Libur Natal dan Tahun Baru 2023 telah usai. Kehidupan Jakarta pun berangsur normal. Kemacetan dan kepadatan jalanan menjadi rutinitas yang harus dihadapi lagi. Hujan yang terus turun menambah was-was, khususnya saat jam pulang kantor. Berbagai ketidakpastian yang harus dihadapi penglaju memberi beban mental yang besar bagi warga kota.
Jakarta masih menjadi tujuan migrasi utama dari seluruh Indonesia. Banyak impian dan harapan digantung pada kota ini, Wajar jika akhirnya kepadatan penduduk Jakarta pada 2019 mencapai 118 kali dari kepadatan rata-rata nasional. Padatnya Jakarta membuat daerah penyangga harus menampung luapan penduduk yang bekerja di Jakata tapi tinggal di pinggiran.
Meski laju pertumbuhan penduduk Bodetabek beberapa kali lipat dari angka nasional, kondisi infrastruktur di wilayah tersebut dan Jakarta relatif stabil selama berpuluh tahun. Akibatnya, kemacetan menjadi persoalan yang sejak dulu hingga kini sulit diatasi. Terlebih, sistem transportasi di Jabodetabek belum terintegrasi sepenuhnya.
Alhasil, banyak warga pinggiran Jakarta sudah harus bersiap bekerja sejak dini hari. Mereka harus berangkat bekerja atau sekolah sejak subuh agar tidak telat masuk. Namun, meski jenis kendaraan, rute yang ditempuh, dan berangkat pada jam yang sama, waktu yang dibutuhkan untuk tiba di kantor atau sekolah tetap sulit diprediksi.
“Ketidakpastian jalanan menjadi salah satu penyebab utama stres warga kota,” psikolog klinis dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Adityawarman Menaldi di Jakarta, Jumat (30/12/2022).
Saat energi sudah habis di jalan, maka hanya daya tersisa yang digunakan untuk belajar dan bekerja. Saat bekerja, bayang-bayang kerumitan pulang ke rumah pun sudah memenuhi kepala. Apalagi jika hujan saat jam pulang kantor. Akhirnya, pikiran pun tidak pernah tenang dan sulit berkonsentrasi saat melakukan apapun. Hidup pun jadi lebih sulit dinikmati.
Peneliti psikologi perkotaan yang juga dosen Fakultas Psikologi Universitas Bina Nusantara Jakarta Juneman Abraham mengatakan, tinggal di perkotaan, khususnya kota metropolitan seperti Jakarta, memang identik dengan beban stres yang tinggi. Namun, peluang ekonomi yang lebih terbuka lebar membuat banyak warga harus berdamai dengan kondisi mentalnya.
Lingkungan masyarakat yang plural, kompetitif, sistem arsitektural, hingga iklim politik yang ada tak hanya memberi tekanan ekonomi dan sosial, tetapi juga psikologi. Pluralitas itu seharusnya menjadi kekuatan untuk menyejahterakan masyarakat. Namun, seringkali keragaman identitas sosial itu justru dipolitisasi hingga membuat masyarakat saling curiga dan ujungnya stres.
“Tata kota di kota-kota besar, khususnya Jakarta, lebih mencerminkan personifikasi pemimpinnya,” tambahnya. Hasrat untuk membuat kota sejajar dengan kota-kota besar dunia membuat investasi pemodal sulit dihindari. Alih-alih mengajak masyarakat membangun kota bersama, rakyatlah yang akhirnya sering dikorbankan dalam kompetisi yang tidak seimbang itu.
Tabrakan antaraspirasi yang dibawa masing-masing individu seringkali menimbulkan ketegangan, bahkan berkembang menjadi konflik. Menyerobot antrean, berkendara ugal-ugalan, mau menang sendiri dalam segala hal, mudah ditemukan.
Semua orang mau jadi yang tercepat, paling diuntungkan, hingga paling diistimewakan. Kondisi sosial budaya yang seharusnya bisa menjadi peredam stres justru kerap menjadi sumber persoalan.
Tata kota di kota-kota besar, khususnya Jakarta, lebih mencerminkan personifikasi pemimpinnya.
Aspek politik juga penting dalam membentuk masyarakat yang sehat jiwanya. Kebebasan berekspresi dan mengemukakan pendapat tanpa merendahkan atau menyakiti orang lain, tingkat korupsi, hingga tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan kota juga akan menentukan kesejahteraan warga.
Beban jiwa warga kota itu tergambar dalam Indeks Kebahagiaan 2021. Meski pendapatan per kapita masyarakat di Jabodetabek tinggi, tingkat pendidikan jauh lebih baik, hingga fasilitas publik yang lengkap, nyatanya tak membuat warganya bahagia. Provinsi Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat sebagai provinsi yang menaungi Jabodetabek masuk dalam delapan provinsi paling tidak bahagia.
Namun, paradoks Easterlin yang menyebut kebahagiaan seseorang tidak berhubungan signifikan dengan besar-kecilnya pendapatan itu adalah fenomena global, bukan hanya masalah Jabodetabek. Banyak hal-hal tanwujud (intangible) yang harus diperhatikan pemerintah kota agar masyarakat bahagia dan sejahtera, lahir dan batin.
