakyat akan lebih baik. Saat diberlakukan, ternyata tidak ada perubahan dari sebelumnya, bahkan suasananya makin ricuh. Apa yang terjadi sebetulnya di negara ini?

Lalu mengenai pekerjaan kita, sebaiknya kita cari pilot project di satu wilayah, yang ke depannya nanti akan berkembang ke wilayah-wilayah lain. Sebagai tambahan pemikiran, guru sebetulnya bisa dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan-pekerjaan konseling.

Diskusan 5:

IOM punya program selain tsunami, counter trafficking, dan irregular migrant. Irregular migrant ini adalah imigran dari negara lain yang mencari suaka politik. Pekerjaan-pekerjaan kami dekat sekali hubungannya dengan masalah kesehatan mental. Kami melakukan pendekatan individual secara holistik dari segi fisik dan mental. Kami menggunakan skala Hamington Scale. Dari sini bisa ditentukan siapa yang bisa mendampingi orang itu selanjutnya, apakah cukup dengan pekerja sosial, psikolog atau bahkan perlu psikiater. Setiap klien juga akan memperoleh inform concern setelah diberi penanganan pada satu masa tertentu. Untuk para migran, kami juga mengadakan kegiatan psiko-sosial. Jadi, menurut saya, bila berbicara mengenai kesehatan, termasuk di dalamnya adalah kesehatan jiwa, bukan melulu kesehatan fisik.

Moderator:

Setelah mendengar panelis dan lontaran-lontaran diskusi, saya pikir di sini masih ada gap antara pekerjaan-pekerjaan dalam kasus-kasus tertentu dengan profesi khususnya. Ada satu soal yang mungkin belum dipahami dari cerita pengalaman dua panelis tadi, yaitu antara bagaimana kenyataan pekerjaan mereka di lapangan berhubungan dengan profesi khusus kita. Mungkin ini salah tangkap, tapi tolong direspon.

Diskusan 6:

Berbicara soal kebangsaan. Sebagai refleksi diri, dalam beberapa hal kecil, seperti misalnya mengenalkan lagu daerah kepada anak, sekarang ini sudah jarang dilakukan orang tua. Dari hal-hal seperti ini dapat diindikasikan penurunan rasa kebangsaan dari masa ke masa. Kasus lain, saya pernah menemui sekelompok pemuda asing yang menyengaja datang ke Bandung hanya untuk masuk ke gedung Asia Afrika. Sementara yang biasanya menjadi perhatian saya di Bandung ini adalah pusat perbelanjaannya. Dan ini membuat saya tidak pernah mengenalkan anak saya sendiri pada berbagai informasi sejarah kemerdekaan bangsa.

Bila kita perhatikan, selama ini demo yang paling diperhatikan oleh pemerintah adalah demo yang dilakukan oleh PGRI. Karena tak lama setelah berdemo, kemudian diadakan peningkatan-peningkatan di bidang pendidikan.

Diskusan 7:

Saya sebenarnya bingung mengenai kaitan saya dengan Mental Health. Selama dua hari ini saya melihat bahwa ternyata mental health ini tidak menjadi prioritas di negara Filipina. Apakah ini juga persoalan di Indonesia?

Menurut saya, semua profesi seperti psikolog, guru, dan lain sebagainya ini harus bekerja secara seirama. Dan yang utama dilakukan adalah bagaimana bersama-sama memberi pemahaman kepada pemerintah bahwa soal mental health ini merupakan persoalan besar bagi keberlanjutan bangsa.

Berbicara tentang pekerja sosial, sebetulnya sudah ada beberapa pendidikan formal, misalnya STKS di Bandung. Dan sebetulnya pekerja sosial ini cukup diperhatikan oleh pemerintah, buktinya di Depsos ada banyak pekerja sosial yang merupakan PNS. Untuk ke depan sebetulnya diharapkan pekerja sosial ini tersebar di banyak lembaga, baik sekolah, RS, dll.

Diskusan 8:

Menanggapi Ibu Tyas, tentang beberapa bidang yang menjadi masalah mental health. Saya kuatir berbagai masalah ini menjadi tidak menarik isunya, baik bagi masyarakat maupun kalangan profesional. Sehingga tidak banyak yang mau menanggapi. Sebetulnya saya berharap, bahwa persoalan-persoalan ini tidak hanya dibicarakan, namun juga ditangani sebagai persoalan mental health.

Ada baiknya para profesional untuk terjun langsung dan melihat persoalan di masyarakat. Kita harus masuk ke dalam kelompok-kelompok marjinal yang rentan terhadap persoalan jiwa ini, sehingga dapat lebih mengenal kebutuhan mereka. Saya rasa, itu yang masih kurang dilakukan sampai saat ini.

Saya coba melihat, ada beberapa faktor yang menjadi fokus masalah mental health ini. Ada faktor kemiskinan, bukan hanya miskin secara ekonomi namun juga miskin terhadap berbagai akses kehidupan, seperti yang dialami oleh para pengungsi dan masyarakat pedalaman.

Kemudian persoalan kelompok-kelompok yang menyatakan diri sebagai kelompok yang punya kekuatan, seperti para pekerja sosial, psikolog, dan psikiater yang bekerja untuk menangani kesehatan jiwa, justru pada kenyataannya rentan terhadap masalah kesehatan jiwa. Menurut saya ini membuat persoalan menjadi semakin rumit.

Diskusan 9:

Saya tertarik pada cerita pengalaman dua panelis yang mengalami periode-periode sulit.

Dalam pengalaman saya, kata-kata jiwa sangat abstrak maknanya dan kurang dipahami masyarakat. Saya pernah bertanya pada 200 psikiater muda mengenai apa yang mereka ketahui tentang jiwa, dan jawabannya adalah kebingungan. Apalagi untuk masyarakat awam.

Jadi, kata jiwa ini perlu dijelaskan secara lebih mendalam. Ada kecenderungan bahwa saat berada di daerah konflik, akan terjebak penyakit, disorder. Padahal sesungguhnya sederhana saja untuk menjelaskan jiwa itu, bukankah untuk tersenyum itu dibutuhkan jiwa.

Persoalan pengungsi di Tim Tim tadi dikatakan tidak akan pernah selesai. Mungkin memang tidak akan selesai. Karena memang terdapat kerumitan di sini. Kemudian juga untuk Mama Aleta yang sebetulnya keinginannya sederhana saja, yaitu ingin mendapat rasa sayang, rasa aman dalam hidupnya. Namun ternyata di lapangan dengan berbagai aktor dan kepentingan serta kebiasaan, keinginan sederhana ini menjadi rumit.

Diskusan 9:

Menurut saya, kedua panelis ini merupakan pejuang, karena masing-masing memiliki kepedulian terhadap masyarakat di daerahnya. Mereka peduli untuk memikirkan masa depan generasinya. Rasa kepedulian seperti inilah sebetulnya yang semakin terkikis di mana-mana saat ini, terutama di kota-kota. Dan ini sebenarnya merupakan masalah bagi kesehatan jiwa.

Dalam hal profesi yang berkaitan dengan kesehatan jiwa, ada perawat kesehatan jiwa di sini yang perlu diperhatikan. Para perawat merupakan kelompok yang sebenarnya termarjinalkan. Walaupun secara pendidikan sudah tinggi, namun dari pemerintah tidak ada bantuan pembiayaan untuk pendidikan S1 dan selanjutnya bagi perawat.

Di masyarakat sekitar kita masih banyak penderita kesehatan jiwa yang penanganannya dengan cara dipasung, padahal domisilinya dekat dengan RSJ. Ini satu persoalan sesungguhnya. Dengan begitu banyak persoalan, kita perlu memikirkan bagaimana masalah kesehatan jiwa ini menjadi persoalan bersama, baik bagi dokter, petugas sosial, maupun psikolog dan psikiater.

Diskusan 10:

Bila diperhatikan kegiatan sehari ini, sesi pertama pagi tadi perbincangannya lebih di sisi psikologi, sementara sesi kedua lebih membicarakan dampak sosial yang menimbulkan masalah psikologi. Di sini ada keinginan antara pekerja sosial, psikolog dan psikiater untuk bekerja bersama. Sebenarnya, sejak dulu di RSJ ada kewajiban, ada peran psikososial. Sekarang ini RSJ tidak lagi custodial, tapi biomedikal-psikososial. Saya sendiri sebetulnya kebingungan, saya ingin berbuat, tapi bagaimana caranya.

Saya akui, saya masih custodial. Pada tahun 1999, terjadi masalah sosial yang berdampak psikologis, ada masalah kerusuhan etnis. Pada saat itu semua berharap RSJ bisa berbuat sesuatu. Saya sampai pada satu pencerahan, lewat buku Community Psychiatry. Menurut saya, Pak Kadir hebat sampai bisa menurunkan board dari RS. Lewat pengalaman ini, akhirnya saya mengenal assertive community treatment (ACT). Ini satu alat yang bisa membuat saya mampu bekerja di komunitas. Melalui kesempatan ini, saya ingin mengajak kawan-kawan RSJ untuk bekerja dengan pendekatan ACT ini.

Diskusan 11:

Semakin lama saya merasa bertambah bingung. Barangkali kita perlu menanggalkan semua seragam kita untuk berani bergerak bersama dan menghadapi tantangan di depan kita. Barangkali di sini tidak hanya sekedar wacana-wacana yang dibicarakan, namun juga harus menjadi realitas untuk bisa dikerjakan.

Diskusan 12:

Saya mengapresiasi dua panelis di depan tentang realita di daerah. Saya pikir sudah saatnya kita harus mulai membicarakan problem solving, dan cukup berbicara tentang berbagai masalah kita. Ada banyak masalah-masalah kesehatan jiwa di sekitar kita yang sebenarnya menakutkan dan harus diselesaikan. Kalau ada yang mau aksi, apa yang harus dilakukan secara konkrit. Namun, sebagai pekerja kesehatan yang sebetulnya seharusnya bersikap paling waras, sebaiknya jangan melakukan hal yang anarki. Jika aksinya kemudian kita ingin memunculkan ikon, siapa dan seperti apa ikonnya. Atau yang terakhir adalah memformulasikan, jangan sekedar mencatat dalam bentuk notulensi yang kemudian ujung-ujungnya malah disimpan. Kita harus membicarakan apa yang harus dilakukan bersama segera.

Diskusan 13:

 

Kita harus melebur bersama dan punya terminologi yang jelas dalam bidang kita. Seperti pengalaman penelitian kami, yang paling mendasar diputuskan kuesioner apa yang digunakan agar lebih mudah diterapkan pada masyarakat oleh para pekerja di lapangan. Sesungguhnya ada banyak kesulitan dalam penelitian di lapangan terhadap masyarakat yang malah mengurangi kualitas ilmiah penelitian. Yang paling ekstrim kemudian berpikiran untuk menghilangkan saja ilmu jiwa dan menggunakan biomolekul atau biomedis untuk mendiagnosa masyarakat berkaitan dengan mental health.

Kemudian, masukan untuk jurnal baru, supaya ada akreditasi dari satu lembaga, entah dari LIPI atau DIKTI untuk jurnal ini.

Diskusan 14:

 

Zaman dulu hidup susah dengan adanya perang, untuk makan mengalami kesulitan. Tapi dulu, support system-nya bagus, kekeluargaan bagus, hubungan sosial bagus, sehingga kesulitan hidup masih bisa ditanggulangi. Ini yang sulit pada masa sekarang. Dulu pemerintah punya slogan kesetiakawanan sosial. Jadi, menurut saya, sebaiknya kita pikirkan bagaimana cara mendorong kesetiakawanan antar manusia, misalnya dengan mengupayakan berbagai kegiatan dalam hal orientasi spiritual dan seni. Bila kesetiakawanan sudah terpupuk, tentunya masyarakat bisa saling mendukung dalam masa sulit.

Diskusan 15:

Mama Aleta membuat saya hampir menangis melihat kondisinya. Membuat kita bertanya, bagaimana cara membantu Mama Aleta ini? Apa dia akan dipulangkan saja ke Kupang dengan segala kondisinya yang sulit, dan kita pulang ke rumah dengan tanpa beban. Begitu juga dengan Winston. Apa yang harus diperbuat?

Mereka tidak membutuhkan sanjungan atau penghargaan. Yang mereka butuhkan adalah jejaring macam apa yang bisa diberikan pada mereka. Mereka membutuhkan kontribusi yang praksis. Kita tidak perlu berdebat soal terminologi lagi. Jangan karena alasan metodologis kita tidak bicara hal praksis. Saya minta, kita berbicara lebih mengerucut dan konkrit. Pak Pandu tadi meminta kita menjadi simpul dari berbagai jejaring. Jadi, sekarang masih ada waktu bagi kita untuk berbicara lebih mengerucut dan praksis tentang apa yang akan kita lakukan.

Moderator

Menyambung pembicaraan terakhir, dugaan saya, sekarang ini sebetulnya kita bisa sampai jadwal tentatif yang sederhana. Misalnya, saya bisa tahu telepon Mama Aleta dan di mana menemuinya, sehingga setiap orang kemudian akan dapat menentukan sendiri bantuan apa yang bisa diberikan pada Mama Aleta dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Namun saya mengusulkan dua wilayah kegiatan berdasarkan desain yang orang-orang yang diundang dan hadir, yaitu psikolog dan akademik. 99% sebetulnya berasal dari profesi psikolog dan psikiater.

  1. Social distress sebagai sebuah wilayah penekan yang bisa ditarik kemana-mana. Kita punya satu wilayah pencarian untuk mendorong penelitian-penelitian yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga kemudian didapat, apa saja yang menjadi wilayah social distress. Ini bisa kita coba selama 2 semester. Jurnal yang telah kita terbitkan sekarang ini bisa memberi insentive untuk support penelitian seperti ini. Hasilnya kemudian akan diikat dalam semacam reasearch report. Sehingga orang-orang bisa melihat wilayah-wilayah social distress yang ditemukan.
  1. Wilayah penelitian homelessness. Dimensi ini di Indonesia cukup luas. Pertanian menjadi bangkrut orangnya karena urbanisasi. Ini persoalan perubahan sosial. Sekian juta orang mengalami gangguan kesehatan jiwa karena persoalan ini. Batasnya sangat luas, bukan hanya di wilayah urban. Dalam dimensi ini banyak terjadi eksodus besar-besaran dan wilayah pemukiman dihancurkan tanpa diganti.

Kalau dua wilayah ini bisa jadi wilayah contoh, risetnya kolaboratif. Misalnya, saya mengundang kawan-kawan di Atmajaya untuk membicarakan dua wilayah ini sebagai long term reasearch agenda di Indonesia, umpamanya selama 5 tahun.

Ini penawaran dari kita. Seandainya ada ide konkrit lain yang lebih sederhana, silahkan diungkapkan. Jejak Jiwa tidak sama dengan national institutional health, namun merupakan jejaring. Sehingga merupakan simpul dari berbagai lembaga dan profesi yang masing-masing punya power. Sepertinya kita ingin melakukan terlampau banyak, namun kapasitas kita tidak ada. Namun sebetulnya sederhana saja, pilih pekerjaan yang sesuai dengan kapasitas kita.

Road map merupakan percobaan kita untuk membuat mapping mengenai apa yang bisa kita lakukan sesuai dengan kapasitas kita. Kemudian silakan untuk membicarakan secara konkrit tentang desain proposal penelitan kita.

Diskusan 16:

 

Sudah jelas sekarang, tidak perlu lagi kita bicara soal psikiater dsb. Namun sebagai manusia, kita bisa berbuat sesuatu. Kegiatan-kegiatan Jejak Jiwa ini adalah investasi untuk masa mendatang, bukan untuk kita.

Diskusan 17:

Sebetulnya ketika Pak Pandu, dkk menyusun kerangka acuan, tentunya sudah dengan pertimbangan. Mas Yoyok sudah mulai mengusulkan membuat satu riset. Kami sangat peduli soal ini. Bagaimana kalau kita mulai dari satu gugus kerja. Karena kita semua terdiri dari berbagai profesi, baik psikolog, social worker, psikiater, akademisi, dll.

Diskusan 18:

Dalam kondisi Mama Aleta, bayangan saya masyarakatnya penuh dengan depresi. Pada masa itu apakah ada orang yang membantu? Beranjak dari situ, mungkin Mama Aleta bisa memikirkan dan membawa oleh-oleh kira-kira apa yang bisa dilakukan mengenai persoalan ini. Masukan-masukan apa yang bisa dibawa Mama Aleta untuk membentuk kelompok-kelompok agar lepas dari masalah depresi itu di sana.

Diskusan 19:

Kita memasuki acara 2 hari ini sudah lebih terorganisir, dengan berhasil menerbitkan jurnal Ataraxis. Banyak sekali kekurangan dalam kegiatan yang sudah dilakukan, namun sudah ada buktinya. Kalau kita selesai kegiatan hari ini, tentu harus ada follow-up-nya. Ada beberapa alternatif action plan. Sebaiknya ada komitmen dari peserta untuk mengikatkan diri sebagai simpul jejaring. Ini menjadi saran kita untuk melangkah lebih jauh. Tak mungkin kita menyusun action plan tanpa terhubung terlebih dahulu. Setelah ada komitmen, kita bisa membuat electronic conference. Di situ kami akan melempar action plan untuk melangkah bersama, apa yang akan dilakukan untuk menghadapi persoalan-persoalan yang muncul. Konferensi itu akan menghasilkan tindakan-tindakan. Setiap tindakan itu akan kita olah dan menjadi isu dari jurnal-jurnal selanjutnya, untuk kemudian dilempar kembali dan memperoleh masukan, kemudian dievaluasi.

Diskusan 20:

 

Kemarin saya baca majalah dari WHO tentang Health Promoting School. Mungkin kita bisa melakukan Mental Health Promoting School. Saya merasa kita terlalu banyak bekerja di RS, dan saya senang diajak kemari sehingga bisa bekerja bukan hanya di klinik saja. Sehingga pekerjaan kita bisa lebih meluas, agar kemudian hari Indonesia Sehat bisa terwujud. Apapun yang bisa dilakukan oleh kita masing-masing kemudian disebar lewat e-mail, dan menjadi contoh buat yang lain-lain.

Diskusan 21:

 

Sangat luas pembahasan di sini. Kita semua setuju dan menghargai apa yang dilakukan Jejak Jiwa sampai saat ini. Saya rasa semua ini diperlukan selain berbagai kegiatan klinis di bangsal-bangsal RS.

Sebagai psikiater, saya merasa ada sedikit kecemburuan terhadap psikiater yang seolah menjadi profesi nomor satu di bidang ini. Padahal, masalahnya sebetulnya adalah soal birokrasi dan pandangan yang salah.

Cerita pengalaman yang dikemukakan oleh panelis sesungguhnya menggambarkan bahwa persoalan non klinis jauh lebih besar dari masalah klinis. Sebetulnya di sekitar kita banyak terjadi masalah non klinis juga. Penyelesaian masalah mental health seperti ini tidak bisa diselesaikan oleh satu profesi, namun perlu pemikiran bersama untuk menyelesaikan semua persoalan ini.

Gangguan kesehatan jiwa tidak dapat dideteksi secara fisik. Belum ada alat untuk itu sampai saat ini. Penelitian merupakan satu hal yang dapat kita lakukan untuk menciptakan instrumen tentang mental health ini. Kita butuh task force yang bekerja terus-menerus, secara suka rela. Di situ kekuatan kita, mewakili berbagai profesi dan institusi yang berbeda, dari representasi yang berbeda. Bukan aktivitas yang berbau penelitian, yang sebetulnya lebih kompleks.

Kalau berbicara soal kekuatan kita sebagai satu pressure group, sesungguhnya penerbitan jurnal ini sudah baik. Namun harus ada juga pengamatan-pengamatan dan kajian-kajian terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan mental health. Seperti halnya yang dilakukan LSM. Menurut saya, peniruan kegiatan seperti ini bagus juga dilakukan.

Konkritnya, kita membutuhkan satu working group yang bisa lebih praktis secara rutin membicarakan isu-isu dan mengundang peran aktif yang dinamikanya lebih hidup.

Diskusan 22:

Saya sekedar ingin bertanya, kalau seseorang melakukan persoalan yang berkaitan dengan kriminal, mereka akan mencari pengacara; Persoalan keamanan, mencari polisi; Kalau sakit, mencari dokter. Bagaimana kita menyikapi satu keadaan stress yang sangat tinggi, saya harus pergi ke mana?

Diskusan 23:

Kita sedang mereformasi sistem kesehatan jiwa. Kita melakukan reformasi pelayanan kesehatan jiwa. Kalau seseorang berbau mengalami gangguan kesehatan jiwa, ada leveling di situ. Penanganan penderita ini ada self care, family, komunitas, dst. Pelayanannya berjenjang.

Di Aceh, 40% pasien gangguan jiwa seharusnya sudah di-discharge, setelah dievaluasi. Kita harus melakukan realokasi berbagai resource untuk melakukan ini. Di negara maju, alokasi dukungan untuk kesehatan jiwa sebesar 60-90%. Hanya beberapa penderita tertentu yang ada di RS. Di Aceh alokasi SDM jadi masalah, psikiater tidak punya wewenang untuk menempatkan orang.

Moderator:

 

Ketiga panelis awal diberi kesempatan untuk memberi komentar. Kemudian saya mengusulkan untuk menjaring usulan-usulan yang tadi sudah dilontarkan kawan-kawan.

Mama Aleta:

Saya bingung aktivitas saya dikaitkan dengan sakit jiwa. Pada awalnya saya hanya diminta menyampaikan cerita. Namun, setelah beberapa usulan dari peserta, sudah mulai jelas. Selama ini kita selalu memisahkan kesehatan jiwa dengan lingkungan seperti yang kami alami. Tapi, saya tidak tahu, apakah kita harus terjun langsung seperti yang saya lakukan, atau membuat RSJ. Saya tidak tahu seperti apa yang harus dilakukan.

Pada akhirnya ada ide yang cukup menarik. Saya harap para dokter jangan hanya bekerja di Jakarta, karena di NTT belum ada dokter khusus menangani kesehatan jiwa. Di NTT banyak kasus yang dininabobokan. Kita harus masuk ke dalam NTT, baru bisa tahu. Bukan hanya di daerah bencana, namun juga di NTT. Karena di NTT persoalannya mungkin jauh lebih jahat dibanding bencana.

Winston:

 

Pertama, refleksi sebagai pekerja di daerah post-konflik, bahwa pendekatan pembangunan dan bantuan kemanusiaan masih belum adil, antara yang bersifat pemenuhan fisik maupun kesehatan jiwa. Ketidakadilan ini dilakukan secara bersama. Ini refleksi kami.

Kedua, kalau kita bertanya pada para janda tentang harapannya di masa depan, biasanya mereka menjawab, ’jangan lupakan kami, perlakukan kami sebagai manusia seutuhnya’.

Ketiga, di masyarakat Tim Tim tatkala menyambut teman, kami menerima dengan tangan terbuka. Jadi bapak ibu dari berbagai profesi di sini, panggung bantuan kemanusiaan ada banyak tersedia di sana. Silakan membantu dalam bentuk apapun.

Tyas:

Ada 4 hal yang betul-betul ingin dikerjakan:

Pertama, ada persoalan profesi di antara kita. Kita perlu memperhatikan hal ini, agar kita bisa benar-benar duduk setara dan bekerja sama.

Kedua, berkaitan dengan kegiatan sosial yang riil, kita turun gunung langsung ke lapangan. Masalahnya, apa sesuai dengan kapasitas masing-masing dan sesuai dengan prioritas pekerjaan.

Ketiga, membutuhkan riset. Perlu mengkomunikasikan topik-topik apa yang menjadi prioritas kita. Ada dua poin yang bisa kita pikirkan bersama berkaitan dengan usulan moderator.

Keempat, jejaring kita harus membangun milis untuk selalu meng-update apa yang dilakukan kelompok-kelompok simpul.

