Aug
21
2020
0

Konferensi Asian Science Editors

Sebagai anggota dari CASE – Council of Asian Science Editors (nomor urut 337), saya ikut menghadiri secara virtual Konferensinya yang Keenam di Seoul, Korea. Salah satu sesi menarik yang saya ikuti adalah tentang Preprint Server.

Ketika ditanyakan oleh salah seorang peserta, Dugald McGlashan, “Do any journal editors here use preprint servers to look for potential submissions?”, Sun Huh selaku pembicara dan Editor Jurnal merespons, “I look for the preprint server to invite the good results. I would like to invite some preprint to my journal.”

Aug
18
2020
0

Mengukuhkan Psikologi Kebangsaan di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia

View this post on Instagram

Tulisan Edukasi HIMPSI #PsikologiKebangsaan #DirgahayuIndonesia Dari aspek psikologis, bangsa (Volk, nation) merupakan komunitas yang diikat oleh persepsi-persepsi subjektif yang melihat dirinya sebagai bagian dari bangsa itu. Karenanya bangsa memiliki jiwa (Volksgeist, national spirit; Volksseele, national psyche), yang sesungguhnya bukan berasal dari kesamaan kesukuan, bahasa, atau kekerabatan, melainkan berasal dari identifikasi psikologis pribadi-pribadi yang bersama-sama meleburkan diri dengan bangsa tersebut. Mengapa Psikologi Kebangsaan menjadi penting sebagai suatu bidang studi dewasa ini? Bangsa menghadapi berbagai persoalan sepanjang sejarahnya. Sebagian besar persoalan, apabila ditilik, sesungguhnya merupakan persoalan bagaimana bangsa berperilaku. Bukan hanya psikologi internasional yang perlu dikuasai, namun justru psikologi bangsa kita sendiri lah yang pertama-tama perlu digali dan dipetakan karakteristik, kekuatan dan kerentanannya. Mengambil kesimpulan tentang jiwa bangsa sangatlah tidak mudah; kita bisa tergelincir pada simplifikasi yang boleh jadi tidak akan menambah sesuatu pemahaman mengenai bangsa kita. Psikologi Kebangsaan jangan diharapkan untuk menghasilkan profil kejiwaan dan perilaku bangsa yang berlaku bagi semua anggota bangsa …. Kontradiksi-kontradiksi (kalau tidak “interlocking realities”) yang mesti dianggap sebagai paradoks dalam Psikologi Kebangsaan sangat dimungkinkan, dan justru jangan dianggap sebagai kegagalan Psikologi itu, melainkan merupakan kenyataan yang membawa kita kepada pemahaman psikologis yang semakin mendekati kebenaran. Meskipun sejak membuminya Psikologi Asia dengan hadirnya APsyA, ABRA, ARUPS, dan AASP, kita memiliki “teropong” dan “lensa” psikologi baru untuk melihat masyarakat Indonesia, kita perlu menyadari bahwa teropong dan lensa itu juga tidak selalu memadai dan meminta kita berkontribusi, melalui Psikologi Kebangsaan, …  agar lebih peka dan presisif dalam pernyataan kita mengenai psikologi kita sendiri. Selengkapnya di: http://bit.ly/psikologikebangsaan Penulis: Dr. Juneman Abraham Ketua Kompartemen Riset & Publikasi PP HIMPSI http://himpsi.or.id http://bit.ly/himpsieducovid

A post shared by Himpunan Psikologi Indonesia (@himpsipusat) on

Written by juneman in: Bangsa | Tags:
Aug
16
2020
0

Psikologi Pekerja di Masa Pandemi: “Work from Home”