Orang muda
Sebagian besar penduduk kota adalah orang muda dan produktif. Mereka datang ke kota memang untuk belajar atau bekerja. Sementara warga senior atau lanjut usia, umumnya tersingkir di pinggiran. Kondisi itu memberi modal besar dalam menggerakkan ekonomi kota, tetapi juga memberikan kerentanan tinggi dalam kesehatan mental yang berdampak luas.
“Secara teoretis, kemampuan koping atau memecahkan masalah yang dimiliki seseorang akan berkembang sesuai umur dan pengalaman hidup,” kata Adityawarman. Kondisi itu membuat modal yang dimiliki orang muda dalam mengatasi masalah jauh lebih kecil dibanding mereka yang lebih tua.
Akibatnya, seperti saat banjir dan genangan memutus banyak jalan di Jakarta, awal Oktober 2022, berbagai keluh kesah dan pamer penderitaan muncul di media sosial. Cara ini memang paling simpel untuk meluapkan kekesalan dan ketidaknyamanan, tetapi tidak menyelesaikan masalah. Bahkan, informasi ‘kesusahan’ yang melimpah justru bisa membuat makin stres.
Stres yang menumpuk dan tidak segera diselesaikan akan memicu stres berat dan depresi. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan jiwa, tetapi bisa juga menurunkan produktivitas masyarakat, memicu aneka persoalan sosial dan kriminal, serta meningkatnya berbagai risiko penyakit degeneratif, biaya kesehatan, kematian dini, hingga beban ekonomi negara.
Meski demikian, Juneman mengingatkan untuk tidak menyamaratakan kondisi anak muda. Selama ini, anak muda atau generasi Z dicap oleh generasi yang lebih senior sebagai ‘generasi stroberi’, generasi yang mudah hancur saat menghadapi tekanan. Padahal realitasnya, masih banyak anak muda yang tangguh, berprestasi, dan mampu berkarya.
“Butuh banyak ruang atau peristiwa komunikasi yang bisa mempertemukan anak muda dan warga senior hingga timbul sikap saling memahami antargenerasi,” katanya. Pembangunan kota yang memisahkan ruang bagi anak muda dan warga senior hanya akan mengerdilkan potensi anak muda dan semakin meminggirkan warga senior.
Untuk mengatasi berbagai tekanan hidup warga kota, Juneman berharap pemerintah kota mau menyeimbangkan pembangunan kota. Pembangunan pusat perbelanjaan dan wisata berbayar perlu diimbangi dengan pembangunan taman atau tempat wisata gratis yang bisa diakses siapapun.
Semangat kompetitif, baik antarmasyarakat atau antara masyarakat dengan pemilik modal juga perlu diseimbangkan dengan semangat kolaboratif. Partisipasi warga perlu terus digali dan dijaga. Pengabaian aspirasi warga hanya akan menimbulkan apatisme yang justru berbahaya bagi kota dan kesehatan jiwa warganya.
Sementara itu, Adityawarman menilai masyarakat Indonesia sejatinya punya modal sosial budaya yang kuat. Sikap saling menghargai dan menghormati serta peduli bisa meringankan tekanan yang dialami masyarakat kota. Namun nilai-nilai luhur itu menghadapi banyak ujian karena pelaksanaannya sangat bergantung pada kemauan individu.
Karena itu, pembangunan kota dengan infrastruktur yang memadai akan sangat membantu mewujudkan kesehatan mental masyarakat kota. Sistem transportasi dan layanan publik yang baik akan sangat membantu masyarakat mengurangi variabel-variabel tidak terduga dan tidak terukur yang bisa memicu stres. Hidup pun menjadi lebih mudah dikendalikan.
“Kota yang sehat bukanlah kota yang hanya memiliki layanan kesehatan dan medis memadai saja, tetapi kota yang bisa tetap memanusiakan manusia,” katanya.
Libur Natal dan Tahun Baru 2023 telah usai. Kehidupan Jakarta pun berangsur normal. Kemacetan dan kepadatan jalanan menjadi rutinitas yang harus dihadapi lagi. Hujan yang terus turun menambah was-was, khususnya saat jam pulang kantor. Berbagai ketidakpastian yang harus dihadapi penglaju memberi beban mental yang besar bagi warga kota.
Jakarta masih menjadi tujuan migrasi utama dari seluruh Indonesia. Banyak impian dan harapan digantung pada kota ini, Wajar jika akhirnya kepadatan penduduk Jakarta pada 2019 mencapai 118 kali dari kepadatan rata-rata nasional. Padatnya Jakarta membuat daerah penyangga harus menampung luapan penduduk yang bekerja di Jakata tapi tinggal di pinggiran.
Meski laju pertumbuhan penduduk Bodetabek beberapa kali lipat dari angka nasional, kondisi infrastruktur di wilayah tersebut dan Jakarta relatif stabil selama berpuluh tahun. Akibatnya, kemacetan menjadi persoalan yang sejak dulu hingga kini sulit diatasi. Terlebih, sistem transportasi di Jabodetabek belum terintegrasi sepenuhnya.
Alhasil, banyak warga pinggiran Jakarta sudah harus bersiap bekerja sejak dini hari. Mereka harus berangkat bekerja atau sekolah sejak subuh agar tidak telat masuk. Namun, meski jenis kendaraan, rute yang ditempuh, dan berangkat pada jam yang sama, waktu yang dibutuhkan untuk tiba di kantor atau sekolah tetap sulit diprediksi.