Moderator:

Ada praktek sosial dan institusional untuk mendorong para praktisi bekerja. Bukan hanya tiga profesi yang sebagian besar hadir di sini, tapi juga profesi lain. Misal urban planner, mungkin perlu kita ajak dalam prakteknya, untuk diingatkan.

Ada dua wilayah dalam profesi yang perlu diingat, harus ada demokrasi dan well being, supaya tidak ada yang merasa dianaktirikan.

Sisi lain, soal milis perlu didesain sedemikian rupa, jangan menambah tumpukan e-mail dari berbagai milis yang diikuti. Misalnya saja membuat electronic conference supaya lebih fokus perbincangannya.

Soal education dan research, masing-masing kita tentukan objektifnya. Yang perlu diingat, harus ada terobosan. Usul saya, kita membaca kemungkinan cross-listing antara riset agenda dari institusi, misalnya universitas, dengan jejaring.

Ketiga, harus ada terobosan dalam metode dan prakteknya. Kita memerlukan kerja sama. Harus ada cara-cara baru dalam mengakses satu wilayah misalnya, agar tidak terjadi blunder.

Saya pernah mengelola satu konferensi, dan di situ orang cepat patah arang, karena 70% waktu digunakan untuk berbicara lebih banyak di ruang maya. Menurut saya, kita harus mulai bekerja lebih riil, jadi dunia maya hanya digunakan untuk komunikasi.

Diskusan 24:

Kita punya insight baru soal profesi-profesi kita. Saya belajar banyak di sini. Banyak hal yang dibicarakan seperti benang ruwet, namun ada banyak hal yang bisa kita ambil rumusannya. Kita coba cari cara untuk berkomunikasi.

Tema yang kita pilih hari ini sepertinya agak mencapai sasarannya. Dalam membicarakan persoalan sosial ini, mungkin kita bisa mendapat pelajaran untuk meningkatkan kapasitas-kapasitas kita dalam memberi pelayanan di bidang mental health, yang tidak bisa kita dapat di bangku pendidikan formal kita.

Diskusan 25:

 

Forum ini harus bisa mengambil tindakan untuk Mama Aleta, bila tidak saat ini mungkin dalam waktu dekat. Apapun tindakannya. Yang bisa meringankan penderitaan teman kita di daerah konflik ini. Kita harus masuk ke akar rumput, tidak melayang-layang di udara. Kita harus memikirkan tindakan riil dalam waktu dekat yang tidak sampai satu bulan.

Diskusan 26:

 

Mama Aleta ini satu orang. Ada banyak orang yang terlibat dalam kasus yang hampir serupa di Indonesia ini. Kita harus meningkatkan kapasitas dan keinginan untuk mendengarkan dan mencermati kondisi orang di lapangan. Pendekatannya bisa secara sistemik. Kita harus menjaga komitmen ini. Mudah-mudahan bisa diimplementasikan dalam berbagai cara dikemudian hari.

 

Notulensi

The 1st Seminar Lecture Series & Round Table Discussion

“THE DEMAND ON SOCIAL LEARNING”

Jakarta, 26 Oktober 2007

 

 

 

Pembicara pertama

Sri Palupi

“Kemiskinan, Solidaritas dan Gangguan Jiwa”

 

Selama beberapa tahun, ada tiga wabah yang menyebabkan kematian dalam jumlah besar. Ini berdasarkan berita setiap hari yang dicover oleh media. Ketiga wabah itu adalah:

  • Bencana alam, yang korbannya bisa mencapai ratusan ribu orang. Korban akibat bencana alam ini dapat menghimpun solidaritas masyarakat nasional dan internasional.
  • Busung lapar, korbannya cukup tinggi angkanya. Solidaritas terhadap wabah ini bisa dibilang kurang. Jika pada bencana kematiannya terjadi sekaligus, sementara busung lapar terjadi satu demi satu. Di Indonesia, 72% kabupaten mengalami kejadian busung lapar ini. Bahkan di Jakarta. Bila kita jumlahkan dari seluruh kabupaten itu mungkin sesungguhnya angka kematiannya jauh lebih tinggi dari bencana alam.
  • Bunuh diri di kalangan kaum miskin. Ini hampir setiap hari bisa ditemukan di media. Kadang kematian ini bisa menyentak masyarakat, karena keputusan dan proses kematiannya sangat mengerikan. Kasarnya pada kaum miskin ini ada tiga pilihan kemungkinan, yaitu kelaparan atau bunuh diri atau gila.

 

Berbicara soal kemiskinan, bisa dikatakan bahwa orang miskin punya dua pilihan dalam hidupnya, yaitu bunuh diri atau kelaparan. Mungkin bisa ditambah satu pilihan yaitu gila. Karena itu busung lapar dan kemiskinan diangkat dalam presentasi ini sebagai wabah kematian.

Beberapa contoh kasus bunuh diri yang dilakukan kaum miskin adalah:

  1. Tahun 2003: seorang anak SD bunuh diri karena tidak mampu membayar ekstra kurikuler.
  2. Tahun 2004: seorang ibu membakar diri bersama dua anaknya.
  3. Tahun 2005: dua remaja bunuh diri karena tidak mampu bayar SPP.
  4. Tahun 2006: seorang ibu membakar dua anaknya; seorang ibu membunuh tiga anak kandungnya.
  5. Tahun 2007: seorang ibu bunuh diri bersama empat anaknya.

Kalau dilihat dari angka kasus bunuh diri yang dilaporkan pada polisi, di Jakarta tahun 2003 ada 62 kasus, tahun 2004 38 kasus, tahun 2005 68 kasus, tahun 2006 melonjak 101 kasus. Dilihat dari kasus bunuh diri ini, kita bisa lihat bahwa masyarakat sedang terganggu jiwanya. Ini terjadi karena ada problem di tingkat individu, keluarga, juga masyarakat. Kita bisa lihat sekarang ini kendornya hubungan sosial, benturan kebudayaan, meningkatnya nilai materialisme dan individualisme. Ini menyebabkan ketidakpedulian sebagian besar masyarakat terhadap penderitaan orang lain.

Di beberapa kabupaten yang terkena busung lapar cukup tinggi, saat diangkat ke permukaan malah timbul pertanyaan dari masyarakat kabupaten itu: “kenapa soal busung lapar diangkat? Padahal ‘kan sudah biasa”. Jadi, yang mengerikan bukan persoalan busung laparnya sendiri. Tetapi sikap komunitas bahkan pemerintah yang melihat bahwa ini merupakan hal biasa.

Selain problem di ketiga level individu, keluarga, dan masyarakat, yang mengindikasikan masyarakat sedang terganggu jiwanya, terjadi problem di tingkat keempat yang paling tinggi yaitu negara, dimana pemerintah gagal melaksanakan kewajibannya untuk mensejahterakan rakyat.

Kondisi masyarakatyang terganggu jiwanya juga dapat diukur dengan cara lain. Misalnya dengan melihat gambaran prioritas alokasi pendapatan secara global pada tahun 1998 (lihat file presentasi untuk angka pasti). Terdapat perbandingan yang sangat tidak seimbang antara kebutuhan primer dan sekunder bahkan tersier. Jadi, secara sosial dan secara struktural masyarakat kita sedang terganggu jiwanya, jika melihat perbandingan angka-angka alokasi pendapatan itu.

Sekarang pertanyaannya, di Indonesia sendiri bagaimana? Kenapa Indonesia gagal mengatasi kemiskinan. Kita bisa melihat juga data-data alokasi pendapatan di Indonesia:

  1. APBN/APBD, yang pada kenyataannya pelit untuk kaum miskin, royal untuk kaum birokrasi dan boros untuk bayar hutang. Lihat saja perbandingan APBN 2005, di mana dana kompensasi sebesar 4,7 triliun harus dibagi untuk 15,5 juta warga miskin; sektor kesehatan 7,4 triliun; pendidikan 21,5 triliun; cicilan hutang 64 triliun. APBN 2006 dan 2007 jauh lebih tinggi lagi perbedaannya.
  2. Pendekatan penanggulangan kemiskinan bersifat ad hoc, parsial dan emerjensi. Tidak menyentuh persoalan-persoalan struktural.
  3. Sementara pemerintah belum mampu menyentuh hak-hak dasar kaum miskin, namun kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan justru malah mempermiskin kaum miskin. Kita lihat seluruh dimensi pembangunan tidak berpihak pada kaum miskin, malah berusaha menyingkirkan kaum miskin. Di bidang tata ruang, pertanahan, perairan, pertambangan, pertanian, dan lain-lain. Di Jakarta saja, baru saja dibuat Perda Ketertiban Umum yang isinya menyingkirkan kaum miskin dari kota Jakarta.

 

Pada tataran global kita bisa melihat liberalisasi ekonomi yang menyebabkan kesenjangan kaya dan miskin yang begitu mencolok. 40% penduduk dunia hanya menguasai 5% pendapatan dunia. Sementara 10% orang terkaya dunia menguasai 54% pendapatan global. Ini akar struktural dari munculnya gangguan jiwa.

Kalau kita melihat di pedesaan dan perkotaan, ruang-ruang kehidupan itu banyak diwarnai oleh konflik antara pemodal dan kaum miskin. Di Jakarta saja tahun 2001-2005 terjadi 86 kasus penggusuran pemukiman miskin dan 74 PKL. Tahun 2006 meningkat menjadi 146 pemukiman miskin. Dari sini kita bisa memahami penyebab para PKL yang bunuh diri, karena memang setiap hari dikejar-kejar penggusuran.

Dulu orang miskin punya daya tahan yang sangat bagus. Bisa dikatakan begitu, karena pada masa konglomerat banyak yang stress, orang miskin punya kreativitas sendiri untuk bertahan hidup. Tapi sekarang, mekanisme survival untuk menghadapi kemiskinan itu sudah hancur. Dulu, dalam menghadapi penggusuran, ibu-ibu bisa menghadang dengan telanjang, anak-anak ditaruh di garis depan, sehingga penggusuran tidak terjadi. Namun sekarang strategi-strategi seperti itu sudah tidak mempan lagi. Perempuan atau anak-anak menghadang pasti tetap diterjang.

Perkembangan di Jakarta yang bisa kita lihat bersifat materialisme, di mana-mana pasar tradisional tergusur oleh pasar modern yang dibangun untuk memenuhi hasrat konsumerisme. Dampaknya, ruang pasar tradisional menurun, begitu juga ruang untuk pemukiman masyarakat marjinal. Banyak keluarga yang terpaksa tidur di tenda-tenda dan kolong-kolong jembatan akibat terjadinya penggusuran-penggusuran.

Itulah gambaran gangguan jiwa struktural yang terjadi baik lokal, regional, maupun nasional. Jadi bukan masyarakat miskin yang mengalami gangguan jiwa, namun semuanya.

 

Sesi Tanya Jawab

Pak Maman

Melihat dan mencermati penyampaian, pengambil kebijakan menderita gangguan jiwa. Lalu konsep apa yang dimunculkan supaya pengambil kebijakan tidak lagi mengalami gangguan jiwa?

Jawab:

Harus ada gerakan bersama untuk menyelesaikan gangguan jiwa itu. Karena bukan hanya pengambil kebijakan yang mengalami namun seluruh masyarakat juga mengalami persoalan itu. Harus ada gerakan bersama untuk menyatukan semua jiwa itu. Tak ada cara lain lagi. Harus ada kerja bersama untuk mengatasi gangguan jiwa bersama ini.

 

Gus Rosavarina

Sepertinya di sini masalah kemiskinan menjadi masalah pokok. Ini sulit diatasi. Orang miskin selalu diperlakukan sebagai objek yang marjinal. Upaya-upaya apa yang harus dilakukan untuk mengatasi ini. Upaya yang realistis apa harus dilakukan sehingga para pengambil keputusan ini bisa mengambil tindakan yang tepat.

Jawab:

Seperti yang sudah disampaikan, kita tidak bisa bergantung sepenuhnya pada hutang. Ketergantungan pada hutang sangat besar. Jadi, sesungguhnya jika kita ingin menghapus persoalan secara struktural kita harus berani menghapus hutang yang tidak sepenuhnya ditimbulkan oleh kita, sebagian besar di antaranya merupakan warisan sejarah. Itu persoalan struktural.

Kita tidak bisa sepenuhnya bertumpu pada pemerintah. Kembali pada persoalan gangguan jiwa, jika kita ingin menyelesaikannya berarti harus mulai dari yang waras. Kita harus mencoba melihat dan mencari terobosan mengatasi persoalan ini. Jika melihat tingkat gangguan jiwa mulai dari individu sampai pengambil kebijakan, artinya memang harus ada kerja bersama. Pada gerakan bersama, dengan berjejaring, di level manapun kita berada, ada satu titik di mana pasti ada sesuatu yang bisa dilakukan.

Misalnya saja, saat melakukan riset busung lapar di NTT, ternyata masyarakat memiliki potensi untuk menyelesaikan masalah itu sendiri. Celakanya, potensi-potensi masyarakat itu seringkali dihancurkan oleh kebijakan-kebijakan yang dibuat dengan tidak mengenali potensi-potensi yang ada dalam masyarakat itu.

Ada banyak gerakan yang peduli untuk mengatasi masalah ini. Kita hanya harus membuka mata. Yang harus dilakukan adalah bagaimana cara menyambungkan pulau-pulau gerakan yang tersebar untuk membangun kepedulian masyarakat. Itu satu-satunya cara untuk menyelesaikan persoalan struktural ini.

 

Tedi (RSHS)

PBB mencanangkan pada tahun 2015 kemiskinan harus turun 50%. Pemerintah juga sudah mencanangkan berbagai program berkaitan dengan ini termasuk di RS kami. Apa betul antara kemiskinan dan gangguan jiwa ini ada hubungan? Siapa tahu yang miskin karena sudah terbiasa miskin jadi merasa tidak ada masalah dengan itu.

 

Jawab:

Ada program internasional, millenium development goal, sebuah komitmen internasional untuk mengurangi masalah kemiskinan menjadi separuhnya pada tahun 2015. Persoalannya, Indonesia ini merupakan salah satu negara yang paling gagal dalam mewujudkan tujuan menghapuskan kemiskinan. Karena, salah satunya program untuk mencapai MDG tadi lebih banyak ditujukan untuk charity, seperti BLT, raskin, dll. Tapi, pada titik kebijakan strukturalnya lebih banyak meningkatkan kemiskinan atau mempermiskin orang dan menambah jumlah miskin.

Mengapa pemerintah sudah banyak berbuat tapi kurang hasilnya. Kita lihat saja contohnya, kasus busung lapar, sekian milyar sudah dikeluarkan tapi hasilnya masih kurang. Tidak mencapai 25% saja. Untuk meningkatkan gizinya saja tidak mampu. Persoalan busung lapar ini persoalan struktural.

Satu contoh lain, misalnya satu program yang sangat strategis dari pemerintah adalah program revitalisasi pos yandu. Namun, program ini sekarang mati, sekarang ini pos yandu bukan milik masysrakat. Yang dilakukan dalam revitalisasi pos yandu yang dilakukan adalah memperbanyak timbangan, mencetak banyak Kartu Menuju Sehat, merekrut banyak kader. Namun, ketika menimbang anak misalnya, setelah selesai ditimbang, si anak kembali ke rumah, dan selesai sudah. Kalaupun ada masalah, misalnya si anak busung lapar, si anak kekurang gizi, paling jauh diberi saran, lalu kembali ke rumah. Tidak ada penanganan masalah secara komunal. Dulu di NTT, jika di satu kampung terdapat satu anak yang busung lapar, satu kampung akan merasa malu. Saat ini perubahannya luar biasa. Bukan lagi masyarakat tidak merasa malu, namun masyarakat merasa sudah biasa dengan masalah itu. Jadi, kita lihat, sekarang ini tidak dibangun satu kebersamaan masyarakat untuk menyelesaikan satu kasus kemiskinan.

Dulu daya tahan orang miskin dalam menghadapi tekanan sangat luar biasa. Namun sekarang pertanyaannya mengapa orang miskin banyak yang bunuh diri. Artinya tekanan terhadap orang miskin sekarang ini jauh lebih besar daripada dulu. Karena bahkan anak-anak sudah merasa tertekan karena kemiskinan sampai memutuskan untuk bunuh diri. Fenomena gangguan jiwa masyarakat kita ini sudah begitu dalam.

 

Pandu (moderator):

Cukup banyak studi yang mengkaitkan kemiskinan dengan gangguan kesehatan jiwa. Apa yang disampaikan barusan menjadi pemikiran kita apakah betul hipotesis Sri Palupi bahwa orang miskin ini makin lama makin mendapat tekanan yang berat dan ruang yang sempit, tidak mempunyai opsi, sehingga tidak mampu bertahan.

Sedikit penjelasan tentang pertemuan ini, bahwa sebetulnya pertemuan ini ingin memperlihatkan pada teman-teman dari profesi psikolog dan psikiater bahwa sesungguhnya persoalan kesehatan jiwa ini juga menjadi perhatian dari teman-teman profesi lain.

Pertemuan ini digagas oleh satu LSM yang namanya Jejak Jiwa. Sudah lama tapi mati suri. Sekarang mencoba bergerak lagi. Jejak Jiwa ini gerakan kesehatan jiwa. Gerakan ini bukan satu organisasi, namun sebagai suatu jejaring dari banyak simpul yang saling berkomunikasi dan berkolaborasi.

Beberapa hal yang mendasari gerakan Jejak Jiwa adalah: Pertama, ada kegelisahan dari kita semua, bahwa masalah kesehatan jiwa adalah masalah besar dan masalah kita bersama.

Kedua, ada kesadaran bersama untuk membicarakan modal kekuatan bangsa dan segala potensinya. Kita belum organisir ini secara sistematik. Hampir semua pejabat kesehatan menyatakan kesehatan jiwa penting.

Ketiga, kita lumayan lambat belajar dibanding teman-teman lain, bahwa kesehatan jiwa multi-dimensi dan mewajibkan kepedulian di semua profesi disiplin. Ini merupakan masalah professional dan non-profesional.

Jejak Jiwa berangkat dari sini. Jejak Jiwa sudah menyelenggarakan beberapa pertemuan nasional mengenai kesehatan jiwa. Pada pertemuan nasional yang kedua dibicarakan soal investasi dalam kesehatan jiwa berkaitan dengan keberlanjutan bangsa. Pada pertemuan ketiga tahun 2003, kajiannya menegaskan kesehatan jiwa sebagai hak asasi manusia. Pada tahun 2006, Jejak Jiwa mencoba merumuskan apa saja yang harus dikoreksi. Apakah telah melakukan hal-hal yang semestinya dilakukan? Jejak Jiwa mencoba memetakan dan melist semua hal tersebut. Kemudian membuat agenda pembelajaran bersama, dengan mencoba mencari di luar dinding rumah sakit, dengan membangun ruang-ruang diskusi dan komunikasi. Dan kemudian mencoba membuat empat kuadran. Setiap yang tergabung dalam Jejak Jiwa merenungkan kapasitas dan potensi serta apa yang bisa dilakukan masing-masing dalam masing-masing kuadran. Ini belum sesuatu yang final.

Program Jejak Jiwa sampai tahun 2009 yang ingin dilakukan adalah: Pertama, seperti yang sekarang sedang dilakukan adalah internasional lecture series tentang kesehatan jiwa. Kedua, publikasi. Kita sudah menerbitkan Journal of Mental Health. Ketiga, research. Riset tentang kesehatan jiwa sangat sedikit yang sudah dilakukan. Di Indonesia agak jarang yang datanya kuat. Kita perlu memikirkan agenda-agenda riset pada berbagai level. Keempat, menurut catatan terakhir gerakan jiwa ini tidak begitu berkembang, kita perlu digembleng dalam hal leadership dan mental health. Baik yang bergerak di bidang pelayanan maupun training.

Jurnal motonya adalah inviting and provoking, mengundang dan memprovok untuk mengkaji ulang asumsi-asumsi yang sebetulnya merupakan mitos tentang kesehatan jiwa.

Hari ini tema yang dipilih adalah ”The Demand on Social Learning”. Ini untuk memperkaya pemikiran kita dengan membuka ruang sebanyak-banyaknya, untuk membuka sekat-sekat profesional dan institusi. Pada pertemuan ini akan ditentukan agenda-agenda untuk tahun depan.

 

Notulensi

The 1st Seminar Lecture Series & Round Table Discussion

“THE DEMAND ON SOCIAL LEARNING”

Jakarta, 26 Oktober 2007

 

 

 

Lecture 1: Thailand

Mr. Sompong Kirdsaeng

“The Association for Mentally Ill”

 

Perkenalan dari moderator:

Di Thailand perhatian terhadap kesehatan jiwa sangat tinggi. Ada dirjen kesehatan jiwa di sana. Sementara di Indonesia hanya ada direktur bina kesehatan jiwa. Raja Thailand memiliki perhatian yang besar pada psikososial. Mr. Sompong Kirdsaeng akan memberikan lecture tentang kegiatan yang dilakukannya untuk kesehatan jiwa di Thailand, sebagai wakil dari perkumpulan keluarga yang memiliki anggota dengan kesehatan jiwa terganggu. Jejak Jiwa sudah kehilangan hubungan dengan empat perkumpulan keluarga kesehatan jiwa di Indonesia, di antaranya yang berasal dari kota Pontianak dan Ciamis. Mr. Sompong ini adalah wakil dari perkumpulan keluarga di Thailand. Kelompok keluarga ini juga bekerja sebagai pressure agar negara menganggarkan dana yang memadai untuk masalah kesehatan jiwa.

 

Mr. Sompong Kirdsaeng: “The Association for Mentally Ill”

The Association for Mentally Ill telah bekerja selama 40 tahun untuk kesehatan jiwa. Presentasi dimulai dari pembentukan asosiasi ini. Dari pengalaman rumah sakit jiwa menangani para pasien, setelah dirawat dan dinyatakan sehat dan kembali ke rumah, ternyata sebagian besar mereka kembali ke rumah sakit jiwa. Sehingga kemudian para profesional menyusun program untuk melatih anggota keluarga pasien bagaimana cara merawat pasien.

Topik pertama dalam pelatihan adalah membuat orang normal memahami tentang kesehatan jiwa.

Topik kedua adalah bagaimana cara merawat pasien di rumah. Misalnya soal memberi obat secara rutin. Biasanya pasien tidak suka obat. Mereka akan membuangnya atau menyembunyikannya. Di sinilah letak tanggung jawab kerabat terdekatnya, yaitu untuk memastikan konsumsi obat oleh pasien secara teratur.

Topik lain adalah kerabatnya harus membawa pasien ke dokter untuk konsultasi.

Topik selanjutnya adalah tentang komunikasi antara kerabat dan pasien. Biasanya kerabat akan berpikir bahwa setelah sembuh pasien akan dapat hidup normal kembali. Namun pada kenyataannya, dalam beberapa tahap ada kemungkinan mereka tidak ingin berhubungan dengan masa lalunya yang mereka anggap buruk. Para kerabat mungkin tidak melihat ini. Di sinilah terjadi jurang.

Dia biasa bertanya pada pasien mengenai apakah mereka ingin tinggal di rumah sakit untuk perawatan. Jawabannya selalu mereka tetap ingin pulang ke rumah, karena tak ada tempat lebih baik selain rumah.

Jika anggota keluarga akan merawat pasien, mereka harus melakukan beberapa tugas dari yang mudah sampai yang sulit. Dan mendorong pasien untuk berlatih, membawa mereka ke berbagai kegiatan sosial, mengajak mereka untuk berbincang dan bertetangga.

Topik lain adalah soal hidup pasien. Bagaimana caranya membuat pasien paham soal stigmatisasi yang diberikan padanya.

Hal lain dalam training yang diberikan adalah bagaimana menangani media. Karena media biasanya memberitakan hal-hal mengenai kegilaan secara negatif.