View this post on Instagram

Tulisan Edukasi HIMPSI di Masa Pandemi Covid-19 Ada faktor-faktor psikofisik dan sosial yang juga dapat menjadi pemicu kelelahan, bahkan kelelahan berlebih, seperti faktor kurangnya ergonomika tempat kerja, defisit makna kerja, dan kekompakan sosial yang minim di dalam rumah. Memperdalam pengetahuan melalui webinar yang disukai, atau mengikuti berbagai hiburan yang tiketnya digratiskan oleh penyelenggara, justru menjadi faktor pereda tekanan, dengan asumsi tidak ada masalah dengan kuota dan kelancaran koneksi internet. Kegiatan-kegiatan bisa disisipkan di sela-sela BDR (Bekerja dari Rumah). Lebih baik jika organisasi memberikan waktu khusus untuk itu pada jam kerja BDR, dan tidak menganggap aktivitas-aktivitas tersebut sebagai sebuah kemalasan sosial (social loafing). Dalam hal ini, kita juga perlu memperhatikan perbedaan individual dalam hal persepsi pekerja. Selama ini, dunia kita ini disebut-sebut sebagai "dunia orang ekstrovert". Bahkan, Susan Cain, pengarang buku "Quiet" menyatakan bahwa masyarakat dunia selama ini memiliki bias kultural terhadap orang ekstrover. Dalam hal ini, orang ekstrover dan introver perlu saling memahami. Sebagai contoh, ada gejala "ekstroverisasi" ruang-ruang online … Organisasi/lembaga/perusahaan perlu memiliki kebijakan yang adaptif dalam situasi darurat yang sudah dinyatakan Presiden RI sebagai bencana nasional ini. Temukan cara-cara kreatif untuk mengukur key performance indicators, cara untuk mencapai tujuan organisasi, bahkan meredefinisi visi-misi-nilai-tujuan organisasi bila diperlukan (Saya sempat membaca, bahkan ada perusahaan-perusahaan yang mengubah logonya. Komentar saya: "Ini PIO banget!") . Cara-cara tersebut sebaiknya disepakati bersama antara pimpinan perusahaan dengan pekerja atau serikat pekerja (bukan hanya kemauan salah satu pihak saja). Pendekatan organisasional ini niscaya sangat berarti untuk meminimalisasikan stres akibat BDR. Baca selengkapnya di https://bit.ly/berkerja_dari_rumah *Organisasi Perlu Bersama Pekerja dalam Mengelola Tekanan kala Bekerja dari Rumah* Penulis: Dr. Juneman Abraham Ketua Kompartemen Riset & Publikasi PP HIMPSI http://bit.ly/himpsieducovid

A post shared by Himpunan Psikologi Indonesia (@himpsipusat) on

Aug
16
2020
0

Diskusi Publikasi: Forum Pengelola Jurnal Psikologi

Pada 5 Agustus 2020, Tim Redaksi Jurnal Anima menjadi penyelenggara Forum Diskusi Publikasi Ilmiah Psikologi.

Latar belakang dari kegiatan ini sebagaimana tertera dalam surat dari Dekan Fakultas Psikologi, Universitas Surabaya, adalah sebagai berikut:

Sehubungan dengan adanya persyaratan publikasi dalam jurnal terakreditasi, bagi mahasiswa pada jenjang Magister dan dosen dengan jenjang akademik Lektor Kepala, kami memperhatikan bahwa defisit naskah bermutu masih menjadi masalah bersama, tidak terkecuali bagi kami.

Adaya minat berkuliah di jenjang Magister Psikologi Sains dan Magister Psikologi Profesi yang terus berkembang dan makin tegasnya tuntutan publikasi bagi pemenuhan kewajiban terkait pemberian tunjangan profesi dosen, membuat kondisi ini makin memerlukan perhatian khusus dan serius. Pembiaran terhadap tantangan ini berpotensi memunculkan masalah terkait kelancaran studi mahasiswa dan kinerja dosen. Hal yang lebih memprihatinkan adalah potensi ancaman penyimpangan integritas akademik.

Sebagai pengelola Pendidikan Tinggi Psikologi yang memiliki program pendidikan Magister Psikologi Profesi (sejak 2004), Magister Psikologi Sains (sejak 2012), Doktor Psikologi (sejak 2018) dan jurnal ilmiah nasional (ANIMA Indonesian Psychological Journal, sejak 1985), kami merasakan adanya kebutuhan mendesak untuk melakukan “matching & improvement” antara standar dari naskah yang kami hasilkan dengan tuntutan kualitas pada media publikasi jurnal ilmiah psikologi yang terakreditasi pada sistem ARJUNA (Akreditasi Jurnal Nasional), mulai peringkat SINTA 2 sampai dengan SINTA 6.

Dalam rangka menjawab kebutuhan tersebut, kami menginisiasikan adanya forum diskusi untuk menjajaki kemungkinan sinergi, khususnya dengan para pengelola jurnal ilmiah psikologi di Indonesia. Tujuan pertemuan ini khususnya untuk menyamakan persepsi mengenai standar mutu, etika, dan prosedur publikasi artikel ilmiah hasil penelitian mahasiswa dan dosen dalam sebuah kolaborasi yang bersifat mutualistik antar lembaga.”

Sebagai salah seorang anggota Dewan Editor Anima, Dr. Juneman Abraham mengusulkan agar Forum yang digagas oleh Anima-Universitas Surabaya ini dapat memanfaatkan platform ScienceOpen untuk menwujudnyatakan ide dari Ketua Dewan Editor Anima, Dr. Ide Bagus Siaputra (yang juga merupakan satu tim ANJANI/Anjungan Integritas Akademik dengan Dr. Abraham) untuk menyinergikan upaya proses publikasi yang melibatkan para pengelola jurnal ilmiah psikologi di Indonesia. Dr. Siaputra menegaskan bahwa Forum ini bersifat melengkapi (komplementer), bukan menggantikan (substitusi) Forum Pengelola Jurnal Psikologi Indonesia (FPJP), yang selama ini digawangi oleh Bapak Sartana dari Universitas Andalas.