“Ketidakpastian jalanan menjadi salah satu penyebab utama stres warga kota,” psikolog klinis dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Adityawarman Menaldi di Jakarta, Jumat (30/12/2022).
Saat energi sudah habis di jalan, maka hanya daya tersisa yang digunakan untuk belajar dan bekerja. Saat bekerja, bayang-bayang kerumitan pulang ke rumah pun sudah memenuhi kepala. Apalagi jika hujan saat jam pulang kantor. Akhirnya, pikiran pun tidak pernah tenang dan sulit berkonsentrasi saat melakukan apapun. Hidup pun jadi lebih sulit dinikmati.
Peneliti psikologi perkotaan yang juga dosen Fakultas Psikologi Universitas Bina Nusantara Jakarta Juneman Abraham mengatakan, tinggal di perkotaan, khususnya kota metropolitan seperti Jakarta, memang identik dengan beban stres yang tinggi. Namun, peluang ekonomi yang lebih terbuka lebar membuat banyak warga harus berdamai dengan kondisi mentalnya.
Lingkungan masyarakat yang plural, kompetitif, sistem arsitektural, hingga iklim politik yang ada tak hanya memberi tekanan ekonomi dan sosial, tetapi juga psikologi. Pluralitas itu seharusnya menjadi kekuatan untuk menyejahterakan masyarakat. Namun, seringkali keragaman identitas sosial itu justru dipolitisasi hingga membuat masyarakat saling curiga dan ujungnya stres.
“Tata kota di kota-kota besar, khususnya Jakarta, lebih mencerminkan personifikasi pemimpinnya,” tambahnya. Hasrat untuk membuat kota sejajar dengan kota-kota besar dunia membuat investasi pemodal sulit dihindari. Alih-alih mengajak masyarakat membangun kota bersama, rakyatlah yang akhirnya sering dikorbankan dalam kompetisi yang tidak seimbang itu.
Tabrakan antaraspirasi yang dibawa masing-masing individu seringkali menimbulkan ketegangan, bahkan berkembang menjadi konflik. Menyerobot antrean, berkendara ugal-ugalan, mau menang sendiri dalam segala hal, mudah ditemukan.
Semua orang mau jadi yang tercepat, paling diuntungkan, hingga paling diistimewakan. Kondisi sosial budaya yang seharusnya bisa menjadi peredam stres justru kerap menjadi sumber persoalan.
Tata kota di kota-kota besar, khususnya Jakarta, lebih mencerminkan personifikasi pemimpinnya.
Aspek politik juga penting dalam membentuk masyarakat yang sehat jiwanya. Kebebasan berekspresi dan mengemukakan pendapat tanpa merendahkan atau menyakiti orang lain, tingkat korupsi, hingga tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan kota juga akan menentukan kesejahteraan warga.
Beban jiwa warga kota itu tergambar dalam Indeks Kebahagiaan 2021. Meski pendapatan per kapita masyarakat di Jabodetabek tinggi, tingkat pendidikan jauh lebih baik, hingga fasilitas publik yang lengkap, nyatanya tak membuat warganya bahagia. Provinsi Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat sebagai provinsi yang menaungi Jabodetabek masuk dalam delapan provinsi paling tidak bahagia.
Namun, paradoks Easterlin yang menyebut kebahagiaan seseorang tidak berhubungan signifikan dengan besar-kecilnya pendapatan itu adalah fenomena global, bukan hanya masalah Jabodetabek. Banyak hal-hal tanwujud (intangible) yang harus diperhatikan pemerintah kota agar masyarakat bahagia dan sejahtera, lahir dan batin.
Orang muda
Sebagian besar penduduk kota adalah orang muda dan produktif. Mereka datang ke kota memang untuk belajar atau bekerja. Sementara warga senior atau lanjut usia, umumnya tersingkir di pinggiran. Kondisi itu memberi modal besar dalam menggerakkan ekonomi kota, tetapi juga memberikan kerentanan tinggi dalam kesehatan mental yang berdampak luas.
“Secara teoretis, kemampuan koping atau memecahkan masalah yang dimiliki seseorang akan berkembang sesuai umur dan pengalaman hidup,” kata Adityawarman. Kondisi itu membuat modal yang dimiliki orang muda dalam mengatasi masalah jauh lebih kecil dibanding mereka yang lebih tua.
Akibatnya, seperti saat banjir dan genangan memutus banyak jalan di Jakarta, awal Oktober 2022, berbagai keluh kesah dan pamer penderitaan muncul di media sosial. Cara ini memang paling simpel untuk meluapkan kekesalan dan ketidaknyamanan, tetapi tidak menyelesaikan masalah. Bahkan, informasi ‘kesusahan’ yang melimpah justru bisa membuat makin stres.
Stres yang menumpuk dan tidak segera diselesaikan akan memicu stres berat dan depresi. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan jiwa, tetapi bisa juga menurunkan produktivitas masyarakat, memicu aneka persoalan sosial dan kriminal, serta meningkatnya berbagai risiko penyakit degeneratif, biaya kesehatan, kematian dini, hingga beban ekonomi negara.
Meski demikian, Juneman mengingatkan untuk tidak menyamaratakan kondisi anak muda. Selama ini, anak muda atau generasi Z dicap oleh generasi yang lebih senior sebagai ‘generasi stroberi’, generasi yang mudah hancur saat menghadapi tekanan. Padahal realitasnya, masih banyak anak muda yang tangguh, berprestasi, dan mampu berkarya.