Dari training itu, anggota keluarga membuat ’family club’ di setiap rumah sakit seperti misalnya ‘Kalyanamitr Club of Psychiatric Patient’ dari Srithunya Psychiatric hospital dan ’Tawan Mai Club’ dari Somdetchoaoraya Institute of Psychiatry.

Kedua kelompok itu kemudian berhubungan dan membuat program yang sangat penting. Kedua klub keluarga itu memperluas program dan membentuk klub-klub serupa di seluruh negeri di setiap RSJ. Klub-klub itu kemudian berkembang menjadi unik, dan membentuk perhimpunan yang telah diluncurkan pada 27 Maret 2003.

Anggota seluruh klub keluarga itu berkumpul sebulan sekali. Pertemuan-pertemuan itu menyemangati dan memotivasi mereka dalam merawat pasien. Di situ mereka dapat bertukar pengalaman dalam hal merawat pasien dan memperingan beban mereka.

Pengalaman Mr. Sompong merawat pasien di rumah merupakan beban yang sangat dan merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Tapi pertemuan dengan keluarga lain sebulan sekalimemberinya motivasi untuk merawat istrinya yang adalah pasien sakit jiwa. Dalam pertemuan itu ada banyak keluarga yang harus merawat pasien sakit jiwa yang sangat parah sampai disebut psychotic. Bertukar pengalaman ini mendorong semangatnya untuk merawat istrinya di rumah.

Saat ini asosiasi ini punya jaringan 21 klub keluarga di seluruh negara. Bila ada pertanyaan tentang dukungan keuangan terhadap asosiasi ini, sesungguhnya asosiasi ini mengajukan proposal proyek kepada pemerintah. Ternyata pemerintah beranggapan bahwa proyek ini sangat berguna bagi keluarga dan pasien jiwa itu sendiri, sehingga pemerintah bersedia mendukung dana untuk pekerjaan klub ini.

Beberapa jaringan telah melakukan pekerjaan yang sangat bagus dan masyarakat mengetahui hal ini, sehingga kemudian mendapat donasi yang cukup besar dari masyarakat juga.

Masalahnya, beberapa jaringan tidak memiliki kemampuan untuk membuat proposal, sehingga kemudian asosiasi memberi bantuan kepada jaringan bagaimana cara membuat proposal untuk memperoleh dukungan dana.

Pengalaman Mr. Sompong setelah bergabung dengan klub ini, kondisi istrinya semakin membaik saat ini dalam perawatannya di rumah.

Beberapa tujuan asosiasi kesehatan jiwa ini selain yang telah diceritakan adalah:

  1. berkoordinasi dan berkerja sama dengan berbagai organisasi yang memiliki perhatian serupa, baik dalam negeri maupun luar negeri, untuk meningkatkan kapasitas dalam penanganan masalah kesehatan jiwa.
  2. membangun penerimaan sosial dari masyarakat terhadap pasien jiwa, dengan cara melatih anggota keluarga; meningkatkan kapasitas pasien yang menuju sehat dengan berbagai pelatihan keterampilan hidup; serta berpartisipasi dengan organisasi lain.
  3. Memperkuat organisasi, dengan cara memperbanyak klub keluarga di seluruh negeri; membangun komite sebagai simpul kerja; pertemuan komite di tingkat regional; membangun THAMI (Thai Alliance for Mentally Ill)

 

Lecture 2: Malaysia

Dr. Abdul Kadir Abu Bakar

 “Effective Community Treat”

 

Perkenalan dari moderator

Dr. Abdul Kadir adalah seorang psikiater dan menjabat sebagai ketua psikiater di RS. Aminah di Johor Baru. Dia telah berkerja sama dengan psikiater di Indonesia dalam beberapa program Mental Health. Dia menginovasi beberapa kegiatan di Kucing, yang situasinya sama dengan di Indonesia, bahwa seringkali kita menyalahkan segala sesuatu di luar lingkungan kita, padahal sesungguhnya the enemy is in here. Dia membuat sebuah terobosan di Kucing, untuk tidak selalu menyalahkan segala sesuatu di luar diri kita.

 

Dr. Abdul Kadir Abu Bakar: “Effective Community Treat”

Sebagai penjelasan terhadap istilah ‘perawatan komunitas yang efektif’ pada umumnya sebagian besar para pekerja yang bergelut di bidang kesehatan jiwa, termasuk para perawat di rumah sakit mempunyai pikiran bahwa perawatan bermula di RS. Padahal sebetulnya pasien itu memulai sakitnya di rumah atau di tempat lain semacam rumah. Sebagai orang yang diberi kelebihan dalam hal menangani pasien jiwa memang banyak yang berpikir dia dapat memberi perawatan terbaik. Namun sesungguhnya perawatan terbaik itu bisa diberikan di rumah.

Seluruh pendidikan kesehatan jiwa tidak dapat membuktikan bahwa perawatan yang diberikan di rumah sakit adalah perawatan terbaik. Bukti nyata yang ada malah memberitahu bahwa alternatif perawatan selain rumah sakit memberi perawatan terbaik bagi pasien, seperti misalnya perawatan pasien di pedesaan. Contoh lain yang nyata, di Aceh, dengan biaya yang sangat murah, seorang pasien jiwa memperoleh kemajuan yang baik hanya dengan berlayar menggunakan perahu nelayan.

Untuk menolong seseorang, yang paling penting dilakukan adalah melihat dan memahami orang tersebut, seperti apa kondisinya, sehingga kemudian akan dapat diketahui apa sesungguhnya yang dibutuhkannya.

Jadi, ketika ada orang yang datang untuk dirawat, orang tersebut membutuhkan pertolongan untuk kembali ke rumahnya, sehingga sesungguhnya perawatan untuk orang tersebut harus diberikan di rumahnya.

Dalam community care ini ada beberapa tahap perawatan, yaitu primary care, crisis care, dan continuing care. Dalam primary care, terdapat soal memperhatikan kondisi pasien, di mana dia musti dirawat, bagaimana cara merawat. Kemudian dalam crisis care diputuskan soal perlukah pasien dirawat di rumah sakit, karena sesungguhnya telah diyakini bahwa perawatan terbaik dapat diberikan di rumah. Kemudian dalam continuing care, ada persoalan evaluasi pasien yang telah dirawat, bagaimana cara perawatan lanjutannya, mengenai kesembuhan dan kemungkinan kambuh. Continuing care ini sangat penting untuk mengamati perkembangan pasien jiwa.

Primary care ini membutuhkan banyak dukungan dari puskesmas dan komunitas. Dr. Abdul Kadir, sebagai seorang yang memiliki wewenang penuh dalam bidang kesehatan jiwa di rumah sakitnya dapat mengembangkan model perawatan sendiri.

Ketika seorang pasien datang, dia akan memeriksa seberapa jauh gangguan kesehatan jiwa yang diderita pasiennya dan memutuskan apakah pasien tersebut perlu dirawat di rumah sakit atau di rumah. Dia juga akan memeriksa keluarga pasien, siapa yang dapat merawat di rumah dan berapa orang serta bagaimana kemampuan keuangan keluarganya.

Masalah utama yang sering muncul dalam soal perawatan gangguan kesehatan jiwa di rumah sakit adalah: pertama, kurangnya follow-up yang memadai. Banyak direktur RSJ yang tidak pernah memperhatikan data seperti jumlah pasien yang telah keluar dan jumlah yang kembali ke RSJ, serta kemungkinan kembalinya pasien ke RSJ. Semula di RS kurangnya kualitas penanganan terhadap pasien alasannya karena kurangnya staff di RS, kurangnya perlengkapan, keluarga yang kurang perhatian, dan mungkin dokternya yang kurang ahli.

Dengan berbagai keluhan seperti itu jalan keluar yang harus dilakukan adalah mengeluarkan seluruh pasien yang ada dari rumah sakit. Dan untuk ini harus dibuat satu sistem yang efektif, sehingga kemudian pasien tidak akan kembali ke rumah sakit setelah dikembalikan ke rumah. Diawali dengan cara mengelompokkan pasien, karena tidak setiap pasien membutuhkan perawatan secara penuh. Dengan mengelompokkan pasien, akan diketahui perawatan seperti apa yang dibutuhkan setiap pasien. Ada tiga level pengelompokan pasien. Level ketiga untuk pasien yang paling mudah dirawat karena didiagnosa paling stabil untuk jangka waktu tertentu. Level kedua untuk yang membutuhkan konsultasi intensif. Sementara level pertama untuk pasien yang memiliki kemungkinan kembali ke rumah sakit setelah dinyatakan sembuh dan tidak memiliki orang-orang terdekat untuk merawatnya.

Dengan pendekatan Assertive Community Treatment (ACT), terbukti melalui data-data (dalam file presentasi) bahwa kemajuan yang diperoleh pasien lebih baik. Setiap studi yang mempelajari ACT membuktikan bahwa pendekatan ini lebih baik hasilnya.

Dalam ACT yang dibutuhkan adalah tim, yang meskipun tidak banyak jumlahnya namun masing-masing anggota tim memiliki tanggung jawab dan mau menjalankannya. Di awal, Dr. Abdul Kadir menjalankan pendekatan ini sendirian untuk 110 pasien. Di rumah sakit yang dilakukan adalah mendiagnosa dan menentukan pengobatan medis yang dibutuhkan oleh pasien. Selanjutnya, pasien dirawat di rumah dan yang perlu dia lakukan adalah memastikan keberlanjutan perawatan, memberi bantuan secara praktis, membantu menangani dampak sampingannya, membantu menumbuhkan keterampilan komunitas dalam menangani. Pada umumnya, pengobatan medis yang dijalani pasien hanya diperlukan untuk waktu dua tahun, selanjutnya pengobatan medis pasien dapat diserahkan kepada Puskesmas.

Dalam pendekatan ACT ini yang menonjol adalah soal pelayanan yang proaktif terhadap pasien. Tim perawat selalu mengadakan asesmen dalam pelayanan proaktifnya, sehingga kebutuhan perawatan terhadap pasien akan selalu disesuaikan dengan hasil asesmen yang dilakukan. Yang termasuk ke dalam keputusan perawatan terhadap pasien ini adalah pengobatan medis yang diterima pasien, dukungan yang bisa didapat pasien, keikutsertaan komunitas yang dapat diperoleh pasien, kondisi ekonomi keluarga pasien, dan bagaimana cara bekerja dengan keluarga yang merawat pasien.

Hingga saat ini menurut data pasien yang parah jumlahnya berkurang hingga 60% di Malaysia. Sesungguhnya, secara medis, obat-obatan yang digunakan tidak berbeda dengan obat-obatan yang biasa diberikan di negara lain. Yang berbeda adalah cara perawatannya. Dari segi jumlah staff RSJ juga tidak bertambah, bahkan kenyataannya malah berkurang. Karena, terapi lebih banyak tidak dilakukan di RS, sehingga banyak staff yang ditransfer untuk bekerja di luar RS. RSJ juga membina para terapis yang dipekerjakan untuk merawat di rumah.


Lecture 3: Filipina

Brother Victor Manuel & Miss Violetta

“Congregation of the Brothers of Charity:

Holy Face Rehabilitation Center for Mental Health”

 

Brother Victor Manuel

Lembaga yang bekerja untuk kesehatan jiwa ini tidak berasal dari rumah sakit. Namun demikian, kegiatannya yang utama adalah rehabilitasi untuk pasien gangguan kesehatan jiwa dengan program berbasis komunitas.

Pusat lembaga ini berlokasi di bagian utara Filipina. Tim yang bekerja ke lapangan harus bepergian dari pulau ke pulau yang menghabiskan waktu dan tenaga yang luar biasa, karena sulitnya transportasi. Kehidupan orang-orang yang berdiam di pulau-pulau ini sangat sulit, dari segi ekonomi mereka sangat miskin, air sulit didapat, dan listrik pun tak ada.

Para penderita gangguan kesehatan jiwa di pulau-pulau ini diperlakukan sangat tidak manusiawi. Beberapa di antara mereka dikurung. Sehingga, sebagian besar dari para penderita ini bukan hanya sakit secara mental, namun mereka juga mengalami sakit secara fisik.

Pusat rehabilitasi ini bekerja dengan cara mengorganisir family support group, dan sebagian besar pekerjaan dilakukan dengan cara home visit. Pusat rehabilitasi ini selalu menegaskan kepada masyarakat yang dikunjunginya bahwa perawatan yang baik terhadap penderita bukan merupakan tanggung jawab pusat rehabilitasi, namun merupakan tanggung jawab keluarga dan komunitas sekitar penderita.

Dalam home visit, kegiatan yang dilakukan adalah mem-follow-up keluarga yang sangat jarang atau bahkan tidak melakukan konsultasi lagi. Karena berbagai alasan, termasuk kondisi kehidupan dan pendidikan yang kurang baik, keluarga tidak melakukan konsultasi mengenai perkembangan penderita. Selain itu, pusat rehabilitasi juga mengadakan berbagai program pencegahan yang mungkin terhadap masyarakat akan gangguan kesehatan jiwa, misalnya dengan pelayanan pendidikan mengenai kesehatan jiwa, dan juga memberikan konsultasi terhadap pengobatan dan perawatan kesehatan jiwa secara medis.

Dalam kegiatan pencegahan, pusat rehabilitas melakukan screening terhadap klien yang potensial mengalami gangguan kesehatan jiwa. Caranya adalah mengorientasi komunitas yang didatangi terhadap kemungkinan individu yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Selain itu, setiap hari Rabu, tim lapangan selalu meluangkan waktu untuk mengidentifikasi penderita gangguan mental yang terbuang dan mencari keluarganya.

Dalam merawat penderita gangguan jiwa, pusat rehabilitasi ini sebelumnya juga mengevaluasi kondisi sosial ekonomi masing-masing klien. Mereka memiliki tiga kelas klien, yaitu kelompok yang mampu membiayai perawatan medis, kelompok yang hanya mampu membayar setengah dari keseluruhan biaya, dan kelompok yang tak mampu sama sekali, sehingga harus pelayanan kemudian harus diberikan secara cuma-cuma.

Pusat rehabilitasi dalam aktivitasnya telah membentuk empat rehabilitasi berbasis komunitas, yaitu di: 1) Alcala, Daraga; 2) Clustered Barangay of Tobacco, Cluster 1 (Baranghawon, Cobo, Cabangan & Basud); 3) Salvacion, Sto. Domingo; 4) Bogñabong, Tabaco City.

Sementara untuk jaringan pemerintah dan stakeholder telah terjalin di beberapa wilayah, yaitu: Tabaco City, Malinao, Libon, District Hospital, dan Don Susano Memorial Mental Hospital.

Untuk membangun rehabilitasi berbasis komunitas yang dibutuhkan adalah kelompok kecil klien yang tinggal dalam komunitas yang sama, ada orang yang karena perhatiannya yang tinggi untuk menjadi pimpinan kelompok ini, dan ada dukungan dari pemerintahan lokal dan komitmen anggota keluarga.

Dalam komunitas pusat rehabilitasi melakukan pengorganisiran terhadap kelompok pendukung, yang terdiri dari keluarga dan tokoh komunitas untuk bertemu satu bulan sekali. Pertemuan bulanan ini dilakukan untuk memberi pendidikan tentang kesehatan jiwa, berdiskusi antar keluarga penderita dan memberi berbagai pelatihan untuk keterampilan hidup seperti kerajinan tangan atau pertanian.

Dalam bidang kampanye, pusat rehabilitasi menyebarkan berbagai brosur dan pamflet, serta melakukan berbagai pelatihan dan seminar bagi para pekerja kesehatan Barangay.

 

Miss Violetta D. Bayatto

Presentasinya berkisar mengenai pengalaman dari perspektif aktivitasnya yang memberi pendidikan publik mengenai kesehatan jiwa.

Bermula dari ulasan mengenai kerentanan bencana alam negara Filipina yang ternyata berdampak pada psikososial masyarakatnya. Sejarah masyarakatnya juga mencatat penurunan ekonomi masyarakatnya sampai saat ini.

Selama lebih dari 50 tahun pasien gangguan jiwa dirawat di RS. Dan tak dapat dipungkiri bahwa dalam masyarakat umum telah ada stigmatisasi mengenai penderita gangguan jiwa yang negatif.

Selain pekerjaan-pekerjaan merawat penderita secara langsung, muncul kebutuhan lain untuk mendidik publik mengenai kesehatan mental yang sesungguhnya. Ini dimulai dengan melakukan pengamatan di lapangan secara langsung. Miss Violetta bekerja dengan menggunakan kendaraan berkeliling jalanan. Kendaraan itu memiliki tulisan ”Philipine Mental Health Institution”.

Kesempatan berkendaraan ini dipergunakan untuk melihat secara langsung efek kendaraan berlabel mental health instituion di jalanan. Dari dalam kendaraan dapat dilihat secara langsung bagaimana reaksi umum yang diperlihatkan masyarakat terhadap kendaraan dan para penumpangnya. Dan sebagian besar membuat joke dan tersenyum mentertawakan. Itu di perkotaan.

Sementara, di daerah hutan, ketika bekerja di sana tahun 2002, dengan kendaraan berlabel ”Pradet Psychosocial Rehabilitation” reaksi yang didapat dari masyarakat cukup berbeda. Orang-orang yang berpapasan akan melambaikan tangan dan senang melihat kendaraan itu.

Dari pengalaman itu, diambil asumsi mengenai istilah yang digunakan mengenai kesehatan jiwa. Entah karena perbedaan istilah mental health dan psychosocial, atau karena ada pergeseran paradigma dari istilah psychosocial. Atau kemungkinan penekanan yang berlebihan terhadap gangguan jiwa dari istilah mental yang digunakan. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa kata-kata dan gambaran-gambaran benar-benar berarti dalam memberi pemahaman, terutama terhadap publik.

Simpulan yang dapat diambil dari pengalaman dalam pendidikan kepada publik mengenai kesehatan jiwa ini bahwa ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam beraktivitas ke depannya, yaitu: a) agar tidak terfokus pada diagnosis dan pendekatan biomedis; b) harus berurusan dengan kerumitan penyebab psikososial dan bukan dengan sumber daya; c) belajar menggeser paradigma dan prasangka; d) merangkul kelompok yang terdiskriminasi; e) berhadapan langsung dengan pelanggaran terhadap HAM.

Pesannya di sini adalah: “Kita dapat bekerja bersama”.

 

Sesi Tanya Jawab

Tanya:

Bagi orang yang profesional dalam kesehatan bagaimana berubah dari biomedical ke psikososial. Kita perlu bekerja bersama sebagai partner yang setara. Model Abdul Kadir, adalah model psikiatris, bagaimana visualisasi interaksi keluarga?

 

Jawab:

Model biomedis telah mencapai batasnya, jadi institusi kesehatan jiwa ini telah melewatinya. Ada kebutuhan selanjutnya untuk mengikutkan keluarga dan komunitas. Di sini yang dibuka adalah manajemen oleh keluarga-keluarga itu. Mereka mengatur pertemuan rutinnya. Di sini juga dibuat jejaring dengan media elektronik untuk menyiarkan kegiatan-kegiatan para keluarga ini. Keluarga-keluarga ini berorganisasi di luar RS dengan mendapat dukungan secara profesional dari RS. Dengan cara berorganisasi seperti itu, orang-orang baru akan memperoleh pengalaman dari keluarga lama.

Berkaitan dengan pengobatan medis, begitu ada obat baru bisa digunakan secepatnya. Namun pengobatan ini juga bergantung pada kecocokan penderita. Pengalaman-pengalaman mengenai obat-obatan yang digunakan ini misalnya bisa saling dipertukarkan dalam kelompok keluarga. Jadi sesungguhnya pengobatan medis memiliki peran yang kecil dalam perawatan penderita ini.

Pelatihan-pelatihan diberikan pada orang-orang yang akan memberikan konseling pada keluarga-keluarga pasien. Pada umumnya pelatihan berkisar mengenai bagaimana mendengarkan orang, memberi nasehat, dan mengajukan alternatif penyelesaian masalah. Orang-orang yang memberi konseling ini bisa berasal dari berbagai profesi. Bisa guru, pendeta, dll. Mereka ini akan bebas bekerja sendiri.

 

Moderator:

Ada perubahan yang tidak terlampau drastis di kalangan medis dan psikiatri yang mulai mengkritisi perawatan biomedis. Di wilayah bencana perawatan ini dihindari. Dalam Jejak Jiwa, masing-masing individu diakomodir dan berdialog secara dinamis untuk mendapat wawasan yang lebih baik. Di sini dilakukan reformasi terhadap mindset agar mampu melihat masalah kesehatan jiwa dalam arti yang sangat luas. Di sini akan terus diciptakan ruang dalam forum apapun.

Jejak Jiwa melakukan updating pada konsep psikiatri. Bahwa perawatan tidak selalu harus dilakukan di RS, tapi juga di luar. Ini PR yang  besar. Namun ke depan Jejak Jiwa akan bekerja dengan langkah-langkah kecil.

Ada kemungkinan untuk mengajukan Askeskin (asuransi kesehatan untuk orang miskin). Namun ini harus dicermati, karena skema Askeskin ini sangat generik, yang artinya hanya mencakup pengobatan medis saja. Sementara perawatan mencakup lebih banyak proses, seperti psikoterapi dan home visit, dan porsinya justru jauh lebih besar. Jadi, akan muncul pertanyaan apakah aksesibilitas dapat dicapai oleh skema ini, dan apakah memadai?

Dan dalam lecture juga dijelaskan soal mindset yang berkenaan dengan terminologi. Ada contoh kasus di Jepang yang berupaya mengganti schizophrenia dengan istilah lain, supaya lebih soft.

Pertemuan akan dilanjutkan dengan diskusi secara bebas, sehingga begitu selesai akan ada beberapa kesepakatan dan inisiatif agenda bersama.

 

Dr. Abdul Kadir:

Psikososial ini sangat penting dalam kesehatan jiwa. Kebanyakan service provider mental health bermarkas di RS. Dan para service provider ini kuasanya sangat mutlak. Menurut saya, ini perlu dikurangi. Kita perlu mengatakan bahwa RSJ tidak penting, dan sebaiknya dihilangkan saja. Dan kalaupun RSJ tetap ada, perlu dilakukan manajemen pekerjaan, sehingga tidak akan pernah ada istilah kekurangan pekerja kesehatan. Kalaupun seorang dokter kesehatan jiwa tidak punya asisten, semua pekerjaannya bisa dan harus bisa dikerjakan dan diselesaikan.

 

Moderator:

Terapi dapat dilakukan oleh siapapun dengan kapasitas apapun. Secara teoritis hal ini mungkin tidak akan nyambung dengan profesi kedokteran. Namun secara komunitas, hal ini bisa dilakukan sesuai dengan kondisi yang melingkupinya.

 

(Notulis: E.R./L.)

 

Mental Health as the Capital of Nation’s Strength

Having sense of belonging as the part of Indonesia nation, the originators of National Mental Health Convention (KNKJ) desire to always awaken people’s awareness about the importance of taking care of national mental health as a social capital for the sustainability of a mentally healthy nation. The organizing of KNKJ-I in 2001 in Malang and KNKJ-II in 2003 in Jakarta had created a dialogical arena for cross-professional and cross-disciplinal agents who care about mental health problem in this country. The Convention systematically has been doing discussions, initialized by the exposition about the real condition of Indonesia, the diagnosis from a variety of point of views, and together finds out the solutions. Furthermore it is understood that the mental health problems have a wide range spectrum begin from of children, adults, and families to societies as well as nation problems.

KNKJ-II in 2003, with the topic of “Our Nation at Risk”, had a backdrop of an exposition of national situations that concerns us greatly for those tend to significantly risk the survival and sustainability of the Indonesia we love. Analogue with the critical periods in the developmental stage of every human life, our nation is now in a critical phase of becoming Indonesia. It turned out that the its histories present us with conflicts and violence. The social cost was not calculated, and the nation and character building was ignored.

