September 2020

Prokrastinasi atau Penunda-nundaan, “Kalau bisa esok (lusa), mengapa harus sekarang?”

Seorang mahasiswa S2 Profesi Psikologi bertanya kepada saya mengenai alat ukur prokrastinasi berbahasa Indonesia yang bisa digunakan untuk kepentingan psikodiagnosis dan konseling.

Selanjutnya, berdasarkan teori persepsi diri (Daryl Bem, 1972) saya melakukan refleksi atas riset-riset dan kajian yang pernah saya bersama teman-teman lakukan terkait topik prokrastinasi ini.

Ternyata, saya dkk. sempat menghasilkan 3 tulisan mengenai prokrastinasi, yakni:

  1. Computer Anxiety, Academic Stress, and Academic Procrastination on College Students, lebih khusus prokratinasi dalam dunia akademik/pendidikan.
  2. Decisional Procrastination: The Role of Courage, Media Multitasking and Planning Fallacy, lebih khusus mengenai prokrastinasi dalam pengambilan keputusan (decision making). Kami meneliti tentang faktor-faktor yang potensial mematahkan prokrastinasi jenis ini.
  3. Saduran/terjemahan: Kemalasan itu Tidak Ada. Pokok pikiran artikel ini adalah bahwa prokrastinasi bukanlah sejenis “trait” (sifat kepribadian). Tidak ada orang yang memiliki “sifat malas”. Perilaku prokrastinasi bukanlah sifat ini, dan bukan bersumber dari sifat ini. Selalu ada faktor situasional yang mampu menjelaskan perilaku penunda-nundaan.

Menjelang Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2020

Menjelang Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) / Hari Kesehatan Mental Sedunia (HKMS) / World Mental Health Day (WMHD) 2020, pada 10 Oktober 2020 mendatang, yang mengambil tema “Mental Health for All: Greater Investment – Greater Access (Kesehatan Jiwa untuk Semua, Investasi Lebih Besar – Akses Lebih Luas), saya kembali mengingat sejumlah passions yang saya tuangkan untuk isu-isu kesehatan jiwa, sejak menjadi mahasiswa di Fakultas Psikologi, seperti:

  1. Menjadi Panitia Kegiatan Kuliah Umum Kesehatan Jiwa (2007).
  2. Menulis Di Mana Kita di Hari Kesehatan Jiwa Sedunia? (2014)
  3. Menjadi Anggota Tim Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) untuk Layanan Sehat Jiwa / SEJIWA 119 ext. 8 (2020)
  4. Menyusun alat ukur (pengukuran) Kesehatan Jiwa berbahasa Indonesia pada masyarakat perkotaan (2012).
  5. Mengadvokasi Rancangan Undang Undang (RUU) Praktik/Profesi Psikologi.
  6. Menyunting Jurnal Ilmiah di bidang Kesehatan Jiwa (The Indonesian Journal of Mental Health), yakni ATARAXIS (2007).
  7. Berbicara tentang Schizophrenia Tahap Awal, dalam agenda Seminar Awam dari Sanatorium Dharmawangsa (2005).
  8. Berbicara pada Simposium Himpunan Jiwa Sehat Indonesia (HJSI), bertajuk Upaya Penyembuhan Gangguan Mental (Skizofrenia) Melalui Terapi Kognitif dan Terapi Keluarga (2005).
  9. Menjadi Narasumber dalam Kegiatan Seminar Hasil Penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial RI (2012).
  10. Menjadi Ahli Sosial Psikologis dalam rangka Penyusunan Pedoman Sosial Psikologis di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) (2009).
  11. Menyadur tentang psikologi bencana, bertajuk Psikologi Pelayanan Penyintas Bencana.

Isu-isu Kesehatan Jiwa memang senantiasa menarik bagi saya untuk diperjuangkan bersama, dan menurut hemat saya, kita perlu menemukan bentuk-bentuk layanan yang jauh lebih adaptif mengenai Kesehatan Mental sesuai dengan perkembangan Pandemi dan Revolusi Industri 4.0.

Rock The Talk – Publikasi Sosial Humaniora

Rock The Talk has invited Dr. Juneman Abraham, S.Psi., M.Si. Lecturer Specialist-S3 Psychology Department, Faculty of Humanities, BINUS University to share his knowledge on how to publish research papers on faculty of humanties.

You may see the show on Binus Research  youtube channel with the host of the show Prof. Dr. Tirta N. Mursitama, Ph.D., Vice Rector of Research and Technology Transfer office (Link provided below)