“Butuh banyak ruang atau peristiwa komunikasi yang bisa mempertemukan anak muda dan warga senior hingga timbul sikap saling memahami antargenerasi,” katanya. Pembangunan kota yang memisahkan ruang bagi anak muda dan warga senior hanya akan mengerdilkan potensi anak muda dan semakin meminggirkan warga senior.
Untuk mengatasi berbagai tekanan hidup warga kota, Juneman berharap pemerintah kota mau menyeimbangkan pembangunan kota. Pembangunan pusat perbelanjaan dan wisata berbayar perlu diimbangi dengan pembangunan taman atau tempat wisata gratis yang bisa diakses siapapun.
Semangat kompetitif, baik antarmasyarakat atau antara masyarakat dengan pemilik modal juga perlu diseimbangkan dengan semangat kolaboratif. Partisipasi warga perlu terus digali dan dijaga. Pengabaian aspirasi warga hanya akan menimbulkan apatisme yang justru berbahaya bagi kota dan kesehatan jiwa warganya.
Sementara itu, Adityawarman menilai masyarakat Indonesia sejatinya punya modal sosial budaya yang kuat. Sikap saling menghargai dan menghormati serta peduli bisa meringankan tekanan yang dialami masyarakat kota. Namun nilai-nilai luhur itu menghadapi banyak ujian karena pelaksanaannya sangat bergantung pada kemauan individu.
Karena itu, pembangunan kota dengan infrastruktur yang memadai akan sangat membantu mewujudkan kesehatan mental masyarakat kota. Sistem transportasi dan layanan publik yang baik akan sangat membantu masyarakat mengurangi variabel-variabel tidak terduga dan tidak terukur yang bisa memicu stres. Hidup pun menjadi lebih mudah dikendalikan.
“Kota yang sehat bukanlah kota yang hanya memiliki layanan kesehatan dan medis memadai saja, tetapi kota yang bisa tetap memanusiakan manusia,” katanya.
Libur Natal dan Tahun Baru 2023 telah usai. Kehidupan Jakarta pun berangsur normal. Kemacetan dan kepadatan jalanan menjadi rutinitas yang harus dihadapi lagi. Hujan yang terus turun menambah was-was, khususnya saat jam pulang kantor. Berbagai ketidakpastian yang harus dihadapi penglaju memberi beban mental yang besar bagi warga kota.
Jakarta masih menjadi tujuan migrasi utama dari seluruh Indonesia. Banyak impian dan harapan digantung pada kota ini, Wajar jika akhirnya kepadatan penduduk Jakarta pada 2019 mencapai 118 kali dari kepadatan rata-rata nasional. Padatnya Jakarta membuat daerah penyangga harus menampung luapan penduduk yang bekerja di Jakata tapi tinggal di pinggiran.
Meski laju pertumbuhan penduduk Bodetabek beberapa kali lipat dari angka nasional, kondisi infrastruktur di wilayah tersebut dan Jakarta relatif stabil selama berpuluh tahun. Akibatnya, kemacetan menjadi persoalan yang sejak dulu hingga kini sulit diatasi. Terlebih, sistem transportasi di Jabodetabek belum terintegrasi sepenuhnya.
Alhasil, banyak warga pinggiran Jakarta sudah harus bersiap bekerja sejak dini hari. Mereka harus berangkat bekerja atau sekolah sejak subuh agar tidak telat masuk. Namun, meski jenis kendaraan, rute yang ditempuh, dan berangkat pada jam yang sama, waktu yang dibutuhkan untuk tiba di kantor atau sekolah tetap sulit diprediksi.
“Ketidakpastian jalanan menjadi salah satu penyebab utama stres warga kota,” psikolog klinis dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Adityawarman Menaldi di Jakarta, Jumat (30/12/2022).
Saat energi sudah habis di jalan, maka hanya daya tersisa yang digunakan untuk belajar dan bekerja. Saat bekerja, bayang-bayang kerumitan pulang ke rumah pun sudah memenuhi kepala. Apalagi jika hujan saat jam pulang kantor. Akhirnya, pikiran pun tidak pernah tenang dan sulit berkonsentrasi saat melakukan apapun. Hidup pun jadi lebih sulit dinikmati.
Peneliti psikologi perkotaan yang juga dosen Fakultas Psikologi Universitas Bina Nusantara Jakarta Juneman Abraham mengatakan, tinggal di perkotaan, khususnya kota metropolitan seperti Jakarta, memang identik dengan beban stres yang tinggi. Namun, peluang ekonomi yang lebih terbuka lebar membuat banyak warga harus berdamai dengan kondisi mentalnya.
Lingkungan masyarakat yang plural, kompetitif, sistem arsitektural, hingga iklim politik yang ada tak hanya memberi tekanan ekonomi dan sosial, tetapi juga psikologi. Pluralitas itu seharusnya menjadi kekuatan untuk menyejahterakan masyarakat. Namun, seringkali keragaman identitas sosial itu justru dipolitisasi hingga membuat masyarakat saling curiga dan ujungnya stres.
“Tata kota di kota-kota besar, khususnya Jakarta, lebih mencerminkan personifikasi pemimpinnya,” tambahnya. Hasrat untuk membuat kota sejajar dengan kota-kota besar dunia membuat investasi pemodal sulit dihindari. Alih-alih mengajak masyarakat membangun kota bersama, rakyatlah yang akhirnya sering dikorbankan dalam kompetisi yang tidak seimbang itu.