Living as a nation in its essence is a learning and dialogical process in a we-ness atmosphere focused on building the bio-psycho-social-cultural-spiritually healthy folks. From the exposition of the speakers, the organizing of KNKJ-II had given us enlightenments about the national collective consciousness and its role in understanding what we have done to ourselves also with a variety of symptoms, consequences, and implications.

In the social level of national life, cultural crises caused by coercion from the strong to the weak, both globally and locally, and the lack of leading figure or cultural exemplar to be consumed by the folks’ soul, are parts of symptoms which influences our integration process as a nation and makes the process of becoming Indonesia so complicated. Nevertheless, in the local level, it is observable that there are alternatives of solutions which is even though still in explorative level, they needs to be given opportunities to grow further. These local elements’ roles are worth appreciating and developing.
Conflicts and violent faces performed in a horrible escalation, and endless disasters striking this nation, in one side destructs the substructure of societal life, but in another side waking up the awareness about the essence of living as a nation and also building the strong social solidarities.
In economical aspect, KNKJ-II contributed to us by giving awareness that the economic damages resulted from loss of productivity times caused by mental health disorders in 1997 is equal to 31.9 trillion rupiahs. This number indicates that mental health disorder problems is factually containing very significant economical problems. This burden can be continuously heavier particularly if there are no immediate adequate investment to cope with the mental health problems.

Because of that, even though “our nation at risk” has been an affirmative statement, but the Convention believes that the nation spirit can revive. This belief has to be acknowledged with an awareness that to revive a nation spirit is a big work which can not be well done by only one groups/people or one expertise. KNKJ-I and KNKJ-II had started by systematically reforming the ways of thinking and acting with the participation of a variety of people who care about societal mental health through dialogue and communication network which have to be always constructed and developed. All of these ideas should make a “movement” which can significantly contribute to nation building. The leading thread of ideas rolled by “Indonesia Mental Health Network” needs continuing.

The next step is to realize some acts and programs emerged from the constructed network in accordance with local and social needs. Inventorying what have been designed and done by KNKJ-I, KNKJ-II and the network, can be mapped into four alternative areas. These four quadrants will be the guidance to ensure the sustainability of this “movement”.

In this concept of “movement” realized into networks, every people can proactively play his/her/their roles chosen by himself/herself/themselves in those four quadrants. All nodes in this our network will develop activities for himself/herself/themselves according to his/her/their competence. Communication system will be built in this network, initialized by simply providing “JejakJiwa” (Mental Health Network) site <http://www.jejakjiwa.org> which temporary functions as pooling and clearing-house facility from a wide range of information and communication needed.

KNKJ-III is held in the midst of the natural disaster suffered by the Yogyakarta and Central Java. Once more we are reminded by God to reflect the essence of life, humanity, and nationality. Once more we are exposed by the suffering of our brothers and sisters, by the messed-up disaster management, by the narrow-minded behaviour of the opportunists, but also we are exposed by heroic stories, solidarity building which is still pure based on love that gives us optimisme that we as nation still exist and will keep on exist. Those disasters should also remind us to continue “JejakJiwa” (Mental Health Network), and also re-affirm our commitment to keep going.

Mental health problems and public services designed to cope with them can be compared to the peak of an iceberg. There is a need of good intention, seriousness, and sustainable energy driving to understand the connections between the fulfillment or lack of mental health conditions with the social and institutional practices as well as the other environmental factors. For the large scale and complexity of social process of Indonesia society, suffice it to say that the handling of mental health is on of the big challenges of the management of people’s safety, welfare and wellbeingness.

Following-up the KNKJ-I and KNKJ-II initiatives in grabbing public attention to those urgent problems, it is important to take initiation of creating a long term mental health campaign model. Principally, this campaign is based on a circle of activities consisting of for areas of intervention which organically connect one another.

 

THE 1ST ANNUAL INTERNATIONAL SEMINAR & LECTURE SERIES

AND

LAUNCHING – INDONESIAN JOURNAL OF MENTAL HEALTH

TEMA

DEMAND ON SOCIAL LEARNING

Agenda advokasi Jejak Jiwa untuk kemajuan intervensi urusan kesehatan jiwa mensyaratkan kebutuhan para pemilik kepentingan utama untuk memahami dengan lebih baik duduk-perkara masalah kesehatan jiwa, sebagai bagian dari gagasan tentang “kualitas hidup” pada skala diri dan masyarakat, Rintisan awal gerakan juga menunjukkan beroperasinya dua asumsi lainnya:

Pertama, bahwa syarat kesepakatan belajar dalam proses social learning berskala makro terpenuhi. Artinya, institusi yang berkepentingan — kantor-kantor pengurus negara, universitas, rumah sakit jiwa, industri farmakoterapi, praktisi pelayanan kesehatan jiwa, dan konsumen pelayanan perawatan kesehatan jiwa — terbuka untuk perubahan dan mampu berubah.

Kedua, tersedia cukup sumber tenaga (a.l. pelajar, peneliti, dana, organisasi, jaringan kerja, sumber informasi) untuk menjaga kelangsungan proses belajar. Seperti kita tahu dengan baik, kedua asumsi di atas layak didiskusikan dengan tajam.

Salah satu sumber pengubah faktor-resiko di Indonesia adalah proses-proses sosial yang jauh lebih rumit daripada mekanisme dan bangunan institusi-institusi pengelolaannya. Tingginya keragaman  representasi sosial di kepulauan telah terbukti rentan terhadap konflik sosial. Sumber-sumber pemicu lainnya a.l. adalah meluasnya wilayah distress yang berkaitan dengan ekonomi (seperti lapangan kerja luar-negeri), situasi lokal (upah rendah, pengangguran terselubung, rendahnya nilai-tukar produksi pedesaan), serta ruang hidup tanpa jaminan keselamatan dan perlindungan bagi para pengungsi ekonomik dari desa. Program-program dan riset macam apakah yang responsif terhadap keadaan tersebut?

Pertimbangan Tentang Garis Depan Kemajuan Profesi Serta Wilayah-Wilayah Temu Antar Disiplin

Pertama, terbaca dengan cukup jelas pengaruh dari dan hubungan pendek dengan tradisi-tradisi keilmuan lain baik dalam ilmu-ilmu sosial maupun ilmu-ilmu “keras” di dalam agenda, thema dan soal-soal riset yang mengemuka dalam setengah abad ini. Sebagai salah satu konsekuensinya, telah berkembang pengayaan wacana, metodologi, aksiologi. Sebagai ilustrasi, obyek telaah di kedua disiplin (psikiatri dan psikologi) telah mulai menggeser garis depan perbedaan prinsipil di antara keduanya, dari dikotomi epistemologis yang bersifat discrete menjadi sebuah polaritas. Judul-judul jurnal yang berkembang subur, misalnya, menunjukkan polaritas baru tersebut: “psikiatri sosial” v.a.v. “psikologi sosial”; “culture, medicine and psychiatry”; “mental health policy and economics”; “theory of social behaviour”; “psychological anthropology”. Pada tataran thema, juga teramati gejala internasionalisasi riset serta respons cepat dari kedua disiplin pada masalah-masalah sosial genting yang mengemuka baik di metropol negara-negara industri maupun negara-negara dunia ketiga di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Dengan kata lain, kedua disiplin tengah “membarui diri” dengan memberikan perhatian penuh pada rentang rantai kausalitas dari gejala kejiwaan serta resiprokalitasnya.

Kedua, mengingat proses “pendewasaan” intelektual yang tengah berlangsung tersebut, perlu dicoba diadakan pemetaan wilayah-wilayah potensial dalam kolaborasi keilmuan, yang paling relevan dengan segenap setting sosial dan kelembagaan tersebut di atas, dengan sebuah heuristics yang tidak deterministis, serta menciptakan ruang bagi kemungkinan kolaborasi dan pengayaan pada tingkat keilmuan.

Ketiga, pada tataran praktek sosial dan institusional, juga berkembang perhatian lebih serius pada kedudukan etis dari rantai intervensi di kedua profesi kunci tersebut. Hal ini a.l. terlihat dalam implikasi etis penerapan profesional system pengetahuan tentang perilaku, serta dari tradisi penanganan gejala gangguan kejiwaan sejak deteksi dan diagnosis sampai dengan psikoterapi dan farmakoterapi, mencakup Konsensus subyek konsumen pelayanan kesehatan jiwa atas seluruh rantai tindakan terhadap dirinya, perbedaan definisi dan penerimaan terhadap kondisi gangguan psikososial/kejiwaan.

Keempat dan terakhir, pemahaman baru tentang sirkuit-sirkuit pengaruh di antara diri/pribadi dengan masyarakat, seperti dalam tradisi pemikiran Moscovici tentang representasi sosial, telah mendudukkan persoalan “kesehatan jiwa” dalam peta-peta proses sosial yang jauh lebih luas dari domain intervensi ilmu-ilmu perilaku atau psikiatri.

 

GERAKAN KESEHATAN JIWA

JEJARING KOMUNIKASI KESEHATAN JIWA

 

Latar belakang

 

Kegelisahan kita karena mengetahui adanya masalah besar tentang kesehatan jiwa di masyarakat kita

Kesadaran bersama dari berbagai pihak mengenai pentingnya keswa sebagai modal kekuatan bangsa

Kesadaran bahwa masalah keswa adalah masalah multidimensi yang seharusnya menjadi kepedulian berbagai kalangan profesi dan disiplin – bukan hanya urusan psikiater & psikolog saja

Penyelenggaraan konvensi nasional kesehatan jiwa (KNKJ) sebagai ajang dialog

 

KONVENSI NASIONAL KESEHATAN JIWA

KNKJ – I (Malang, 2001): Merupakan ajang dialog antar pelaku lintas profesi & disiplin yang menegaskan pendekatan dan pandangan luas tentang kesehatan jiwa. Disepakati untuk meletakkan dasar-dasar program aksi bersama.

KNKJ – II (Jakarta, 2003): Dengan tema besar “OUR NATION AT RISK” berbicara tentang ‘jiwa bangsa’, mengidentifikasi, mendiagnose dan mencari serta menyusun kesepakatan pembuatan ‘road map’ penanganan masalah kesehatan jiwa bangsa.

KNKJ – III (Jakarta, 2006): Menegaskan tentang Kesehatan Jiwa sebagai hak azasi manusia serta me “launch” road map dalam bentuk 4 Kuadran Intervensi kesehatan Jiwa

 

MELIHAT KE DEPAN

KNKJ-I,  KNKJ-II  dan KNKJ-III telah  memulai dengan  mengubah  cara  berpikir  dan  bertindak  secara  sistemik  oleh  berbagai  kalangan  yang  peduli  pada  kesehatan  jiwa  masyarakat  melalui  dialog  dan jejaring komunikasi yang harus selalu dibangun dan dikembangkan.

Segenap pemikiran ini seharusnya menjadi ‘gerakan’ yang dapat secara nyata memberikan sumbangan bagi pembangunan bangsa ini

 

 

Jejak Jiwa Mengintroduksi 4 Kuadran Intervensi Keswa Jangka Panjang

 

Wilayah intervensi 1 (Kuadran 1)

Pengembangan Pengetahuan Kritis tentang Kesehatan Jiwa

 

Wilayah intervensi 2 (Kuadran 2)

Pemetaan dan Penilaian Berkala dari Kondisi-Kondisi Yang Berpengaruh pada Persoalan Kesehatan Jiwa

 

Wilayah intervensi 3 (Kuadran 3)

Tindakan Kolaboratif Strategis

 

Wilayah intervensi 4 (Kuadran 4)

Pengembangan Sistem Dukungan Publik Untuk Penanganan Persoalan Kesehatan Jiwa

 

KUADRAN 1

WILAYAH INTERVENSI 1

Pengembangan Pengetahuan Kritis tentang Kesehatan Jiwa, terdiri dari:

  1. Pengembangan epistemologi kesehatan jiwa yang berwacana luas dan dialogis
  2. Pengembangan kerangka analitik pluri-disipliner untuk kesehatan jiwa
  3. Pengembangan sebuah kerangka pokok ketentuan publik untuk menangani persoalan kesehatan jiwa
  4. Pengembangan tipologi terapan dari kesatuan-kesatuan sosio-spasial genting untuk penanganan kesehatan jiwa

 

KUADRAN 2

WILAYAH INTERVENSI 2

Pemetaan dan Penilaian Berkala dari Kondisi-Kondisi Yang Berpengaruh pada Persoalan Kesehatan Jiwa

  1. Menemu-kenali bentuk-bentuk praktik-institusional utama yang ikut mempengaruhi syarat-syarat kesehatan jiwa
  2. Menemu-kenali bentuk-bentuk praktik-diskursus utama yang turut membentuk wacana tentang kesehatan jiwa
  3. Penilaian kritis dari bentuk-bentuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan jiwa yang ada dan yang dibutuhkan

 

KUADRAN 3

WILAYAH INTERVENSI 3

Tindakan Kolaboratif Strategis

  1. Kampanye legislasi sosial untuk pengembangan kerangka ketentuan publik yang menyangkut kesehatan jiwa
  2. Kampanye re-alokasi sumber-sumber daya publik untuk menangani persoalan kesehatan jiwa
  3. Penilaian kritis terhadap bentuk-bentuk pengadaan pelayanan kesehatan jiwa

 

KUADRAN 4

WILAYAH INTERVENSI 4

Pengembangan Sistem Dukungan Publik Untuk Penanganan Persoalan Kesehatan Jiwa

  1. Pembangunan dan pengelolaan infrastruktur-sosial kesehatan jiwa
  2. Pemajuan capaian keilmuan dan profesional dalam urusan kesehatan jiwa
  3. Kampanye untuk menggalang dana abadi bagi penanganan kesehatan jiwa jangka panjang
  4. Pengembangan organisasi dan jaringan pendukung untuk penerapan intervensi di wilayah-wilayah intervensi jangka panjang tersebut di atas

 

JEJAK JIWA
Round Table Discussion
Jakarta, 19 November 2008

Latar Belakang RTD November 2008

  • Perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir di negeri ini, baik disebabkan dinamika internal dalam negeri maupun akibat gejolak dunia yang luar biasa, mau tidak mau mempengaruhi kondisi kejiwaan dan perilaku masyarakat kita.
  • Perlu kiranya saat ini kita semua, terutama yang peduli dan percaya terhadap kesehatan jiwa sebagai faktor penting bagi terbangunnya bangsa yang berbudaya, mandiri, dan bermartabat melihat secara kritis apa yang terjadi, apa yang telah, dan yang perlu dilakukan.

 

Gerakan Kesehatan Jiwa

Gerakan Kesehatan Jiwa: Latar Belakang

  • Kegelisahan kita karena mengetahui adanya masalah besar tentang kesehatan jiwa di masyarakat kita
  • Kesadaran bersama dari berbagai pihak mengenai pentingnya KESWA sebagai modal kekuatan bangsa
  • Kesadaran bahwa masalah KESWA adalah masalah multidimensi yang seharusnya menjadi kepedulian berbagai berbagai kalangan profesi dan disiplin – bukan hanya urusan psikiater dan psikolog saja
  • Penyelenggaraan Konvensi Nasional Kesehatan Jiwa (KNKJ) sebagai ajang dialog

 

KNKJ – I

  • Diselenggarakan di Malang tahun 2001
  • Merupakan ajang dialog antar pelaku lintas profesi dan disiplin yang peduli pada masalah kesehatan jiwa
  • Menegaskan perlu adanya kerjasama berbagai kalangan

 

Rekomendasi KNKJ – I

  • Pengembangan kebijakan dan kelembagaan. Untuk melaksanakan upaya menanggulangi masalah / gangguan jiwa masyarakat yang multidimensi, diperlukan pengembangan kebijakan nasional tentang sistem kesehatan nasional. Pencanangan gerakan nasional penanggulangan masalah kesehatan jiwa dan kebijakan pengembangan kelembagaan di tingkat nasional dan daerah.
  • Pengembangan upaya-upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Untuk mengikis stigma di masyarakat tentang gangguan jiwa, diperlukan upaya-upaya peningkatan pengetahuan masyarakat dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan jiwa.
  • Pengembangan jejaring networking pelayanan kesehatan jiwa komunitas. Sebagai sarana komunikasi antar lembaga/organisasi guna menyelaraskan dan mengefektifkan kegiatan penanggulangan masalah kesehatan jiwa masyarakat.
  • Pengembangan kemampuan penyebaran informasi
    Untuk mendukung penyebarluasan kebijakan dan kegiatan penyebaran informasi tentang KESWA.

 

Rekomendasi KNKJ – I

  • Pelatihan dan pendidikan kesehatan jiwa masyarakat guna mendukung sistem kesehatan jiwa yang memadai
  • Penelitian mengenai masalah-masalah budaya yang menjadi kendala dalam pelayanan KESWA di berbagai daerah.
  • Pengembangan upaya pendanaan untuk membiayai semua aktivitas penyelenggaraan gangguan kesehatan jiwa.
  • Pengembangan system informasi masalah kesehatan jiwa komunitas. Upaya penanggulangan masalah KESWA memerlukan data/informasi tentang keberadaan kasus-kasus gangguan jiwa yang rinci dan akurat, yang diperlukan bagi upaya program aksi, monitoring dan evaluasi program.
  • Penemuan tokoh panutan. Diperlukan untuk dijadikan contoh dan motor penggerak usaha-usaha penanggulangan kesehatan jiwa masyarakat secara nasional.

 

KNKJ – II

  • Diselenggarakan di Jakarta tahun 2003 dengan tema “Our Nation at Risk
  • Berbicara tentang “jiwa bangsa”
  • Terjadinya penyimpangan dalam proses internalisasi system nilai antar generasi, telah menimbulkan gesekan-gesekan yang bias berpotensi menjadi ancaman bagi keharmonisan kehidupan bermasyarakat
  • Kerugian ekonomi yang besar sebagai akibat gangguan KESWA
  • Pengingkaran-pengingkaran atas nilai-nilai dan norma-norma kebenaran dan kebaikan tanpa rasa bersalah
  • Diagnosa bahwa kondisi kejiwaan bangsa sedang sakit
  • Mata rantai risiko: “our children at risk” – “our family at risk” – “our community at risk” – dan pada ujungnya “our nation at risk

 

Sub-tema KNKJ – II

  • Masalah psikososial masyarakat Indonesia
  • Politik kebangsaan: menjadi Indonesia
  • Menuju kebangkitan kembali jiwa bangsa
  • Melahirkan dan menggulirkan gerakan KESWA masyarakat

 

KNKJ – III

  • Memperluas platform gerakan dengan menggalang kerjasama regional
  • Diselenggarakan di Jakarta tahun 2006
  • Diselenggarakan bersamaan dengan Kongres ke-10 AFPMH dan ASEAN Forum on Child and Adolescent Psychiatry ke-14
  • VISI: Mental health for everyone as a basic human right
  • MISI:
  1. Promote universal availability of affordable mental health services
  2. Reduce the burden of mental illness on the individual, the family and society
  3. Work for optimal de-stigmatization of mental illness
  4. Conduct public education on mental illness and the importance of mental health
  5. Raise the standards of practice through continuing professional education
  6. Promote research to advance knowledge and upgrade mental health care
  7. Propagate advocacy to influence government and mold public policy

Melihat Ke Depan

  • KNKJ – I, KNKJ – II dan KNKJ – III telah memulai dengan mengubah cara berpikir dan bertindak secara sistemik oleh berbagai kalangan yang peduli pada kesehatan jiwa masyarakat melalui dialog dan jejaring komunikasi yang harus selalu dibangun dan dikembangkan
  • Segenap pemikiran ini seharusnya menjadi “gerakan” yang dapat secara nyata memberikan sumbangan bagi pembangunan bangsa ini

Mengintroduksi 4 kuadran intervensi KESWA jangka panjang

•       Wilayah Intervensi 1 (Kuadran 1)
Pengembangan pengetahuan kritis tentang kesehatan jiwa

•       Wilayah Intervensi 2 (Kuadran 2)
Pemetaan dan penilaian berkala dari kondisi-kondisi yang berpengaruh pada persoalan kesehatan jiwa

•       Wilayah Intervensi 3 (Kuadran 3)
Tindakan kolaboratif strategis

•       Wilayah Intervensi 4 (Kuadran 4)
Pengembangan sistem dukungan publik untuk penanganan persoialan kesehatan jiwa

 

Catatan Pra-RTD

Faktor-faktor yang Paling Berpengaruh pada Urusan Kesehatan Jiwa di Indonesia

Dua Fokus Terkait

  • Lokasi sosial urusan kesehatan jiwa di Indonesia setelah kemerdekaan. Faktor risiko kesehatan jiwa lebih besar daripada faktor pengurusan kesehatan jiwa.
  • Lokasi keilmuan dan profesional urusan kesehatan jiwa pada selang waktu yang sama. Wilayah eksplorasi dalam hal ini bukan saja pada kemajuan dalam disiplin-disiplin yang terkait dengan kesehatan jiwa, melainkan juga keragaman perspektif, kepahaman, pendekatan, operasionalisasi, perkakas terapan dalam tradisi keilmuan psikiatri dan ilmu keperilakuan (terutama psikologi).

 

Agenda Kerja/Belajar Jejaring serta Kerangka Waktunya

  • Fokus pertama adalah menghasilkan sebuah sketsa awal tentang kemendesakan dan kegawatan sisi permintaan akan investasi energi dalam soal kesehatan jiwa.
  • Fokus kedua adalah mengenali respons para pelau utama profesi dari riset mereka.
  • Persoalan: Bagaimana mengawal proses workshop untuk menghasilkan format keluaran yang cukup “operasional”?

 

Pertimbangan tentang Kelengkapan Syarat Belajar dan Syarat Perubahan di Dalam Negeri

  • Indonesia masih menduduki salah satu tempat terbelakang di Asia Tenggara dalam banyak aspek pengurusan kesehatan jiwa.
  • Legislasi untuk kesehatan jiwa dan rumusan ketentuan publik untuk kesehatan jiwa lainnya masih jauh dari apa yang dibutuhkan untuk sungguh-sungguh mengurus kesehatan jiwa pada skala mikro.
  • Dari mana saja dapat diharapkan bergabungnya “darah baru” untuk mengelola dan melangsungkan program Jejak Jiwa?
  • Bagaimana strategi pembaruan kerangka social policy untuk memperbesar alokasi sumber-sumber daya untuk urusan kesehatan jiwa/psikososial?
  • Program-program dan riset macam apakah yang responsif terhadap sumber pengubah faktor risiko KJ, seperti proses sosial yang jauh lebih rumit, meluasnya wilayah distress yang terkait ekonomi, situasi lokal, serta ruang-hidup tanpa jaminan keselamatan dan perlindungan bagi para pengungsi ekonomik dari desa.

 

Pertimbangan tentang Garis Depan Kemajuan Profesi serta Wilayah-wilayah Temu Antar Disiplin

  • Objek telaah psikiatri dan psikologi telah mulai menggeser garis depan perbedaan prinsipil di antara keduanya, dari dikotomi epistemologis yang bersifat diskret menjadi sebuah polaritas.
  • Perlu dipertimbangkan pemetaan wilayah-wilayah potensial dalam kolaborasi keilmuan, yang paling relevan dengan segenap setting sosial dan kelembagaan, dengan sebuah heuristik yang tidak deterministik.
  • Berkembangnya perhatian lebih serius pada kedudukan etis dari rantai intervensi di profesi psikiatri dan psikologi.
  • Persoalan “kesehatan jiwa” telah didudukkan dalam peta-peta proses sosial yang jauh lebih luas dari domain intervensi ilmu-ilmu perilaku atau psikiatri.