Platform ScienceOpen mampu memfasilitasi review awal/preliminer secara terbuka oleh para pengelola jurnal ilmiah psikologi Indonesia terhadap naskah-naskah publikasi yang diajukan penulis – yang berasal dari tesis magister, dan sebagainya, sesuai dengan standar atau parameter kualitas minimum publikasi yang disepakati di kalangan pengelola jurnal psikologi.

Setelah perbaikan dilakukan oleh penulis melalui ScienceOpen Preprints, para pengelola jurnal dapat melakukan pendekatan atau pun negosiasi untuk menawarkan kemungkinan naskah tersebut diterbitkan di jurnalnya. Penulis dapat memutuskan hendak menerima tawaran atau negosiasi yang mana. Hal ini mirip dengan proses yang dilakukan editor Penerbit Buku selama ini, yang melakukan “perburuan” (hunting) naskah-naskah berkualitas, dengan memberikan komentar di berbagai blog kandidat penulis yang dipandang potensial untuk dijadikan buku.

Seluruh proses ini berlangsung murni berdasarkan substansi mutu artikel. Tidak semua orang dapat melakukan review di ScienceOpen. Pengelola jurnal psikologi yang hendak melakukan peninjauan sejawat (peer review) perlu memenuhi terlebih dahulu syaratsyaratnya.

Dr. Abraham sendiri menjadi salah seorang reviewer dalam konteks post-publication peer review. Artinya, naskah yang sudah terbit masih dapat di-review dan diberikan rating.

Forum tersebut dihadiri oleh lebih dari 20 pengelola jurnal ilmiah psikologi Indonesia, termasuk dari Fakultas Psikologi UI, UGM, Unisba, UII, dsb.

Pertemuan ini dilanjutkan dengan Simposium Daring Standardisasi Publikasi Ilmiah di Bidang Psikologi, pada 22 Agustus 2020.

Written by juneman in: Akademik | Tags:
Aug
16
2020
0

Tim Redaksi Psikologi Indonesia Mempersiapkan Edisi Merdeka Belajar

Tim Redaksi Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) melakukan rapat rutin pada 12 Agustus 2020 membahas edisi Merdeka Belajar.

Edisi ini akan tampil di situs publikasi HIMPSI.

Written by juneman in: Profesi | Tags:
Aug
03
2020
0
Aug
01
2020
0

Dinantikan: Solusi Spasial Manusia di Masa Pandemi Covid19

View this post on Instagram

Tulisan Edukasi HIMPSI di Masa Pandemi Covid-19 Di saat virtualitas merajalela dengan wacana Revolusi Industri 4.0 dan Masyarakat 5.0, kita semua disentakkan dengan pandemi Covid-19. Kesadaran kolektif kita mengalami disrupsi oleh fakta bahwa di tengah-tengah perkembangan pesat berbagai teknologi yang membuat kita sebagai manusia merasa semakin "menjiwa", "merohani", dan "memvirtual" (lihatlah ungkapan-ungkapan selebrasi "We Are Virtual" beberapa tahun terakhir ini), orang seperti diminta oleh alam semesta untuk kembali mengenali badannya, praktik-praktiknya, serta batas-batasnya. Gambaran ilmiah dalam bahasa yang membumi bahwa kehidupan sosial-ekonomi kita bersama (jadi, "termasuk saya") akan ambruk dua kali lipat bahkan lebih, tidak lama lagi, apabila protokol kesehatan tidak "membadan", dalam arti diterapkan dalam diri orang dan komunitasnya, perlu terus-menerus disosialisasikan kepada warga melalui berbagai media massa arus utama. Warga mungkin melihat hal tersebut masih "jauh". Yang ada di "depan mata" adalah keinginan dan hasrat-hasratnya. Berdasarkan psikologi spasialitas, sudah saatnya untuk kita semakin "agresif" dalam memperkecil jarak psikologi spasial, dengan menggaungkan imaji-imaji tersebut di era adaptasi kebiasaan baru –sebuah era yang mau membangkitkan perekonomian bangsa sambil mewaspadai isu kesehatan. Jadi, bukan hanya menggiatkan imbauan untuk jaga jarak, cuci tangan dengan air yang mengalir, serta mengenakan masker. Baca selengkapnya di http://bit.ly/sangbadan *Mengembalikan Sang Badan* Dr. Juneman Abraham Ketua Kompartemen Riset & Publikasi PP HIMPSI Akses HIMPSI Peduli Pandemi COVID 19: 1.      https://bit.ly/himpsieducovid 2.      https://bit.ly/bantuanpsikologi 3.      https://publikasi.himpsi.or.id 4.      https://bit.ly/relaksasipsikologis 5.      https://bit.ly/himpsipeduli 6.      http://bit.ly/rujukanhimpsisejiwa Cek ricek informasi, jaga jarak, cuci tangan, pakai masker, tetap sehat, saling membantu #himpsipusat

A post shared by Himpunan Psikologi Indonesia (@himpsipusat) on

Written by juneman in: Uncategorized |

Powered by WordPress. Theme: TheBuckmaker. Zinsen, Streaming Audio