Tabrakan antaraspirasi yang dibawa masing-masing individu seringkali menimbulkan ketegangan, bahkan berkembang menjadi konflik. Menyerobot antrean, berkendara ugal-ugalan, mau menang sendiri dalam segala hal, mudah ditemukan.
Semua orang mau jadi yang tercepat, paling diuntungkan, hingga paling diistimewakan. Kondisi sosial budaya yang seharusnya bisa menjadi peredam stres justru kerap menjadi sumber persoalan.
Tata kota di kota-kota besar, khususnya Jakarta, lebih mencerminkan personifikasi pemimpinnya.
Aspek politik juga penting dalam membentuk masyarakat yang sehat jiwanya. Kebebasan berekspresi dan mengemukakan pendapat tanpa merendahkan atau menyakiti orang lain, tingkat korupsi, hingga tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan kota juga akan menentukan kesejahteraan warga.
Beban jiwa warga kota itu tergambar dalam Indeks Kebahagiaan 2021. Meski pendapatan per kapita masyarakat di Jabodetabek tinggi, tingkat pendidikan jauh lebih baik, hingga fasilitas publik yang lengkap, nyatanya tak membuat warganya bahagia. Provinsi Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat sebagai provinsi yang menaungi Jabodetabek masuk dalam delapan provinsi paling tidak bahagia.
Namun, paradoks Easterlin yang menyebut kebahagiaan seseorang tidak berhubungan signifikan dengan besar-kecilnya pendapatan itu adalah fenomena global, bukan hanya masalah Jabodetabek. Banyak hal-hal tanwujud (intangible) yang harus diperhatikan pemerintah kota agar masyarakat bahagia dan sejahtera, lahir dan batin.
Orang muda
Sebagian besar penduduk kota adalah orang muda dan produktif. Mereka datang ke kota memang untuk belajar atau bekerja. Sementara warga senior atau lanjut usia, umumnya tersingkir di pinggiran. Kondisi itu memberi modal besar dalam menggerakkan ekonomi kota, tetapi juga memberikan kerentanan tinggi dalam kesehatan mental yang berdampak luas.
“Secara teoretis, kemampuan koping atau memecahkan masalah yang dimiliki seseorang akan berkembang sesuai umur dan pengalaman hidup,” kata Adityawarman. Kondisi itu membuat modal yang dimiliki orang muda dalam mengatasi masalah jauh lebih kecil dibanding mereka yang lebih tua.
Akibatnya, seperti saat banjir dan genangan memutus banyak jalan di Jakarta, awal Oktober 2022, berbagai keluh kesah dan pamer penderitaan muncul di media sosial. Cara ini memang paling simpel untuk meluapkan kekesalan dan ketidaknyamanan, tetapi tidak menyelesaikan masalah. Bahkan, informasi ‘kesusahan’ yang melimpah justru bisa membuat makin stres.
Stres yang menumpuk dan tidak segera diselesaikan akan memicu stres berat dan depresi. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan jiwa, tetapi bisa juga menurunkan produktivitas masyarakat, memicu aneka persoalan sosial dan kriminal, serta meningkatnya berbagai risiko penyakit degeneratif, biaya kesehatan, kematian dini, hingga beban ekonomi negara.
Meski demikian, Juneman mengingatkan untuk tidak menyamaratakan kondisi anak muda. Selama ini, anak muda atau generasi Z dicap oleh generasi yang lebih senior sebagai ‘generasi stroberi’, generasi yang mudah hancur saat menghadapi tekanan. Padahal realitasnya, masih banyak anak muda yang tangguh, berprestasi, dan mampu berkarya.
“Butuh banyak ruang atau peristiwa komunikasi yang bisa mempertemukan anak muda dan warga senior hingga timbul sikap saling memahami antargenerasi,” katanya. Pembangunan kota yang memisahkan ruang bagi anak muda dan warga senior hanya akan mengerdilkan potensi anak muda dan semakin meminggirkan warga senior.
Untuk mengatasi berbagai tekanan hidup warga kota, Juneman berharap pemerintah kota mau menyeimbangkan pembangunan kota. Pembangunan pusat perbelanjaan dan wisata berbayar perlu diimbangi dengan pembangunan taman atau tempat wisata gratis yang bisa diakses siapapun.
Semangat kompetitif, baik antarmasyarakat atau antara masyarakat dengan pemilik modal juga perlu diseimbangkan dengan semangat kolaboratif. Partisipasi warga perlu terus digali dan dijaga. Pengabaian aspirasi warga hanya akan menimbulkan apatisme yang justru berbahaya bagi kota dan kesehatan jiwa warganya.
Sementara itu, Adityawarman menilai masyarakat Indonesia sejatinya punya modal sosial budaya yang kuat. Sikap saling menghargai dan menghormati serta peduli bisa meringankan tekanan yang dialami masyarakat kota. Namun nilai-nilai luhur itu menghadapi banyak ujian karena pelaksanaannya sangat bergantung pada kemauan individu.
Karena itu, pembangunan kota dengan infrastruktur yang memadai akan sangat membantu mewujudkan kesehatan mental masyarakat kota. Sistem transportasi dan layanan publik yang baik akan sangat membantu masyarakat mengurangi variabel-variabel tidak terduga dan tidak terukur yang bisa memicu stres. Hidup pun menjadi lebih mudah dikendalikan.