 

Wilayah Belajar untuk Urusan Kesehatan Jiwa

Alur pembahasan paralel:

  • Pembahasan kritis tentang arah pengembangan lanjut dari DSM dan relevansinya dengan agenda Jejak Jiwa;
  • Agenda Riset untuk DSM-V (First, 2002)
  • Memperkaya basis data empiris lewat upaya-upaya untuk mendorong riset.
  • Merumuskan sebuah agenda riset dan analitis untuk membantu pemanduan temuan-temuan dari riset dan pengalaman dalam studi hewan, genetika, neurologi, epidemiologi, riset klinis, dan pelayanan klinis lintas-budaya, menuju sebuah sistem klasifikasi yang kokoh secara ilmiah.
  • Pembahasan kritis tentang wilayah-wilayah teliti strategis bagi disiplin-disiplin yang terwakili kepentingannya dalam urusan kesehatan jiwa, sebagai bagian dari rumusan agenda penelitian jangka panjang dari Jejak Jiwa.

 

Kerangka Waktu dan Tahap Belajar Awal dari Pengembangan Jaringan

Fase 1: Pemetaan awal Agenda Belajar Jejak Jiwa

  • Kondisi-kondisi khas wilayah untuk keselamatan dan kualitas hidup
  • Wilayah depan kemajuan keilmuan dan profesi

Fase 2: Pemetaan Fungsi dan Unsur Jaringan Belajar

  • Fokus-fokus agenda riset dan pendidikan
  • Fokus-fokus kompetensi sasar lembaga dan pelaku kunci Jejak Jiwa
  • Fokus-fokus bagi kerja antar lembaga dan pelaku kunci

Fase 3: Perumusan dan Penyepakatan Jadwal Pokok Jejak Jiwa

  • Peta kebutuhan energi dan personil pengelola kegiatan
  • Jadwal dan tempo kegiatan pihak-pihak lain di dalam/luar negeri
  • Kesediaan dan kapasitas pendukung dan perintis Jejak Jiwa

 

Written by juneman in: Bangsa,Profesi | Tags: , , ,
Aug
09
2011
3

Anakmu Bukan Milikmu

Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir
melaluimu tetapi bukan berasal darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun.

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia merentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.

Khalil Gibran

Written by juneman in: Uncategorized |
Aug
04
2011
0

Prof Dr Quraish Shihab: Orang Awam itu tidak Punya Mazhab

“Orang Awam itu tidak Punya Mazhab”

Sumber: Al-Huda, 2007, Jakarta, Syi’ar : Satu umat yes, satu mazhab no..! edisi maulid, April 2007, hal.52-58
Berbicara tentang tafsir dan ilmu tafsir di Indonesia tidak mungkin dapat dilepaskan dari figur kelahiran Rappang, Sulawesi Selatan, 63 tahun yang lalu ini. Muhammad Quraish Shihab, cendekiawan Muslim dan mantan Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan VII (1998), tidak diragukan lagi adalah—selain penulis produktif dalam tema-tema keislaman—satu di antara sedikit sekali mufasir Indonesia yang telah menyusun tafsir al-Quran secara lengkap. Al-Mishbâh, karya doktor bidang ilmu-ilmu al-Quran Universitas al-Azhar, Kairo, ini, merupakan tafsir lengkap pertama khas Indonesia dalam 30 tahun terakhir.

Perhatiannya terhadap Ulumul Quran di Indonesia menempatkannya sebagai “avant garde” perkembangan ilmu langka ini di tanah air. Di sela-sela kesibukannya menulis, mengajar, dan membimbing mahasiswa pascasarjana, guru besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah, Jakarta, ini menyempatkan diri berbincang dengan SYIAR seputar perkembangan tafsir dan ilmu tafsir serta sumbangsih keduanya bagi Muslim Indonesia.

Bagaimana perkembangan dunia tafsir di Indonesia?

Perkembangan dunia tafsir di Indonesia lumayan baik. Mereka (para ahli tafsir Indonesia—red) memang belum menyusun kitab tafsir yang sempurna. Tetapi, ada tulisan-tulisan orang-orang Indonesia yang berkaitan dengan tafsir atau pemahaman al-Quran. Bahkan, baru-baru ini di Yogyakarta ada disertasi tentang tafsir-tafsir yang berkembang di Indonesia. Ada juga karya-karya tafsir dengan tema-tema tertentu, hanya saja ini tidak tersebar luas. Misalnya, (kata—red) kufur dalam al-Quran itu apa, Ahlulkitab dalam al-Quran itu apa. Sebelum ini, Dawam Rahardjo juga menulis tafsir. Kami juga sekarang ini sedang mencetak buku berkaitan dengan tafsir, yang dinamakan “Ensiklopedia al-Quran” yang ditulis sekian banyak sarjana Indonesia yang saya koordinasi. Hanya saja semua ini tidak tersebar, tidak seperti al-Mishbâh yang dimuat di televisi.
Apakah ada perbedaan antara mufasir Indonesia dan Timur Tengah?
Pasti. Setiap pemikir dipengaruhi oleh banyak hal. Salah satunya adalah kondisi sosialnya. Selama itu hasil pemikiran sendiri dan bukan jiplakan pasti ada pengaruhnya.
Buya Hamka itu sastrawan sehingga, dari segi sastra dan bahasa, (tafsirnya—red) sangat menarik. Dia juga generalis, banyak tahu bidang ilmu pengetahuan. Dia juga rasionalis sehingga penafsirannya pun rasional. Nah, setiap orang mempunyai ciri-ciri tertentu.
Tidak ada orang yang memonopoli kebenaran kecuali Rasulullah saw. Tidak pula ada orang yang memonopoli kesalahan. Semua orang bisa benar maupun salah. Apa yang dikemukakan lima org yang berbeda, sebagai contohnya, bisa jadi benar semua. Paham saya seperti itu. Jadi, janganlah lantas berkata, pasti semua benar. Tidak bisa begitu. Apalagi saat bicara al-Quran, kita bisa benar dari sudut ini sementara dari sudut lain pun bisa benar pula.
Banyak perspektif ilmuwan Muslim kontemporer memakai konsep hermeneutik yang sosiologis dan kontekstual. Bagaimana pandangan Anda?
Hermeneutik sebenarnya bukan hal baru. Hanya pengembangannya sekarang ini bisa jadi berbeda dengan pengembangan hermeneutik pada masa lalu. Sejak dulu, ulama kita juga sudah memberikan perhatian kepada makna-makna kebahasaan suatu kata. Sejak dulu, mereka sudah memahami ayat-ayat al-Quran atau hadis berdasarkan konteks atau teksnya. Yang kita tidak setuju dari hermeneutik adalah bila kita ingin menjiplak 100% hermeneutika dan tata cara ketentuannya sebagaimana orang Barat memahami kitab suci mereka.
Mereka, misalnya, mengajarkan untuk meragukan teks. Ini berbeda dengan kita. Bila Anda Muslim, Anda tidak perlu meragukan teks. Mereka (Barat—red) mempunyai problem bagaimana bisa firman Tuhan yang tidak terbatas dapat dipahami makhluk-Nya yang terbatas sehingga ada perantara, dan lain sebagainya. Bagi kita, itu bukan problem. Kita memang tidak bisa memahami kitab suci al-Quran semata-mata berdasarkan teksnya. Kita juga memperhatikan konteks, yang kita namai “asbâbun-nuzûl”. Kita memahami bahwa al-Quran atau teks al-Quran mengubah makna-makna semantik suatu kata.
Dulu, kata salat berarti ‘doa’. Tetapi, al-Quran mengubah makna semantiknya sehingga salat bukan lagi selalu berarti ‘doa’. Ini kan bahasan yang sudah ada sejak dulu. Jadi, kita tidak menolak hermeneutik secara keseluruhan. Kita punya catatan-catatan menyangkut hermeneutik yang ingin diterapkan.
Ada kalangan yang mengatakan teks itu bisu, mufasirlah yang membuatnya “berbicara”?
Saya ingin berkata begini, teks itu punya makna tetapi yang mengetahui makna itu secara persis hanya Tuhan dalam al-Quran. Makna hakikat suatu teks hanya bisa diketahui melalui pengucapannya. Maka, siapa yang mendengar teks al-Quran, dialah yang memberi makna pada teks itu, tetapi makna yang dipahaminya itu bersifat relatif.
Saya beri contoh. Saya berkata, “Saya juga belum makan,” apa maknanya? Artinya bisa berarti ‘saya masih kenyang’ atau ‘saya juga belum makan, maka jangan habiskan makanannya’, dan lain-lain. Penafsiran-penafsiran sifatnya relatif. Yang tahu maknanya cuma Tuhan. Begitulah. Nah, kalau teks bisu dipahami seperti itu, saya sih okay saja.
Apakah sama sekali tidak ada pesan yang bisa ditangkap oleh pembaca yang bisa menimbulkan pemaknaan?
Sedikit sekali. Itu pun bukan hanya dari teks melainkan bersama sekian bukti-bukti yang mengiringinya. Saya beri contoh. Salat itu wajib. Dari mana Anda memahami itu? Ini berarti ada hal lain yang membuat Anda paham salat. Maka itu, dalam tafsir, ada yang dinamai qathi dan zanni. Apa yang Anda anggap benar bisa jadi dinilai orang lain sebaliknya.
Jadi, kita tidak bisa mengklaim semua kebenaran milik kita. Imam Abu Hanifah mengungkapkan hal ini dengan baik sekali. Kata, “Kebenaran itu adalah sesuatu yang sama sekali tidak memuat kepalsuan, dan mungkin kepalsuan adalah sesuatu yang sama sekali tidak memuat kebenaran.” Itu sikap yang seharusnya kita ambil terhadp siapa pun yang kita duga punya maksud baik terhadap Islam, sedangkan sikap sebaliknya bagi mereka yang punya indikator-indikator sangat jelas ingin menghancurkan Islam.
Imam Ali pernah berkata, “Bacalah al-Quran dan ajaklah bicara.” Bagaimana pandangan Anda?
Itulah yang oleh Muhammad Baqir Sadr dijadikan dasar bagi terciptanya metode mawdhu’i atau tawhidi. Anda punya problem, jangan cari solusi ke mana-mana, tetapi cari dan bukalah al-Quran. Itu namanya “istintaq bil-quran”. Nanti, al-Quran yang akan menjelaskan. Tapi, harus digarisbawahi bahwa penjelasan itu menurut versi dia (si pembaca).
Ini berarti ruang eksplorasi dalam tafsir lebih luas daripada fikih?
Kalau kita bicara Islam, sumber rujukannya adalah al-Quran. Semua ilmu keislaman pun lahir dari al-Quran. Mulai dari nahwu, sharaf, kalam, fikih, balaghah, dan lain-lain. Sehingga semua orang, bahkan yang non-Muslim, yang ingin bicara tentang Islam pasti merujuk ke al-Quran.
Al-Quran tidak menjadi sekat. Al-Quran, yang perlu kita ketahui bersama, hanya akan menjadi sekat apabila pandangan kita picik, seperti ungkapan, “Lihat ini, al-Quran berkata ini, yang lainnya tidak.” Tapi, bila pandangan kita luas, kita akan mengatakan bahwa yang berbeda-beda dengan kita pun mempunyai dalil.
Antara Imam Syafi’i dan Imam Malik juga berbeda. Antara Imam Malik dan Abu Hanifah beda. Begitu juga dengan dan antar-ulama lain seperti Imam Jafar. Biarkan saja semua begitu.
Kita menemukan fenomena monopoli tafsir, terhadap teks, ayat, maupun riwayat. Sehingga semua pandangan selainnya adalah salah. Dia tidak bisa membedakan antara teks dengan penafsiran terhadap teks. Sekarang ini, masyarakat menjadi ragu untuk berbeda pandangan. Ini yang perlu diluruskan.
Semua pendapat bisa jadi benar. Dalam konteks ini, agama bisa diibaratkan seperti angka 10. Bagaimana kita bisa mendapatkan angka 10? Ada yang bilang 7+3, benar, ada lagi yang bilang 6+4, 5+5, benar juga. Yang penting Anda pilih yang Anda anggap paling benar.
Sejauhmana Anda mengakrabi tafsir-tafsir Syiah?
Saya merujuk Thabathaba’i, Thusi, Thabarsi, dan ulama-ulama lain dari berbagai mazhab, seperti Muhammad Abduh dan Sayyid Quthb. Kalau Anda ingin melihat bagaimana tafsir saya, lihatlah tafsir al-Mishbâh. Saya punya gagasan tentang pentingnya memahami literatur-literatur di luar mazhab kita sendiri. Saya sering dinilai orang bukan Muhammadiyah, bukan NU, tidak mengapa. Yang penting jangan ada yang menganggap saya bukan Islam (tertawa—red).
Saya sependapat dengan ulama-ulama yang berkata, bahwa ulama yang hanya mengajukan satu pendapat saja bisa menimbulkan kesan hanya pendapat itu saja yang benar. karena itu, kalau saya ditanya orang, saya paling suka menjawab bahwa si A berkata itu, si B berkata ini, dan si C berkata begini. Tetapi, kalau kita hanya mengacu kepada satu hal, pasti itu tidak benar.
Namun, bagi sementara orang itu membingungkan. Dalam beberapa buku, saya dikritik. Yang mana pendapat Quraish Shihab yang sebenarnya, berilah masyarakat sebuah pendapat yang pasti.
Saya jadi bertanya balik. Kenapa kalau Anda ke pesta, lalu Anda dihidangkan teh, kopi, jus, dan bermacam panganan, Anda tidak bingung? Anda bisa katakan semua Anda sukai. Pilihlah yang Anda suka. Semua bisa benar. Karena prinsipnya, orang awam itu tidak punya mazhab. Dia hanya memilih mazhab bergantung pada siapa mufti yang memberinya jawaban.
Jadi, yang bermazhab hanya sedikit orang?
Bukan sedikit atau banyak, tetapi karena pilihan awam itu. Kenyataannya, bermazhab itu banyak. Tetapi, kalau kita bicara dari segi hukum, orang awam tidak bermazhab. Mazhabnya adalah siapa tempat dia pergi bertanya.
Dulu ada yang bertanya kepada Prof. Ibrahim Hosen. Orang itu bercerai talak tiga dengan istrinya. Dia tanya, bolehkah dia kembali atau rujuk lagi? Ibrahim Hosen tanya, apakah dia masih mencintai istrinya. Orang itu menjawab, iya. Maka, Ibrahim Hosen katakan, dia boleh kembali rujuk meskipun telah talak tiga karena (talak tiga itu—red) terjadi dalam satu majelis.
Dalam fikih Syafi’i, Abu Hanifah, dan lain-lain dikatakan bahwa talak tiga jatuh meskipun terjadi dalam satu majelis. Maka, saya bertanya kepada Prof. Ibrahim kenapa. Prof. Ibrahim katakan, orang itu masih mencintai istrinya. Kalau dia tidak setuju dengan pendapat saya, maka dia akan pergi ke ulama lain sampai dia bertemu ulama yang membolehkannya rujuk kembali. Daripada dia capai-capai, lebih baik saya bolehkan saja.
Orang awam itu tidak punya mazhab. Di Indonesia, mazhab kita adalah Syafi’i karena pada umumnya ulama menjawab berdasarkan atas jawaban-jawaban yang diberikan Imam Syafi’i.
Kalangan modernis mengatakan perlunya kontekstualisasi dan menimba ilmu dari Barat karena mereka punya metodologi yang tidak dipunyai ulama Timur Tengah. Bagaimana pendapat Anda?
Belum tentu. Saya tidak menolak mengambil dari siapa pun. Ini sejalan dengan prinsip-prinsip pokok yang disepakati siapa pun. Dari siapa pun, Anda bisa memungut kebenaran. Bahkan, dari seorang gila sekalipun. Kita hanya berkata, orang yang baik akidahnya akan berhati-hati dalam berpendapat. Tetapi, kepada orang yang tidak baik akidahnya, Anda dituntut untuk berhati-hati dua kali. Karena yang pertama hanya salah paham. Sedangkan yang kedua boleh jadi salah paham dan boleh jadi pula dia subjektif. Namun, kemungkinan benarnya tetap ada kan? Adakah pemahaman orientalis yang benar? Harus ada. Yang bagus kita ambil.
Namun, untuk masuk ke al-Quran itu sendiri, apakah ada metodologi atau alat khusus?
Ada. Ilmu alat khusus? Harus tahu nahwu. Harus tahu bahasa. Bagaimana Anda mau menafsir bila tidak tahu bahasa. Maka lahirlah ilmu-ilmu khusus itu.
Dalam Membumikan al-Quran, saya bisa memahami orang-orang yang mengatakan bahwa syarat-syarat untuk menafsirkan al-Quran selama ini terlalu ketat. Saya katakan bahwa saya tidak memakai syarat. Saya hanya meminta Anda untuk tidak salah. Nah, kesalahan yang utama biasanya dia tidak tahu bahasa. Kalau Anda mau menafsirkan al-Quran tetapi tidak mengerti bahasa, mintalah bantuan orang lain yang mengerti bahasa Arab. Anda tidak tahu konteks. Anda tidak tahu siapa yang berbicara. Hindarkanlah semua kesalahan itu, insya Allah bisa benar.
Kalau Ulumul Quran sendiri?
Ulumul Quran di kalangan ulama tafsir dikatakan sebagai ilmu yang membantu seseorang untuk memahami al-Quran. Karena ilmu-ilmu ini begitu banyak, kita tidak ingin menakutkan orang. Maka kita berkata, kalau tidak bisa, Anda bisa bekerja sama dengan orang lain.
Salah satu sebab kesalahan yang lain adalah menafsirkan ayat tetapi tidak tahu disiplin ilmu. Satu contoh, al-Quran bicara tentang astronomi. Yang tidak paham astronomi pasti salah penafsirannya.
Dengan kata lain, dengan al-Quran itu sendiri, kita tidak bisa memahami ilmu lain?
Kita bisa menjadikan al-Quran titik tolak untuk membahas (ilmu lain—red). Dulu, ulama menafsirkan firman Allah, yakhruju minhumâ al-lu`lu` wal-marjân (Dari keduanya keluar mutiara dan marjan [QS. 55:22]—red). Ulama berkata, minhumâ berarti minhu. Sebenarnya, semestinya mereka tidak cepat-cepat berkata bahwa al-lu`lu` wal-marjân itu hanya dari laut karena al-Quran berkata minhuma (dari keduanya—red), dari laut dan sungai. Mestinya mereka menjadikan ayat ini sebagai dasar bagi penelitian sungai. Namun, tidak ada umat Islam yang teliti dan justru orang non-Muslim (yang meneliti—red).
Sebagai sumber rujukan semua ilmu, bisakah al-Quran dijadikan hukum positif di suatu negara?
Kalau masyarakatnya sepakat bisa saja. Persoalan kita sekarang kan, masyarakat tidak sepaham. Anggaplah Mesir menjadikan Islam sebagai agama negara. Al-Quran sebagai sumber hukumnya. Namun, di Indonesia kan tidak demikian. Kita belum sepakat soal itu.
Bagaimana dengan monopoli tafsir al-Quran versi negara?
Tidak ada. Selama negara tidak melarang aneka pendapat yang sesuai dengan koridor, pemerintah bisa menetapkan suatu ketetapan untuk menghindari perbedaan pendapat. Di Indonesia, misalnya, penentuan lebaran ada yang memakai rukyat dan hisab. Hukmul hâkim yuzillu al-khilâf (keputusan hakim mengangkat perbedaan—red). Mestinya begitu kan. Hakim atau pemerintah harus bijaksana dalam melihat apa yang paling maslahat bagi umat.
Bagaimana persatuan umat di ekstra dan intra Islam sendiri?
Saya mengimbau setiap umat untuk kembali kepada ajaran agamanya, yang mengajarkan kedamaian dan pluralisme. Pluralisme bukan sekadar membiarkan orang lain yang berbeda dengan kita itu hidup. Tetapi, pluralisme juga berarti mencari titik temu sehingga kita bisa bertemu. Kalau kita berbeda, silakan kita berbeda tetapi masih dalam persatuan. Kita ini beda-beda, bukan cuma antara Sunnah-Syiah, antara satu mazhab pun bisa berbeda. Pendapat ulama di internal mazhab Syafi’i pun bisa berbeda-beda.
Sebenarnya pertemuan antar-mazhab jauh lebih banyak daripada perbedaannya. Kita, misalnya, bertemu menyangkut keesaan Allah. Kita bisa kumpulkan ulama dan membuktikan bersama-sama tentang bukti-bukti keesaan Allah. Sehingga setiap orang tidak segan-segan membaca buku yang ditulis oleh orang yang tidak semazhab dengannya di bidang tersebut. Jangan jadi orang yang menuding. Misalnya, saya mengutip Thabathaba’i, kemudian langsung dituduh oh ini Syiah karena mengutip mufasir syiah. Kenapa kalau saya mengutip sesama muslim dikecam sedangkan saat mengutip Plato dan orang-orang Barat tidak? Ini kan tidak benar.
Selama ada argumentasi yang baik meski beda mazhab, saya akan cantumkan, karena sejalan dengan pemahaman saya. Begitu juga bila argumentasi itu tidak sejalan dengan pemahaman saya, akan saya katakan tidak sejalan meskipun satu mazhab.
Sekarang ada fenomena sekelompok orang yang suka mempersoalkan hal ini, hanya karena mengutip pendapat-pendapat dari ulama yang berbeda mazhab, malah ada yang menganggap sesat. Orang-orang seperti ini akan habis dan ketinggalan kereta. Itu memang proses.
Dulu, di Mesir ada fenomena saling menjelek-jelekkan antar-mazhab. Namun, setelah wawasan orang semakin luas, pemahaman sempit ini lama kelamaan habis.
Apakah setiap mufasir harus hapal al-Quran?
Tidak. Dulu memang harus hapal al-Quran karena belum ada CD-ROM. Yang penting, dia memiliki pengetahuan secara umum tentang al-Quran. Dia bisa saja mengingat suatu ayat tetapi tidak hapal persis. Dia harus hapal al-Quran, iya, tetapi tidak harus hapal semua teks al-Quran.
Kita jangan terlalu memperberat syarat unutk mempelajari al-Quran karena hanya akan menjauhkan orang dari al-Quran. Kita justru beri kemudahan. Karena itu, ada ulama yang membedakan antara pemahaman dan penafsiran al-Quran. Thabathaba’i membedakan antara tathbîq dan tafsir (penerapan dan penafsiran). Tujuannya, supaya semua orang bisa semakin dekat dengan al-Quran. Tafsir lebih berat daripada tathbîq.
Sedangkan tadabbur dilakukan sebelum menyampaikan tafsir. Saya mengamati, memperhatikan, dan merenungkan. Hasil itulah yang disebut tadabbur.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa bahasa yang dipakai al-Quran bukanlah murni bahasa Arab melainkan juga memuat bahasa lain?
Itu benar. Seperti kata informasi. Itu bahasa apa? Itu bahasa Inggris yang sudah jadi bahasa Indonesia. Qirthâs itu bukan bahasa Arab. Jamharir juga bukan bahasa Arab. Banyak lagi. Zarabi dalam zarâbiyyu mabtsûsah juga bukan bahasa Arab.
Bagaimana cara Anda mendidik keluarga untuk mencintai al-Quran?
Secara khusus, tidak ada. Namun, saya selalu menyempatkan diri bersama keluarga membaca atau mendengar kisah-kisah dalam al-Quran. Saya juga memberi kesempatan mereka untuk banyak bertanya. Cucu saya, kelas 4 SD, sedang menyusun pertanyaan-pertanyaan yang harus saya jawab. Dia katakan ada seratus pertanyaan yang telah tersusun. Saya katakan bahwa saya akan buatkan buku, “Jawaban kakek kepada cucunya”. Dia, misalnya, bertanya, bagaimanakah Tuhan itu. Itu pertanyaan anak-anak. Kenapa sih ada malaikat. Saya takut mati. Pertanyaaan khas anak-anak.
Jadi, sebenarnya, kita tidak bisa lagi menggunakan cara orang tua kita dulu dalam mendidik anak. Dulu, begitu azan magrib, kita harus berkumpul di rumah untuk salat berjamaah. Sekarang tidak bisa lagi. Karena, jam 6 sore masih ada film kartun. Orang tua menunda salat agar anak-anak bisa ikut salat, atau mereka salat dulu dan menyuruh anak-anak salat sendiri.
Anak-anak sekarang bisa lebih banyak tahu daripada orang tua mereka. Dia buka internet. Dia punya kesempatan lebih banyak. Remaja kita sudah lebih pintar daripada kita dalam memperbaiki komputer. Jadi, pola mendidik anak memang sudah perlu diubah.
Keluarga Anda adalah orang-orang besar. Apa yang terjadi saat Anda berkumpul bersama mereka?
Kita bersahabat. Ayah mendidik kita untuk bersahabat dengan ibu dan anak-anak. Anak-anak perempuan dekat sekali dengan ibunya sehingga dia bisa curhat kepadanya dan tidak perlu curhat kepada orang lain. Saudara-saudaranya dijadikan sahabat. Hubungan saya yang terdekat dengan Alwi Shihab (mantan menko kesra—red) karena pernah tinggal bersama.
Di beberapa tempat, banyak muncul fenomena anak-anak kecil penghapal al-Quran. pada saat yang sama, serbuan budaya asing menyulitkan orang tua untuk fokus mendidik anak. Bagaimana komentar Anda?
Beberapa hari yang lalu, saya kedatangan rombongan Pesantren Lirboyo. Mereka membawa empat anak. anak-anak itu baru dididik satu bulan dan sudah menghapal Juz Amma. Bukan cuma menghapal, mereka bisa meneruskan penggalan ayat yang kita sebutkan. Mereka juga bisa menerjemahkan. Mereka juga bisa menyebutkan ayat secara lengkap hanya dengan dipancing nomornya saja. Saat dites dengan membaca ‘amma yatasâ`alûn, mundur dari belakang pun ternyata anak-anak umur 6-7 tahun itu pun mampu.