“Kota yang sehat bukanlah kota yang hanya memiliki layanan kesehatan dan medis memadai saja, tetapi kota yang bisa tetap memanusiakan manusia,” katanya.
Memang
sudah waktunya, di era Sains Terbuka (Open Science) ini, hal-hal yang
tidak perlu “ditutup”, ya, dibuka saja, seperti misalnya nama Penyunting
Penelaah / Mitra Bestari / Reviewer untuk tiap-tiap artikel yang di-review.
Hal ini sudah diterapkan pada Jurnal Frontiers in Psychology.
Berikut ini adalah contoh penampakannya:
Lebih
bagus lagi jika menerapkan Open Peer Review (Penelaahan
Terbuka).
Panduan
Layanan Psychological First Aids (PFA)/Pertolongan Psikologis
Pertama — Jarak Jauh
*Adaptasi
berbahasa Indonesia untuk konteks Indonesia oleh Himpunan Psikologi Indonesia
(HIMPSI) atas dokumen, sbb: Copyrighted material with permission of IFRC (2020): IFRC (International
Federation of Red Cross and Red Crescent Societies) Reference Centre for
Psychosocial resources. Remote Psychological First Aid during the COVID-19
outbreak. Interim guidance — March 2020. Retrieved from: https://reliefweb.int/sites/reliefweb.int/files/resources/IFRC-PS-Centre-Remote-Psychological-First-Aid-during-a-COVID-19-outbreak-Interim-guidance.pdf .
Penerjemah/Translator (31 Mar. 2020): Dr. Seger Handoyo (Ketua Umum
Himpunan Psikologi Indonesia) dan Dr. Juneman Abraham (Ketua Kompartemen Riset
dan Publikasi, Himpunan Psikologi Indonesia).
Tim
Sains Terbuka Indonesia turut berpartisipasi dalam Jon Tenants Memorial
Day, pada 9 April 2021.
Sumber
presentasi Set Them Free: http://bit.do/SetThemFree
Saya
menyampaikan pandangan tentang warisan Jon Tennant, sebagai berikut:
Thank
you, Erwin.
Hi
friends! I am Juneman Abraham.
I am
the Head of Research & Publication Division of the Indonesian Psychological
Association,
I am
also an Associate Professor of Social Psychology at Bina Nusantara University
in Jakarta, Indonesia
Jon was
an advocate of open science who, paradoxically and interestingly, constantly
did self-criticism of the concept and movement of open science.
The
open science that he formed, developed, and socialized is a true open
science, which is beautifully protected from the “counterfeit open
science”-deriving from current practices of neoliberalism.
Let us
reflect on one of his last articles entitled Fixing the Crisis State of
Scientific Evaluation. One of his most important legacy is his political
insistence that we need to “police the police”, we need to “police the metric
vendors” by imposing our own regulation to them — based on
what we value most about science and society.
He also
strongly reminds us to approach the knowledge economy differently by
fostering a more compassionate, dialogical, catch-all, and
bullying-free research culture.
Materi
berikut ini saya terima dari Prof. Sundani Nurono pada Jumat, 2 April 2021,
dalam acara penyampaian filosofi Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Eksposur
Prof. Sundani mengenai posisi seharusnya Pengabdian kepada Masyarakat (PkM)
dalam Perguruan Tinggi sangat saya apresiasi, hingga saya unggah di YouTube
berupa Video di bawah ini.
Prof.
Sundani dari Institut Teknologi Bandung merupakan Pembina PKM yang sangat saya
segani sejak saya mengikuti BIMTEK PKM tahun 2018 di Universitas Bina Darma, Palembang.
Paparan
Prof. Sundani tampaknya senada dengan paparan Prof. Enoch Markum dari
Universitas Indonesia, dalam Twitter berikut ini; hanya saja, perspektif kedua
Guru Besar ini memiliki kekhasan masing-masing. Yang menarik, Prof. Sundani
menggunakan dimensi spiritualitas dalam menjelaskan gejala
yang beliau prihatinkan — yang beliau sebut sebagai “Demam Sangkar
Tridarma Perguruan Tinggi”.
Di
samping itu, beliau menggunakan perspektif antar/inter (between) bidang
Tridarma untuk “menekan” riset masuk ke Pengabdian kepada Masyarakat (Beliau
mensugesti agar Darma Pengabdian kepada Masyarakat — Mercusuar-nya
Perguruan Tinggi — diperbesar menjadi minimal 30%).
Hal ini
dapat melengkapi masukan-masukan Tim Sains Terbuka Indonesia selama ini yang
terfokus pada intra (within)
darma Riset dan Publikasi.
Aksi-aksi between dan within bidang-bidang
Tridarma ini patut menjadi sebuah gerakan bersama, tidak lain untuk
meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia melalui lembaga pendidikan
tinggi. By the way, pendekatan berbasis antar/inter-Tridarma
sebenarnya juga sudah saya ungkapkan dalam acara Rock The Talk: Sejalan
dengan “hukum kekekalan energi”, jika satu darma menyusut, ia pasti
menggelembung di darma yang lain. Sebaliknya bisa terjadi, bila
seorang dosen sedang kurang performed dalam riset, boleh
jadi — biasanya — ia performed dalam
Pengembangan Masyarakat atau “ComDev” (community development), yang di
Universitas Bina Nusantara terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu (1)
Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang tak berbayar, dan (2) Pelayanan
Profesional kepada Masyarakat (Professional service)
yang berbayar.
Materi
kedua dan ketiga berikut ini saya peroleh dari seorang rekan di WhatsApp
Group Neuronesia, pada 4 April 2021. Apakah Anda dapat
menemukan benang merah dari ketiga materi ini?
Bagaimana
jika resonansi semakin kuat, karena pada 30 Maret 2021, kami juga telah
menerbitkan sebuah tulisan, yang menekankan hal senada?
Mengenai
kepengaran karya ilmiah/karil, saya bicarakan pada 20 Januari 2021. Saya
menyampaikan tentang perbedaan (dan juga irisan) antara Authorship dan Contributorship. Bahwa
belum adanya kesepakatan akan hal ini akan menimbulkan “kekacauan” dalam dunia
akademik kita; sampai-sampai seorang kolaborator dapat bertukar
posisi dengan seorang plagiator.
Pada 23
Desember 2020, saya berbicara dalam sebuah forum bertajuk Darurat
Plagiat. Saya berbicara khusus mengenai apa dan bagaimana ANJANI (Anjungan
Integritas Akademik).
Berikut
adalah tautan materinya:
Ini
adalah flyer dari kegiatan ini:
Mengenai Integritas
Akademik, sebenarnya sudah saya bicarakan juga jauh hari sebelumnya,
sepanjang 2019, ketika mendapat penugasan dari Kementerian RistekDikti.
Berikut
ini adalah tautan materinya:
Di
samping itu, pada 3 Juli 2020, saya berbicara hal yang lebih luas lagi,
yakni Isu Etika dalam Penelitian, di mana saya menekankan
tentang pentingnya penyelesaian dilema etis secara rasional sebagai bagian dari
Pendidikan Etika.
Meeting Tim International Scientific CommitteeAssociation
of Behavioural Researchers on Asians/Africans (ABRA) atau
Persatuan Penyelidik-Penyelidik Perilaku Orang Asia/Africa, 16
Desember 2020.
The government’s rhetoric of Indonesian resurgence is one of economic and health recovery from the current disruptive pandemic. However, this rhetoric has not been matched in reality, as the recovery focus and fulfillment have been heavily slanted towards the economic sphere. There is a need for a policy which could sustainably alleviate both economic and […]
Sejarah Psikologi IndonesiaBelakangan ini, saya bereksperimen sederhana untuk menghasilkan sebuah narasi tentang sejarah Psikologi di Indonesia. Saya meminta Gemini AI untuk membuat narasi tersebut dengan melandaskan diri pada sumber-sumber terbuka di internet.Hasilnya adalah sebagai berikut: Psikologi di Indonesia Dalam Lintasan Sejarah [Sebuah Eksperimen dengan Generative AI]. Setidaknya ada tiga bagian tulisan mulai dari Perkembangan Psikologi […]
Sebagai dosen tidak tetap (adjunct lecturer) di School of Government and Public Policy — Indonesia (Sekolah Tinggi Kepemerintahan dan Kebijakan Publik), pada 4 Februari 2025, saya menguji (sekaligus membimbing) sebuah penelitian bertajuk Human-Centric Policy Evaluation of Jakarta Smart City Initiatives: Enhancing Citizen Engagement to Create Sustainable Public Service yang dilakukan oleh Muhammad Fibiyan Aflah.Semoga berkontribusi pada kebijakan kota […]
Sesuai dengan ketentuan Pemerintah bahwa Penilai Kinerja Dosen wajib memiliki Sertifikat/Sertifikasi (lulus ujian), pada 2024 yang lalu, saya telah menerima Sertifikat yang memuat NIRA (Nomor Induk Registrasi Asesor).Proses sertifikasinya sendiri berlangsung pada 2023; sertifikat terbit pada 3 September 2024.
Halo… Sudah lama saya tidak memutakhirkan isi blog di Medium ini.Perkenankan saya untuk menyampaikan sejumlah update kegiatan, di samping yang saya sampaikan di http://juneman.blog.binusian.org dan http://juneman.mePada 30 April 2024, saya menerima kunjungan Prof. Xu Baofeng dari Beijing Language Culture University, yang juga merupakan Ketua World Council of Sinologists (Chinese Studies).Pada 3 April 2024 (pagi), saya dan […]
Pada 28 Agustus 2023, saya melaksanakan aktivitas sebagai Asesor Kompetensi Lembaga Sertifikasi Profesi Psikologi Indonesia/Badan Nasional Seertifikasi Profesi (LSP/BNSP).Kali ini saya meng-assess kompetensi asesi untuk skema Perancang dan Fasilitator Pengembangan Komunitas (PFPK).Asesmen diselenggarakan di Kantor Pusat LSP Psikologi Indonesia di Puri Bintaro, Tangerang Selatan.
Membahas diantaranya ethical clearance dan etika penggunaan kecerdasan buatan (OpenAI, seperti ChatGPT) dalam penulisan artikel ilmiah internasional. Diselenggarakan pada 21–22 Juli 2023 di Bogor oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Diktiristek, Kemdikbudristek, bekerjas ama dengan Universitas Pakuan.