Bagi saya, fenomena itu menunjukkan mukjizat al-Quran. Artinya, al-Quran sangat mudah dihapal. Kedua, kita masih bisa mengembangkan hal-hal baru yang dulu belum sempat dikembangkan.

Written by juneman in: tokoh |
Apr
17
2011
0

What If Everything Was As If? // Bagaimana jika semuanya hanya seolah-olah?

Bagaimana jika semuanya hanya seolah-olah? Bagaimana jika semuanya simulasi? Bagaimana jika semua terjadi sesuai rencana? Bagaimana jika semua yang kamu tahu tentang perubahan iklim salah? Bagaimana jika semuanya dibuat oleh Apple atau Microsoft? Bagaimana kalau semua yang kamu tahu tentang diet dan hidup sehat ternyata cuma propaganda? Bagaimana jika semua yang kamu sentuh menjadi emas? Bagaimana jika semua yang kamu percaya adalah tipuan? Bagaimana jika semuanya punya tombol “undo”? Bagaimana jika semua yang kamu lakukan ada di Wikileaks? Bagaimana jika semuanya punya “tanda air”? Bagaimana jika semuanya gratis? Bagaimana kalau semuanya salah sekaligus benar? Bagaimana jika semuanya berbeda? Bagaimana jika semuanya baik-baik saja? Bagaimana jika semuanya semu dan kamu lah satu-satunya yang nyata? Bagaimana jika semuanya adalah prioritas utama? Bagaimana jika semua penulis tidak punya nama? Bagaimana jika semuanya bukan apa-apa? What if everything was as if?

Silahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, membuat pertanyaan-pertanyaan baru atau merespon pertanyaan dari peserta lainnya. Pada babak terakhir proyek Anonymous Writers Club ini, kami mengajak anda untuk memahami proses editorial yang dikembangkan selama ini.
Ya, proses ini adalah soal mencari kesamaan, perbedaan di antara pengguna dalam merespon, mengembangkan, dan membangun melalui teks-teks yang sudah ada. Selama ini tampaknya tema mendasar dalam kehidupan masih menjadi pilihan sebagian besar dari kita. Tema-tema apa saja itu? Selamat bertanya!

Putaran terakhir Anonymous Writers Club akan berlangsung pada tanggal 4 April 2011 hingga 4 Juli 2011. Bagi yang ingin berpartisipasi, dapat membaca aturan main pada bagian “Current Theme”. Silahkan ikuti twitter kami dengan berkunjung ke http://twitter.com/klubanonim. Bagi yang ingin berpartisipasi lewat twitter dapat menggunakan hashtag #whatif dan mention akun @klubanonim.

http://anonymouswritersclub.tumblr.com/

Written by juneman in: Kehidupan | Tags: ,
Oct
15
2010
0

Undang Undang Kesehatan Jiwa

Satu minggu yang lalu, saya menghadiri pertemuan dalam rangka membahas rencana menuju Rancangan Undang Undang Kesehatan Jiwa yang sudah masuk Prolegnas 2011. RUU ini merupakan inisiatif DPR.

Seperti diketahui sebelumnya bahwa definisi/batasan Kesehatan Jiwa yang kita gunakan selama ini merupakan definisi Kesehatan Jiwa versi World Federation for Mental Health (WFMH), yang perlu di-rethink dewasa ini, khususnya apabila kita mau berangkat dari peta kesehatan jiwa masyarakat Indonesia sendiri.

Patut pula diketahui sejarah legislasi / regulasi kesehatan jiwa di Indonesia, sebagai berikut:

°    1897 : Het Reglement op het Krankzinnigenwezen (Stbl. No. 54)
°    1960 : Undang Undang Pokok Kesehatan
°    1966 : Undang Undang Kesehatan Jiwa (sudah dicabut)
°    1992 : Undang Undang Kesehatan (minus PP Kesehatan Jiwa)
°    2009 : Undang Undang Kesehatan
°    2010 : PP Kesehatan Jiwa (saat tulisan ini dibuat, hampir jadi) dan beberapa Permenkes

Renungan Jejak Jiwa Terkini Tentang Kesehatan Jiwa Dalam Relasinya dengan Dunia yang Berubah:

a. Kesehatan Jiwa adalah bagian dari syarat keselamatan dan keamanan manusia yang wajib diurus dan dipelajari terus-menerus duduk perkaranya dan dinamika konteks sosialnya.

b. Konstruk “kesehatan jiwa” sendiri mengalami review, kritik, pengayaan, revisi, karena dia bukan “status” atau “keadaan”, melainkan refleksi dari relasi sosial. Kesehatan jiwa merupakan fungsi atau derivat dari proses konstruksi diri (self construction / production / reproduction) di hadapan proses-proses sosial yang melibatkan si pribadi.

c. Butir (b) di atas menunjukkan bahwa kesehatan jiwa tidak mungkin diurus sebagai sebuah gejala klinis pada tingkat “pasien”, tanpa ada intervensi sistematis pada skala masyarakat. Dislokasi, displacement, disaffection berlangsung secara ubiquitous setiap saat, di sepanjang perubahan ekonomik, sosial, ekologis.

d. Hari ini, kesehatan jiwa diurus sebagai “subdivisi” dari masalah kesehatan terutama dalam konteks medis, dan oleh karenanya pengurusan publiknya berada sebagai cabang dari pada terpenuhi tidaknya syarat-syarat sosial dari kesehatan mental warga masyarakat / warga pengurusan publik, tidak akan dapat ditemukan di cabang-cabang kantor Negara lain (ekuin, kesra, hukum, dsb). Sebagai turunan dari tidak adanya ikhtiar termasuk ekonomik yang berkaitan dengan kesehatan jiwa, tidak ada pengerahan / mobilisasi anggaran publik yang memadai untuk mengurus kesehatan jiwa secara komprehensif.

e. “Community based mental health service / provision” menjadi karikatur, bahwa nyatanya warga harus jungkir balik mengurus sendiri dengan apapun yang dimiliki untuk mengatasi, mencegah, dan memelihara kesehatan jiwa pada skala komunitas, tanpa campur tangan yang cukup dari pengurus publik.

f. Pada tataran reproduksi dan evolusi keilmuan, penglihatan (a) s.d. (e) juga terjadi, dan karenanya membutuhkan gerakan untuk mendorong disiplin-disiplin keilmuan untuk bekerjasama lebih cerdas dan lebih sungguh-sungguh untuk menempatkan soal kesehatan jiwa secara jitu dalam konteks kesehatan manusia dan kewarasan dalam konteks kemasyarakatan.

Pada hari ini, 15 Oktober 2010, dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia dan Hari Ulang Tahun Partai Demokrat ke-9, diselenggarakan acara seminar di Ruang Rapat BALEG, Gedung Nusantara I, Lantai 1, DPR RI, dengan topik “Urgensi Undang Undang Kesehatan Jiwa“.

Written by juneman in: Profesi | Tags: ,
Oct
15
2010
0

Kisah Sekuntum Mawar

PERDAMAIAN
Kisah Sekuntum Mawar
http://cetak.kompas.com/read/2010/10/15/02494144/Kisah.Sekuntum.Mawar
Jumat, 15 Oktober 2010 | 02:49 WIB

Oleh Maria Hartiningsih

Mata menangkap bunga sebagai elemen tunggal. Namun, tanda dan bentuk selalu mengecoh ketika hanya ditatap sekilas. Bunga tak akan menjadi bunga tanpa elemen yang lain, meskipun hanya satu elemen yang hilang.

”Untuk mewujud menjadi bentuk, segala sesuatu membutuhkan segala sesuatu yang lain,” tutur Thich Nhat Hanh (84), Guru Zen terkemuka dari Plum Village, Perancis, dalam ceramah-ceramahnya di Caringin, Bogor, beberapa waktu lalu.

Ia memperlihatkan sekuntum mawar, lalu menyentuh kelopak demi kelopaknya. ”Kalau menatapnya dengan berkesadaran, penuh konsentrasi dan kedamaian, kita melihat di dalam sekuntum bunga ada awan, matahari, udara, mineral, tanah, waktu, ketekunan, dan cinta orang yang menanam dan merawat sampai bunga itu mekar. Seluruh isi kosmos ada di situ. Tanpa awan yang menjadi hujan, bunga tak akan mekar. Tanpa waktu, tanpa ruang, tak ada bunga,” ungkap Thay, atau Guru, dalam bahasa Vietnam.

”Kenyataannya, bunga terwujud dari seluruh elemen nonbunga. Tidak ada eksistensi atau keberadaan yang berdiri sendiri di dunia ini. Di dalam diri kita ada segala sesuatu yang lain yang ada di dalam Semesta. Itulah interbeing…”

”Interbeing”

Interbeing adalah terminologi baru, yang artinya kira-kira, segala sesuatu yang hidup, terikat, terkait, tergantung pada segala sesuatu di Semesta Raya. ”Ketika melihat sifat alamiah dari ’interbeing’, maka penghalang antara ’kita’ dan ’mereka’, antara ’saya’ dengan ’yang lain’, lebur,” ujar Thay.

Hakikat interbeing dapat menyentuh kearifan nondiskriminasi. Seperti diungkapkan Thay, Buddhisme adalah bunga yang terwujud dari elemen Buddhisme dan non-Buddhisme. Islam adalah bunga yang sangat indah. Pun Kristiani dan agama-agama lain. Buddhis harus belajar Islam untuk memahami tradisi-tradisi besar di dalamnya. Begitu pun sebaliknya. Kalau Yahudi, Islam, dan Kristen kembali ke akarnya, banyak persoalan pelik bisa diselesaikan. ”Anda harus duduk bersama untuk saling berbagi,” Thay melanjutkan.

Retret hidup berkesadaran di Plum Village diikuti peserta dari semua keyakinan, agama, dan non-believers. Di Barat, sebagian besar pesertanya beragama Kristen. ”Kami menyelenggarakan retret bagi pihak yang sedang bertikai, seperti Israel dan Palestina, untuk mendorong kesalingpengertian dan kearifan nondiskriminasi. Perdamaian sangat mungkin terwujud dengan kesalingpengertian.”

Yang terpenting, menurut Thay, para aktivis perdamaian harus damai terlebih dahulu dengan dirinya sebelum melakukan aktivisme secara politik. Tidak ada jalan menuju kedamaian, karena kedamaian adalah jalan, dan berkesadaran adalah kuncinya.

Latar belakang para peserta retret di Caringin, Bogor, juga menarik. Rave Ward dari Amerika Serikat adalah seorang Buddhis, suaminya pejabat gereja. ”Konservatisme ada di dalam semua agama,” ujar Peggy, begitu ia disapa, ”Hanya dengan latihan berkesadaran, kita mampu melihat secara mendalam, menyentuh secara mendalam.”

Perjumpaan

Thay menggunakan kearifan Buddhis untuk memberi pemahaman tentang kearifan nondiskriminasi; suatu gagasan, niat dan tindakan terkait upaya-upaya perdamaian di dunia.

Perang, konflik, besar, kecil maupun personal, kecurigaan, kebencian, dendam, dan berbagai bentuk kekerasan terhadap diri sendiri maupun ”yang lain”, berawal dari persepsi keliru, dan menganggap persepsi sendiri sebagai satu-satunya kebenaran. ”Itu adalah sumber segala penderitaan,” ujar Thay.

Berbeda dengan pendekatan politik, pendekatan Thay tentang perdamaian di ranah publik menukik lebih dulu ke ranah personal, ke ranah individual secara lengkap, sebagai tubuh dan sebagai diri.

Ia menyatukan berbagai pendekatan, termasuk pendekatan sejarah, astronomi, antropologi, dan biologi, untuk menjelaskan kesalingterkaitan di dalam ”interbeing”, antara tubuh, diri, manusia lain, tumbuhan, satwa, semua makhluk hidup, bumi, laut, udara, seluruh isi alam semesta sebagai suatu keutuhan (”wholeness”).

Sebagai intelektual, pemikir, penulis, penyair dan aktivis perdamaian, ia tidak steril dari dunia luar. Salah satu karya terbarunya —dari 100 buku lebih yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa—adalah merespons terorisme, dalam Calming the Fearful Mind: A Zen Response to Terrorism (2005).

Tak sulit menengarai sumbangan pemikiran Thay dalam membangun dan mengembangkan Etik Global untuk keadilan dan perdamaian yang dipromosikan Presiden Global Ethic Foundation Prof Hans Kung. Pendekatan interbeing dan esensi berkesadaran menjawab pernyataan Kung tentang kekosongan orientasi yang dihadapi manusia saat ini, baik terlepas maupun terkait dengan globalisasi.

Hidup berkesadaran membuat Thay mengalami ”perjumpaan” dengan para mistikus, seperti Thomas Merton (alm), yang menyebut Thay sebagai ”saudaraku”. Mereka berbagi pandangan tentang ”wholeness” dan kearifan nondualisme untuk mewujudkan kearifan ”nondiskriminasi” dan cinta tanpa syarat terhadap ”yang lain”; cinta yang memeluk seluruh isi kosmos. Kearifan itu pula yang mempertemukan pemikiran Thay dengan para sufi, termasuk penyair Persia abad ke-11, Mevlana Jalaluddin Rumi.

Simak salah satu puisi Rumi ini, ”Out beyond ideas of wrong doing and right doing, there is a field. I’ll meet you there.” (Melampaui gagasan tentang benar atau salah, adalah dataran. Kujumpai kau di sana….)

Written by juneman in: Kehidupan | Tags: ,
Oct
15
2010
0

That’s Life

That’s life, that’s what all the people say.
You’re riding high in April,
Shot down in May
But I know I’m gonna change that tune,
When I’m back on top, back on top in June.

I said that’s life, and as funny as it may seem
Some people get their kicks,
Stompin’ on a dream
But I don’t let it, let it get me down,
‘Cause this fine old world it keeps spinning around

I’ve been a puppet, a pauper, a pirate,
A poet, a pawn and a king.
I’ve been up and down and over and out
And I know one thing:
Each time I find myself, flat on my face,
I pick myself up and get back in the race.

That’s life
I tell ya, I can’t deny it,
I thought of quitting baby,
But my heart just ain’t gonna buy it.
And if I didn’t think it was worth one single try,
I’d jump right on a big bird and then I’d fly

I’ve been a puppet, a pauper, a pirate,
A poet, a pawn and a king.
I’ve been up and down and over and out
And I know one thing:
Each time I find myself laying flat on my face,
I just pick myself up and get back in the race

That’s life
That’s life and I can’t deny it
Many times I thought of cutting out
But my heart won’t buy it
But if there’s nothing shakin’ come this here july
I’m gonna roll myself up in a big ball and die
My, My


Frank Sinatra : That’s Life Lyrics
Songwriters: Gordon, Kelly; Thompson, Dean K

Written by juneman in: Lagu | Tags: , ,
Oct
15
2010
0

Sri Mulyani memberikan Kuliah Kebijakan Publik dan Etika Publik

“Saya ingin menceritakan cerita seperti ini kepada anda bagaimana ternyata konsep mengenai etika dan konflik kepentingan itu, bisa dikatakan sangat langka di Republik ini. Dan kalau kita berusaha untuk menjalankan dan menegakkan, kita dianggap menjadi barang yang aneh.”

Saya rasanya lebih berat berdiri disini daripada waktu dipanggil pansus Century. Dan saya bisa merasakan itu karena sometimes dari moral dan etikanya jelas berbeda. Dan itu yang membuat saya jarang sekali merasa grogi sekarang menjadi grogi. Saya diajari Pak Marsilam untuk memanggil orang tanpa mas atau bapak, karena diangap itu adalah ekspresi egalitarian. Saya susah manggil ‘Marsilam’, selalu pakai ‘pak’, dan dia marah. Tapi untuk Rocky saya malam ini saya panggil Rocky (Rocky Gerung dari P2D) yang baik. Terimakasih atas…… (tepuk tangan)

Tapi saya jelas nggak berani manggil Rahmat Toleng dengan Rahmat Tolengtor, kasus. Terimakasih atas introduksi yang sangat generous. Saya sebetulnya agak keberatan diundang malam hari ini untuk dua hal. Pertama karena judulnya adalah memberi kuliah. Dan biasanya kalau memberi kuliah saya harus, paling tidak membaca textbook yang harus saya baca dulu dan kemudian berpikir keras bagaimana menjelaskan.

Dan malam ini tidak ada kuliah di gedung atau di hotel yang begitu bagus tu biasanya kuliah kelas internasional atau spesial biasanya. Hanya untuk eksekutif yang bayar SPP nya mahal. Dan pasti neolib itu (disambut tertawa). Oleh karena itu saya revisi mungkin namanya lebih adalah ekspresi saya untuk berbicara tentang kebijakan publik dan etika publik. Yang kedua, meskipun tadi mas Rocky menyampaikan, eh salah lagi. Kalau tadi disebutkan mengenai ada dua laki-laki, hati kecil saya tetap saya akan mengatakan sampai hari ini saya adalah pembantu laki-laki itu (tepuk tangan). Dan malam ini saya akan sekaligus menceritakan tentang konsep etika yang saya pahami pada saat saya masih pembantu, secara etika saya tidak boleh untuk mengatakan hal yang buruk kepada siapapun yang saya bantu. Jadi saya mohon maaf kalau agak berbeda dan aspirasinya tidak sesuai dengan amanat pada hari ini.

Tapi saya diminta untuk bicara tentang kebijakan publik dan etika publik. Dan itu adalah suatu topik yang barangkali merupakan suatu pergulatan harian saya, semenjak hari pertama saya bersedia untuk menerima jabatan sebagai menteri di kabinet di Republik Indonesia itu.

Suatu penerimaan jabatan yang saya lakukan dengan penuh kesadaran, dengan segala upaya saya untuk memahami apa itu konsep jabatan publik. Pejabat negara yang pada dalam dirinya, setiap hari adalah melakukan tindakan, membuat pernyataan, membuat keputusan, yang semuanya adalah dimensinya untuk kepentingan publik.

Disitu letak pertama dan sangat sulit bagi orang seperti saya karena saya tidak belajar, seperti anda semua, termasuk siapa tadi yang menjadi MC, tentang filosofi. Namun saya dididik oleh keluarga untuk memahami etika di dalam pemahaman seperti yang saya ketahui. Bahwa sebagai pejabat publik, hari pertama saya harus mampu untuk membuat garis antara apa yang disebut sebagai kepentingan publik dengan kepentingan pribadi saya dan keluarga, atau kelompok.

Dan sebetulnya tidak harus menjadi muridnya Rocky Gerung di filsafat UI untuk pintar mengenai itu. Karena kita belajar selama 30 tahun dibawah rezim presiden Soeharto. Dimana begitu acak hubungan, dan acak-acakan hubungan antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi. Dan itu merupakan modal awal saya untuk memahami konsekuensi menjadi pejabat publik yang setiap hari harus membuat kebijakan publik dengan domain saya sebagai makhluk, yang juga punya privacy atau kepentingan pribadi.

Di dalam ranah itulah kemudian dari hari pertama dan sampai lebih dari 5 tahun saya bekerja untuk pemerintahan ini. Topik mengenai apa itu kebijakan publik dan bagaimana kita harus, dari mulai berpikir, merasakan, bersikap, dan membuat keputusan menjadi sangat penting. Tentu saya tidak perlu harus mengulangi, karena itu menyangkut, yang disebut, tujuan konstitusi, yaitu kepentingan masyarakat banyak. Yaitu mencapai kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.

Jadi kebijakan pubik dibuat tujuannya adalah untuk melayani masyarakat, Kebijakan publik dibuat melalui dan oleh kekuasaan. Karena dia dibuat oleh institusi publik yang eksis karena dia merupakan produk dari suatu proses politik dan dia memiliki kekuasaan untuk mengeluarkannya. Disitulah letak bersinggungan, apa yang disebut sebagai ingridient utama dari kebijakan publik, yaitu unsur kekuasaan. Dan kekuasaan itu sangat mudah menggelincirkan kita.

Kekuasaan selalu cenderung untuk corrupt. Tanpa adanya pengendalian dan sistim pengawasan, saya yakin kekuasaan itu pasti corrupt. Itu sudah dikenal oleh kita semua. Namun pada saat anda berdiri sebagai pejabat publik, memiliki kekuasan dan kekuasan itu sudah dipastikan akan membuat kita corrupt, maka pertanyaan ‘kalau saya mau menjadi pejabat publik dan tidak ingin corrupt, apa yang harus saya lakukan?’

Oleh karena itu, di dalam proses-proses yang dilalui atau saya lalui, jadi ini lebih saya cerita daripada kuliah. Dari hari pertama, karena begitu khawatirnya, tapi juga pada saat yang sama punya perasaan anxiety untuk menjalankan kekuasaan, namun saya tidak ingin tergelincir kepada korupsi, maka pada hari pertama anda masuk kantor, anda bertanya dulu kepada sistem pengawas internal anda dan staff anda. Apalagi waktu itu jabatan dari Bappenas menjadi Menteri Keuangan. Dan saya sadar sesadar sadarnya bahwa kewenangan dan kekuasaan Kementrian Keuangan atau Menteri Keuangan sungguh sangat besar. Bahkan pada saat saya tidak berpikir corrupt pun orang sudah berpikir ngeres mengenai hal itu.

Bayangkan, seseorang harus mengelola suatu resources yang omsetnya tiap tahun sekitar, mulai dari saya mulai dari 400 triliun sampai sekarang diatas 1000 triliun, itu omset. Total asetnya mendekati 3000 triliun lebih.(batuk2) Saya lihat (ehem!) banyak sekali (ehem lagi) kalau bicara uang terus langsung…. (ada air putih langsung datang diiringi ketawa hadirin).

Saya sudah melihat banyak sekali apa yang disebut tata kelola atau governance. Pada saat seseorang memegang suatu kewenangan dimana melibatkan uang yang begitu banyak. Tidak mudah mencari orang yang tidak tergiur, apalagi terpeleset, sehingga tergoda bahwa apa yang dia kelola menjadi seolah-olah menjadi barang atau aset miliknya sendiri.

Dan disitulah hal-hal yang sangat nyata mengenai bagaimana kita harus membuat garis pembatas yang sangat disiplin. Disiplin pada diri kita sendiri dan dalam, bahkan, pikiran kita dan perasaan kita untuk menjalankan tugas itu secara dingin, rasional, dengan penuh perhitungan dan tidak membolehkan perasaan ataupun godaan apapun untuk, bahkan berpikir untuk meng-abusenya.

Barangkali itu istilah yang disebut teknokratis. Tapi saya sih menganggap bahwa juga orang yang katanya berasal dari akademik dan disebut tekhnokrat tapi ternyata ‘bau’nya tidak seperti itu. Tingkahnya apalagi lebih-lebih. Jadi saya biasanya tidak mengklasifikasikan berdasarkan label. Tapi berdasarkan genuine product nya dia hasilnya apa, tingkah laku yang esensial.

Nah, di dalam hari-hari di mana kita harus membicarakan kebijakan publik, dan tadi disebutkan bahwa kewenangan begitu besar, menyangkut sebuah atau nilai resources yang begitu besar. Kita mencoba untuk menegakkan rambu-rambu, internal maupun eksternal.

Mungkin contoh untuk internal hari pertama saya bertanya kepada Inspektorat Jenderal saya. “Tolong beri saya list apa yang boleh dan tidak boleh dari seorang menteri.” Biasanya mereka bingung, tidak pernah ada menteri yang tanya begitu ke saya bu.

Kalau seorang menteri kemudian menanyakan apa yang boleh dan nggak boleh, buat mereka menjadi suatu pertanyaan yang sangat janggal. Untuk kultur birokrat, itu sangat sulit dipahami. Di dalam konteks yang lebih besar dan alasan yang lebih besar adalah dengan rambu-rambu. Kita membuat standard operating procedure, tata cara, tata kelola untuk membuat bagaimana kebijakan dibuat. Bahkan menciptakan sistem check and balance.

Karena kebijakan publik dengan menggunakan elemen kekuasaan, dia sangat mudah untuk memunculkan konflik kepentingan. Saya bisa cerita berhari-hari kepada anda. Banyak contoh di mana produk-produk kebijakan sangat memungkinkan seorang, pada jabatan Menteri Keuangan, mudah tergoda. Dari korupsi kecil hingga korupsi yang besar. Dari korupsi yang sifatnya hilir dan ritel sampai korupsi yang sifatnya upstream dan hulu.

Dan bahkan dengan kewenangan dan kemampuannya dia pun bisa menyembunyikan itu. Karena dengan kewenangan yang besar, dia juga sebetulnya bisa membeli sistem. Dia bisa menciptakan network. Dia bisa menciptakan pengaruh. Dan pengaruh itu bisa menguntungkan bagi dirinya sendiri atau kelompoknya. Godaan itulah yang sebetulnya kita selalu ingin bendung. Karena begitu anda tergelincir pada satu hal, maka tidak akan pernah berhenti.

Namun, meskipun kita mencoba untuk menegakkan aturan, membuat rambu-rambu, dengan menegakkan pengawasan internal dan eksternal, sering bahwa pengawasan itu pun masih bisa dilewati. Disinilah kemudian muncul, apa yang disebut unsur etika. Karena etika menempel dalam diri kita sendiri. Di dalam cara kita melihat apakah sesuatu itu pantas atau tidak pantas, apakah sesuatu itu menghianati atau tidak menghianati kepentingan publik yang harus kita layani. Apakah kita punya keyakinan bahwa kita tidak sedang menghianati kebenaran. Etika itu ada di dalam diri kita.

Dan kemudian kalau kita bicara tentang total, atau di dalam bahasa ekonomi yang keren namanya agregat, setiap kepala kita dijumlahkan menjadi etika yang jumlahnya agregat atau publik, pertanyaannya adalah apakah di dalam domain publik ini setiap etika pribadi kita bisa dijumlahkan dan menghasilkan barang publik yang kita inginkan, yaitu suatu rambu-rambu norma yang mengatur dan memberikan guidance kepada kita.

Saya termasuk yang sungguh sangat merasakan penderitaan selama menjadi menteri. Karena (etika) itu tidak terjadi. Waktu saya menjadi menteri, sering saya harus berdiri atau duduk berjam-jam di DPR. Disitu anggota DPR bertanya banyak hal. Kadang-kadang bernada pura-pura sungguh-sungguh. Merek mengkritik begitu keras. Tapi kemudian mereka dengan tenangnya mengatakan ‘Ini adalah panggung politik bu.’

Waktu saya dulu masuk menteri keuangan pertama saya masih punya dua Dirjen yang sangat terkenal, Dirjen Pajak dan Dirjen Bea Cukai saya. Mereka sangat powerful. Karena pengaruhnya, dan respectability, saya tidak tahu karena kepada anggota dewan sangat luar biasa. Dan waktu saya ditanya, mulainya dari…? Segala macem. Setiap keputusan, statemen saya dan yang lain-lain selalu ditanya dengan sangat keras. Saya tadinya cukup naif mengatakan, “Oh ini ongkos demokrasi yang harus dibayar.” Dan saya legowo saja dengan tenang menulis pertanyaan-pertanyaan mereka.

Waktu sudah ditulis mereka keluar ruangan, nggak pernah peduli mau dijawab atau tidak. Kemudian saya dinasehati oleh Dirjen saya itu, “Ibu tidak usah dimasukkan ke hati bu. Hal seperti itu hanya satu episod drama saja. ” Tapi kemudian itu menimbulkan satu pergolakan batin orang seperti saya. Karena saya kemudian bertanya. Tadi dikaitkan dengan etika publik, kalau orang bisa secara terus menerus berpura-pura, dan media memuat, dan tidak ada satu kelompokpun mengatakan bahwa itu kepura-puraan maka kita bertanya, apalagi? siapa lagi yang akan menjadi guidance? yang mengingatkan kita dengan, apa yang disebut, norma kepantasan. Dan itu sungguh berat. Karena saya terus mengatakan kalau saya menjadi pejabat publik, ongkos untuk menjadi pejabat publik, pertama, kalau saya tidak corrupt, jelas saya legowo nggak ada masalah. Tapi yang kedua saya menjadi khawatir saya akan split personality.

Waktu di dewan saya menjadi personality yang lain, nanti di kantor saya akan menjadi lain lagi, waktu di rumah saya lain lagi. Untung suami dan anak-anak saya tidak pernah bingung yang mana saya waktu itu. Dan itu sesuatu yang sangat sulit untuk seorang seperti saya untuk harus berubah-ubah. Kalau pagi lain nilainya dengan sore, dan sore lain dengan malam. Malam lain lagi dengan tengah malam. Kan itu sesuatu yang sangat sulit untuk diterima. Itu ongkos yang paling mahal bagi seorang pejabat publik yang harus menjalankan dan ingin menjalankan secara konsisten.

Nah, oleh karena itu, didalam konteks inilah kita kan bicara mengenai kebijakan publik, etika publik yang seharusnya menjadi landasan, arahan bagi bagaimana kita memproduksi suatu tindakan, keputusan, yang itu adalah untuk urusan rakyat. Yaitu kesejahteraan rakyat, mengurangi penderitaan mereka, menaikkan suasana atau situasi yang baik di masyarakat, namun di sisi lain kita harus berhadapan dengan konteks kekuasaan dan struktur politik. Dimana buat mereka norma dan etika itu nampaknya bisa tidak hanya double standrart, triple standart.

Dan bahkan kalau kita bicara tentang istilah dan konsep mengenai konflik kepentingan, saya betul-betul terpana. Waktu saya menjadi executive director di IMF, pertama kali saya mengenal apa yang disebut birokrat dari negara maju. Hari pertama saya diminta untuk melihat dan tandatangan mengenai etika sebagai seorang executive director, do dan don’ts. Disitu juga disebutkan mengenai konsep konflik kepentingan. Bagaimana suatu institusi yang memprodusir suatu policy publik, untuk level internasional, mengharuskan setiap elemen, orang yang terlibat di dalam proses politik atau proses kebijakan itu harus menanggalkan konflik kepentingannya. Dan kalau kita ragu kita boleh tanya, apakah kalau saya melakukan ini atau menjabat yang ini apakah masuk dalam domain konflik kepentingan. Dan mereka memberikan counsel untuk kita untuk bisa membuat keputusan yang baik.

Sehingga bekerja di institusi seperti itu menurut saya mudah. Dan kalau sampai anda tergelincir ya kebangetan aja anda. Namun waktu kembali ke Indonesia dan saya dengan pemahaman pengenai konsep konflik kepentingan, saya sering menghadiri suatu rapat membuat suatu kebijakan, dimana kebijakan itu akan berimplikasi kepada anggaran, entah belanja, entah insentif, dan pihak yang ikut duduk dalam proses kebijakan itu adalah pihak yang akan mendapatkan keuntungan itu. Dan tidak ada rasa risih. Hanya untuk menunjukkan yang penting pemerintahan efektif, jalan. Kuenya dibagi ke siapa itu adalah urusan sekunder.

Anda bisa melihat bahwa kalau pejabat itu adalah background nya pengusaha, meskipun yang bersangkutan mengatakan telah meninggalkan seluruh bisnisnya, tapi semua orang tahu bahwa adiknya, kakaknya, anaknya, dan teteh, mamah, aa’ semuanya masih run. Dan dengan tenangnya, berbagai kebijakan, bahkan yang membuat saya terpana, kalau dalam hal ini apa disebutnya? kalau dalam bahasa inggris apa disebutnya?i drop my job atau apa..bengong itu.

Kita bingung bahwa ada suatu keputusan dibuat, dan saya banyak catatan pribadi saya di buku saya. Ada keputusan ini, tiba-tiba besok lagi keputusan itu ternyata yang mengimport adalah perusahaannya dia. Nah ini merupakan sesuatu hal yang barangkali tanpa harus mendramatisir yang dikatakan oleh Rocky tadi seolah-olah menjadi the most reasonable phenomena. Kita semua tahu, itulah penyakit yang terjadi di jaman orde baru. Hanya dulu dibuatnya secara tertutup, tapi sekarang dengan kecanggihan, karena kemampuan dari kekuasaan, dia mengkooptasi decision making process juga. Kelihatannya demokrasi, kelihatannya melalui proses check and balance, tapi di dalam dirinya, unsur mengenai konflik kepentingan dan tanpa etika begitu kental. Etika itu barang yang jarang disebut pak.

Ada suatu saat saya membuat rapat dan rapat ini jelas berhubungan dengan beberapa perusahaan. Kebetulan ada beberapa dari yang kita undang, dia adalah komisaris dari beberapa perusahaan itu. Kami biasa, dan saya mengatakan dengan tenang, bagi yang punya aviliasi dengan apa yang kita diskusikan silahkan keluar dari ruangan. Memang itu adalah tradisi yang coba kita lakukan di kementrian keuangan. Kebetulan mereka adlaah teman-teman saya. Jadi teman-teman saya itu dengan bitter mengatakan, “Mba ni jangan sadis-sadis amat lah kayak gitu. Kalaupun kita disuruh keluar juga diem-diem aja. Nggak usah caranya kayak gitu.” Saya ingin menceritakan cerita seperti ini kepada anda bagaimana ternyata konsep mengenai etika dan konflik kepentingan itu, bisa dikatakan sangat langka di republik ini. Dan kalau kita berusaha untuk menjalankan dan menegakkan, kita dianggap menjadi barang yang aneh. Jadi tadi kalau MC nya menjelaskan bahwa saya ingin menjelaskan bahwa di luar gua itu ada sinar dan dunia yang begitu bagus, di dalam saya dianggap seperti orang yang cerita yang nggak nggak aja. Belum kalau di dalam konteks politik besar, kemudian, wah ini konsep barat pasti ‘Lihat saja Sri Mulyani, neolib.’

Jadi saya mungkin akan mengatakan bagaimana ke depan di dalam proses politik. Tentu adalah suatu keresahan buat kita. Karena episode yang terjadi beberapa kali adalah bahwa di dalam ruangan publik, rakyat atau masyarakat yang harusnya menjadi the ultimate shareholder dari kekuasaan. Dia memilih, kepada siapapun CEO di republik ini dan dia juga memilih dari orang-orang yang diminta untuk menjadi pengawas atau check terhadap CEO nya.

Dan proses ini ternyata juga tidak murah dan mudah. Sudah banyak orang yang mengatakan untuk menjadi seorang jabatan eksekutif dari level kabupaten, kota, propinsi, membutuhkan biaya yang luar biasa, apalagi presiden pastinya. Dan biayanya sungguh sangat tidak bisa dibayangkan untuk suatu beban seseorang. Saya menteri keuangan saya biasa mengurusi ratusan triliun bahkan ribuan, tapi saya tidak kaget dengan angka. Tapi saya akan kaget kalau itu menjadi beban personal. Seseorang akan menjadi kandidat mengeluarkan biaya sebesar itu. Kalkulasi mengenai return of investment saja tidak masuk. Bagaimana anda mengatakan dan waktu saya mengatakan saya lihat struktur gaji pejabat negara sungguh sangat tidak rasional. Dan kita pura-pura tidak boleh menaikkan karena kalau menaikkan kita dianggap mau mensejahterakan diri sebelum mensejahterakan rakyat. Sehingga muncullah anomali yang sangat tidak bisa dijelaskan oleh logika akal sehat, bahkan Rocky bilangnya ada akal miring. Saya mencoba sebagai pejabat negara untuk mengembalikan akal sehat dengan mengatakan strukturnya harus dibenahi lagi. Namun toh tetap tidak bisa menjelaskan suatu proses politik yang begitu sangat mahalnya.

Sehingga memunculkan suatu kebutuhan untuk berkolaborasi dengan sumber finansialnya. Dan disitulah kontrak terjadi. Di tingkat daerah, tidak mungkin itu dilakukan dengan membayar melalui gajinya. Bahkan melalui APBD nya pun tidak mungkin karena size dari APBN nya kadang-kadang tidak sebesar atau mungkin juga lebih sulit. Sehingga yang bisa adalah melalui policy. Policy yang bisa dijual belikan. Dan itu adalah adalah bentuk hasil dari suatu kolaborasi.

Pertanyaan untuk kita semua, bagaimana kita menyikapi hal ini didalam konteks bahwa produk dari kebijakan publik, melalui sebuah proses politik yang begitu mahal sudah pasti akan di “stated” dengan struktur yang membentuk awalnya. Karena kebijakan publik adalah hilirnya, hasil akhir. Hulunya yang memegang kekuasaan, lebih hulu lagi adalah prosesnya untuk mendapatkan kekuasaan itu demikian mahal.

Dan itu akan menjadi pertanyaan yang concern untuk sebuah sistem demokrasi. Maka pada saat kita dipilih atau diminta untuk menjadi pembantu atau menjadi bagian dari pemerintah, Tentu kita tidak punya ilusi bahwa ruangan politik itu vakum atau hampa dari kepentingan. politik dimana saja pasti tentang kepentingan. Dan kepentingan itu kawin diantara beberapa kelompok untuk mendapatkan kekuasaan itu. Pasti itu perkawinannya adalah pada siapa saja yang menjadi pemenang.

Kalau pada hari ini tadi disebutkan ada yang menanyakan atau menyesalkan atau ada yang menangisi ada yang gelo (jawa:menyesal. red), kenapa kok Sri Mulyani memutuskan untuk mundur dari Menteri Keuangan. Tentu ini adalah suatu kalkulasi dimana saya menganggap bahwa sumbangan saya, atau apapun yang saya putuskan sebagai pejabat publik tidak lagi dikehendaki di dalam sistem politik. Dimana perkawinan kepentingan itu begitu sangat dominan dan nyata. Banyak yang mengatakan itu adalah kartel, saya lebih suka pakai kata kawin, walaupun jenis kelaminnya sama. (ketawa dan tepuktangan)

Karena politik itu lebih banyak lakinya daripada perempuan makanya saya katakan tadi. Hampir semua ketua partai politik laki kecuali satu. Dan di dalam bahwa di mana sistem politik tidak menghendaki lagi atau dalam hal ini tidak memungkinkan etika publik itu bisa dimunculkan, maka untuk orang seperti saya akan menjadi sangat tidak mungkin untuk eksis. Karena pada saat saya menerima tangungjawab untuk menjadi pejabat publik, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, saya tidak ingin menjadi orang yang akan menghianati dengan berbuat corrupt. Saya tidak mengatakan itu gampang. Sangat painful. Sungguh painful sekali. Dan saya tidak mengatakan bahwa saya tidak pernah mengucurkan atau meneteskan airmata untuk menegakkan prinsip itu. Karena ironinya begitu besar. Sangat besar. Anda memegang kekuasaan begitu besar. Anda bisa, anda mampu, anda bahkan boleh, bahkan diharapkan untuk meng abuse nya oleh sekelompok yang sebetulnya menginginkan itu terjadi agar nyaman dan anda tidak mau. (tepuk tangan) Pada saat yang sama anda tidak selalu di apresiasi. P2D kan baru muncul sesudah saya mundur (ketawa, disini dia terlihat mengusapkan saputangan ke matanya). Jadi ya terlambat tidak apa-apa, terbiasa. Saya masih bisa menyelamatkan republik ini lah.

Jadi saya tidak tahu tadi, Rocky tidak ngasih tahu saya berapa menit atau berapa jam. Soalnya diatas jam 9 argonya lain lagi nanti. Jadi saya gimana harus menutupnya. Nanti kayaknya nyanyi aja balik terus nanti.

Mungkin saya akan mengatakan bahwa pada bagian akhir kuliah saya ini atau cerita saya ini saya ingin menyampaikan kepada semua kawan-kawan disini. Saya bukan dari partai politik, saya bukan politisi, tapi tidak berarti saya tidak tahu politik. Selama lebih dari 5 tahun saya tahu persis bagaimana proses politik terjadi. Kita punya perasaan yang bergumul atau bergelora atau resah. Keresahan itu memuncak pada saat kita menghadapi realita jangan-jangan banyak orang yang ingin berbuat baik merasa frustrasi. Atau mungkin saya akan less dramatic. Banyak orang-orang yang harus dipaksa untuk berkompromi dan sering kita menghibur diri dengan mengatakan kompromi ini perlu untuk kepentingan yang lebih besar. Sebetulnya cerita itu bukan cerita baru, karena saya tahu betul pergumulan para teknokrat jaman Pak Harto, untuk memutuskan stay atau out adalah pada dilema, apakah dengan stay saya bisa membuat kebijakan publik yang lebih baik sehingga menyelamatkan suatu kerusakan yang lebih besar. Atau anda out dan anda disitu akan punya kans untuk berbuat atau tidak, paling tidak resiko getting associated with menjadi less. Personal gain, public loss. If you stay, dan itu yang saya rasakan 5 tahun, you suddenly feel that everybody is your enemy.

Karena no one yang sangat simpati dan tahu kita pun akan tidak terlalu happy karena kita tetap berada di dalam sistem. Yang tidak sejalan dengan kita, juga jengkel karena kita tidak bisa masuk kelompok yang bisa diajak enak-enakan. Sehingga anda di dalam di sandwich di dua hal itu. Dan itu bukan suatu pengalaman yang mudah. Sehingga kita harus berkolaborasi untuk membuat space yang lebih enak, lebih banyak sehingga kita bisa menemukan kesamaan.

Nah kalau kita ingin kembali kepada topiknya untuk menutup juga, saya rasa forum-forum semacam ini atau saya mengatakan kelompok seperti anda yang duduk pada malam hari ini adalah kelompok kelas menengah. YAng sangat sadar membayar pajak. Membayarnya tentu tidak sukarela, tidak seorang yang patriotik yang mengatakan dia membayar pajak sukarela. Tapi meskipun tidak sukarela, anda sadar bahwa itu adalah suatu kewajiban untuk menjaga republik ini tetap berdaulat. Dan orang seperti anda yang tau membayar pajak adalah kewajiban dan sekaligus hak untuk menagih kepada negara, mengembalikan dalam bentuk sistim politik yang kita inginkan. Maka sebetulnya di tangan orang-orang seperti anda lah republik ini harus dijaga. Sungguh berat, dan saya ditanya atau berkali-kali di banyak forum untuk ditanya, kenapa ibu pergi? Bagaimana reformasi, kan yang dikerjakan semua penting. Apakah ibu tidak melihat Indonesia sebagai tempat untuk pengabdian yang lebih penting dibandingkan bank dunia.

Seolah-olah sepertinya negara ini menjadi tanggungjawab Sri Mulyani. Dan saya keberatan. Dan saya ingin sampaikan di forum ini karena anda juga bertanggungjawab kalau bertanya hal yang sama ke saya. Anda semua bertanggungjawab sama seperti saya. Mencintai republik ini dengan banyak sekali pengorbanan sampai saya harus menyampaikan kepada jajaran pajak, jajaran bea cukai, jajaran perbendaharaan, “Jangan pernah putus asa mencintai republik.” Saya tahu, sungguh sulit mengurusnya pada masa-masa transisi yang sangat pelik.

Kecintaan itu paling tidak akan terus memelihara suara hati kita. Dan bahkan menjaga etika kita di dalam betindak dan berbuat serta membuat keputusan. Dan saya ingin membagi kepada teman-teman disini, karena terlalu banyak di media seolah-olah ditunjukkan yang terjadi dari aparat di kementrian keuangan yang sudah direformasi masih terjadi kasus seperti Gayus. Saya ingin memberikan testimoni bahwa banyak sekali aparat yang betul-betul genuine adalah orang-orang yang dedicated. Mereka yang cinta republik sama seperti anda. Mereka juga kritis, mereka punya nurani, mereka punya harga diri. Dia bekerja pada masing-masing unit, mungkin mereka tidak bersuara karena mereka adalah bagian dari birokrat yang tidak boleh bersuara banyak tapi harus bekerja.

Sebagian kecil adalah kelompok rakus, dan dengan kekuasaan sangat senang untuk meng abuse. Tapi saya katakan sebagian besar adalah orang-orang baik dan terhormat. Saya ingin minta tolong dibantu, berilah ruang untuk orang-orang ini untuk dikenali oleh anda juga dan oleh masyarakat. Sehingga landscape negara ini tidak hanya didominasi oleh cerita, oleh tokoh, apalagi dipublikasi dengan seolah-oalh menggambarkan bahwa seluruh sistem ini adalah buruk dan runtuh. Selama seminggu ini saya terus melakukan pertemuan dan sekaligus perpisahan dengan jajaran di kementrian keuangan dan saya bisa memberikan, sekali lagi, testimoni bahwa perasaan mereka untuk membuktikan bahwa reform bisa jalan ada disana. Bantu mereka untuk tetap menjaga api itu. Dan jangan kemudian anda disini bicara dengan saya, ya bisa diselamatkan kalau Sri Mulyani tetap menjadi Menteri keuangan. Saya rasa tidak juga.

Suasana yang kita rasakan pada minggu-minggu yang lalu, bulan-bulan yang lalu, seolah-olah persoalan negara ini disandera oleh satu orang, sri mulyani. Sedemikian pandainya proses politik itu diramu sedemikian sehingga seolah-olah persoalannya menjadi persoalan satu orang. Seseorang yang pada sautu ketika dia harus membuat keputusan yang sungguh tidak mudah, dengan berbagai pergumulan, kejengkelan, kemarahan, kecapekan, kelelahan, namun dia harus tetap membuat kebijakan publik. Dia berusaha, berusaha di setiap pertemuan, mencoba untuk meneliti dirinya sendiri apakah dia punya kepentingan pribadi atau kelompok, dan apakah dia diintervensi atau tidak, apakah dia membuat keputusan karena ada tujuan yang lain. Berhari-hari, berjam-jam dia bertanya, dia minta, dia mengundang orang dan orang-orang ini yang tidak akan segan mengingatkan kepada saya. Meskipun mereka tahu saya menteri, mereka lebih tua dari saya. Orang seperti pak Darmin, siapa yang bisa bilang atau marahin Pak Marsilam?Wong semua orang dimarahin duluan sama dia.