“Pentingnya Standar Pendidikan dan Layanan Psikologi yang sesuai dengan Undang-Undang No 23 Tahun 2022 tentang Pendidikan dan Layanan Psikologi sebagaimana juga diamanatkan oleh Hasil Kongres XIV HIMPSI Tahun 2022 tentang Isu-isu Strategis HIMPSI periode 2022–2026, maka dipandang penting membentuk Tim Ad Hoc yang bertugas untuk menyusun dan pengembangan standar tersebut.”
Sehubungan dengan upaya pencegahan bunuh diri di kalangan polisi, yang sudah menjadi akses pemberitaan publik, saya diperbantukan oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) kepada Kepolisian Negara RI dalam rangka penelitian pada tahun 2023.
Matching Fund — Manajemen KeuangannyaWorkshop Pengelolaan Keuangan untuk Program Matching Fund Kedaireka dari Kemendikbudristek, berlangsung pada 26 hingga 29 Januari 2023.
Buku Putih Peta Jalan AI Indonesia secara keseluruhan belum berhasil membuat distingsi antara Etika AI dan Hukum AI. Saya mencoba menjelaskan dalam artikel berikut ini, AI Indonesia: Diatur oleh Etika atau Undang-undang, mengapa distingsi menjadi urgen dibutuhkan https://m.antaranews.com/berita/5030041/ai-indonesia-diatur-oleh-etika-atau-undang-undang?page=all , meskipun ada konsep regulatory sandbox. Tanpa distingsi, saya khawatir bukan hanya Regulasi AI Indonesia akan jalan di […]
Fenomena pengibaran bendera “One Piece” menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia menunjukkan adanya ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah. Bendera bajak laut ini menjadi simbol perlawanan kreatif dan representasi aspirasi rakyat yang merasa tidak didengar. Fenomena ini mengingatkan pada ucapan Bung Karno bahwa perjuangan di masa depan akan melawan bangsa sendiri. Pengibaran bendera ini menjadi cara unik untuk menyuarakan […]
Coba bayangkan situasi ini : Anda ingin menilai kemampuan seorang koki. Mana yang lebih masuk akal : Langsung mencicipi hasil masakannya untuk merasakan sendiri kualitasnya, ataukah hanya melihat-lihat seberapa mewah dan terkenal restoran tempatnya bekerja? Tentu saja pilihan pertama yang lebih logis, bukan? Tapi anehnya, dunia akademik kita, yang disinyalir sebagian pihak sebagai “menara gading” […]
Dalam podcast di BINUS TV kali ini, saya membahas sisi-sisi psikologis dari pinjaman online khususnya Pinjol Ilegal. Apa saja yang perlu diantisipasi? Apa ciri-ciri orang yang lebih rentan? Apa peran komunitas? Ringkas saya bahas di podcast ini – The post Psikologi PINJOL : Sisi gelap, kalah mental; bagaimana kita keluar? appeared first on Juneman Abraham […]
Tak dapat dipungkiri, penggunaan AI untuk menulis dalam dunia apapun (dunia ilmiah, dunia copywriting marketing/bisnis, dunia jurnalis) semakin memarak. Apa potensinya? Apa yang harus kita jaga bersama? Saya membicarakannya di Lembaga Layanan DIKTI Wilayah III, khususnya penulisan ilmiah. Salah satunya, saya menekankan arti penting mengakui (acknowledging) secara transparan penggunaan AI – Sesuatu yang masih sangat […]
Bagaimana fenomena “Fantasi Sedarah” dilihat dari sudut pandang multidisiplin informatika dan psikologi? Apa hubungannya dengan self-censorship, chilling effect, culturally-sensitive Artificial Intelligence, responsible AI, serta etika dan hukum digital, juga Pendiri Facebook yang sempat meminta maaf? Simak bincang santai saya di sini! Salam PsikoInformatika! The post Fantasi Sedarah: Lensa PsikoInformatika appeared first on Juneman Abraham ~ […]
Sebagian dari kegiatan saya dapat disimak melalui situs web BINUS Research. Beberapa dari kegiatan tersebut adalah: Hadir sebagai Profesor Tamu dalam pengukuhan Prof. Dr. Bagus Takwin (Universitas Indonesia) – 8 Mei 2024. Testimoni saya untuk Prof. Dr. Bagus Takwin: Memperkuat Ekosistem Hilirisasi Riset Memperkuat Integritas Akademik dan Antikorupsi Membangun dan Menjaga Portofolio Riset Dosen BINUS […]
Siniar Binus Fostering and Empowering Society melalui Melawan Korupsi Ilmu. The post Prof Juneman: Berkarya Melalui Keilmuan & Moralitas Perjalanan Melawan Korupsi Ilmu appeared first on Juneman Abraham ~ psikolog sosial.
Pada 28 Mei 2024, saya membicarakan 4 poin tentang Kesehatan Jiwa/Kesehatan Mental di acara Berkas Kompas TV: Pada 3 Juni 2024, saya diundang DAAI TV untuk berbicara tentang Hari Lahir Pancasila, khususnya tentang kebijakan pembangunan: Apakah sudah sesuai dengan nilai-nilai Pancasila? Saya menyampaikan beberapa hasil riset tentang Psikologi Pancasila. Bahwa penting untuk menjadi teladan konkret […]
Perbincangan bersama Bivitri Susanti, dari Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, di Podcast BINUS TV, menyambut Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2024. The post Korupsi Ilmu dan Generasi yang Tersesat appeared first on Juneman Abraham ~ psikolog sosial.