Mereka ada disana hanya untuk mengingatkan saya berbagai rambu-rambu, berbagai pilihan dan pilihan sudah dibuat. Dan itu dilaporkan, dan itu diaudit dan itu kemudian dirapatkan secara terbuka. Dan itu kemudian dirapatkerjakan di DPR. Bagaimana mungkin itu kemudia 18 bulan kemudian dia seolah-olah menjadi keputusan individu seorang Sri Mulyani. Proses itu berjalan dan etika sunyi. Akal sehat tidak ada. Dan itu memunculkan suatu perasaan apakah pejabat publik yang tugasnya membuat kebijakan publik pada saat dia sudah mengikuti rambu-rambu, dia masih bisa divictimize oleh sebuah proses politik.

Saya hanya mengatakan, kalau dulu pergantian rezim orde lama ke orde baru, semua orang di stigma komunis, kalau ini khusus didisain pada era reformasi seorang distigma dengan Sri Mulyani identik dengan Century. Mungkin kejadiannya di satu orang saja, tapi sebetulnya analogi dan kesamaan mengenai suatu penghakiman telah terjadi. Sebetulnya disitulah letak kita untuk mulai bertanya, apakah proses politik yang didorong, yang dimotivate, yang ditunggangi oleh suatu kepentingan membolehkan seseorang untuk dihakimi, bahkan tanpa pengadilan. Divonis tanpa pengadilan. Itu barangkali adalah suatu episod yang sebetulnya sudah berturut-turut kita memahami konsekuensi sebagai pejabat publik yang tujuannya membuat kebijakan publik, dan berpura-pura seolah-olah ada etika dan norma yang menjadi guidance kita dibenturkan dengan realita-realita politik.

Dan untuk itu, saya hanya ingin mengatakan sebagai penutup, sebagian dari anda mengatakan apakah Sri mulyani kalah, apakah sri mulyani lari? Dan saya yakin banyak yang menyesalkan keputusan saya. Banyak yang menganggap itu adalah suatu loss atau kehilangan. Diantara anda semua yang ada disini, saya ingin mengatakan bahwa saya menang. Saya berhasil. Kemenangan dan keberhasilan saya definisikan menurut saya karena tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak disini. (applause)

Saya merasa berhasil dan saya merasa menang karena definisi saya adalah tiga. Selama saya tidak menghianati kebenaran, selama saya tidak mengingkari nurani saya, dan selama saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya, maka disitu saya menang. (applause-standing ovation).

Terimakasih

— Transkrip Kuliah SRI MULYANI: KEBIJAKAN PUBLIK dan ETIKA PUBLIK
di acara Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D),Jakarta, 18 Mei 2010

————-

Rabu, 19/05/2010 19:57 WIB
Sri Mulyani Bicara dari Bank Dunia Hingga Rencana 2014
Nurul Qomariyah – detikFinance

Jakarta – Sri Mulyani Indrawati buka-bukaan dengan para netter via detikForum. Berbagai pertanyaan dijawab oleh Sri Mulyani, mulai dari alasannya pindah ke Bank Dunia, hingga gosip nasi goreng untuk Presiden SBY.

Disela-sela kesibukannya mengadakan farewell party menjelang kepindahannya ke Washington DC, AS, Sri Mulyani menyempatkan diri untuk menyapa para detikers di kantornya, Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (19/5/2010). Live Chat berlangsung selama sekitar 1 jam.

Sri Mulyani yang mengenakan blazer merah tampak senang melayani pertanyaan dari detikers. Sesekali chatting juga diselingi dengan tawa Sri Mulyani yang ingin memberi smiley untuk memberikan ‘warna’ pada jawabannya.

Berikut rangkuman pertanyaan dari para detikers (DF) dan jawaban dari Sri Mulyani (SMI):

DF: Kenapa Ibu lebih memilih untuk meninggalkan posisi Menkeu dan memilih Managing Director di Bank Dunia? Apakah Ibu lebih memilih bekerja di luar negeri dari pada berbakti kepada Negara untuk membangun Indonesia yang lebih baik?

Selanjutnya, apa tanggapan Ibu dengan pendapat “Ibu Sri sengaja lari dari permasalahan yang sekarang sering dikait-kaitkan dengan Ibu Sri”?

SMI: Saya tidak lari dari permasalahan. Saya menerima pekerjaan sebagai managing director bank dunia adalah untuk mengabdi untuk kepentingan indonesia juga.

DF: Bagaimana cara ibu menghadapi tekanan yang begitu banyak. Bagaimana caranya ibu bisa tetap tersenyum? Mohon dibagi rahasianya bu Ani…

SMI: Saya tersenyum karena selalu teringat ada detikers seperti kamu.

DF: Menurut Ibu Sri Mulyani, kira-kira siapa yang pantas untuk menjadi pengganti ibu di posisi menteri Keuangan RI?

SMI: Mereka yang meneruskan reform dan cinta pada rakyat indonesia melebihi kecintaannya pada diri sendiri.

DF: Saya sangat menghargai reformasi birokrasi yang Ibu lakukan di Kemenkeu. Hasilnya kelihatan, walaupun masih ada cacat di sana sini (kasus Gayus). Mohon pendapat Ibu secara jujur, apakah Ibu yakin bahwa sepeninggal Ibu, para pegawai di Kemenkeu akan terus mempertahankan apa yg sudah Ibu bangun selama ini? Hal ini berkaitan dengan masalah integritas para pegawai Bu. Kami khawatir apabila Ibu sudah meninggalkan Kemenkeu, maka ‘para tikus’ akan berpesta pora kembali.

SMI: Para pegawai di Kemenkeu akan berjanji untuk meneruskan reformasi di Kemenkeu. Apabila mereka tidak, Anda-Andalah yang mengontrolnya. Jaga agar para politikus juga tidak mengganggu reformasi.

DF: Saya mau tanya, benar ga utang kita semakin membesar? Menurut ibu bisakah kita lakukan untuk membayar utang tersebut TANPA menggadaikan/menjual aset negara? dan tanpa mengekspor SDA yang semakin hari semakin habis? dengan kata lain apakah ibu punya jalan keluar lainnya?

Kalau bisa dilakukan, kira-kira dapat mendegredasikan hutang kita hingga beberapa persen per tahunnya?

SMI: Utang bertambah apabila anggaran pemerintah untuk belanja selalu lebih besar dari penerimaan negara terutama dari pajak. indonesia dapat membayar utang selama perekonomiaan dikelola dengan baik dan pemerintahan makin kompeten dan bersih sehingga penerimaan negara akan semakin besar. Utang yang dipakai untuk kegiatan produktif seperti membangun infrastruktur dan pendidikan juga pasti akan bisa dibayar, karena hasil dari hutang itu pasti lebih besar dari biayanya.

DF:

Yang menjadi pertanyaan saya adalah :
1. Sebagai Managing Director World Bank nantinya, kira-kira apa yang ibu canangkan untuk kemajuan negara ini?

2. Disalahkan secara poliltik oleh pihak tertentu (untuk kepentingan golongannya) atas suatu kebijakan yang bertujaun menyelamatkan negara(dan sudah terbukti), pastilah sangat menyakitkan. Kira-kira apa pesan ibu terhadap mereka (golongan itu)?

3. Saya saat ini, melihat bahwa kebanyakan masyarakat indonesia (terlebih anggota DPR), memiliki sifat SMOS (susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah), hal ini terlihat dari sikap mereka yang tidak rela ibu mundur karena mendapat pekerjaan yang lebih “tinggi”, padahal awalnya mereka meminta ibu mundur. Sangat terlihat sekali bahwa pada intinya mereka tidak senang dengan keberhasilan dan prestasi ibu (setidaknya dalam sudut pandang saya). Menurut ibu, budaya yang seperti ini, apakah memank ciri khas indonesia? apa yang harus kita lakukan agar budaya memalukan seperti ini dapat hilang dari tanah bumi pertiwi kita ini?

4. Dan terakhir, menurut anda bagaimana perekonomian kita 3 atau 5 tahun kedepan?

SMI:

1. Indonesia sebagai salah satu negara anggota Bank Dunia, dapat memanfaatkan bank Dunia dari segi Knowledge atau pengetahuan maupun dalam melihat pengalaman-pengalaman dalam berbagai negara di dunia untuk mengelola pembangunan.

2. Menjadi politikus yang etis, tentu bermanfaat bagi masyarakat, dan masyarakat pasti bisa menilai sikap dan tindakan dari politisi yang dianggap sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa ini.

3.Ya, Saya rasa banyak orang Indonesia yang memiliki sikap yang positif dan ingin melihat orang-orang untuk bisa maju dan berprestasi.

4. Perekonomian kita memiliki banyak potensi untuk bisa maju dan berkembang menyamai negara-negara emerging, seperti China, India dan Brazil.

DF:

1. Setelah masa jabatan ibu di World Bank berakhir, apakah ibu akan kembali berkarya di Indonesia? kami perlu figur seperti ibu untuk mengangkat moral kami kembali.

2. Menurut ibu, kebijakan seperti apa yg perlu dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi & menindak “oknum-oknum” tersebut?

3. Menurut ibu, apakah kebijakan pencabutan remunerisasi yg digembar-gemborkan oleh sebagian anggota DPR itu cukup relevan untuk diterapkan?

SMI:

1. Ya, saya pasti akan kembali

2. Untuk menindak oknum harus dilakukan langkah2 tegas dengan menggunakan rambu2 perundangan yang ada untuk bisa menghukum yang bersalah, dan memberi apresiasi bagi yang berprestasi dengan demikian indonesia akan dapat membangun institusi yang bisa dipercaya karena berisi orang2 yang komit terhadap perbaikan

3. Remunerasi tidak akan dicabut karena dpr paham bahwa reformasi masih harus diteruskan dan didukung

DF: Siapkah jika nanti ditahun 2014 ada partai yg mencalonkan ibu sebagai calon presiden?

SMI: 2014 masih lama, saya fokus pada pekerjaan saat ini saja

DF: Banyak sekali hal yang ingin saya tanyakan dengan ibu, mudah-mudahan ibu berkenan menjawabnya. langsung saja bu :

1. Sebenarnya apa sih tujuan dibentuknya dari bank dunia itu khususnya bagi negara berkembang seperti indonesia ? apakah bank dunia merupakan salah satu wadah tertinggi dari organisasi perbankan menginat namanya adalah bank dunia ?

2. Bagaimana pandangan ibu mengenai neoliberal seperti yang banyak diungkapkan oleh para pengamat mengenai neoliberal itu sendiri serta apakah paham neoliberal itu benar-benar ada ?

3. Bagaimanakah efektivitas pengadilan pajak itu sendiri menurut ibu ? apakah perlu pengadilan pajak nanti hanya berada di bawah mahkamah agung ? yang saya tahu, pengadilan pajak selain berada di bawah mahkamah agung, juga berada di bawah kemenkeu sehingga terjadi dualisme dan dikhawatirkan adanya konflik antar lembaga. selain itu, kita sebagai masyarakat awam tidak begitu mengetahui dimana letak pengadilan pajak dan prosesnya, takutnya nanti bakal dipermainkan makelar pajak. sebenarnya itu melanggar asas peradilan yaitu asas proses beracara terbuka untuk umum untuk kemudian ada kontrol dari masyarakat mengenai jalannya proses beracara di pengadilan pajak.

SMI: Anda bisa melihat informasi mengenai Bank Dunia melalui websitenya agar lengkap dan tidak terombang-ambing oleh informasi dari sumber yang tidak kompeten.

Para pengamat yang sering mengkritik Neoliberal tidak pernah menunjukkan secara tepat dan akurat apa sebenarnya yang mereka kritikkan atau tuduhkan. Orang yang belajar ilmu ekonomi secara benar paham betul bahwa dalam mengelola ekonomi suatu negara selalu dibutuhkan peranan negara yang efektif dan bersih untuk melindungi masyarakatnya dari ekses globalisasi dan persaingan pasar yang liberal. Menteri Keuangan yang mereformasi birokrasi agar pemerintah dan negara bisa melindungi dan mensejahterakan rakyatnya sudah pasti bukan seorang Neoliberal.

Masalah pengadilan pajak memerlukan koreksi baik pada tingkat perundang-undangan maupun dari sisi tata kelola, dan itu sedang dalam proses untuk diperbaiki.

DF: Ibu tentunya sudah rasakan sendiri bagaimana kekuasaan itu bisa mempermainkan hidup kita. Yang benar bisa disalahkan, dan yang salah bisa dibenarkan. Saya sendiri salut atas prestasi2 dan sumbangsih ibu kepada negara ini. Saya ingin mengucapkan terima kasih atas jasa2 ibu membawa negara ini ke titik yg lebih baik.

Pertanyaan yg ingin saya tanyakan tidak menyangkut masalah ekonomi negara ini. Saya hanya ingin tahu bagaimana pandangan pribadi ibu terhadap masalah Jendral Susno saat ini.

1. Bila ibu bertemu Jendral Susno sekarang, apa yg akan ibu katakan kepada beliau?
2. Menurut pendapat pribadi dan kacamata ibu, apakah Jendral Susno saat ini diperlakukan secara adil dan tidak di-anak tirikan oleh POLRI?
3. Bila ibu adalah Presiden, apakah ibu akan membentuk team yg benar2 independent terhadap kasus yg menimpa Jendral Susno Duadji?
4. Ibu sudi tidak sebelum ke washington mejenguk Jendral Susno di tahanan untuk memberi apreasiasi atas keberaniannya (terlepas dari bersalah/tidak bersalahnya Susno)?

SMI: Masalah Jenderal Susno adalah masalah intern Kepolisian. Kapolri dan seluruh jajarannya memiliki mekanisme untuk menanganinya dan memiliki kepentingan untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa Kepolisian RI adalah instansi yang bisa dipercaya oleh masyarakat.

DF: Bagaimana cara Ibu memberikan perhatian terhadap keluarga (khususnya dalam membesarkan anak2 tercinta) di tengah kesibukan Ibu selama menjadi MENKEU selama ini dan ketika menjadi Managing Director-nya world Bank?

SMI: Hubungan anak-anak dan saya sudah terjalin semenjak mereka ada di kandungan, dan terus terpelihara melalui komunikasi yang saling menghormati dan penuh kasih sayang. dengan demikian antara anak dengan ibunya atau dengan orang tuanya muncul rasa saling percaya dan saling mendukung. Ini membuat pekerjaan sebagai ibu maupun sebagai pejabat publik menjadi lebih mudah.

DF: Pernyataan ibu tentang :”jangan ada pemimpin yang mengorbankan anak buahnya”, sebenarnya ditujukan untuk siapa???

Apakah pesan untuk jajaran pejabat di Kemenkeu atau itu ditujukan untuk Pak SBY??

SMI: Itu ditujukan bagi jajaran pimpinan di departemen keuangan karena dalam menjalankan reformasi kita sering menghadapi resiko-resiko dan tekanan-tekanan yang tidak mungkin dihadapi sendiri oleh anak buah. Oleh karena itu pimpinan harus selalu ada dan jelas didalam melindungi dan mendorong agar anak buahnya percaya diri dan tenang dalam menjalankan tugasnya apapun resiko yang dihadapi.

DF: Akankah krisis di yunani akan menyebar di eropa dan akhirnya akan berimbas ke indonesia? Dan langkah apa ibu sarankan pada bank dunia untuk ikut mengatasi krisis itu?

SMI: Saat ini krisis yunani sedang ditangani oleh negara-negara Eropa agar tidak meluas. dengan demikian dampaknya kepada negara lain termasuk indonesia masih sangat terbatas. Meskipun demikian kita perlu tetap waspada karena langkah2 penyesuaian yang dilakukan memang cukup berat, yang dapat berpotensi untuk melemahkan pemulihan ekonomi dunia dan menciptakan krisis kepercayaan di sektor keuangan.

DF: Dalam organisasi, termasuk politik, bisa diibaratkan main catur. Nggak mungkin, raja mati duluan atau berkorban utk menteri. Yang ada pion, menteri dsb dikorbankan demi raja. Begitukah realitanya, ibu Ani?

Di Indonesia, menjadi orang baik dan benar tidaklah mudah. Bagaimana menurut ibu Ani?

SMI: Raja adalah simbol pimpinan di dalam permainan catur dan memang dia harus dilindungi oleh bidak-bidaknya.

Ahhh, tidak juga. Menjadi orang baik dan memelihara kebenaran itu merupakan pilihan sikap yang sangat jelas dan mudah.

DF: Bagaimana versi seorang Sri Mulyani tentang ekonomi pancasila? Konsep ekonomi kerakyatan versi bank dunia itu seperti apa?

SMI: Ekonomi yang dijalankan dengan prinsip lima sila pancasila tentu akan menghasilkan kebijakan2 yang menyeimbangkan antara kebutuhan untuk menciptakan keadilan sosial dan kebutuhan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Bank dunia bertujuan untuk menghapuskan kemiskinan di dunia, terutama di negara2 berkembang. dengan demikian program bank dunia identik dengan program ekonomi kerakyatan.

DF: Seandainya saya jadi presiden, ibu mau ga saya jadiin menkeu lagi?” Kalau tidak mau, kira-kira Ibu ingin jadi menteri apa?

SMI: Sebaiknya Anda terpilih dulu menjadi Presiden, baru saya bicara belakangan.

DF: Selamat Bu sudah menjadi Managing Director Bank Dunia. Semoga Tuhan selalu mendampingi Ibu. Menurut Ibu, bagaimana pandangan Ibu mengenai kritik yang muncul ketika Ibu ditunjuk sebagai Managing Director Bank Dunia?. Seperti kita semua ketahui, Kwik Kian Gie “sangat terhina”.

SMI: Narasumber yang seperti itu sama sekali tidak membuat rakyat indonesia menjadi cerdas dan maju.

DF: Apa ya indikator bahwa kenaikan tingkat ekonomi masyarakat Indonesia naik rata-rata 5%, sedangkan kesenjangan antara kaya dan miskin semakin lebar, daya beli masyarakat menengah ke bawah sangat rendah, infrastruktur dimana – mana tidak berjalan, investasi di daerah rata – rata rendah.

SMI: Pertumbuhan ekonomi memang tidak selalu identik dengan pemerataan dan perbaikan kualitas kehidupan masyarakat. oleh karena itu, Selain mengejar pertumbuhan ekonomi pemerintah harus terus memperbaiki kualitas kehidupan masyarakatnya melalui program pendidikan, kesehatan dan program penyediaan infrastruktur dasar.

DF: Jika sebelumnya ibu merasa menjadi korban dari kentalnya perkawinan kepentingan di negeri ini, masihkah ada yang ibu rindukan dari Indonesia saat bertugas di bank dunia nanti?

SMI: yang saya rindukan makanan enak, orang-orang seperti anda, nyiur melambai.. tanah yang wangi, padi yang menguning, jakarta yang bising, itu semua akan membuat saya rindu.

DF: Cuma 3 pertanyaan saya:
1. saya melihat Ibu sebagai korban sistem politik Indonesia yg dipenuhi prilaku orang2 lama warisan ORBA. Menurut Ibu kapan kondisinya akan membaik?…Mengingat realitas yg ada, makin menguatnya cengkraman PENGUASA-PENGUSAHA atas sistem politik Indonesia saat ini.

2. Kenapa kasus seperti Gayus masih terjadi di DJP?…saya yakin itu fenomena gunung es. Jangan dijawab bahwa reformasi butuh waktu. Lawan IBU yaitu Gayus cuma pegawai golongan 3A, apakah memang di DJP seolah ada TEMBOK tebal sehingga menghalangi ibu membersihkan mafia2 macam Gayus.
Dan perbaikan di PENGADILAN PAJAK, gebrakan dari ibu cuma mengganti SATPAM nya saja???

3. Bagaimana Ibu menilai SBY sebagai atasan Ibu? terutama dari sisi kinerja dan proses pengambilan keputusan penting?

SMI:

Yaa, kalau tidak suka politisi ORBA jangan dipilih lagi.

Saat ini langkah-langkah untuk mengoreksi kejadian seperti Gayus di DJP sedang dilakukan. Saya yakin kalau hal itu dilakukan secara konsisten, DJP akan menjadi institusi yang bisa kita percaya. Saya tidak melihat tembok tebal di DJP, yang ada adalah proses perbaikan membutuhkan ketekunan, konsistensi dan proses yang mungkin agak panjang.

Pak SBY telah dipilih oleh rakyat kembali, berarti kinerjanya baik, dan saya bagian dari pemerintahan SBY.

DF: Sebagai direktur eksekutif, mestinya tugas Ibu di bank dunia adalah menterjemahkan dan mengimplementasikan konsensus washington di negara-negara klien bank dunia..benar? mungkinkah Ibu membawa misi Ibu sendiri disana? saya rasa sulit. tapi itu mungkin kan? menurut saya, konsensus washington bukan langkah terbaik untuk menyehatkan ekonomi suatu negara. masih banyak cara lain yang lebih berpihak ke masyarakat miskin, bukan hanya mengakomodasi kepentingan korporasi lintas benua..Ibu tentu lebih tahu kan?

SMI: Konsensus Washington merupakan paradigma lama yang sudah dikoreksi. Dunia menghadapi persoalan pembangunan dan pengurangan kemiskinan yang memang makin pelik. Setahu saya, tidak ada satupun institusi yang percaya bahwa membangun ekonomi hanya bisa dilakukan dengan mengakomodasikan kepentingan kapitalis besar. Justru, paradigma yang dipakai saat ini adalah pentingnya kebiajakan pemihakan yang harus disertai dengan tata kelola yang baik. Itu adalah kunci dari perbaikan kesejahteraan.

DF: Bagaimana tipsnya agar bisa menjadi seorang wanita yg hebat dalam segala hal.. baik itu di bidang pendidikan, karir maupun keluarga.. Saya ingin sekali menjadi wanita yang cerdas dan kuat seperti Ibu?

SMI: Rasanya saya tidak hebat, saya beruntung punya keluarga yang menyayangi dan mendukung kegiatan dan pekerjaan yang saya lakukan. itu menjadi sumber kekuatan kita dalam menjalankan hidup.

DF: Sebenarnya apa sikap resmi paa bankir atas kasus century, dan apakah ada dampak secara signifikan dengan terpilihnya ibu kekancah internasional terhadap ekonomi indonesia dimasa yang akan datang. selamat dan sukses semoga tercurah kepada ibu.

SMI: Para Bankir menyatakan bahwa penyelamatan sistem keuangan dan perbankan merupakan kebijakan yang tepat dalam mengatasi dampak krisis global. Namun sayang, tidak ada satupun Bankir yang diundang oleh Pansus untuk menyampaikan pandangannya dalam kasus Bank Century. Itu menunjukkan bahwa proses politik yang terjadi tidak dilandasi oleh niat baik untuk membuka kebenaran dan mencari akar persoalan dari masalah Bank Century.

DF: Dulu, Kakanwil DJP Bali, NTB, NTT Pak Hasan Rachmani pernah cerita bahwa di suatu acara dinas pertemuan di rumah makan di Bali, selesai acara Ibu buru-buru menyuruh ajudan ibu untuk membayar makanannya. Artinya tidak seperti pejabat yg lain yg biasanya minta dilayani/dibayari anak buahnya di kunjungan dinasnya, Ibu tidak.

Bagaimana cerita sebenarnya BU? Biar saya tidak salah cerita tentang keteladanan Ibu tsb.

SMI: Apabila acara itu merupakan acara kedinasan, maka biayanya harus disediakan oleh kantor. Termasuk pada saat kunjungan kerja di daerah-daerah. Dengan demikian anak buah memang tidak seharusnya membayar makanan menteri-nya.

DF: Bu, bener ga Ibu pernah bikinin nasi goreng khusus untuk pak SBY?

SMI: Setahu saya selama jadi mentri saya belum pernah bikin nasi goreng untuk anak saya, apalagi untuk pak SBY.

Terima kasih atas pertanyaan-pertanyaanya, i love you full i’ll be back

(qom/qom)

Written by juneman in: tokoh | Tags: , ,

Powered by WordPress. Theme: TheBuckmaker. Zinsen, Streaming Audio